
'*Rindu padamu ini seperti nun mati yang bertemu dengan huruf izhar halqi. Jelas dan terlihat, walaupun dirimu tidak berada di sekitarku.'
Said Gio Faeyza Darelano*.
***
7 hari kemudian...
Burj Khalifa - Dubai.
Sudah terhitung satu minggu, Gio masih di kota orang. Bukan hanya kota, melainkan sekaligus di negara orang. Ya, dirinya dan Mike serta kolega bisnis lainnya kini sedang berada di Burj Khalifa - Dubai. Karena hal pekerjaan, mau tak mau Gio sementara waktu berjauhan dengan anaknya... Yah terutama Balqis. Eh?
Dubai adalah salah satu kota terbesar di kawasan Uni Emirat Arab yang memiliki pesona luar biasa. Di kota ini, kalian akan menemukan banyak sekali gedung pencakar langit yang salah satunya merupakan tertinggi di dunia dengan nama Burj Khalifa.
Bangunan dengan tinggi 828 meter ini berisi hotel yang mewah, residensial, restoran, perkantoran, dan sky lobby yang bisa digunakan untuk melihat seluruh kawasan Dubai dari ketinggian.
Selain menikmati kemegahan dari Burj Khalifa yang sangat mempesona, kalian juga bisa menikmati wisata belanja di mall berkelas internasional di Dubai.
Salah satu mall berkelas yang banyak dikunjungi oleh turis dari berbagai negara dunia adalah Mall of the Emirates dan Dubai Mall yang memiliki 1.200 toko dari brand ternama dunia. Dan jangan lupakan, semua keindahan yang berada di kota Burj Khalifa ini ialah kepunyaan Gio Faeyza Darelano.
"Pertama-tama, saya mohon maaf karena meeting ini diselenggarakan secara mendadak."
Gio Faeyza Darelano. Pria berkebangsaan Indonesia bercampur darah benua Amerika - benua Asia ini tengah melipatkan kedua tangannya di dada, dengan setelan jas hitam yang sangat rapi, dasi berwarna navy menghiasi dada bidangnya serta tak lupa sorotan kedua matanya yang selalu tajam.
"Tujuan saya mengajak para Direktur serta manager dari setiap Departemen Hotel saat ini, tidak lain akan membahas untuk mengantisipasi persoalan kabar buruk minggu lalu ... " Tegas Gio sembari tatapan matanya mengabsen satu persatu orang-orang yang berada di dalam ruang rapat ini.
" ... Dimana permasalahan tersebut jika terus menerus dibiarkan, akan menurunkan kuantitas prospek perhotelan." Lanjutnya lagi.
"Saya ingin, kalian lebih waspada lagi dan memperhatikan kekuatan serta kelemahan di setiap masing-masing departemen Hotel, termasuk restoran."
"Jika kalian belum menyiapkan apapun, saya mohon mulai detik ini, kalian harus membuat catatannya dan ... "
" ... Segera tuliskan Explanation Report serta submit ke Asisten saya, besok!" Titah Gio tak terbantahkan.
"Be—besok?" Beo salah satu Staff Manager.
Tatapan Gio pun teralihkan pada orang tersebut, lalu berubah menjadi tatapan yang tajam dengan aura gelap yang mencekam.
Melihat tatapan atasannya seperti itu, membuat orang tersebut menelan susah payah salivanya.
Munculah seringaian di sudut bibir Gio, tepatnya seringaian iblis. "Kalau begitu, saya tunggu sore ini!" Ketus Gio penuh penekanan.
"Ba—baiklah, Pak. Saya segera mengerjakannya."
***
C Corner Coffe - Gdynia, Polandia.
__ADS_1
"Sudah dapat, Mike?"
Gio dan Mike, kini mereka sedang berada di dalam Coffe Shop yang berada di Polandia. Ketika Meeting pentingnya itu sudah selesai, Mike memberitahunya, bahwa ia pun sehabis ini akan ada pertemuan dengan seseorang. Seseorang yang akan bekerja sama dengan perusahaan departemen hotel serta restorannya.
C Corner Coffe. Salah satu Coffe shop kepunyaan Gio yang berada di Gdynia - Polandia. Dan dirinya pun baru ke sini lagi, mengunjungi dan melihat perkembangan Coffe shopnya ini. Walaupun sudah ada yang menangani hal tersebut, namun Gio tetaplah Gio, ia termasuk pria yang cukup sulit percaya pada hal apapun.
Jika digambarkan, desain kedai kopi dari Ideograf yang berlokasi di Gdynia, Polandia ini memiliki desain yang cukup mengesankan. Penggunaan kayu pada lantai dan dinding yang dipadukan dengan furniture modern dan juga dinding berwarna putih tampil minimalis dan memberi kesan hot and cool dalam satu ruang.
Sofa dan kursi yang nyaman, disertai dengan beberapa poster vintage menjadi ciri khas tersendiri pada ruangannya. Hal yang paling menarik di dalam kedai kopi ini adalah adanya dinding yang dirancang dengan menyusun cangkir teh di keseluruhan bidang dindingnya.
Mike menggelengkan kepalanya. "Belum, Gio."
"Ck!" Gio berdecak kesal. "Lihat saja. Sekali tertangkap, jati diri pak tua itu akan terungkap." Lanjutnya lagi dengan seringaian seram.
Mike hanya menganggukkan kepalanya. Tak lama dari itu, getaran ponsel Mike pun bergetar. Mau tak mau Mike melihat ada notifikasi apakah yang telah masuk pada ponselnya. Dan seketika raut wajah Mike berubah, menjadi terkejut dan menampilkan senyuman tipis.
"Dapat!" Ucap Mike semangat.
Gio yang sedang menikmati Cappuccino nya itu sembari menunggu seseorang, tiba-tiba dirinya teralihkan dengan ucapan Mike, dengan raut wajah yang sangat penasaran.
"Keberadaannya, heh?" Tanya Gio pada Mike.
Mike mengangguk. "Barusan detektif elo yang kabarin ke gue dan syukurnya, keberadaannya itu dekat dengan kita, Gio."
Gio terkejut. "Are you serious? Poland?" Dan lagi - lagi Mike mengangguk.
"Lo tau kan, jika sudah menemukan keberadaan orang itu lo harus ngapain, Mike?" Tanya Gio serius pada Mike.
Mike mengangguk yakin. "Gue tau." Kata Mike, "lo santuy aja bro, kita tinggal tunggu kabar baiknya aja." Mendengar itu, semakin lebar lah seringaian Gio.
Saking seriusnya, mereka berdua terkejut kala ada seseorang yang menarik kursi di tempat yang kini mereka tempati. Fokus Gio dan Mike pun teralihkan pada seseorang tersebut.
"Hai!" Sapanya senyum pada Gio dan Mike, namun tatapannya selalu ditujukan pada Gio.
Gio hanya menaikkan alis matanya sebelah, lain halnya dengan Mike yang membalas senyuman seseorang tersebut. "Ah hai! Dengan nona Annabella, benar?" Tanya Mike memastikan.
Seseorang tersebut pun mengangguk. "Benar." Katanya sembari berjabat tangan dengan Mike.
"Kenalkan, saya Annabella Carlyn. Yang akan bekerja sama dengan Perusahaan anda, Tuan Gio." Ucap Anna, dimana ia kali ini menyodorkan tangan putih mulusnya pada Gio.
Gila! Udah tajir, gagah, tampan, single lagi. Batin Anna tergoda dengan Gio.
Terlihat dari tatapan Anna yang begitu memuja Gio, yang baru saja ia temui saat ini secara langsung. Sementara Gio? Dirinya hanya memasang wajah sangat datar.
Dan entah mengapa saat Anna memperkenalkan dirinya pada Gip, tiba-tiba pikiran Gio teringat pada perlakuan serta ucapan dari seorang wanita. Seorang wanita yang sudah setengah bulan ini mengasuh anaknya ketika dirinya tidak bisa, yang selama ini memberi warna di dalam kehidupannya tanpa Gio sadari.
Yang berhasil membuat detak jantungnya berolahraga mendadak jika berhadapan dengan wanita itu, dan seorang wanita yang memiliki pancaran cahaya di wajah serta akhlak perilakunya, padahal jika dilihat lekat wanita tersebut tidak memakai make-up.
__ADS_1
Hanya wajah natural serta polosnya saja sudah berhasil membuat Gio terbayang terus menerus wajahnya. Dan Gio akui, dirinya merindukan wanita tersebut. Rindu melihat wajah gugupnya, ketakutannya, merona di pipinya dan tawaan serta senyumannya yang pernah Gio lihat tanpa disengaja.
Siapa lagi kalau bukan, Balqis?
Gio pun merasa aneh dengan dirinya sendiri. Ia masih dilanda kebingungan akan hal ini, dimana jika ia sudah dihadapkan dengan Balqis, ada rasa sensasi yang sangat berbeda di dalam tubuhnya, terkadang Gio pun merasakan desiran aneh di setiap aliran darah tubuhnya.
Apa lagi jika sudah melihat wajah Balqis, entah mengapa ada rasa ketenangan yang menyambut hati Gio. Apakah Gio mulai jatuh cinta kembali? Entahlah, Gio pun masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Dan yang membuat dirinya kembali aneh, mengapa di saat dirinya tak sengaja terbayang wajah natural polos Balqis, dirinya tersenyum.
Padahal di sisi lain, selalu saja Gio diingatkan kembali pada kenyataan pahitnya. Bahwa yang namanya wanita, sama saja hanya ingin menginginkan hartanya.
Tęsknię za tobą, Balqis. Batin Gio lirih.
"Hey, bro!" Ucap Mike sembari menepuk bahu Gio cukup kencang.
Gio tersadar dari lamunannya. Membuat dirinya mengerjapkan kedua matanya. "Ah!" Ucapnya cukup terkejut. "Ada apa, Mike?"
Kamu telah berhasil membuat perasaanku bimbang setengah mati, Balqis!
Mike menggelengkan kepalanya. "Diajak kenalan malah ngelamun lo, kenapa?" Tanya Mike yang tidak formal di hadapan Annabella.
Gio hanya menggeleng kecil. "Nothing." Kata Gio lalu tatapannya beralih pada Annabella yang sedari tadi masih menyodorkan tangan mulusnya.
"Annabella, panggil saja Anna." Anna tersenyum manis.
Gio? Dirinya langsung menangkupkan kedua tangannya di dada. "Gio." Ucapnya sangat datar.
Respon Gio yang seperti itu, sukses membuat sahabat serta Anna melongo. "Sehat lo?" Bisik Mike di telinga kanan Gio.
Entahlah ... Seberapa besar pengaruhmu yang telah masuk ke dalam hidupku, Balqis.
Gio menoleh pada Mike dengan alisnya yang terangkat sebelah. "Baru kali ini gue lihat cara kenalan lo kayak gitu. Ken—"
"So ... Bisa kita mulai?" Tanya Gio to the point pada Mike dan Anna.
Mike yang merasa dikacangi oleh Gio, hanya mendengus lalu mengangguk setuju pada Gio. Sementara Anna, dirinya menelan susah payah salivanya karena respon Gio pada dirinya hanya seperti itu.
Padahal Anna sengaja memaksimalkan tampilan make-up serta fashion nya, bertujuan agar Tuan Gio tertarik pada dirinya, saat pertama kali melihatnya seperti itu.
Lihat aja Gio, gue bakalan ambil hati lo seiring jalannya waktu. Batin Anna menyeringai.
**Bersambung...
Ket:
Tęsknię za tobą, Balqis \= Saya merindukanmu, Balqis. (Bahasa Polandia; Polski).
Jangan lupa tinggalkan jejak jempol serta komentarnya ya, terima kasih💙**
__ADS_1