
Sudah satu bulan lebih sejak Alea bekerja di perusahaan Olan dirinya tidak pernah melihat bahwa Olan mengingatnya ataupun mengenali Alea, meskipun awalnya setiap kali Alea bertemu dengan Olan perasaannya tidak pernah tenang, perasaan takut dan khawatir menghantuinya tapi seiring berjalannya waktu Alea mulai terbiasa dengan keadaan di sekitaran Olan.
Pagi ini Alea kedapatan tugas untuk membersihkan ruang kerja Olan yang merupakan pimpinan tertinggi di perusahaan tempat Alea bekerja. Alea sudah membawa alat perlengkapan untuk bersih-bersih, mulai dari sapu, lap, kemoceng dan alat pel tentunya. Karena masih pagi tentunya si pemilik ruangan belum datang. Alea mulai membersihkan ruangan tersebut mulai dari membersihkan meja kerja menata rapi alat tulis dan lembaran kertas kembali pada tempatnya. Tak ada rasa khawatir atau takut yang dirasakan oleh Alea, Alea berfikir jika bosnya itu benar-benar tidak mengingatnya.
Sebelum meninggalkan ruangan tersebut Alea mengecek sekali lagi takutnya ada yang terlewatkan, setelah memastikan bahwa semuanya sudah bersih Alea keluar dari dalam ruangan bosnya sambil membawa kembali alat pembersih untuk di bawah ke pantry supaya bisa di bersihkan.
Alea kembali ke pantry di dalam ruangan pantry Alea menemukan Juju sedang menyantap makan paginya.
"Ju, udah dari tadi nyampenya?" tanya Alea.
"Alea, maaf ya aku tadi agak telat. Dirumah lagi pada rame," terang Juju.
"Ngga papa, ruangan pak bos udah beres," ucap Alea.
"Kamu memang teman yang baik, makasih ya. Oh ya, ini aku bawakan bubur ayam buat kamu," Juju menyodorkan sebuah plastik putih yang berisikan sebuah kota mika putih yang di dalamnya sudah ada bubur ayam seperti yang dikatakan oleh Juju tadi.
"Wah, makasih banyak ya Ju, jadi enak sayanya ," ujar Alea sambil terkekeh.
"Udah, dimakan dulu keburu dingin," saran Juju. Alea pun langsung menujuh wastafel untuk mencuci tangannya sebelum makan.
Sementara Juju dan Alea menyelesaikan sarapan paginya seorang pria tampan berkulit putih melangkah maju keruang kerjanya dengan langkah cepat, ya Olan pagi ini sudah dijadwalkan untuk mengadakan meeting. Olan memasuki ruang kerjanya sambil matanya menyapu bersih ruangan tersebut, Olan tersenyum kecil karena mendapati bahwa ruang kerjanya sudah bersih dan rapi satu lagi ruangannya sudah wangi. Alea ternyata sebelum meninggal ruangan tersebut terlebih dahulu Alea menyemprotkan parfum khusus.
Olan langsung duduk si meja kerjanya, sekali lagi Olan menarik garis sudut bibirnya memberikan satu senyuman kecil.
"Pasti dia yang sudah membersihkan ruangan ku, rapi dan wangi" ucap Olan pelan. Ada perasaan tenang yang dirasakan Olan saat itu entah apa karena parfum lavender yang di semprotkan oleh Alea tadi atau justru karena Olan tau jika Alea lah yang membersihkan ruangannya. Entahlah yang pastinya Olan senang.
Sudah menjadi sebuah kebiasaan sebelum Olan mulai bekerja dirinya membutuhkan segelas kopi hitam. Karena di mejanya belum tersedia Olan menelpon bagian pantry.
"Halo...." sapa Juju setelah telpon yang menempel di dinding berdering. Juju yang mengangkat panggilan tersebut.
"Kopi..." hanya satu kata itu yang diucapkan oleh Olan.
"Baik pak, segera saya buatkan," jawab Juju. Panggilan terputus.Juju sudah hafal betul suara bosnya jadi tak perlu bertanya lagi siapa yang sedang berbicara dengannya.
Juju segera menyeduh segelas kopi hitam kesukaan Olan, setelah selesai Juju menyerahkan kopi itu pada Alea.
"Alea, aku minta tolong boleh?" ucap Juju.
"Ya, mau minta tolong apa?"
__ADS_1
"Tolong bawakan kopi ini sama pak Olan. Aku mau nganterin gelas ini di ruang lain," ujar Juju. Alea pun mengiyakan, Alea bersedia mengantarkan kopi untuk Olan.
Alea memindahkan gelas yang berisikan kopi kedalam sebuah nampan, pikir Alea karena sudah terbiasa bertemu dengan Olan tidak terjadi sesuatu yang membuatnya dirinya takut jadi bukan lagi masalah besar baginya jika hanya mengantarkan segelas kopi untuk Olan.
Alea membawa kopi itu keruang kerjanya Olan tanpa berfikir yang aneh-aneh.
"Permisi...." ujar Alea dari balik pintu. Olan mendengar suara Alea langsung tersenyum.
"Masuk...!" seru Olan. Alea pun masuk ke dalam ruangan tersebut membawakan kopi untuk Olan.
"Permisi pak, mau saya taru dimana kopinya?" ucap Alea sopan.
"Taru di situ saja," Alea pun meletakkan gelas berisi kopi di tempat yang di tunjuk Olan.
"Kamu tadi yang membersihkan ruangan saya?" tanya Olan setelah Alea meletakkan kopi.
"Iya, pak. Apa ada yang salah?" tanya Alea khawatir. Alea takut jika sudah kesalahannya.
"Tidak ada..." jawab Olan.
"Haa....."Alea pun tersenyum lega.
"Betah pak..." jawab Alea sambil tersenyum kecil.
Deg.... Deg...
Jantung Olan langsung berdebar melihat senyum manis Alea. Olan berusaha menetralkan degup jantungnya supaya tidak bisa di terlihat oleh Alea jika dirinya terpesona oleh senyuman Alea.
Olan merubah posisi duduknya menjadi tegak untuk mengurangi getar-getar aneh di dadanya.
"Mulai besok tugas kamu adalah membersihkan ruangan saya, tidak boleh ada orang lain yang boleh membersihkan ruangan saya selain kamu," terang Olan.
"Ha....tapi pak...."
"Tidak ada kata tapi, ini adalah perintah," ucapan Alea langsung di potong oleh Olan.
"Baik pak," jawab Alea pasrah. Tak mungkin bagi Alea membantah perkataan bosnya kan?.
Alea masih berdiri mematung menghadap Olan menunggu perintah selanjut.
__ADS_1
"Kamu boleh pergi sekarang," ucap Olan.
"Baik pak, saya permisi," jawab Alea, sesudah itu Alea balik badan melangkah pergi kembali keruang tempat khusus untuk Juju dan dirinya. Pantry.
Setelah Alea pergi Olan langsung menghubungi pihak HRD untuk menghadapnya. Beberapa menit kemudian seorang wanita merupakan pimpinan HRD memasuki ruangan Olan.
"Permisi pak, bapak panggil saya," ucap HRD.
"Iya, masuk.... Silahkan duduk," balas Olan.
"Makasih pak. Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya sopan HRD.
"Yang saya minta sudah ada?" tanya Olan.
"Ada pak, ini..." HRD itu menyerahkan satu map berisikan data Alea sesuai yang diminta Olan.
"Saya mau, mulai besok hanya Alea saja yang memberikan ruangan saya. Satu lagi ubah kontrak kerjanya, dan di dalam kontrak tersebut berisikan bahwa tugas Alea hanya untuk mematuhi perintah saya dan hanya saya yang bisa memberikan tugas kepada Alea.Mengerti," terang Olan panjang lebar. Niat Olan melakukan hal ini supaya Alea bisa lebih lama lagi bersama dengan dirinya.
HRD yang mendengar perintah bosnya mengerutkan keningnya tanda bertanya.
"Apa kurang jelas yang ku katakan tadi?" tanya Olan setelah melihat ekspresi HRD.
"Mengerti pak, saya akan segera membuat kontrak kerja yang baru untuk Alea," jawab HRD cepat.
"Bagus, saya mau mulai besok Alea sudah memiliki tempat tepat di depan ruangan saya," ujar Olan. HRD itu pun semakin binggung dengan permintaan CEO nya.
"Astaga, apa bos aku ini sedang jatuh cinta sama OB?" ujar HRD dalam hatinya.
Melihat orang yang ada di depannya bengong Olan langsung menatapnya dengan tatapan dingin.
"Apa perlu saya perjelas?"
"Tidak pak, saya permisi jika tidak ada lagi yang di butuhkan," jawab HRD kikuk.
"Silahkan, ingat mulai besok ya," Olan kembali menegaskan ucapnya.
"Baik pak, saya permisi," setelah mengatakan kalimat itu HRD pun pamit pergi kembali keruang kerjanya.
Bersambung
__ADS_1
*Terimakasih sudah mampir dan setia menunggu update. Maaf saya suka telat balas komennya 🙏