Cinta Serenyah Macarons

Cinta Serenyah Macarons
CSM - 23


__ADS_3

Sabar


Adalah ketika hati meratap dan mulut tidak mengeluh.


-Ibnu Qayyim Rahimahullah-


***


Teriknya sang surya perlahan-lahan mulai memudar, dimana akan digantikan oleh sapaan warnanya jingga langit. Ya. Lagi-lagi senja datang melirik alam semesta lalu menetap pada bumi walau sifatnya hanya sementara.


Seperti dunia. Sifatnya hanya sementara. Padahal dunia hanyalah tempat persinggahan. Dan sebaik-baiknya kehidupan kekal, ialah akhirat. Serta, jika kita terpesona oleh nikmatnya dunia yang sementara ini, maka kita akan terlepas dari nikmatNya akhirat.


"Alhamdulillah, Bi Aqis senang lho, karena kamu ngajinya semakin baik, Daffa."


Saat ini Balqis dan Daffa berada di dalam kamar Daffa, dimana Balqis telah selesai mengajarkan Daffa membaca ayat-ayat suci Al-Quran walaupun tahapnya masih di Iqra. Perasaan Balqis sangatlah senang, karena dirinya bisa mengajarkan anak majikannya tersebut mengenal surat cinta Allah.


Daffa mengangguk tersenyum. "Terima kasih ya, Bi Aqis ... Udah mau ajari Daffa mengaji."


Balqis mengangguk tersenyum lalu mengelus puncak kepala Daffa. "Iya sayang, sama-sama." Ujar Balqis. "Ya sudah, kita ke bawah yuk?" Ajak Balqis pada Daffa. Dan Daffa pun mengiyakan ajakan Balqis.


Setelah dirinya dan Daffa menuruni anak tangga, mereka berdua hendak berniat ke ruang TV, karena Daffa ingin menonton film kesukaannya, Toy Story. Namun, tiba-tiba kedua kaki Daffa berlari dan ...


"Ayaaaahhh!" Katanya girang sembari menghamburkan pelukannya pada Ayahnya, Gio.


Balqis hanya bisa berdiam diri dengan jarak tidak terlalu dekat dengan Gio dan Daffa, tatapannya ia alihkan kemana pun asalkan ia tidak menatap manik mata Gio. Laki-laki yang sudah menyatakan perasaannya beberapa hari yang lalu.


Mengingat itu kembali, membuat kedua pipi Balqis merona indah. Secepat mungkin ia buang jauh-jauh pikiran tersebut. Namun, benar ... Hatinya tidak bisa dipungkiri, bahwa ia merasa senang karena pria yang ia sukai tersebut ternyata menyukai dirinya. Sungguh, keajaiban bagi Balqis.


"Anak Ayah udah wangi ya hmm ... " Ucap Gio pada anaknya setelah ia mencium kedua pipi Daffa sayang. Dan berhasil membuat Balqis sadar dari lamunannya.


Kini tatapan Gio beralih pada sosok wanita yang sedari tadi hanya diam tak berkutik. Gio **** bibirnya, menahan senyuman. "Ini untuk kamu." Kata Gio menyodorkan totebag pada Balqis.


Dahi Balqis mengernyit. "Ini apa, Tuan?"


Gio tersenyum. "Itu kue macaron untuk kamu." Mendengar jawaban Gio, Balqis hanya diam. Dirinya memikirkan apakah hanya dirinya yang diberi atau tidak.


Melihat diamnya Balqis, Gio mengerti. "Hanny, Bu Minah, dan lainnya juga sudah saya beri, Qis." Ucapnya.


Eh? Kok dia tau apa yang aku pikirin?


Balqis mengangguk. "Dimakan ya, semoga suka. Dan Daffa sama saya aja dulu." Katanya. "Ayo sayang, kita nonton bareng." Ucap Gio pada Daffa.


Daffa mengangguk semangat lalu menatap Balqis. "Bi Aqis, Daffa sama Ayah dulu ya." Balqis mengangguk. "Iya sayang, jangan nakal ya." Lagi-lagi Daffa hanya mengangguk tersenyum.


Melihat Balqis seperti itu, mau tak mau Gio memandang Balqis lekat dan tanpa sadar sudut bibirnya melengkung ke atas. Baru saja Gio menikmati apa yang ia lihat itu, tarikan di lengannya menyadarkan dirinya. "Ayo Ayah!"


Secepatnya Gio tersadar dan mengangguk tersenyum pada Daffa. Lalu, Ayah dan anak tersebut meninggalkan Balqis di tempatnya. Sementara Balqis? Dirinya penasaran kue macaron itu seperti apa.


Jujur saja, Balqis sendiri baru tahu ada kue yang bernamakan macaron. Maklum, dirinya bukan orang kota dan dirinya pun termasuk dari keluarga yang berkecukupan, bukan dari keluarga yang mempunyai harta melimpah, seperti Gio ini.


"MasyaAllah ... "


Kini dirinya sedang duduk di kursi dapur sendirian, Bu Minah yang sedang berada di luar rumah bersama Pak Roy, mengurusi sesuatu. Sedangkan Hanny sedang menyetrika. Maka dari itu, Balqis merasa kesepian karena mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing.


Balqis yang baru pertama kali melihat kue macaron seperti apa bentuknya, kini ia berdecak kagum kala baru melihat kali pertamanya kue tersebut. Kedua mata Balqis berbinar kala dirinya melihat beberapa macam varian rasa. Membuat lidahnya sudah tak sabar ingin menari di dalam mulutnya.


__ADS_1


Namun, ketika jari lentik Balqis ingin mengambil kue macaron tersebut, tiba-tiba berhenti kala kedua matanya menemukan secarik kertas berukuran sedang, menempel di Box itu. Rasa penasaran telah menyelimuti, akhirnya Balqis cabut kertas tersebut dan membukanya. Isinya ...


To: Balqis Maura Lishyana.


Ada yang ingin saya sampaikan mengenai dirimu yang berkaitan dengan macaron ini.


Saya sudah sangat tahu, apa rasa dari kue ini. Dan setelah berhari-hari kamu mengasuh anak saya. Kamu itu seperti ...


... Macarons. Lembut, memiliki manis yang sangat pas dan mewarnai kehidupanku kembali. Tanpa kusadari, aku telah menaruh namamu di dalam hatiku ini ...


... Layakkah Pria sepertiku menjadikanmu sebagai teman hidupku?


Wahai Sang Ratu Cinta Serenyah Macarons.


From: Gio Faeyza Darelano.


DEG


Rasa hangat di wajah Balqis menjalar, merona merah. Detak jantungnya pun memacu lebih cepat dari biasanya. Sampai-sampai lengannya kini menyentuh dadanya, tanda ia benar-benar speechless. Lalu, tanpa ia sadari ... Balqis tersenyum manis.


Jari lentiknya pun akhirnya mengambil kue macaron tersebut lalu melahapnya. "MasyaAllah, enak banget." Kagumnya.


Setelah merasakan kue macaron itu seperti apa rasanya, Balqis berpikir untuk membalas ucapan Gio. Namun, ia tidak ingin menunjukkan balasannya itu pada Gio langsung. Ia hanya ingin membalasnya tanpa sepengetahuan Gio.


"Kamu juga seperti Macarons, Tuan. Melumerkan sensasi para kaum Hawa yang menatapmu. Berbagai macam rasa macaron ini, ada juga di dalam dirimu. Dan berhasil membuatku penasaran jatuh hati ... "


" ... Ya, si upik abu ini jatuh hati pada Sang Pangeran Cinta Serenyah Macarons." Kata Balqis bermonolog, yang diakhiri dengan tersenyum sangat manis.


Pikirannya pun tiba-tiba kembali teringat lagi, dimana Gio menyatakan perasannya pada Balqis. Gio melamarnya. Namun, entah mengapa sampai saat ini Balqis merasakan di dalam hatinya ada yang mengganjal.


Benar. Balqis memikirkan hal tersebut. Walaupun dirinya dan Gio benar-benar saling menyukai, ingin saling membangun rumah tangga di jalan Allah, tetapi jika kedua orang tua dari salah satu pasangan tidak menyetujuinya, Balqis bisa apa?


Tepat sekali. Balqis merasakan ketakutan jika dirinya tidak direstui oleh Umminya serta kedua orang tua Gio. Nah, apalagi kedua orang tua Gio, pastinya mereka menginginkan menantu yang cantik, yang berkelas, yang pandai memoles make up, dan tentunya mempunyai latar belakang keluarga yang sangat baik.


Apa kabarnya dengan Balqis? Dirinya hanyalah seorang wanita biasa saja. Latar belakang keluarganya pun sungguh sangat berbeda dengan Gio, seperti langit dan bumi. Apalagi jika mengetahui, kehidupan dirinya yang sudah ditinggal beberapa tahun lalu oleh Ayahnya.


Astaghfirullahalazim ... Sadar kamu, Qis. Kamu berbeda dengan Tuan Gio. Ucapnya dalam hati.


Balqis menggelengkan kepalanya. "Aku nggak boleh berharap lebih pada manusia." Katanya mengingatkan diri sendiri. "Astaghfirullahalazim, Ya Allah ... Ampunilah hambaMu ini." Lanjutnya lagi dengan lirih menunduk.


Otaknya pun kembali menyuruh Balqis memikirkan sosok Ayahnya. Ya. Dirinya harus mencari sosok Ayahnya itu, yang telah meninggalkan Balqis dan Umminya. Walaupun Ayahnya meninggalkan mereka berdua dengan rasa sakit hati, namun yang namanya rindu tidak bisa dibohongi.


Tanpa sadar, kedua mata Balqis meneteskan air mata. Secepatnya Balqis mengusap kasar kedua matanya. "Sebelum seseorang datang ke rumah nanti, menemui Ummi. Aku harus sudah bertemu dengan Ayah." Janjinya pada diri sendiri.


Tentu, Balqis sendiri sudah memikirkan secara matang nan jauh. Jika dirinya nanti benar dilamar oleh pria, entah itu benar Rayhan atau Gio, atau laki-laki lainnya ... Dimana yang berawal dari lamaran, dan berujung pernikahan. Dan harus ada wali dari pihak wanita, yaitu Ayahnya.


Selama Ayah masih hidup, Ayah yang harus sebagai wali nikahnya nanti. Pikir Balqis.


Tanpa Balqis sadari, dirinya sudah diamati oleh seseorang sedari tadi. Siapa lagi kalau bukan Gio?


Hati Gio sangat bahagia kala mengetahui perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Dan dirinya tidak bisa menahan senyumnya ketika Balqis membalas ucapannya itu, dimana berkaitan dengan kue macaron. Namun, tak lama senyuman Gio pudar saat Balqis meneteskan air matanya.


Saya mohon ... Jangan menangis, Qis. Perih rasanya melihat kamu menangis seperti itu. Karena saya belum bisa menyeka air matamu saat ini.


***


Sehabis menjemput sepupunya di bandara, Vanya, sahabat rasa saudara kandung dari Balqis Maura Lishyana itu, kini sedang berada di dalam Mall, tepatnya di dalam swalayan, berbelanja kebutuhan dirinya. Sementara sepupunya hanya menunggu di dalam mobilnya.

__ADS_1


"Nah ini di—ah tinggal satu ... Oke de—"


Baru saja tangannya meraih cemilan yang sangat ia sukai itu, namun ada tangan orang lain yang sudah menyentuh cemilan tersebut. Kedua mata Vanya membulat terkejut, karena tak sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan seseorang tersebut. Tangan dari seorang pria.


Cantik, ucap pria tersebut dalam hatinya.


"Astaghfirullah!" Pekiknya terkejut lalu segera ia lepaskan genggamannya pada cemilan tersebut. Otomatis membuat si pria itu meraih cemilan tersebut dengan senang hati.


Melihat itu, Vanya melototkan matanya. "Eh eh, itu punya gue, sini balikin!" Titah Vanya sembari berusaha meraih cemilan tersebut.


Pria tersebut menaikkan alisnya sebelah sembari menjauhkan cemilannya dari Vanya. "Sorry ya, gue duluan yang dapet cemilan ini. Dan lo bisa cari cemilan lain. Thanks!" Ucapnya lalu meninggalkan Vanya begitu saja.


Vanya yang sudah ditinggal seperti itu, hanya bisa menghentakkan kakinya kencang. "Awas aja lo ... Ketemu lagi gue abisin!" Ucapnya kesal.


Mau tak mau Vanya merelakan cemilan kesukaannya itu. Dan ia segera ke kasir untuk membayar semuanya lalu secepat mungkin ia harus kembali ke mobilnya. Dan saat dalam perjalanan menuju parkiran ...


... Vanya langsung ditarik paksa oleh dua orang pria berbadan besar. Dan digenggam sangat kuat, Vanya sendiri pun sudah berusaha untuk melepaskan dirinya, sungguh tidak bisa.


"ARGH! LEPASIN GUE!" Ucap Vanya meronta kencang.


"SIAPA LO HAH?!" Bentak Vanya namun kedua pria tersebut hanya diam tanpa berniat menjawab pertanyaan Vanya.


"LEPASIN GUE!"


PLAKK


"DIAM!" Bentak salah satu pria tersebut setelah menampar kencang Vanya.


Rasanya Vanya ingin menangis, namun ia tahan. Dan entahlah dirinya dibawa pergi oleh dua pria ini kemana, dirinya benar-benar tidak tahu, yang jelas saat ini ia sudah berada di ruangan gelap, sunyi dan Vanya masih dalam keadaan digenggam erat oleh dua pria tersebut.


"LEPASIN GUE! ARGH!" Vanya terus saja meronta dengan sisa tenaganya.


Klotak ...


Klotak ...


Derap suara high heels menggema di ruangan tersebut. Vanya diam dan semakin terdengar jelas suara tersebut semakin dekat padanya.


"Hai, Vanya." Sapa seorang wanita yang kini sudah berada di hadapannya.


Vanya menatap wanita tersebut dari atas hingga bawah dan kembali lagi pada wajahnya dengan emosi. "SIAPA LO?!"


Wanita tersebut tertawa renyah mendapat bentakkan dari Vanya. "Lo nggak perlu tau siapa gue." Katanya. "Gue hanya ingin minta sesuatu dari lo, Van. Boleh?" Lanjutnya menyeringai.


"Sesuatu?" Tanya Vanya kebingungan dan wanita tersebut mengangguk. "Sesuatu apa maksud lo?!" Vanya kembali membentak wanita tersebut.


Lagi-lagi wanita tersebut hanya tertawa. "MAU LO APA SIH, HAH?!" Vanya sudah dirundung emosi tingkat tinggi.


"Mau gue?" Tanyanya menyeringai. "Lo kasih gue informasi mengenai keluarga Balqis dengan lengkap, tanpa cacat sekalipun ... Termasuk informasi mengenai Ayahnya."


**Bersambung...


Ah iya, saya mau kasih tau cast Rayhan. Pria yang melamar Balqis itu lho ... Maaf ya, kasih taunya di part ini, bukan sebelumnya ehehe**.



Saingan Gio berat juga ya :v

__ADS_1


__ADS_2