CINTA TAK TERSELAMATKAN

CINTA TAK TERSELAMATKAN
Bab 36 PENGHORMATAN TERAKHIR


__ADS_3

Di dalam ruangan bu Siti menangis meratapi kepergian Alea, pipinya sudah basah oleh airmata. Sungguh bu Siti tidak menyangka jika akhir hidup Alea yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri harus berakhir dengan cara yang sangat tragis. Bi Siti memeluk tubuh Alea yang kini terbaring tanpa bergerak sedikitpun, berat rasanya bu Siti melepaskan dan mengikhlaskan kepergian Alea. Beberapa kali bu Siti menyebut nama Alea dengan harapan Alea bisa bangun dari tidurnya.


Sementara itu Olan berdiri tak jauh dari tempat bi Siti, pandangan matanya terus tertuju pada tubuh Alea yang di selimut selembar kain berwarna putih. Perih, sakit dan perasaan bersalah kini seolah-olah sedang berganti menghukum Olan. Butiran bening jatuh di sudut matanya Olan, seandainya saja Olan bisa memutar kembali waktu ingin rasanya Olan kembali pada waktu saat Olan bertemu dengan Alea terakhir kalinya, Olan akan merubah keinginannya untuk menemui Alea. Tapi semuanya sudah terjadi yang tertinggal kini hanyalah penyesalan bagi Olan.


Olan melangkah maju mendekati tubuh Alea setelah bu Siti kekuar dari ruangan itu, Olan menatap wajah Alea yang terlihat pucat, luka di kepala Alea sudah di tutupi oleh selembar kain kasa berwarna putih. Dengan sangat lembut Olan menyentuh pipi Alea.


"Alea, maafkan aku. Sungguh aku tak berniat untuk menyakitimu," ucap Olan sangat pelan dan terdengar sangat lirih.


"Alea, sungguh aku mencintaimu, maafkan aku," sambung Olan.


"Alea, aku sungguh mencintaimu, aku berjanji padamu bahwa kamu akan menjadi wanita satu-satunya di hatiku, tidak akan ada yang lain," Olan terus berbicara dengan Alea seolah Alea bisa mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Olan. Olan terus berada di dalam ruangan itu seolah tak ingin pergi meninggalkan Alea sendirian, Olan ingin menemani Alea sampai saat waktunya untuk di bawah ke tempat peristirahatan terakhir.


Pak Eh sudah selesai berbicara dengan dokter, pak Eh mencari tempat yang agak tersembunyi untuk menghubungi pak rt. Pembicaraan antara pak Eh dan pak rt terjadi begitu singkat sehingga tak ada satu orang pun yang tahu apa yang sedang di bicarakan dua orang itu.


Pak Eh kembali menemui istrinya, dengan langkah cepat pak Eh menuju tempat Alea terbaring.


"Pak..," panggil bu Siti.


"Bu, kita harus segera mengurus Alea," ujar pak Eh.


"Iya, pak. Di dalam ada pak Olan," terang bu Siti.


Pak Eh masuk ke dalam ruangan dan mendapati Olan sedang menatap Alea. Untuk pertama kalinya pak Eh menatap Olan dengan tatapan penuh amarah, jika bisa dan DIINGINKAN ingin rasanya pak Eh memberikan sebuah pukulan di kepala Olan. Pak Eh menyimpan amarahnya jauh di dasar hatinya. Yang utama harus di lakukan oleh pak Eh sekarang adalah mengurus Alea supaya segera di pindahkan.


Olan memalingkan wajahnya melihat siapa yang baru saja masuk, sorot matanya langsung sayu. Tatapan mata penuh penyesalan terpancar dari sinar matanya.


"Pak, maafkan saya," ucap Olan lirih.


"Puas...." balas pak Eh dengan tatapan penuh kemarahan.

__ADS_1


"Sungguh, aku tak bermaksud menyakiti Alea," ucap Olan sambil menundukkan kepalanya.


"Keluar....," pak Eh langsung mengusir Olan.


"Tapi, pak. Aku...."


"Saya bilang keluar," ucapan Olan langsung di potong oleh pak Eh.


"Keluar......!" ujar pak Eh sekali lagi mengusir Olan. Suara pak Eh sudah cukup menggambarkan bahwa dirinya sudah hampir di batas kesabaran.Tak ingin menambah keruh keadaan, Olan menuruti perkataan pak Eh, yaitu keluar. Olan keluar dengan perasaan berat, dirinya masih ingin menemani Alea di sana.


Setelah Olan keluar pak Eh langsung menyentuh Alea. Pak Eh mengerti apa yang dikatakan dokter tadi. setelah memastikan semuanya seperti yang dikatakan dokter, pak Eh keluar ruangan menemui istrinya.


"Bu, saya sudah menghubungi pak rt. Ibu pulang dulu biar bapak yang urus semuanya disini," ucap pak Eh.


"Terus, bagaimana dengan biaya rumah sakit?" tanya bu Siti. Bukankah rumah sakit harus di bayar.


"Urusan rumah sakit sudah beres," ucap Olan. Tak ada jawaban yang terucap dari bibir pak Eh dan bu Siti, bahkan kata terima kasih pun tidak.


"Bu, segera pulang, Urus keperluan Alea di rumah," Pak Eh mengabaikan Olan. Bu Siti menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas perintah suaminya.


Sebelum pulang ke rumah Bu Siti berpamitan dengan pak Eh.


"Pak, ibu pulang,"


"Hati-hati, segera urus keperluan Alea dan jangan lupa bersihkan rumah supaya ketika Alea pulang rumah sudah rapi," pak Eh memberikan instruksi kepada istrinya.


"Maaf, bu. Ibu pulang sama siapa?" tanya Olan tiba-tiba.


"Sendiri, naik ojek," jawab bu Siti jutek.

__ADS_1


"Biar sama aku aja," tawar Olan.


Mendengar perkataan Olan pak Eh bernafas sedikit lega, karena itu artinya pak Eh memiliki waktu untuk mempersiapkan Alea.


"Bu, pulangnya diantar.pak Olan saja, biar cepat sampai," pak Eh langsung menyetujui usul Olan. Bu Siti mengerutkan keningnya tak percaya dengan perkataan suaminya.


"Biar pak Olan yang antar ibu pulang," pak Eh langsung menegaskan ucapnya setelah melihat keraguan istrinya.


Sebenarnya bu Siti ingin bertanya apa maksudnya suaminya menyuruhnya pulang bersama dengan Olan, tapi karena melihat ekspresi wajah suaminya bu Siti mengurungkan niatnya. Setelah berbicara bu Siti pamit pada suaminya begitu juga dengan Olan.


Pak Eh menatap punggung istrinya dan Olan yang perlahan tapi pasti menjauh darinya, setelah merasa cukup pak Eh segera menemui dokter yang tadi. Pak Eh setengah berlari menuju ruang dokter. Sampai di sana ternyata dokter itu sudah menunggu kedatangan pak Eh. Terjadi percakapan membahas tentang Alea. Setelah sepakat pak Eh langsung bergegas menujuh ruang tempat Alea di susul oleh dokter.


Persiapan pemakaman Alea sudah selesai, bahkan peti tempat Alea bersemayam sudah tiba di rumah pak Eh. Banyak warga yang datang melayat, warga sendiri terkejut mengetahui bahwa Alea meninggal. Pak rt sudah menyiapkan tempat nantinya peti Alea akan di kubur.


Sayangnya pemakaman Alea justru tak dihadiri oleh Aska putranya, bukan tanpa sebab Aska tidak di bawa Akan tetapi dengan pertimbangan antara pak Eh dan Olan maka Aska jadi tidak ikut bergabung mengantarkan Alea.


Di saat peti akan di bawah ke lahan penguburan, Olan meminta waktu sebentar.


"Pak, apa boleh saya melihat Alea untuk terakhir kalinya?" pinta Olan, Olan meminta demikian karena dari saat peti mati di bawah ke rumah, peti itu tidak di buka sama sekali. Dari rumah sakit peti mati sudah tertutup rapat.


"Tidak..." tolak pak Eh.


"Sekali saja..." pinta Olan memohon.


"Itu pesan Alea, sebelum Alea pergi," jawab Pak Eh. Sekali lagi Olan mengalah karena itu merupakan permintaan Alea yang terakhir. Olan menghormati keinginan Alea.


Peti diarak menujuh tempat pemakaman umum yang jaraknya sekitar lima kilo meter, para pelayat ikut mengantarkan kepergian Alea ke tempat terakhirnya. Namun sepanjang prosesi acara pemakaman tak ada yang memperhatikan sikap pak Eh, wajah pak Eh sama sekali tidak terlihat sedih apa lagi kehilangan. Wajah pak Eh justru memperlihatkan bahwa dirinya sedang memikirkan sesuatu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2