
Selesai acara pemakaman Alea di tempat pemakaman pak Eh beserta keluarganya kembali pulang ke rumah. Sedangkan Olan tak langsung meninggalkan Alea sendirian. Olan masih berjongkok di depan gundukan tanah merah yang masih basah, bunga tabur masih mengeluarkan aroma wanginya.
Olan menggenggam tabah merah di telapak tangannya, Olan meremas tanah itu sekuat tenaga. Dengan cara ini Olan melampiaskan segala rasa yang ada di dalam hatinya. Marah, sedih dan terluka menjadi satu dan perasaan yang paling dalam di rasakan Olan adalah penyesalan yang sangat dalam. Beberapa kali Olan merutuki kebodohannya, seandainya saja jika dirinya tidak terlalu memaksakan Alea untuk menjadi kekasihnya mungkin saat ini Olan masih bisa melihat Alea. Namun sebesar apapun penyesalan yang dirasakan Olan nyatanya tidak mungkin bisa membangkitkan Alea dari kuburnya itu semua sudah terjadi.
Olan mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Aleandra Wilency, Olan mengusap batu nisan itu seolah sedang membelai Alea, begitu lembut usapan tangan Olan di batu nisan.
"Alea, aku berjanji padamu aku akan menjaga Aska, putra kita dengan sangat baik. Sekali lagi maafkan aku," ucap Olan. Cairan tanpa warna kembali keluar dari sudut mata Olan, menetes begitu saja tanpa bisa di tahan.
Selesai mengucapkan janjinya Olan berdiri karena kakinya kini mulai kesemutan karena terlalu lama berjongkok.
"Alea, aku pamit. Aku akan sering menemui mu disini," ucap Olan pelan, hanya dirinya yang bisa mendengar ucapannya.
Dengan perasaan engan Olan mulai melangkahkan kakinya menjauh dari tempat Alea terkubur. Olan terus melangkah menjauh tanpa menengok kebelakang, dengan sekuat tenaga Olan terus melangkah menjauh dari tempat Alea.
Sampai di parkiran di sana Angga sudah menunggunya, Angga sengaja meninggalkan Olan sendiri di kuburan Alea karena ingin memberikan waktu kepada Olan. Tanpa berkata-kata Olan langsung masukin kedalam mobil di susul Angga duduk di belakang kemudi.
"Apa kita pulang sekarang?" tanya Angga karena Olan tidak mengatakan kemana Angga mengantarkan Olan.
"Ke rumah pak Eh," balas Olan. Angga langsung menyalakan mesin mobil bersiap menujuh tempat yang di katakan Olan tadi.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil sunyi tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Olan maupun Angga, Olan sedang sibuk dengan pikirannya sedangkan Angga sungkan untuk bertanya. Mobil yang di kendarai Angga terus melaju membela jalan, hanya suara deru mobil yang terdengar.
Angga memarkirkan mobil setelah sampai di tujuan yang di tuju.
"Olan, kita sudah sampai," ucap Angga.
"Ha, oh sudah sampai ya," ujar Olan terkejut. Olan terkejut karena sepanjang perjalanan Olan hanya melamun. Olan segera keluar dari dalam mobil, niatnya datang ke tempat pak Eh adalah untuk mengucapkan permintaan maaf. Meskipun Olan sudah beberapa kali meminta maaf tapi Olan tidak merasa cukup itu karena pak Eh dan bu Siti belum menerima permintaan maafnya.
Olan melihat di rumah pak Eh masih ada beberapa orang tamu yang masih tinggal, meskipun demikian Olan tidak mengurungku niatnya untuk bertemu pak Eh dan bu Siti.
"Selamat sore," sapa Olan. Semua ada di situ secara bersamaan langsung menoleh ke arah Olan. Olan tersenyum kaku. Olan duduk bergabung dengan tamu-tamu yang belum pulang. Ada yang sedang mengobrol ada juga yang sibuk menikmati camilan yang disiapkan oleh bu Siti. Olan merasa asing berada disana karena tak ada satupun yang mengajaknya ngobrol beruntung ada Angga yang menemaninya.
__ADS_1
Hari hampir menjelang malam para tamu pun satu persatu sudah meninggalkan kediaman pak Eh. Pak Eh menghampiri Olan karena Olan masih saja duduk ditempat duduknya.
"Kenapa belum pulang," ujar pak Eh dengan wajah tanpa ekspresi.
"Aku mau minta maaf, pak," jawab Olan.
"Pulanglah, tak ada gunanya kamu terus ada disini," secara halus pak Eh menyuruh Olan pergi.
Duk
Olan merubah posisinya. Kedua lutut Olan kini sudah menyentuh lantai, Olan berlutut di hadapan pak Eh.
"Pak, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud menyakiti Alea, sungguh," ucap Olan dengan nada permohonan.
Pak Eh terkejut dengan apa yang di lakukan Olan di hadapannya, pak sama sekali tak menyangka jika pria kaya seperti Olan bisa berlutut di depannya untuk meminta maaf.
"Bangun, Alea terluka karena mu. Minta maaf sama Alea bukan pada bapak," balas pak Eh.
Pak Eh menjadi tak enak hati karena Olan masih berlutut di hadapannya.
"Duduk...." ucap pak Eh. Pak Eh duduk di kursi samping tempat Olan duduk tadi. Olan pun mengikuti ucap pak Eh, Olan duduk persis di samping pak Eh.
"Aska, ada dimana?" tanya pak Eh.
"Aska, ada di apartemen. Ada suster yang menjaganya," jawab Olan.
"Kapan kamu akan membawa Aska kemari?" tanya pak Eh lagi. Pak Eh sengaja mengalikan pembicaraan supaya tidak lagi membahas tentang Alea.
Olan menarik nafas panjang dan menghembuskan nafasnya lewat mulut sebelum menjawab pertanyaan pak Eh.
"Mulai sekarang Aska akan tinggal dengan ku, tetapi seminggu sekali aku akan membawa Aska kemari," jawab Olan.
__ADS_1
Ada sedikit kelegaan yang di rasakan oleh pak Eh, pak berfikir jika mereka tidak akan pernah lagi bertemu dengan Aska.
"Terimakasih," jawab singkat pak Eh. Bu Siti datang sambil membawa nampan yang berisikan dua cangkir teh dan cemilan, cemilan itu gunanya untuk mengisi perut sebelum makan malam.
"Silahkan di minum tehnya," ucap Siti setelah meletakkan isi nampan diatas meja.
Bu Siti tak lantas pergi kembali ke dalam, bu Siti justru duduk bergabung dengan suaminya dan Olan. Olan masih bisa melihat wajah sedih bu Siti, tapi Olan justru tidak melihat kesedihan pak Eh. Yang dilihat Olan dari raut wajah pak Eh adalah kecemasan dan itu terlihat sejak awal pemakaman Alea. Meskipun demikian Olan tak berani untuk bertanya.
Olan menyesap minum hangat yang di berikan bu Siti. Perut kosong Olan kini sedikit merasa hangat karena teh hangat tadi.
"Pak, bu. Mohon ijin, ijinkan saya untuk menjadi pengganti Alea," ucap Olan.
"Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Alea," ujar pak Eh sedikit emosi.
"Maksud saya, bukan seperti itu. Saya tau Alea sangat berarti bagi pak Eh dan bu Siti," jelas Olan.
"Terus ,apa maksud mu?" balas pak Eh sambil menatap tajam kearah Olan.
"Maksud saya, saya ingin memberikan modal usaha pada pak Eh. Saya tau dulu pak Eh dan bu Siti sempat membuka warung makan saya ingin pak Eh kembali membuka warung makan," tetang Olan.
Niat Olan adalah ingin membantu keluarga pak Eh, Olan tau jika ketika masih Alea ada , Alea membatu keuangan keluarganya.
"Tidak, maaf saya tidak bisa menerima bantuan kamu," tolak pak Eh.
"Pak, tolong terima bantuan saya, saya yakin Alea pasti akan merasa sedih jika melihat keluarga bapak kesusahan," ujar Olan.
Pak Eh terdiam, apa yang diucapkan Olan barusan ada benarnya juga tetapi pak Eh tidak ingin mengkhianati Alea , dengan menerima bantuan Olan itu artinya keluarga pak Eh sudah melukai hati Alea.
"Maaf, sekali lagi kami tidak bisa menerima bantuan kamu pak Olan," sekali lagi pak Eh menolak tawaran Olan.
"Baiklah, kalau tidak ingin terima uang saya karena Alea, tolong terima bantuan saya demi Aska. Anggap saja ini sebagai rasa terimakasih saya karena sudah merawat Aska anak saya," ujar Olan.
__ADS_1
Bersambung