Cinta Serenyah Macarons

Cinta Serenyah Macarons
CSM - 8


__ADS_3

'*Entahlah ... Rasanya tidak suka saja jika ada laki-laki yang memujimu dihadapanku, walaupun dirimu tidak berada di dekatku. Apa memang benar inikah yang dinamakan cemburu?'


Said Gio Faeyza Darelano*


***


"Lo udah nggak waras."


Gio yang sedang berpangku tangan dan dihadapkan beberapa berkas serta laptopnya tersebut langsung menoleh ke asal sumber suara. Dan lirikan matanya pun menajam pada seseorang yang baru saja mengatakannya sudah tidak waras.


Mike terkekeh mendapat tatapan tajam dari sahabatnya itu dan tanpa disuruh oleh Gio, Mike sudah mendaratkan tubuhnya duduk dihadapan Gio sembari tangannya sibuk mengecek kembali berkas-berkas yang ia bawa untuk dicek kembali oleh Gio.


"Baru kali ini gue lihat lo senyum-senyum sendiri." Dijawablah kebingungan Gio oleh Mike seperti itu karena sudah mengerti dari tatapan Gio seolah-olah meminta penjelasan padanya.


Mike menyerahkan berkasnya tersebut pada Gio dan Gio menerimanya. "Are you okay, Gio?"


Mendengar itu, Gio menaikkan sebelah alis matanya pada Mike dan ia mengangguk. "I'm fine. Is there something wrong?"


Mike terkekeh. "Gue berkali-kali ketuk pintu ruangan lo, Gio. Nggak ada sahutan dari lo sama sekali dan ... "


" ... Akhirnya gue masuk tanpa adanya izin dari lo. Ternyata ... " Ucap Mike sembari menggelengkan kepalanya dan menahan sudut bibirnya agar tidak menampilkan senyumannya.


Memang benar, sudah ketiga kalinya Mike mengetuk pintu ruangan Gio. Namun tidak ada sahutan sama sekali. Dan akhirnya Mike masuk tanpa izin lalu mendapati Gio yang tengah melamun sembari senyum-senyum sendiri.


"Apa?" Tanya Gio dingin.


Mike menghela napasnya pelan. "Gue yakin, pasti ada sesuatu hal yang udah buat lo senyum-senyum nggak jelas kayak tadi."


Gio dan Mike, pria yang memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang. Jika melihat Gio sendiri ia adalah sosok pria yang sangat dingin, apalagi pada wanita. Namun tidak menjadikan para wanita berhenti mengejar Gio, Duda tampan nan keren tersebut.


Namun, yang namanya manusia tidak selamanya akan bersikap dingin pada orang lain. Termasuk Gio. Di sisi lain, Gio pun memiliki sisi kehangatan. Akan tetapi, kehangatan tersebut hanya bisa ia tunjukkan pada seseorang yang sudah ia anggap penting dalam hidupnya.


Dan mengenai Mike?


Oh jangan ditanya, pasti kalian sudah mengetahui bagaimana sifat dan sikapnya. Dia bertolak belakang dengan Gio. Dia ramah, friendly pada seseorang yang ia kenal dan tak kalah tampan juga dengan Gio. Dan ternyata, dia masih bersandang status single alias belum menikah.


"Daffa." Ucap singkat Gio tiba-tiba.


Dahi Mike mengernyit. "Maksud lo?"


Tatapan Gio pun beralih pada Mike yang menunjukkan raut wajah kebingungan. Lalu Gio memutuskan untuk segera menceritakan kejadian pagi tadi, sebelum ia melangkahkan kakinya meninggalkan rumahnya tersebut.


Ya. Dimana dirinya diperlakukan oleh Daffa sangat manis, benar-benar seperti anak kepada sang Ayah yang hendak pergi untuk bekerja mencari puing-puing dolar.


Berlebihankah Gio? Tidak. Dirinya benar-benar sangat senang karena Daffa, anak satu-satunya tersebut seperti itu setelah lama Gio didiamkan oleh anaknya sendiri.


Dan ini semua berkat pengasuhnya, Balqis. Wanita asing yang baru saja beberapa hari ini bekerja di rumahnya, mengasuh anaknya.


Mendengar cerita dari Gio, Mike senang bukan main. Seolah-olah kesenangan yang Gio rasakan menular pada Mike. Bagaimana tidak? Mike yang notabenenya sahabat setia Gio sejak masa SMA itu, pasti mengetahui masalah apa saja yang dihadapi oleh sahabatnya tersebut.


Seperti saat ini, Mike sangat senang dengan apa yang sudah ia dengarkan dari Gio. "Are you kidding me, Gio?" Ucap Mike masih tak percaya.

__ADS_1


Plakk


Gio dengan sengaja memukul lengan Mike cukup kencang. Dan membuat si empu meringis kesakitan drama. Gio yang melihat ekspresi wajah Mike, memutar bola matanya malas.


Mike terkekeh. "Sumpah Gio, gue nggak nyangka. Ternyata ... " Mike tidak melanjutkan ucapannya melainkan ia hanya menggelengkan kepalanya takjub pada Gio.


Gio sendiri hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh lalu melanjutkan pekerjaannya untuk mengecek berkas-berkasnya yang menumpuk itu. Namun sedetik kemudian, Mike mengernyit. "Wait!"


Berhasil menghentikan aktivitas Gio dan Gio beralih menatap Mike dengan wajah datarnya. "Dan ini semua gara-gara pengasuh Daffa lo itu?" Tanya Mike dan Gio mengangguk lalu melanjutkan lagi aktivitasnya.


"Wow ... This is a miracle for you." Gio hanya diam dan tak lama ia mengangguk menyetujui ucapan Mike.


"Gue penasaran sama pengasuh Daffa lo itu, Gio. Pasti dia perempuan yang baik, lembut, ramah dan mungkin sangat cantik. Makanya Daffa lang---"


Ucapan Mike terpotong begitu saja kala suara dingin dan tajam keluar dari mulut Gio.


"Keluar!"


Dimana siapa saja yang mendengar ucapannya seperti itu membuat sekujur tubuhnya menegang seketika.


Lain halnya dengan Mike, ia sudah terbiasa dengan sikap Gio seperti ini. Namun respon Mike justru menampilkan kebingungan.


Mengapa sahabatnya tiba-tiba seperti itu setelah dirinya berkata mengenai pengasuh baru anaknya tersebut?


Aneh, pikir Mike.


Selang beberapa detik, Mike bangkit dari duduknya. "Okay, gue pergi." Katanya dengan nada yang begitu tenangnya.


"Gue heran dengan sikap lo yang tiba-tiba dingin itu ... "


" ... Setelah gue bilang sesuatu tentang pengasuh anak lo." Ucap Mike begitu tenang.


Berhasil membuat Gio berhenti dari aktivitasnya lalu tatapannya beralih menatap Mike yang kini menyandarkan punggungnya tepat di pintu ruangannya, sembari menyembunyikan kedua lengannya di saku celananya.


"Dan gue simpulkan, ternyata lo bisa cemburu juga." Ucap Mike menyeringai jahil lalu melenggang pergi begitu saja meninggalkan Gio yang sibuk dengan pikirannya.


Lebih tepatnya sibuk memikirkan perkataan yang baru saja Mike katakan padanya.


Cemburu? Hah ... Impossible!


***


"Enak banget, Kak!"


Kini Balqis dan Hanny sedang asyiknya menyantap gemas potongan buah yang sangat masam tersebut, sesekali mencolek dengan bumbu gula merah yang siapa saja merasakannya akan meledakkan sensasi lidah. Apa lagi kalau bukan Rujak. Makanan yang hampir dominan orang lain menyukainya.


Setelah selesai menidurkan Daffa, Balqis ke dapur hendak ingin minum. Dan matanya menemukan Hanny yang sedang memotong buah.


"Lain kali, kalo disuruh Bu Arsyita lagi buat rujak ini. Kak Balqis aja ya yang buat bumbunya?" Kata Hanny sambil mengerlingkan matanya.


Balqis terkekeh lalu mengangguk. "Iya in syaa Allah."

__ADS_1


Benar. Balqis yang membuat bumbu rujaknya. Dan hasilnya sangatlah enak. Hanny yang sudah menyelesaikan pekerjaannya membantu Bu Minah, akhirnya ia beristirahat di dapur.


Dan tak lama dari itu, Arsyita datang dengan tangannya yang menjinjing buah-buahan segar.


Lalu menyuruh Hanny membuat rujak. Mau tak mau Hanny menurut, namun pikirannya lupa akan apa saja yang diperlukan untuk membuat bumbunya.


Meminta bantuan pada Bu Minah? Tidak mungkin. Karena setelah itu, Bu Minah sudah pergi keluar untuk berbelanja. Dan alhasil ia meminta pertolongan pada Balqis yang tak sengaja berada di dapur.


"Den Daffanya lagi tidur ya kak?" Tanya Hanny sembari menyuap buah pada mulutnya, Balqis hanya mengangguk sebagai respon.


Mendengar ucapan Hanny yang menyebutkan anak majikannya itu, membuat Balqis teringat kembali pada kejadian tadi pagi, dimana Daffa bersikap diam mengabaikan Ayahnya seperti itu. Sangat heran bagi Balqis dan mau tak mau Balqis bertanya pada Hanny.


"Hann?"


Hanny menoleh. "Iya kak kenapa?"


"Boleh aku menanyakan sesuatu hal?" Tanya Balqis hati-hati.


Hanny mengangguk heran. "Boleh dong kak. Soal apa?"


"Tuan Gio dan Daffa."


Di saat sedang menikmati buah yang dikunyah Hanny, mau tak mau Hanny menjadi diam karena ucapan yang baru saja Balqis lontarkan.


"Eh ah udah Hann, nggak usah dijawab." Kata Balqis sembari cengengesan karena melihat reaksi Hanny yang tiba-tiba menjadi diam.


Hanny menghela napasnya. "Pasti kak Aqis bingung ya, kenapa Daffa bersikap dingin pada Ayahnya?"


Wah, benar-benar terkejut tak main yang kini Balqis rasakan. Hanny seperti seseorang yang bisa membaca pikiran orang lain saja. Apakah sebenarnya dia cenayang?


Balqis mengangguk ragu. "Kok kamu langsung tau Hann?"


Mendengar pertanyaan Balqis, Hanny langsung memposisikan dirinya duduk menghadap Balqis. "Mungkin ini memang udah saatnya kak Aqis tau." Ucap Hanny.


Detak jantung Balqis mendadak berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Entah mengapa sekarang ia merasakan sekujur tubuhnya mengalir keringat panas dingin.


Benar, gara-gara dirinya menanyakan seperti itu membuat keadaan saat ini menegang. Dan ia sudah salah menanyakan hal ini pada Hanny yang menyangkut soal Tuan Gio dan Daffa, pikirnya.


"Ma—ma'af Hann ... Ak—aku nggak bermaks—"


"Nggak kak. Kak Aqis nggak salah kok nanya gitu ke Hanny, Hanny juga kalo sekarang berada di posisi kak Aqis, pasti akan melakukan hal yang sama, bertanya seperti itu."


Balqis diam sembari menatap Hanny tak enak hati. "Memang seharusnya kak Aqis perlu tau, cuma aku nunggu waktu yang tepat aja buat kasih tau kak Aqis ... "


" ... Supaya kak Aqis nggak heran aja dengan keadaan yang dialami oleh Tuan Gio dan anaknya, Daffa." Lanjut Hanny.


Balqis mengangguk. "Jadi?"


Hanny menghela napasnya sebelum memberitahukan alasan dibalik keheranan yang Balqis alami saat ini.


"Sebenarnya Daffa itu ... "

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2