CINTA TAK TERSELAMATKAN

CINTA TAK TERSELAMATKAN
Bab 45 PERMOHONAN


__ADS_3

Rendra langsung tancap gas menuju ke arah kediaman orang tuanya, Rendra tidak ingin membuang waktu lagi. Sepanjang perjalanan menuju rumah Rendra mencoba menyusun kata-katanya untuk bisa menjelaskan tentang situasi yang sedang terjadi. Rendra ingin mengakui kesalahannya dua tahun yang lalu, apapun yang akan dilakukan orang tuanya padanya Rendra ikhlas asalkan apa yang di lakukan ini mampu mengembalikan keadaan perusahaan keluarganya, Rendra tidak ingin hidup dalam kemiskinan. Yang paling penting saat ini yang di pikirkan oleh Rendra adalah kesehatan adiknya.


Rendra sampai di halaman rumah kediaman orang tuanya, setelah memarkir kendaraan miliknya Rendra dengan langkah setengah berlari memasukkan pintu masuk rumah.


"Ayah...." panggil Rendra.


"Yah....ayah...!" setengah berteriak Rendra memanggil ayahnya.


Dari dalam rumah keluar seorang wanita cantik meskipun usianya tidak mudah lagi, dia adalah Ranty ibu dari Rendra.


"Ada apa, kenapa teriak-teriak," ujar Ranty.


"Ayah, mana?" tanya Rendra.


"Ayah, lagi diruang kerjanya," jawab Ranty.


Mendapatkan jawaban atas pertanyaannya Rendra segera berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua rumah. Rendra dengan langkah cepat menuju ruang kerja ayahnya. Dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Rendra langsung menerobos masuk kedalam ruang kerja ayahnya.


"Yah..." panggil Rendra setelah masuk kedalam.


"Kenapa tidak ketuk pintu dulu?" protes ayahnya.


"Maaf, tapi ada hal penting yang ingin saya katakan," ujar Rendra.


"Ada apa? jangan bertele-tele. Ayah sedang bekerja, kamu taukan perusahaan kita sedang dalam masalah," terang ayahnya Rendra.


Pria paruh baya yang di panggil Rendra dengan sebutan ayah adalah pria yang bernama Willy Redrigo, salah satu pengusaha sukses. Namun saat ini perusahaan yang di pegangnya sedang dalam masalah besar, dan itu karena ulah dari Olan.


Rendra melangkah maju mendekati ayahnya.


"Ayah, yang bisa menyelamatkan perusahaan saat ini adalah Olan, Roland Nicky," ucap Rendra.


"Ayah, tau..Ayah sudah coba menghubungi perusahaannya tapi tidak ada tanggapan sama sekali," terang ayahnya Rendra.


"Ayah, sebenarnya yang membuat perusahaan kita dalam masalah itu karena ulah Olan, dia sudah mengakuinya padaku," ujar Rendra.


"Yang benar kamu?" balas ayahnya Rendra tak percaya.

__ADS_1


"Itu benar, yah," jawab Rendra dengan nada meyakinkan.


"Tapi kenapa, apa alasannya berbuat ini pada kita, bukankah kamu bersahabat dengannya?" tanya Willy.


"Itu....itu... karena....," Rendra tak mampu melanjutkan kata-katanya.


"Ada apa, apakah kamu melakukan sesuatu yang menyinggung keluarganya?" tanya Willy penuh sidik, alisnya pun ikut mengkerut.


"Itu karena kesalahan Rendra, yah. Tapi bukan hanya Rendra sendiri melakukannya," Rendra mengakui perbuatannya tapi juga mencari pembelaan dirinya.


Willy menatap wajah putranya dengan tatapan serius, Willy sama sekali tak berkedip dan itu membuat Rendra merasa takut.


"Katakan padaku apa yang sudah kamu lakukan, Rendra!" suara Willy sedikit meninggi. Willy sangat tau jika keluarga Ravlin Nicky tidak bisa dianggap enteng, jika ada yang berani macam-macam atau menyenggol keluarga itu bisa dipastikan bahwa mereka tidak akan aman.


Nyali Rendra langsung menciut, hilang sudah keberanian dalam dirinya. Rendra bisa melihat kemarahan ayahnya dari kilatan kemarahan ayahnya yang terlihat dari sorot mata Willy.


Dengan susah paya Rendra menelan ludahnya, kepalanya tertunduk tidak berani menatap wajah ayahnya.


"Rendra....!" suara Willy kini semakin meninggi, rahangnya mengeras menatap putranya dengan tatapan kemarahan.


Dengan kepala nasih tertunduk Rendra mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Dengan suara yang pelan Rendra mulai bercerita tentang kejadian dua tahun yang lalu, Rendra mengakui apa yang sudah dilakukannya dan teman-teman lainnya pada Olan. Rendra juga mengatakan yang sebenarnya jika wanita itu sudah mati karena bunuh diri. Pikir Rendra saat ini sudah tidak mungkin baginya untuk berkelit asi-toh semuanya akan terbongkar jika sudah waktunya dan Rendra tidak ingin memperburuk keadaan.


Willy mengebrak meja kerjanya dengan sekuat tenaga di akhir cerita Rendra, benda-benda yang ada di atas meja jadi bergetar karena pulan willy. Rendra sempat terperanjat karena kaget.


Willy yang tadinya sudah marah kini semakin emosi, dirinya tak menyangka jika anak laki-lakinya yang selalu dibanggakan ternyata tega melakukan hal keji pada seorang perempuan tak berdosa.


"Dasar anak br3ngsek...!" maki willy pada anaknya. Rendra hanya bisa menunduk tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun.


Tak ingin murkanya semakin menjadi terhadap anaknya willy segera melangkah keluar meninggalkan Rendra sendirian di ruangannya. Willy segera menemui istrinya. Dengan nafas memburu willy mencari keberadaan istrinya di dalam rumah. Willy menemukan istrinya sedang berada di dapur.


"Mah, kita sekarang kerumahnya Ravlin," ujar Willy mengajak istrinya.


"Mendadak, yah. Tumben," balas Ranty.


"Anak kita sudah membuat masalah besar, dia berani menyinggung anaknya Ravlin," Ujar Willy.


"Apa yang sudah dilakukan Rendra, yah?"

__ADS_1


Willy pun menceritakan apa yang di ceritakan Rendra tanpa mengurangi sepatah katapun. Dan itu membuat Ranty shock, Ranty sampai mundur satu langkah karena sangking terkejut.


"Anak itu benar-benar buat masalah, apa yang harus kita lakukan, yah!" ucap Ranty memelas.Kepalanya mendadak sakit.


"Kita harus kerumahnya Ravlin dan meminta maaf, semoga mereka bisa memaafkan perbuatan anak kita," balas Willy.


"Ya sudah, kita kesana sekarang, aku siap-siap dulu. Ajak anak pembuat masalah itu," kata Ranty.


"Baiklah, aku akan ajak Rendra," balas Willy. Ranty segera ke kamar untuk bersiap-siap sedangkan Willy memanggil Rendra.


Ranty sudah siap begitu juga dengan suaminya, Willy tak perlu berganti pakaian karena saat pulang kantor Willy belum sempat bersih-bersih. Rendra tetap memakai baju yang sama saat pulang tadi. Satu keluarga kecil itu segera menuju rumah kediaman Ravlin Nicky, sepanjang perjalanan tak satupun yang berkata-kata sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri.


Setelah tiba di depan rumah yang dituju Willy meminta satpam untuk membukakan pintu gerbang rumah. Mobil yang membawa mereka bertiga pun sudah masuk ke halaman rumah Ravlin Nicky. Dengan perasaan gusar Willy turun lebih dulu dari dalam mobil disusul istrinya kemudian Rendra.


Saat ini keluarga Willy sudah berada di depan pintu masuk, seorang pembantu segera membukakan pintu dan mempersilahkan tamunya masuk.


Pembantu itu segera memberitahukan kedatangan keluarga Willy pada majikannya. Beberapa saat kemudian Linda dan Ravlin menemui tamunya yang sudah duduk di ruang tamu.


"Sudah lama kita tidak bertemu, Willy. Tumben main kesini," ucap Ravlin sambil tersenyum hangat.


Sapaan Ravlin hanya dibalas dengan senyum kaku oleh willy. Ravlin bisa menebak jika kedatangan tamu sekaligus teman lamanya ini memiliki tujuan tertentu, dan itu bisa terlihat dari raut wajah mereka bertiga.


"Ada apa, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Ravlin.


Willy menarik nafas panjang dan menghembuskan nafasnya lewat mulut.


Beban yang begitu berat mengganjal hati dan pikiran Willy, dirinya hampir tidak bisa berkata-kata. Ada perasaan malu dan rasa bersalah membebat dalam hatinya.


"Maafkan anak saya," ucap Willy dengan sedikit keberanian yang dia miliki.


"Ada apa?" tanya Ravlin tak mengerti.


"Tolong katakan pada Olan , anakmu untuk memaafkan anak saya," ujar Willy. Raut wajahnya kini terlihat murung.


Ravlin belum mengerti apa maksud dari perkataan temannya ini, Ravlin hanya mengerutkan dahinya.


"Saya tidak mengerti, ada apa ini," ujar Ravlin.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah memaafkannya...!" kalimat itu diucapkan dengan lantang oleh seseorang dari arah pintu masuk rumah.


Bersambung


__ADS_2