
Obrolan terus berlanjut kedua orang tuanya Olan menunggu penjelasan lebih lagi tentang kematian Alea. Mereka ingin tahu bagaimana cara Olan memaksa Alea supaya berada disisinya. Dan bukan hanya itu bu Linda dan suaminya juga ingin mengetahui tentang kehidupan Alea dan bagaimana dengan kehidupan cucu mereka, Aska. Yang baru saja mereka tau tentang keberadaannya.
"Olan, darimana kamu yakin jika anak itu adalah anakmu?" tanya bu Linda. Bu Linda masih belum yakin akan pengakuan putranya bahwa anak kecil yang baru saja datang ke rumahnya adalah cucunya.
"Olan sudah tes DNA dan terbukti Aska adalah anak Olan," terang Olan singkat padat dan jelas.
Olan kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam , bayangan Alea saat tertabrak mobil masih bisa di lihat dengan jelas bagaimana tubuh Alea jatuh terkapar diatas aspal jalanan.
"Olan....," bu Linda mengusap punggung Olan. Olan diam tidak memberikan respon.
"Olan, apa masih ada hal lain yang belum kami tau?" tanya papanya Olan.
Olan mengangkat kepalanya menatap orang orang yang bertanya.
"Nama perempuan itu adalah Alea," ujar Olan.
"Ceritakan bagaimana cara kalian berdua bisa bertemu?" tanya bu Linda dengan perasaan ingin tahu.
"Alea, bekerja di kantor kita sebagai OB," terang Olan.
"Ha... OB? Ngga salah!" ujar bu Linda dengan dahi mengkerut.
"Iya, Alea bekerja sebagai OB. Awalnya Alea terkejut melihat Olan begitu juga dengan Olan. Tapi Olan bisa bersikap biasa saja berpura-pura tidak mengenalinya," ujar Olan.
"Terus...." ucap pak Ravlin tak sabar menunggu cerita selanjutnya.
"Untuk menahan Alea supaya tidak bisa pergi, Olan membuat trik untuk Alea. Olan buat supaya Alea menandatangi kontrak kerja Olan mulai mendekatinya, Olan pikir Alea sudah bisa merasa nyaman dekat dengan ku, tapi nyatanya Aku salah. Alea bahkan beberapa kali menolak untuk menerima Olan sebagai kekasihnya," panjang lebar Olan menceritakan tentang hubungannya dengan Alea.
Pak Ravlin dan istrinya mendengarkan setiap kata-kata yang diucapkan oleh putranya, sampai bu Linda mendengar satu kata yang membuat hatinya merasa ada yang mengganjal hatinya.
__ADS_1
"Kamu bilang Alea menolak mu menjadi kekasihmu, benar begitu!" ucap bu Linda, kedua alisnya saling berdekatan.
"Iya, Olan sudah beberapa kali meminta Alea untuk menjadi pacar Olan," jawab Olan jujur.
"Dasar bodoh, mana ada perempuan yang mau menjadi kekasih dari laki-laki yang sudah melecehkannya. Olan .... Olan..." ujar bu Linda tak percaya.
"Terus, Olan harus bagaimana lagi. Mah, aku sudah berusaha untuk membujuknya," Olan membela dirinya.
"Olan, kamu itu pintar dalam hal berbisnis tapi bodoh soal percintaan," ujar bu Linda. Kalimat itu adalah kata-kata pujian sekaligus sebagai cemoohan untuk Olan.
Olan tidak segera mengerti apa maksud dari ucapan mamanya khususnya kalimat terakhir.
"Maksudnya, mama apa?"
"Ngga ngerti juga? ha ..." bu Linda mengembuskan napasnya lewat mulut.
Penjelasan mamanya akhirnya membuat Olan mengerti, tapi sayangnya Olan menyadari kekeliruannya sudah terlambat.
"Olan, harusnya kamu belajar sama papa kamu. Papa kamu itu play boy kelas kakap," ujar bu Linda sambil melirik sekilas ke arah suaminya.
"Eh, kenapa bawa-bawa papa. Papa itu sudah insyaf setelah kenal sama mama," protes pak Ravlin tak terima. Meskipun protes tetapi pak Ravlin tersenyum kecil mendengar perkataan istrinya.
"Kan, mama cuma bilang belajar dari papa bukan ikut melakukannya papa," sangga bu Linda.
Olan terdiam sejenak, diam-diam dirinya merindukan sosok yang baru saja diantar ketempat peristirahatan terakhirnya. Alea.
"Olan, jangan bengong. Dengerin nasehat mama. Pah, ajarin anaknya supaya bisa meluluhkan hati wanita," ujar bu Linda.
"Olan itu anak kita berdua, hasil kerja sama kita berdua juga. Jadi Olan itu bukan hanya anak papa saja tapi anak mama juga," lagi dan lagi pak Ravlin protes atas ucapan istrinya.
__ADS_1
Beruntung anak-anaknya sudah dewasa jadi bisa mengerti dan tak perlu sungkan lagi untuk membicarakan segala hal, termasuk tentang hubungan suami istri. Meskipun demikian tak semua hal yang berhubungan dengan adegan suami istri di bicarakan secara gamblang tapi cukup dengan candaan ringan. Hal ini sengaja di lakukan oleh kedua orang tuanya Olan dan Beby supaya tidak perlu merasa sungkan dan risih tentang hal yang dianggap tabu. Bu Linda dan suaminya ingin supaya kedua anaknya terbuka dalam hal apapun.
Beby yang sedari tadi hanya diam saja kini tertawa terbahak-bahak mendengar protes yang dilayangkan papanya pada mamanya. Olan yang sejak masuk rumah tak pernah tersenyum kini ikutan tertawa meskipun tawanya tak selepas Beby.
"Olan, sekarang kamu pikirkan tentang cucu mama. Buat cucu mama tidak merasa kehilangan kasih sayang meskipun ibunya sudah tiada," bu Linda menasehati Olan.Olan tidak mengucapkan kata-kata tapi menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Kini giliran pak Ravlin yang bertanya karena sedari tadi hanya istrinya yang bertanya pada Olan.
"Olan, kamu tau dimana tempat tinggal, siapa namanya?" ucap pak Ravlin terjedah karena memorinya belum menyimpan nama calon menantunya yang sudah tiada.
"Namanya, Alea. Olan tau dimana tempat tinggalnya," jawab Olan.
"Besok, kamu nggak usah kerja dulu. Ambil cuti beberapa hari, soal kantor biar Angga dan anak buah papa yang tangani,"
"Satu lagi, besok kamu antarin mama sama papa buat ketemu keluarganya. Papa rasa kita harus menemui keluarganya dan minta maaf," ujar pak Ravlin.
"Betul itu, mama setuju dengan usul papa," sambung bu Linda mendukung usul suaminya.
"Beby nggak perlu ikutkan mah, pah? Beby besok ada ujian di kampus," ucap Beby. Beby bukan tidak ingin ikut karena memang benar besok dikelasnya akan diadakan ujian dari salah satu dosen.
"Beby, kuliah aja," balas bu Linda.
Mereka pun sepakat bahwa besok mereka akan berkunjung ke rumah keluarga pak Eh. Mereka berfikir jika Alea adalah anak kandung dari keluarga pak Eh jadi mereka merasa perlu untuk meminta maaf dan menyampaikan belasungkawa atas kepergian Alea secara langsung.
Hari semakin larut Olan kini sedang berada di dalam kamar tempat putranya. Olan menatap wajah mungil Aska yang sudah terlelap, sejujurnya Olan tidak bisa memejamkan kedua matanya, Olan takut jika dirinya menutup mata maka mimpi tentang kejadian tadi pagi merasukinya. Olan trauma.
Perlahan Olan merebahkan tubuhnya di samping Aska, memeluknya dengan sangat hati-hati, Olan mencari sedikit kelegaan dari putranya dengan cara memeluk Aska. Perlahan namun pasti akhirnya Olan pun mulai dirasuki rasa kantuk yang luar bisa. Meskipun beberapa kali Olan melawan rasa kantuknya akan tetapi rasa kantuknya tidak berkurang sedikitpun justru semakin menyerang matanya minta untuk segera tertutup. Dan Olan pun akhirnya menyerah dan akhirnya tertidur.
Bersambung
__ADS_1