
Sebulan sudah berlalu Anggota kini resmi menjadi asisten pribadinya Olan, Olan dengan telaten mengajari Angga tentang apa saja yang menjadi tugasnya. Olan juga beberapa kali sengaja membiarkan Angga untuk memimpin rapat-rapat kecil dengan tujuan agar Angga belajar untuk mengantarkan posisinya saat Olan memiliki kegiatan lain atau mendesak.
Hari masih pagi di ruang kerjanya, Olan tidak sedang sibuk dengan kerjaannya tapi justru sibuk menyusun rencana untuk dirinya sendiri. Di ruangan itu Olan hanya sendirian jadi dia bebas melakukan apapun termasuk senyum-senyum sendiri. Mungkin jika ruang pembatas Olan hanya di pisahkan oleh dinding kaca setiap orang yang lewat di depan ruangannya bisa melihat Olan sedang cengar-cengir sendiri, bisa jadi jika Olan dikatakan gila karena senyum-senyum sendiri.
Olan segera sadar dari lamunannya setelah sekian menit terjun ke dalam dunia khayalannya.
"Kopi ku kenapa belum ada?" ucap Olan pelan. Pagi ini Alea belum mengantarkan kopi untuk Olan.
Sementara Olan menunggu Alea mengantarkan kopi untuknya, Alea sedang berada di pantry untuk membuat kopi.
"Ju, tukar tempat yuk," ucap Alea.
"Mana bisa, Alea. Tugas mu itu udah langsung di bawah perintah bos besar," jawab Juju.
Sebenarnya Alea sudah mulai tak nyaman dengan kondisi dan gosip yang beredar di kantor tentang dirinya dan Olan, Alea jengah.
"Ju, nanti aku ngomong sama bos," ujar Alea.
"Aku yakin, usul mu itu tidak akan pernah di terima," jawab Juju. Memang benar apa yang di katakan oleh Juju barusan bahwa Olan sebagai bos besar di perusahaan itu tidak akan pernah bisa menyetujui usul Alea.
"Aku bosan seharian cuma duduk diam, udah kayak orang bego aku tuh," Keluh Alea.
"Dari pada kamu mengeluh terus, itu kopi nanti keburu dingin sebelum dianterin Alea," Terang Juju.
"Astaga, aku lupa," ujar Alea.
Obrolan mereka pun terputus, Alea segera mengantarkan kopi untuk Olan dan Juju mulai melakukan tugasnya sebagai OB. Alea membawa nampan berisi secangkir kopi buatannya untuk Olan sebagai tugas awalnya di hari ini.
"Permisi pak!" Alea sedikit mengencangkan suaranya setelah berdiri tepat di depan pintu masuk ruang Olan.
"Masuk ,Alea!" jawab Olan.
Alea pun masuk karena sudah mendapatkan perintah dari empunya ruangan.
"Kopinya, pak," ucap Alea sambil meletakkan secangkir kopi buatannya diatas meja kerjanya Olan.
"Makasih,Alea," ucap Olan tulus.
"Masih ada lagi yang perlu saya bantu pak?" ucap Alea sebagai bentuk basa-basi.
"Ada, Kamu duduk dulu," jawab Olan.
Alea pun duduk di kursi yang berada di sebrang Olan.
"Ada tugas apa, pak buat saya?" tanya Alea.
"Bukan tugas sie, tapi lebih tepatnya aku ingin mengatakan sesuatu pada mu," terang Olan.
"Apa itu pak?" sekali lagi Alea bertanya.
"Apakah kamu punya pacar atau orang yang sedang dekat dengan mu?" tanya Olan hati-hati.
Dengan perasaan cemas Olan menunggu jawaban dari Alea.
__ADS_1
"Tidak ada, pak," jawab Alea jujur.
Olan langsung tersenyum penuh arti setelah mendapatkan jawaban Alea.
"Bagus..." ujar Olan spontan.
"Maksudnya, pak?" Alea tak mengerti dengan maksud Olan.
"Maukah kamu menjadi kekasih ku?" ucap Olan.
"Ha.....Alea terkejut mendengar ucapan Olan.
"Maksudnya, apa ini pak?"
"Kamu mau nggak jadi pacarku?" sekali lagi Olan mengulangi pertanyaannya.
"Maaf, saya tidak bisa," jawab Alea.
Mendengar perkataan Alea, Olan mengerutkan keningnya.
"Tapi kenapa, apa alasan?" Olan meminta penjelasan.
"Karena saya tidak mencintai bapak," Lebih tepatnya aku membenci mu," sambung Alea dalam hati.
"Tapi aku ingin kamu menjadi kekasih ku," Olan tak ingin menerima penolakan.
"Maaf, pak, Tapi saya tidak bisa," jawab Alea.
"Aku tidak ingin di miliki oleh laki-laki manapun," jawab Alea.
Olan semakin mengerutkan dahinya karena terkejut dengan jawaban Alea.
"Apakah kamu punya trauma dengan laki-laki?" tanya Olan. Olan tidak menyadari bahwa dirinyalah sumber utama trauma Alea.
"Itu urusan pribadi saya, saya rasa saya tidak perlu menjawab pertanyaan bapak," jawab Alea tegas.
Olan menggaruk tengkuknya yang tak gatal setelah mendengar ucapan Alea yang terakhir.
"Tidak bisakah kamu berikan saya kesempatan?" ujar Olan setengah berharap.
"Sekali lagi, maaf pak. Saya tidak bisa," sekali lagi Alea menolak permintaan Olan.
"Tapi aku maunya kamu jadi kekasih ku," ujar Olan memaksa.
"Aku tidak bisa menerima fan membalas perasaan bapak," terang Alea.
Olan merasa frustasi sendiri karena penolakan Alea.
"Katakan padaku, apa yang membuat dirimu seperti ini?" sekali lagi Olan lupa akan perbuatannya dulu pada Alea.
"Aku hanya ingin fokus mengurusi keluarga ku," terang Alea.
"Aku hanya ingin fokus membesarkan putra mu lebih tepatnya," sambung Alea dalam hati.
__ADS_1
"Masalah keluarga mu aku bisa membantu mu," jawab Olan.
"Maaf, pak. Kami bukan pengemis," ujar Alea. Itu adalah kata yang pedas yang diucapkan oleh Alea untuk Olan.
Alea sudah lebih dulu membangun benteng pertahanan dan pembatas untuk dirinya dan Olan. Alea sudah menyiapkan sejuta alasan jika hal seperti ini terjadi. Dan benar saja Olan memintanya untuk menjadi kekasihnya, Jauh di dasar hatinya sebenarnya Alea ingin muntah mendengar pengakuan dan permintaan Olan untuk dirinya, sampai kapanpun Alea akan terus ingat malam naas itu dimana kesucian Alea direnggut paksa oleh Olan.
Olan menarik nafas dalam-dalam dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya. Olan menatap wajah Alea dengan tatapan penuh tanda tanya. Sedangkan Alea masih duduk dengan posisi tegak lurus dan tak bergeming ikut membalas tatapan Olan dengan tatapan tanpa ekspresi. Perang dingin.
Hampir lima menit Olan dan Alea terdiam, keduanya seakan Sibuk dengan pikirannya.
"Haaa..... Olan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Dengar, Alea. Aku sungguh-sungguh ingin menjadi orang yang dekat dengan mu," ucap Olan.
"Tapi aku tidak ingin laki-laki manapun termasuk bapak dekat dengan ku," jawab Alea.
"Bagaimana caranya supaya kamu percaya jika aku ingin menjadi kekasih mu!" ujar Olan mulai frustasi.
"Bapak tidak perlu melakukan apa pun untuk meyakinkan saya. Di luar sana masih banyak perempuan yang ingin memilikinya bapak. Dan saya yakin jika mereka miliki latar belakang yang jauh diatas saya," terang Alea panjang lebar.
"Tapi aku maunya kamu, bukan mereka!" Olan mengatakan kalimat itu hampir setengah berteriak.
Alea sama sekali tak bergeming sedikitpun, hatinya justru semakin kuat untuk menolak perintah bosnya.
"Dan saya tidak menginginkan bapak," jawab Alea tanpa ada rasa takut-takut nya.
"Agh..." Olan tergagap mendengar perkataan Alea.
"Saya permisi pak," tanpa menunggu lama-lama lagi Alea segera bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Olan yang masih terkunci tanpa bisa mengeluarkan kata-kata lagi.
Setelah Alea pergi Angga masuk keruangan Olan sambil membawa map berisikan data yang barusan di periksa nya.
"Olan, kamu kenapa?" tanya Angga setelah melihat Olan sedang menahan marah.
"Apa kurangnya aku? berani sekali dia menolak ku tanpa memberikan kesempatan!" ujar Olan. Nafasnya mulai memburu turun naik sangking emosinya.
"Siapa yang menolak mu?" tanya Angga.
"Siapa lagi kalau bukan Alea!" jawab Olan.
Sungguh Angga ingin tertawa saat ini tapi itu dilakukannya cukup dalam hati, Angga sadar saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menggoda Olan.
"What ...? apa alasannya?" tanya Angga terkejut.
"Dia cuma kasih alasan yang tak masuk akal. Beber-bener buat aku pusing?" ujar Olan. Setelah penolakan Alea Olan tak bisa fokus pada pekerjaan sepanjang hari. Olan bahkan memarahi beberapa karyawan hanya karena masalah sepele.
Bersambung....
# Maafkan saya karena upnya
belum bisa setiap hari 🙏
Terimakasih sudah selalu setia menunggu update nya🙏
__ADS_1