
'*Aku belajar untuk tegar, seberat apapun cobaan yang diberikan oleh Allah untukku. Aku yakin, pada akhirnya akan membuatku menjadi sosok perempuan yang lebih bertanggung jawab dan berguna.'
Said Balqis Maura Lishyana*.
***
"Apa dok?! Gagal Ginjal?"
Lemas sekali. Itu yang dirasakan Balqis kala mendengar informasi yang telah disampaikan oleh Dokter di Rumah Sakit Medika Bogor. Apalagi yang merasakan penyakit seperti itu Umminya sendiri.
Mayra. Wanita yang telah bersusah payah mengandung dan membesarkan Balqis sampai sekarang sekaligus menjadi sosok pengganti Sang Ayah yang sudah meninggalkan mereka berdua.
Sudah 2 tahun dirinya dengan Umminya di tinggalkan oleh Sang Ayah. Lebih tepatnya, Ayahnya meninggalkan mereka dikarenakan lebih memilih wanita lain dan menikah kembali lalu menceraikan istrinya, Mayra alias Ummi Balqis.
Jika Balqis mengingat kembali kejadian 2 tahun yang lalu itu, hatinya kembali sakit. Namun ia selalu berusaha untuk tidak menyimpan dendam terhadap Ayahnya, karena semua yang terjadi dalam hidupnya ialah ketetapan yang telah Allah berikan.
"Benar, Balqis. Dilihat dari gejala yang dialami oleh Ibu anda itu termasuk penyakit gagal ginjal. Dan berhubung saya sudah melakukan cek laboratorium, ternyata hasilnya positif." Dokter menjelaskan dengan detail sembari memberikan map yang berisi laporan hasil laboratorium pada Balqis.
Balqis menerimanya. "Hal ini disebabkan karena adanya sumbatan pada saluran kantung kemih ibu anda." ucap Dokternya lagi, sementara Balqis... Kedua matanya sudah berkaca-kaca.
"Tolong dok berikan yang terbaik untuk Ummi saya...," Balqis memohon dengan lirih dan Dokter mengangguk, "baik Balqis, saya menyarankan ibu anda melakukan pencucian darah minimal seminggu 2 kali. Jika tindakan ini tidak dilakukan, kemungkinan besar ibu anda akan mengalami kehilangan cairan banyak serta akan mendatangkan penyakit-penyakit lainnya."
Tess...
Loloslah cairan bening yang sudah Balqis tahan di kedua matanya. Namun Balqis tidak ingin menjadi wanita lemah, cepat-cepat ia mengusap kasar matanya. "Urusan administrasi, Balqis bisa langsung menanyakan ke bagian Resepsionis. Saya tidak bisa berlama-lama, jika ingin menanyakan sesuatu tentang kondisi ibu anda, hubungi saya. Permisi, assalamu'alaikum."
Balqis mengangguk. "Baik Dok. Terima kasih banyak... Wa'alaikumussalam." ucapnya sembari menampilkan senyuman dan Dokter pun mengangguk tersenyum lalu meninggalkan Balqis yang masih berdiri dengan isakan kecilnya.
__ADS_1
Ya Allah... Engkau Maha Pemberi Rezeki, Maha Pemberi Solusi di setiap HambaMu menghadapi ujian hidup. Maka... Berikanlah aku jalan keluar dari ujian yang aku hadapi saat ini Ya Rabb.
***
"Serius?! Lo mau berhenti kuliah?"
Saat ini Balqis berada di Kampus Institut Pertanian Bogor atau banyak yang bilang Kampus IPB bersama sahabatnya. Balqis salah satu mahasiswi dari kampus ini dan ia mengambil Fakultas Pendidikan Perguruan Tinggi sama halnya dengan sahabatnya.
"Ngaku ke gue sekarang Qis! Lo lagi main prank gue kan?" tanya Vanya, sahabat Balqis dari masa SMA hingga saat ini.
Balqis menggeleng. "Nggak van, aku serius." jawabnya, Vanya langsung menarik tangan Balqis agar ia duduk dengannya. "Cerita ke gue sekarang juga! Lo pasti ada masalah, iya kan? Ngaku lo!"
Ah sahabatnya ini selalu saja peka apa yang Balqis rasakan, akhirnya mau tak mau Balqis tersenyum. "Aduh Qis, gue serius. Ditanya malah senyum sih." Balqis terkekeh, "maaf deh maaf." Vanya membuang napasnya, "jadi?"
Balqis mengangguk. "Aku berenti kuliah karena Ummi lebih membutuhkan aku Van."
Vanya terdiam di tempatnya. Ia dia mengerti sekarang, mengapa Balqis sahabatnya itu berhenti kuliah. Memang Vanya tidak sama dengan Balqis jika dilihat dari status kekayaan. Vanya lebih beruntung menjadi anak dari orang tua yang lengkap dan memiliki harta banyak.
Sementara Balqis? Dirinya tinggal berdua dengan Umminya saja. Semenjak di tinggal oleh Ayahnya, Ummi Balqis yang menjadi tulang punggung untuk mereka berdua. Terkadang Balqis sendiri pun ikut serta membantu Umminya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti berjualan nasi uduk di sekitar Kampus.
Alangkah beruntungnya Balqis mendapatkan sahabat seperti Vanya. Karena Vanya dalam berteman tidak sama sekali memandang kekayaan termasuk kondisi dirinya. Beribu ucap syukur Balqis lakukan atas rezeki yang telah Allah beri.
Vanya mengangguk dan tersenyum. "Gue ngerti sekarang." Sambil mengelus pundak Balqis lembut, "tapi seriusan lo udah pikirin ini matang-matang Qis?"
Balqis mengangguk tersenyum. "Alhamdulillah udah Van." Vanya menghela napasnya, "gue bukannya nggak setuju sama keputusan elo, tapi kan ini termasuk impian elo Qis, kuliah di tempat yang elo mau dari dulu." kata Vanya.
Lagi lagi Balqis tersenyum. "Iya Van. Tapi untuk saat ini dan seterusnya, Ummilah satu-satunya harapan aku, kebahagiaan aku. Aku mau Ummi sehat kembali, urusan impian aku sekolah di kampus ini itu tidak terlalu penting. Yang terpenting ialah kesembuhan dan kebahagiaan Ummi."
__ADS_1
Vanya sangat bersyukur memiliki seorang sahabat seperti Balqis. Perempuan yang selalu tegar di saat cobaan datang kepadanya seberat apapun cobaan tersebut. Tanpa Vanya sadari, Vanya sudah menjatuhkan cairan bening dari matanya.
Vanya tersenyum dan mengangguk. "Jadi abis ini lo mau kemana?"
Seperti sudah membaca pikiran saja sahabatnya ini. "Aku mau cari kerja Van." Vanya mengangguk, "oke. Gue selalu support elo Qis, pesan gue... Dimanapun lo nanti, gue harap lo bisa jaga diri baik-baik. Gue juga bakalan cari lowongan kerja buat elo dan satu lagi...,"
Halis Balqis pun terangkat sebelah. "Lo nggak usah pikirin urusan biaya pengobatan Ummi el-"
Belum selesai Vanya bicara, Balqis cepat-cepat menggelengkan kepalanya kencang. "Nggak Van, aku mohon jangan. Aku akan berusaha mencari, pasti dapat." Balqis tau karena sahabatnya ini pasti akan membiayai pengobatan Umminya.
Vanya berdecak kesal, kebiasaan dari sahabatnya tuh seperti ini. Jika Vanya sudah berniat ingin membantu dalam meringankan keuangan Balqis, pasti ditolak. "Nggak! Kali ini lo harus terima niat baik gue Qis. Bukannya lo sendiri tadi yang bilang, memakan biaya yang sangat besar?"
Balqis masih diam. "Jadi, gue mohon kali ini aja niat baik gue terlaksana Qis. Ummi elo udah gue anggap sebagai ibu gue dan elo sendiri udah gue anggap sebagai saudara kandung. Terima ya?"
Balqis tidak ingin dirinya dilihat lemah oleh orang lain, maka dari itu ia langsung menghamburkan pelukan pada Vanya sekaligus menumpahkan air matanya yang sudah ia bendung sedari tadi.
Balqis menganggukkan kepalanya sembari terisak tanda ia menerima bantuan dari Vanya dan Vanya tersenyum sambil mengelus menenangkan Balqis.
Terima kasih Ya Allah,
Engkau telah mendatangkan seorang sahabat seperti Vanya ke dalam hidupku.
Aku sangat bersyukur padaMu Ya Allah,
Limpahkan kebaikan dan keberkahan dalam hidup Vanya serta keluarganya,
Aamiin...
__ADS_1
Bersambung...