
Mata Olan terus menatap dua orang yang berdiri tidak jauh dari tempatnya, Olan menatap Aska penuh dengan tanda tanya. Olan memperhatikan setiap gerakan Aska, bocah kecil itu terlihat sangat menggemaskan.
Alea melihat Olan terus menatap Aska menjadi sangat tidak nyaman, ingin Alea pergi dari ruangan itu sambil membawa Aska tapi hal itu tidak mungkin dilakukannya.
Alea memutar posisi pelukannya supaya Aska tidak melihat kearah Olan, tapi sayangnya Aska justru terus menggeliat dan tatapan mata Aska justru menatap kearah Olan. Entahlah apa mungkin yang di namakan kontak batin antara ayah dan anaknya.
"Aska, sayang. Masuk kamar lagi ya biar bobo lagi," ucap Alea berusaha membujuk Aska.
"Yah...Yah..Ayah...?" ujar Aska sambil mengulurkan tangannya seakan meminta Olan untuk memeluknya.
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu langsung terkejut, apa lagi Alea. Alea menjadi kelabakan karena ucap Aska.
"Sayang, itu teman mama," ucap Alea.
"Aska ke kamar ya sama mba Nur," bujuk Alea. Alea mencoba mencari cara supaya Aska tidak terlalu lama beranda dekat dengan Olan.
Aska yang biasanya penurut tapi kali ini berbeda, Aska justru semakin kencang memanggil Olan dengan sebutan Ayah. Entah dari mana Aska bisa mengucapkan kalimat itu tapi yang pasti Baik Alea, bu Siti, pak Eh dan Nur belum pernah mengajarkan Aska untuk memanggil seseorang dengan panggilan Ayah.
Bu Siti melihat tingkah Alea yang tak nyaman langsung meminta Nur untuk membawa Aska kedalam kamar.
"Aska, Aska harus istirahat dulu ya, kan tadi Aska demam," ujar bu Siti.
"Apa...., Aska demam?" seru Olan terkejut.
Lagi dan lagi semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut kembali di kejutkan oleh sikap Olan.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Olan lagi.
"Makasih pak, tapi tidak perlu. Aska tadi sudah di periksa sama mantri," tolak Alea halus.
"Tidak bisa, sekarang kita bawah Aska ke rumah sakit, biar dokter anak yang memeriksanya," ujar Olan. Olan merasa tak puas dengan hasil pemeriksaan mantri.
Alea memutar otaknya mencari jalan supaya Olan tidak membawa Aska ke rumah sakit dan lagi pula Alea merasa bahwa itu tidaklah perlu. Tanpa di sadari oleh Alea Olan sudah maju dan berdiri tepat di hadapannya, jarak mereka berdua sangat dekat. Sebagai pemisah antara Alea dan Olan hanyalah Aska. Alea menjadi terenyak.
"Berikan Aska pada ku, kamu cepat siapkan keperluan Aska," Olan mengatakan kalimat itu sambil tangannya meraih tubuh mungil Aska berpindah posisi dari pelukan Alea kini berada di dekapan Olan.
"Eh.. eh...." Alea hanya bisa mengucapkan kata yang tidak jelas artinya.
__ADS_1
Dan kini Alea tidak bisa menolak lagi untuk ajakan Olan, Alea kesal setengah mati tapi hanya bisa di simpan di dalam hatinya saja.
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya pak, bu Alea," Juju pamit pulang setelah melihat kecanggungan yang terjadi antara Alea dan Olan.
"Makasih Ju sudah mengantarkan saya," ucap Olan sebagai bentuk rasa terimakasihnya kepada Juju. Juju pun pulang kerumahnya tanpa diantar oleh siapapun.
Alea masih berdiri mematung melihat Aska dalam pelukan Olan.
"Apa lagi yang kamu tunggu, Alea. Cepat siapkan keperluan Aska. Kita ke dokter sekarang!" ucap Olan.
"Ta...Tapi itu tidak perlu lagi!" ujar Alea. Alea masih tidak ingin pergi bersama Olan.
"Ya sudah, biar aku saja yang bawah Aska ke dokter," ujar Olan.
"Ngga bisa gitu, aku ini mamanya," sela Alea.
"Ya sudah cepat ambil keperluan Aska sekarang," balas Olan memaksa.
Perdebatan antara Alea dan Olan menjadi tontonan menarik bagi pak Eh dan bu Siti begitu juga dengan Nur. Mereka berfikir jika Alea sedang mendapatkan perhatian khusus dari bosnya, mereka merasa senang jika suatu saat Alea mau membuka hatinya untuk laki-laki yang saat ini sedang menggendong Aska.
"Sudah...." ucap Alea yang menandakan bahwa dirinya telah siap.
"Ayo kita berangkat sekarang," ajak Olan. Alea berpamitan dengan pak Eh dan bu Siti sebelum pergi begitu juga dengan Olan yang ikut berpamitan.
Di dalam mobil Angga menjadi supir duduk di balik kemudi, sedangkan Alea dan Aska duduk di bangku belakang bersebelahan dengan Olan. Aska duduk dengan nyaman di pangkuan Olan, anak kecil itu sesekali menyadarkan tubuhnya ke tubuh Olan, Aska seolah nyaman berada dekat dengan Olan.
Alea melihat setiap interaksi antara Aska dan Olan hatinya merasa sedih, bagaimana tidak setiap kali Alea melihat Olan bayangan kejadian malam itu kembali terngiang di kepala Alea.
"Tuhan, ujian apa lagi ini?" keluh Alea dalam hati. Alea menatap Aska yang kini sudah sepenuhnya bersandar di dada Olan, Aska tertidur.
"Pak, biar sini saya yang gendong Aska," ucap Alea menawarkan diri.
"Aska tidur," sambung Alea.
"Ngga papa, biar aku saja yang gendong Aska," tolak Olan. Alea diam karena tak ingin berdebat dengan Olan saat ini.
Mobil yang membawa mereka ke tempat yang menjadi tujuan kini berhenti di sebuah halaman rumah sakit.
__ADS_1
"Kita sudah sampai pak," ucap Angga. Olan dan Alea pun turun dari mobil, Aska masih dalam pelukan Olan. Sebenarnya Alea sedikit tersentuh oleh sikap Olan terhadap Aska akan tetapi karena bayangan kejadian itu membuat Alea mengeraskan hatinya supaya tidak terpengaruh oleh sikap Olan. Baik itu padanya ataupun kepada Aska.
Setelah melakukan pendaftaran di bagian khusus perawatan anak, kini Alea dan Olan tinggal menunggu giliran. Hampir sepuluh menit Olan dan Alea menunggu hingga seorang perawat memangil nama Aska.
"Iya, sus..." jawab Olan. Mereka bertiga masuk ke dalam ruang dokter.
Alea dan Olan duduk di kursi yang langsung berhadapan dengan dokter anak.
"Baik pak, bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter.
"Ini dok, Aska semalam demam," ujar Olan.
"Baiklah, biar saya periksa dulu," dokter itupun mempersilahkan Olan untuk meletakkan Aska di tempat tidur yang ada dalam ruangan tersebut.
Dokter itupun segera memeriksa kondisi Aska, setelah selesai memeriksa Aska, dokter itu kembali duduk di kursinya. Olan kembali mengendong Aska dan kembali duduk di samping Alea.
"Begini, kondisi anak ibu sama bapak baik-baik saja," ucap dokter.
"Kan, aku udah bilang tadi. Ngga usah, Aska baik-baik saja," Ucap Alea sambil cemberut.
"Aku kan cuma khawatir," balas Olen membela dirinya.
"Terus sekarang apa boleh anak saya, saya bawa pulang?" ucap Alea.
"Silahkan di bawah pulang anaknya pak, bu," balas dokter.
"Itu anak saya dok," ujar Alea protes, Alea tidak ingin Olan merasa senang karena ucapan dokter yang mengatakan Aska adalah putranya, meskipun itu adalah sebuah kebenaran yang tidak bisa di bantah.
"Maaf dok, istri saya lagi kesel sama saya," ucap Olan seolah membenarkan bahwa Aska adalah putranya.
"Pak, Aska itu anak saya," protes Alea.
"Anak kita, Alea. Jangan lupa akan hal itu. Kamu boleh marah padaku tapi jangan lupa Aska adalah anakku juga," sangga Olan.
Alea sungguh sangatlah kesal saat ini, Alea sangat tidak nyaman dan tidak suka jika Olan mengakui bahwa Aska putranya. Alea kembali menyimpan amarahnya di dalam hati, kan tidak mungkin Alea berdebat dengan Olan di hadapan seorang dokter dan perawat. Malu.
Bersambung
__ADS_1