Cinta Serenyah Macarons

Cinta Serenyah Macarons
CSM - 9


__ADS_3

'*Allah benar-benar Maha Baik ya. Kita sebagai manusia terkadang atau bahkan sering membuat-Nya kecewa, cemburu dan menjauh dari-Nya. Tapi Allah?


Selalu baik pada kita. Contoh hal kecil saja, seperti ini; Allah menghadirkan orang-orang baik di hidup kita. Mengapa?


Karena kita belum cukup baik di hadapanNya sebagai manusia yang menghamba pada Allah. Namun ... Allah dengan mudahnya berkehendak seperti itu.


Rasanya malu banget ke Allah, yang telah menghadirkan orang-orang baik dalam hidup kita, sementara kita masih saja membangkang aturan-aturan dari-Nya.


Renungan Diri*.


***


Langit yang sudah gelap namun selalu menghamparkan kerlap kerlipnya bintang-bintang, tidak menutup kemungkinan bahwa gelapnya tak bercahaya. Apalagi disertakan dengan separuh bulan yang kini tengah tersenyum sembari menemani cahayanya bintang, menambah kesan manisnya lapisan langit atas Kuasa Dari-Nya.


Balqis yang kini sudah menidurkan Daffa setelah membacakan do'a hendak tidur, masih saja mengelus lembut puncak kepala Daffa walaupun Daffanya sudah masuk ke dalam mimpi dengan pulas.


Balqis tersenyum kala memandang wajah tampan Daffa, anak majikannya itu sudah terlelap damai. Namun pikirannya seolah-olah memerintahkan dirinya untuk memikirkan kembali soal pembicaraan siang tadi dengan Hanny.


Flashback On.


"*Sebenarnya Daffa itu sakit hati ke Ayahnya kak, Tuan Gio."


Balqis terkejut mendengar hal itu, ternyata anak seusia Daffa sudah merasakan yang namanya disakiti oleh seseorang yang ia sayangi. Rasa penasaran pun mulai memuncak, lalu akhirnya Balqis bertanya untuk menjawab kebingungan dan keterkejutannya.


"Sakit hati?" Tanya Balqis yang kini sudah menghadap Hanny dan Hanny mengangguk yakin.


"Jadi gini kak *...


Satu tahun yang lalu ...


*Setelah makan malam yang baru berlangsung sekitar sepuluh menit yang lalu, kini Gio sedang asyiknya menonton televisi bersama dengan anak kesayangannya, Daffa.


Sesekali Gio mengajak Daffa bercanda, menggelitik perut Daffa yang diakhiri dengan tawaan renyah nan lepas dari Daffa serta Gio.


Namun pertanyaan yang sudah ke sekian kalinya Gio dengar dan Gio terima dari Daffa, membuat suasana antara mereka berdua kembali sunyi.


"Ayah?"


"Hm?" Tanya Gio lembut.


"Benarkan Daffa mempunyai seorang Mama?"


Gio yang sedang mengelus lembut puncak kepala Daffa seketika diam dan tubuhnya menegang walaupun kini sedang memeluk anaknya itu.


Tak ada respon dari Gio, membuat Daffa menyadarkan Gio kembali. "Ayah?"


Gio mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. "O--oh, Mama ya?" Tanya Gio gelagapan.


Daffa mengangguk tersenyum. "Iya Ayah. Benarkan Daffa mempunyai seorang Mama?" Tanya Daffa kembali dengan mengulang pertanyaannya.


Gio pun akhirnya memaksakan untuk tersenyum. "Kenapa Daffa menanyakan hal seperti itu lagi hm?" Tanya Gio setenang mungkin.


Daffa yang ditanya seperti itu, hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Daffa tahu, jika ia bertanya seperti itu lagi pada Ayahnya, Ayahnya pasti akan bertanya kembali sama seperti itu.


"Daffa ingin tau Mama." Lirih Daffa, Gio yang mendengar itu hanya diam sembari mengelus lembut pundak mungil Daffa.

__ADS_1


"Daffa sayang Mama, Daffa rindu Mama." Ucap Daffa lagi bersamaan dengan meneteskan kedua air matanya.


Tapi sayangnya Mama kamu tidak menyayangimu, son. Batin Gio menjawab ucapan Daffa.


"Daffa hanya ingin tau wajah Mama, Yah." Ucap Daffa dan Gio masih diam. "Selama ini, Ayah tidak memperlihatkan wajah Mama pada Daffa." Rengek Daffa lagi.


Gio tak kuasa menahan tangisnya agar tidak tumpah dihadapan anaknya itu, namun ia tetap berusaha agar air matanya tidak ikut terjatuh karena hal ini dihadapan Daffa.


"Daffa tentu saja mempunyai Mama. Tapi ... "


"Tapi Ayah belum bisa memberitahukannya pada Daffa. Itu kan Yah?" Lanjut oleh Daffa.


Gio masih diam. "Kenapa Yah? Kenapa Ayah selalu menjawabnya seperti itu?" Tanya Daffa sedih.


"Apa Ayah tidak sayang ke Daffa, makanya Ayah tid---"


Mendengar kalimat tersebut dari anaknya, membuat kesabaran Gio habis terbakar. Seolah-olah Daffa menganggap dirinya tidak sayang pada Daffa, anaknya.


"CUKUP DAFFA!" Bentak Gio yang sudah tidak tahan dengan rengekkan dari Daffa mengenai mantan istrinya itu.


Daffa terlonjat kaget. Jantungnya merasa berdegup kencang karena sang Ayah tiba-tiba membentak dirinya untuk pertama kali. Daffa melihat kedua mata Gio kini begitu tajam menatap dirinya.


"Ayah tidak suka kamu bertanya soal MAMA terus dihadapan Ayah." Ucap Gio tegas serta menekankan kata 'Mama'.


Tubuh Daffa bergetar, pertanda ia sedang menangis. "Tentu Ayah sayang sekali denganmu, Daffa. Tap---"


"Ayah nggak sayang Daffa! Jika Ayah sayang Daffa, Ayah pasti sudah memperlihatkan Mama pada Daffa." Rengek Daffa.


"Bahkan Ayah pasti bisa meluangkan waktu Ayah untuk Daffa di hari libur. Tapi Ayah selalu sibuk deng---"


"DAFFA!" Bentak Gio kembali sembari meremas kuat kedua bahu Daffa.


"AYAH SEPERTI INI PUN UNTUK KAMU, DAFFA! KEBAHAGIAAN KAMU! MENGAPA KAMU SELALU SAJA MENGANGGAP AYAH TIDAK SAYANG KAMU HAH?!" Akhirnya kesabaran Gio terbakar sudah tak tersisa dan meluaplah emosinya pada Daffa, terlihat dari urat lehernya yang menonjol serta cengkramannya pada Daffa begitu kuat.


Daffa yang pertama kalinya diperlakukan seperti itu oleh Ayahnya, tangisannya pun pecah. Dan ia akhirnya berusaha untuk melepaskan cengkraman dari Ayahnya. Lalu berlari dan menghamburkan pelukan pada Hanny.


Hanny yang sedari tadi sedang membereskan meja makan tersebut memang tak sengaja mendengar pembicaraan antara Gio dengan Daffa. Namun ia tak ambil pusing, ia tidak mau masuk ke dalam urusan Tuannya itu.


Hanny yang terkejut karena Daffa memeluknya sontak menegang, bukan... Bukan soal dia menegang dipeluk oleh Daffa, melainkan tatapan Gio yang tajam itu beralih pada dirinya.


Dan tatapan Gio pun menunjukkan pada Hanny agar secepatnya membawa Daffa ke kamarnya, Hanny menurut*.


*Back to Hanny and Balqis*


"*Karena saat itu, Tuan Gio belum juga mendapatkan Babysitter yang cocok untuk Daffa, kak."


Balqis mengangguk mengerti. "Jadi ... Selama belum ada babysitter untuk Daffa, terkadang aku yang mengasuh Daffa. Kalau aku sibuk dengan kerjaanku, kadang juga Bu Minah bahkan Bu Arsyita pun pernah ikut turun tangan."


Balqis masih dengan diamnya. "Aku berharap banget kakak bisa mengembalikan keadaan Tuan Gio dengan Daffa lebih baik seperti dulu."


Balqis mendengar itu langsung menoleh dan menatap Hanny penasaran. "Jujur kak, aku merasa kasihan pada Tuan Gio. Pasti ia pun merasa sakit hati karena lamanya ia didiamkan oleh anaknya ... "


" ... Aku tau, Tuan Gio salah karena sikapnya seperti itu pada Daffa. Tapi di sisi lain juga, aku kasihan pada Daffa ... Ah bingung campur dilema pokoknya kak."


Balqis menghela napasnya. "Kamu berharap padaku, Hann?" Hanny pun mengangguk penuh harapan.

__ADS_1


Balqis tersenyum. "Aku mohon sama kamu, tolong buang harapan kamu padaku itu, Hann."


Hanny terkejut mendengar itu. "Loh, kenapa kak? Kak Aqis nggak mau Tuan Gio dengan Daffa kem---"


"Ssstt ... Bukan gitu." Jawab Balqis tenang. "Terus?"


Balqis tersenyum. "Sebaik-baiknya kita menggantungkan harapan itu hanya pada Allah saja. Jangan ke yang lain, termasuk pada orang yang kita sayang ataupun orang yang kita percayakan."


Dahi Hanny mengernyit. "Kenapa gitu kak?"


"Karena Allah lah sebaik-baiknya menaruh harap. Jika pada manusia, akan berakhir oleh rasa kekecewaan. Apalagi harapan kita pada manusia tersebut begitu besar, otomatis kekecewaan yang kita dapatkan pun akan besar."


"Seperti halnya Umar Bin Khattab, ia pernah berharap lebih pada Rasulullah namun setelah Rasulullah wafat, ia pun merasa kecewa dan akhirnya ia belajar dari kisahnya ini ...


Ketika beliau begitu sedih, dan Abu Bakar mengatakan, 'Umar, Rasulullah itu manusia, dan semua manusia akan mati menghadap Allah. Sedangkan, Allah ialah Tuhan kita, Kuasa Alam Semesta ini dan tidak akan pernah mati. Maka dari itu lah berharap pada manusia akan habis, namun tidak kepada Allah.' "


"Allah adalah sebaik-baiknya tempat pengharapan. Allah adalah sebaik-baiknya tempat mengadu. Tapi, banyak dari kita yang lalai, dan lebih mengedepankan mengadu kepada manusia. Dianggap bahwa manusia adalah tempat sebaik-baiknya jawaban permasalahan ... "


" ... Kita sibuk mengadu dan mengeluh kepada manusia yang juga memiliki masalah. Padahal ada Allah, yang kapanpun dan di manapun pasti mendengar kita dan yang mendatangkan solusi itu sendiri."


"Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain Dia. Maka, Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya." - Imam Syafi'i.


"Bagaimana mungkin manusia tidak merasakan sakit hati dan kecewa, jika harapan hidup diberikan kepada sesama manusia-mahluk hidup yang membutuhkan pengharapan juga? Betul nggak?"


Hanny mengangguk tersenyum lalu memeluk Balqis. "Terima kasih banyak kak udah beritahu Hanny. Kini Hanny tau, Hanny harus berharap pada siapa."


Balqis mengangguk tersenyum dan membalas pelukan Hanny. "Alhamdulillah, sama-sama Hann*."


Flashback Off.


Balqis meneteskan air matanya ketika mengingat kembali persoalan antara Tuan Gio dengan Daffa itu.


"Ya Allah ... Kuatkanlah kesabaran pada Tuan Gio yang kini tengah menghadapi ujian yang Engkau datangkan padanya ... "


" ... Dan semoga Daffa segera mengerti dan mau memaafkan atas sikap Ayahnya seperti itu."


Balqis berguman memohon pada Sang Illahi sembari tatapan matanya tak lepas dari wajah tampan Daffa.


"Kehidupan kalian itu sedang diuji oleh Allah. Dan semoga dengan adanya ujian ini, Allah mendatangkan pada kalian kebahagiaan yang sangat manis." Ucap Balqis bermonolog kembali, sembari mengelus lembut pundak Daffa.


"Aamiin ... "


Tunggu! I—itu kan suaranya ...


Mendengar suara yang sangat familiar bagi telinga Balqis, membuat seluruh tubuhnya kaku. Dengan cepat Balqis menoleh ke asal sumber suara, dan mendapati ...


"Tu—tuan!" Kata Balqis memekik terkejut.


Ternyata dugaannya benar. Ia Tuan Gio, Ayahnya Daffa. Lalu cepat-cepat Balqis merubah posisinya, yang tadinya ia ikut berbaring menidurkan Daffa langsung mendudukkan dirinya di tepi kasur Daffa.


Gio yang melihat semua itu, membuat dirinya harus menahan tawanya agar tidak pecah.


"Setelah ini, nanti kamu ke ruangan kerja saya." Ucap Gio kembali dengan sifat datarnya lalu pergi meninggalkan Balqis yang sudah mematung tak jelas.


Mau apa ya ke ruangan kerjanya?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2