
'*Ya Allah ...
Kuatkan diri ini maupun hati ini dalam menghadapi hati yang kerap kali tak terkendali.'
Said Balqis Maura Lishyana*
***
"Tutup pintunya!"
Benar. Sesuai perintah Tuannya, Balqis saat ini sudah berada di dalam ruangan kerja Gio. Dimana kini hanya ada mereka berdua saja yang berada di dalam ruangan sunyi.
Tutup? Berduaan?
"Saya mohon, pintunya jangan ditutup, Tuan." Pinta Balqis memohon dan berhasil membuat Gio membalikkan tubuhnya 180° menghadap Balqis.
Balqis tahu, ia sudah keterlaluan karena tidak menuruti titah Gio itu. Ia pun menyadari tatapan Gio saat ini sedang menghunus tajam ke arahnya, ia pun menghindari tatapan Gio tersebut dengan cara menunduk.
"Why?" Tanya Gio, "Kamu takut dengan saya?" Tanyanya lagi.
Balqis menggeleng dan hal tersebut membuat kebingungan Gio semakin meningkat. "Lalu?" Tanya Gio lagi sembari langkahnya mendekat pada Balqis perlahan-lahan.
Menyadari itu, Balqis pun melangkah mundur, namun sia-sia. Kini punggungnya sudah menyentuh dinding ruangan tersebut. Dengan napasnya yang terengah-engah. "Tolong jangan mendekat, Tuan." Pinta Balqis bergetar.
Refleks Gio berhenti melangkah mendekati Balqis, melihat Balqis seperti itu membuat Gio semakin bingung dengan pikirannya.
Ada apa dengannya? Tanya Gio dalam hati.
Gio menghela napasnya berat. "Alasannya apa, Balqis?" Tatapan Balqis pun tertuju pada Tuannya, "Saya butuh bicara serius dengan kamu. Wajar kan kalo pintu ruangannya ditutup?"
Balqis masih diam dan wajahnya kini menunduk. "Jawab, Balqis!" Titah Gio menekan.
Lagi-lagi Balqis menelan susah payah salivanya. "Kar—karena sa—saya tidak bisa berduaan dengan laki-laki yang bukan mahram saya, Tuan." Jawab Balqis gugup, "apalagi di dalam ruangan seperti ini, hanya kita berdua yang mengisi." Lanjutnya lagi.
Gio mengernyit. "Mahram?" Balqis mengangguk. "Apa itu?" Tanya Gio.
Berhasil membuat Balqis mendongakkan kepalanya menatap Tuannya tak percaya. "Jelaskan!" Titah Gio lagi dan Balqis menurut.
"Mahram artinya orang-orang yang memiliki darah yang sama, otomatis menjadi mahram dan ada pula hubungan yang tidak langsung seperti mahram yang diakibatkan oleh hubungan pernikahan. Misalnya, seorang wanita yang sudah menikah dan bersuami maka ia haram hukumnya untuk dinikahi oleh orang lain."
"Contoh lainnya seperti, waktu Tuan pertama kalinya mengulurkan tangan Tuan pada saya, saya pun menolaknya. Karena Tuan bukan mahram saya."
Tatapan Gio pun semakin intens pada Balqis setelah Balqis menjelaskan perihal tersebut. Membuat Balqis salah tingkah. "Lalu, mengenai berduaan dengan saya di dalam ruangan ini, kenapa?" Tanya Gio.
Balqis menghela napasnya, mau tak mau ia menjelaskan lagi pada Tuannya yang berhasil membuat Balqis kebingungan, karena hal ini saja Tuannya tidak mengetahuinya.
"Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam telah melarang tindakan khalwat dengan wanita asing ini dalam hadits shahih bersabda,
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّوَمَعَهاَذُو مَحْرَمٍ
"Janganlah seorang laki-laki itu berkhalwat (menyendiri) dengan seorang wanita kecuali ada mahram yang menyertai wanita tersebut." (HR. Bukhari & Muslim).
Beliau juga bersabda,
أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ باِمْرَأَةٍ إِلاَّكاَنَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ
"Ingatlah, bahwa tidaklah seorang laki-laki itu berkhalwat dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan." (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim. Al-Hakim kemudian menyatakan bahwa hadist ini shahih berdasarkan syarat Al-Bukhari dan Muslim. Pendapat ini disepakati pula oleh Adz-Dzahabi)"
"Tapi kan saya nggak bakal berbuat macam-macam pada kamu, Balqis." Ucap Gio tegas.
Balqis mengangguk mengerti. "Saya pun tau Tuan. Tapi jika seorang laki-laki dengan perempuan yang bukan mahramnya, berduaan seperti layaknya saya dengan Tuan ini. Ketiganya setan akan muncul." Ucap Balqis.
"Dan setan akan menjerumuskan kita lewat bisikan-bisikannya pada hawa nafsu kita masing-masing agar kita masuk ke jurang dosa dan dimurkai Allah." Lanjut Balqis menjelaskan.
Gio pun mencerna semua ucapan yang sudah dilontarkan oleh Balqis panjang lebar. Dan hal tersebut ternyata berefek pada dirinya yang kini sudah menyunggingkan senyumannya.
__ADS_1
Idaman, batin Gio.
Menyadari pujiannya pada Balqis membuat Gio menggelengkan kepalanya.
Astaga, Gio! Apa yang telah kukatakan tentang dirinya? Benar-benar ... Gerutu Gio dalam hati.
"Jadi ini alasannya?" Tanya Gio dan Balqis mengangguk. "Kalau gitu, ikut saya ke Cafe sekarang juga." Ucap Gio.
Balqis refleks tercengang dan ekspresinya pun tertangkap oleh Gio. "Cafe tempatnya ramai. Dan lagi di dalam mobil kita nggak berduaan, bertiga dengan supir." Ucap Gio yang sudah paham arti ekspresi yang Balqis tunjukkan.
Balqis mengangguk patuh. "Saya tunggu di luar." Ucapnya datar lalu melenggang pergi begitu saja meninggalkan Balqis yang masih berdiam diri.
***
"Terima kasih."
Setelah mengucapkan terimakasih pada pelayan Cafe tersebut yang sudah mengantarkan pesanan Gio dan Balqis. Akhirnya Gio pun menyeruput Cappuccino yang menjadi favorit minumnya, sembari menatap Balqis yang sedari tadi masih diam menatap orang-orang berlalu lalang ramai di sekitar Cafe ini.
"Ekhem." Deheman Gio menyadarkan Balqis, dan tatapan mereka berdua pun bertemu.
Astaghfirullah, batin Balqis berucap.
Karena tidak sengaja tatapan mereka bertemu dan hal tersebut bisa mengakibatkan pada jantungnya yang kini berdetak keras dan desiran aneh di dalam tubuhnya.
Gio melihat Balqis yang segera memalingkan wajahnya itu, ia terkekeh. "Ada yang ingin saya bicarakan pada kamu, Balqis."
Balqis menoleh. "Apa itu, Tuan?"
Gio menghela napasnya berat. "Besok saya akan ke Dubai. Melihat perkembangan Hotel dan Restoran saya di sana, selama kurang lebih dua minggu." Ucapnya.
Balqis diam mendengar lanjutan pembicaraan Tuannya itu. "Dan saya minta, selama saya tidak ada. Tolong jaga baik-baik anak saya, Balqis. Mengerti?" Balqis mengangguk.
"Anggap saja, anak saya anak kamu juga." Celetuk Gio dan sukses membuat Balqis menoleh cepat pada Gio serta wajahnya yang tiba-tiba memanas.
Gio melihat itu, menyeringai jahil. "Kenapa dengan wajahmu, Balqis?" Mendengar itu, Balqis langsung menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah panas.
"Hmm ... Balqis?"
Balqis menoleh. "Iya, Tuan?"
Apa ini sudah saatnya? Batin Gio.
"Boleh saya menanyakan sesuatu pada kamu?" Tanya Gio sembari berusaha menormalkan detak jantungnya.
Balqis mengangguk ragu. "Bo—boleh, Tuan. Silakan ... " Jawab Balqis sopan walaupun bercampur gugup.
Gio pun mengambil napasnya pelan dan membuangnya perlahan-lahan. "Ini tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan kamu."
Kebingungan Balqis semakin menjadi kala mendengar ucapan Gio tersebut. "Namun .. Ini mengenai perasaan saya akhir - akhir ini." Ucap Gio lagi.
Perasaan?
"Boleh?" Tanya Gio lagi, dan Balqis mengangguk. "Silakan, Tuan."
Entah sudah berapa lama detak jantung Gio tidak bekerja secara normal. Dirinya dilanda rasa kegugupan yang luar biasa, namun ia pun selalu mengusahakan agar kegugupannya tersebut tidak tampak.
Ternyata bukan Gio saja yang merasakan seperti itu, Balqis pun merasakan hal yang sama dirasakan oleh Gio. Namun ia usahakan agar kegugupannya itu tidak terlihat dengan cara menggigit bibir bawahnya, dengan jari yang saling bertautan dan mengucapkan nama-nama Allah di dalam hatinya.
Gio menghela napasnya terlebih dahulu sebelum menanyakan sesuatu tersebut pada Balqis, yang telah membuat dirinya bingung dengan perasaannya akhir - akhir ini.
"Apa kamu sudah mem—"
Getaran ponsel Gio berhasil menghentikan ucapannya yang sedari tadi ia ingin keluarkan.
Sial!
__ADS_1
Umpatan Gio keluar begitu saja di dalam hatinya. Lalu kedua matanya melirik ponselnya yang sedari tadi bergetar, terpampanglah nama sahabatnya yaitu Mike di ponselnya, memanggil dirinya.
Awas aja lo, Mike! Batin Gio naik darah.
"Tunggu." Ucap singkat Gio pada Balqis.
Balqis yang sedari tadi menyaksikan ekspresi Tuannya, hanya bisa mengangguk tersenyum kikuk. Ia tahu apa arti ekspresi dari Tuannya itu, dimana ketika Tuannya ingin menanyakan sesuatu yang penting pada dirinya, dengan mudahnya getaran ponselnya menghentikan itu semua.
Lagi-lagi Balqis dilanda kebingungan, hal apa yang ingin ditanyakan oleh Tuannya itu? Memangnya penting ya? Dan juga ia berkata, ini tentang perasaannya? Pikir Balqis.
Atau jangan-jangan, Tuan Gio sudah mengetahui kehidupanku yang sebenarnya? Batin Balqis bertanya-tanya.
Balqis menggeleng antusias berusaha mengenyahkan prasangka tersebut.
Lain halnya dengan Gio saat ini, ia berjalan beberapa jarak untuk menerima panggilan dari sahabatnya itu.
"Hal—"
"Ngapain lo nelpon gue, hah?!" Belum sempat Mike berkata, Gio telah mendahuluinya dengan nada kesal.
"Wow, santuy dong brother! What happen?" Tanya Mike dengan tenangnya dalam sambungan telepon, tanpa ada sedikit pun dari bicaranya merasa bersalah.
"Mike!" geram Gio menahan amarahnya.
Mike menyadari itu. "Sorry, Gio. Gue nelpon lo karena mau kasih info."
"Info apa?" Tanya Gio menahan geramnya menghadapi Mike yang sedari tadi bicaranya tanggung, tidak langsung tuntas.
"Someone you're looking for all this time, tomorrow will be to Dubai."
Mendadak raut wajah Gio berubah. "Seriously?"
"Of course. He will do the flight this afternoon."
"So?"
"Lo pasti tau Gio, apa yang harusnya lo lakuin sekarang."
"Okay. What else?"
"Itu aja. Oh ya, sorry ... Gue udah ganggu waktu lo. Hahah—"
Tut ... Tut ...
Sambungan telepon pun diputuskan oleh Gio sepihak.
Bersiap - siaplah menjemput kematianmu, Pak Tua. Gumamnya menyeringai.
Gio pun melangkahkan kakinya ke tempat duduknya dan Balqis duduki. Wajahnya pun kembali datar dingin seperti biasanya.
"Ayo pulang." Ajak Gio tanpa berbasa basi dahulu pada Balqis. Lalu dirinya pergi begitu saja meninggalkan Balqis.
Balqis yang belum menyadari kehadiran Gio, mendadak terkejut dengan suaranya. Lalu segeralah bangkit dari duduknya dan mengikuti Tuannya dari belakang.
Sikapnya itu loh, kayak Bunglon. Berubah-ubah ... Batin Balqis.
"Astaghfirullah!" Kembali tersadar dengan umpatannya barusan.
"Kenapa?" Tanya Gio yang kini sudah berbalik menatap Balqis.
Balqis menggeleng. "Gap—gapapa, Tuan." Kata Balqis sembari menampilkan senyumannya kikuk.
Mendapat jawaban seperti itu, membuat Gio melanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti dan diikuti oleh Balqis di belakangnya.
Sesampainya mereka di depan Cafe, akhirnya mereka masuk ke dalam mobil Gio yang sudah terparkir cantik di depan Cafe tersebut, dan asal kalian tahu, selama Balqis bersama Gio. Balqis selalu melihat lirikan mata para wanita yang selalu mencuri pandang ke Tuannya itu.
__ADS_1
Dan entah mengapa Balqis merasa tak suka saja dengan lirikan mata para wanita tersebut pada Tuannya itu.
Bersambung...