
Hari berganti tak terasa sudah satu bulan sejak kejadian kecelakaan itu pak Eh berhenti bekerja, bukan hanya itu pemasukan untuk keluarga pak Eh pun sudah tak ada ada lagi. Untuk melunasi biaya pembayaran perawatan selama pak Eh di rumah sakit Bu Siti dan Alea mengeluarkan semua tabungan yang mereka miliki, bu Siti pun sudah meminjam uang kepada tetangga.
Warung makan yang dulu sempat menjadi salah satu pemasukan untuk keluarga pak Eh kini tutup karena tidak memiliki modal usaha lagi. Biaya untuk keperluan belanja untuk bahan makanan tak tersisa.
Pak Eh sudah berada di rumah menjalani berobat jalan, kaki dan tangannya masih berbalut gibbs karena akibat patah tulang.
Saat ini keuangan keluarga pak Eh benar-benar minim, Alea sudah tidak ada uang lagi untuk membeli susu untuk Aska.Alea benar-benar pusing saat ini. Bu Siti mengerti apa yang sedang di pikirkan oleh Alea, bu Siti menghampirinya Alea yang sedang menemani Aska bermain.
"Alea, maafkan kami. Karena kami kamu dan Aska hidup susah," ucap bu Siti sambil menatap Alea dengan tatapan sedih.
"Bu, jangan ngomong seperti itu Alea sedih. Aku ini anak kecil ibu sama bapak kan?" ujar Alea, Alea menatap bu Siti.
"Kamu adalah anak kami, Alea. Meskipun kamu terlahir dari rahim ibu dan dara kami tidak sama dengan mu tetapi bagi kami kamu adalah anak kami, Alea," ucap bu Siti.
"Bu, kalau aku ini sudah menjadi anak buat bapak sama ibu, aku mohon jangan berkata seperti itu lagi aku sedih," ucap Alea. Mendengar perkataan Alea membuka hati bu Siti tersentuh.
Hari menjelang sore Nur pulang dari tempat kursusnya, Nur pulang dengan wajah sedih. Kepulangan Nur di sambut oleh ibu Siti, bu Siti melihat Nur yang pulang dengan wajah sedih membuat bu Siti khawatir. Bu Siti menghampiri putrinya.
"Nur, ada apa?"
"Bu, minggu depan Nur harus bayar uang les," ucap Nur, Nur sudah menunggak uang les dari bulan lalu.
"Nur, sabar ya. Ibu akan mencari uang untuk bayar les mu," jawab bu Siti.
Tak jauh dari tempat bu Siti dan Nur bicara ada Alea yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan antara ibu dan anak. Hati Alea meras sedih di satu sisi Alea tidak ingin Nur adik angkatnya berhenti mengikuti les tapi disisi lain Alea tidak memilih uang lagi untuk membantu Nur, Alea hanya bisa duduk termenung memikirkan nasib mereka kedepannya.
Tak ada lagi yang bisa mereka perbuat saat ini, rasanya tidak mungkin mengharapkan pak Eh bekerja dengan kondisinya saat ini, untuk memulai usaha warung makan mereka tidak lagi memiliki modal, pak Eh dan bu Siti saat ini justru terlilit hutang pada tetangganya, meskipun tetangganya belum menagih utang tersebut tetap saja perasaan bu Siti dan pak Eh tidak enak hati terhadap tetangganya itu.
Di tengah-tengah keheningan rumah pak Eh di datangi seseorang.
__ADS_1
"Permisi, bu Siti!" panggil tamu tersebut.
"Permisi......!" panggil tamu itu lagi karena belum ada sahutan dari penghuni rumah. Bu Siti mendengar namanya di panggil seseorang dari depan rumah segera melangkah ke depan untuk melihat siapa yang datang.
"Eh, nak Juju. Tumben main kesini, mari masuk," ucap bu Siti ramah. Juju adalah temannya Nur.
Juju pun langsung menuruti perkataan bu Siti, Juju duduk di salah satu kursi yang tersedia di ruang itu.
"Tumben Ju, mau cari Nur?" tanya bi Siti setelahnya.
"Iya nih, bu. Juju ingin bertemu Nur. Nur nya ada?" tanya Juju.
"Ada, sebentar ibu panggil karena," bu Siti langsung memanggil Nur dari kamarnya. Nur pun keluar dari dalam kamarnya menemui Juju.
"Eh, Ju. Udah pulang kerja?" sapa Nur. Juju memang sudah bekerja sebagai OB si sebuah perusahaan besar.
"Beneran Ju, aku mau," jawab Nur antusias, wajah Nur langsung terlihat ceria setelah mendapatkan tawaran kerja dari Juju.
"Nur, kamu nggak boleh kerja. Bagaimana dengan les mu," potong Alea. Alea sudah mendengar percakapan Nur dan Juju.
"Tapi kak,..." belum selesai Nur berkata Alea langsung memotong kata-kata Nur.
"Biar aku aja yang kerja. Kamu lanjutin les nya sayang tinggal sebentar lagi selesai," ujar Alea.
"Tapi kak...." Nur tak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Juju, kalau aku yang gantiin Nur, bisa?" tanya Alea pada Juju.
"Bisa kak, kalau kakak mau," jawab Juju.
__ADS_1
"Alea, kamu tau tugas OB itu apa?" tanya pak Eh tak yakin. Pak k Eh merasa berat jika Alea bekerja sebagai OB karena pak Eh tau bagaimana kehidupan Alea dulu. Masih tersimpan di memori pak Eh penampakan rumah Alea waktu itu. Rumah pak Eh sangat tidak bisa di bandingkan dengan rumah megah Alea sungguh bagaimana langit dan bumi perbedaannya.
Alea menatap pak sambil tersenyum, Alea sudah memutuskan sendiri jika dirinyalah yang akan bekerja di rumah itu.
"Alea tau pak," jawab Alea.
"Tapi Alea, ibu tidak tega kamu melakukan pekerjaan itu," ucap bu Siti.
"Bu, pak Nur lagi les sayang kalau lesnya Nur berhenti, lagipula les Nur tinggal bentar lagi," terang Alea.
"Kamu yakin mau bekerja sebagai OB?" tanya bu Siti tak yakin.
"Alea yakin. Tapi ibu nggak papa kan kalau jaga Aska selama Alea kerja?" ujar Alea.
"Ibu sama bapak bisa menjaga Aska, Tapi kamu yakin mau terima pekerjaan itu?" ujar bu Siti, bu Siti jujur tak tega jika Alea bekerja sebagai OB, lebih baik Nur yang kerja sebagai OB dari pada Alea menurut bu Siti.
"Bu, Alea pasti bisa. Lumayan nanti uangnya bisa kita tabung lagi buat buka warung makan lagi," ucap Alea antusias.
Melihat Alea yang bersemangat menerima pekerjaan itu pak Eh, bu Siti dan Nur tak bisa lagi melarang Alea.
"Ju, kapan kira-kira aku bisa mulai kerja?" tanya Alea semangat.
"Kakak buat dulu surat lamaran nanti besok pagi sebelum aku berangkat kerja, aku mampir kesini buat ambil surat lamarannya.Biar aku aja yang bawa," terang Juju. Alea merasa senang dengan perkataan Juju karena itu artinya Alea tidak perlu mengeluarkan ongkos lagi karena keuangannya sudah mepet.
Beruntung waktu Alea kembali kerumahnya dulu, Alea membawa semua surat-surat yang penting termasuk ijasah kelulusannya. Alea memegang ijazah lulusan SMA karena Alea berhenti kuliah waktu itu.
Dengan penuh semangat Alea menyiapkan berkas surat lamarannya, Dalam hatinya Alea berdoa dan berharap agar dirinya bisa di terima bekerja di perusahaan tempat Juju bekerja. Meskipun kerjaannya hanya sebagai OB Alea tidak keberatan sama sekali, yang terpenting bagi Alea saat ini adalah menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka semua.
Bersambung
__ADS_1