CINTA TAK TERSELAMATKAN

CINTA TAK TERSELAMATKAN
Bab 32 AKU


__ADS_3

Sudah lebih dari sebulan hampir setiap hari sejak pertemuan pertamanya Olan dengan Aska, Olan selalu berusaha untuk menyisakan waktunya untuk bisa bertemu dan bahkan mengajak Aska untuk jalan-jalan bersama. Tentu saja ketika Olan mengajak Aska untuk jalan-jalan Alea pasti ikut serta, Olan memanfaatkan situasi ini untuk bisa lebih dekat lagi dengan Alea.


Hari ini Olan sudah membulatkan tekadnya untuk meminta Alea untuk kembali menjadi kekasihnya, bagaimana pun caranya Olan akan memaksa Alea supaya bisa menjadi wanitanya. Seluruh kerajaan Olan sudah rampung di waktu yang masih belum memasuki jam makan siang.


Olan mulai menyusun rencananya untuk bisa berbicara dengan Alea. Dan waktu yang tepat menurut Olan adalah pada saat jam makan siang, Olan akan meminta Alea untuk menemaninya makan siang bersama dan di waktu inilah menurut Olan adalah waktu yang tepat.


"Permisi pak...!" sapa Alea dari balik pintu.


"Masuk aja , Alea!" seru Olan.


Alea masuk kedalam sesuai dengan instruksi bosnya.


"Pak, udah jam makan siang. Bapak mau saya belikan makanan?" tawar Alea.


"Iya, boleh. Beli dua ya, satu buat kamu satunya lagi buat saya," jawab Olan.


"Baik, pak. Bapak mau makan apa," ucap Alea.


"Terserah, apa saja. Tapi kalau kamu mau makan nasi Padang itu juga boleh," terang Olan.


"Baik pak, kalau begitu saya permisi," ucap Alea.


"Ini uangnya...?" Olan menyodorkan lembaran uang kertas berwarna merah muda pada Alea.


"Kebanyakan pak, satu lembar saja udah cukup," Alea mengembalikan lembaran uang kertas yang lebih.


"Simpan saja dulu, mungkin buat beli makanan siang besok-besok," tolak Olan. Sebenarnya Olan sengaja memberikan uang lebih kepada Alea itu karena Olan ingin memberikan uang saku untuk Alea tapi secara tidak langsung, Olan sadar jika dirinya memberikan uang dengan alasan dirinya hanya ingin berbagi sudah bisa di pastikan Alea pasti menolaknya.


Ale keluar dari ruangan Olan dengan tujuan mencari makan siang untuk Olan dan dirinya seperti apa yang dikatakan Olan tadi. Karena tadi Olan sebagai bosnya tidak keberatan jika di belikan menu makanan siang dari restoran Padang Alea memutuskan untuk membeli dua paket nasih padang untuk makan siang.


Selesai membeli dua paket nasih padang Alea kembali ke kantor dan langsung menuju keruangannya Olan. Sampai di dalam ruangan tersebut Alea dengan sigap menata piring dan minuman untuk Olan tak lupa juga air tempat cuci tangan. Olan melihat apa di lakukan Alea dari balik meja kerjanya.


"Pak, sudah siap. Ayo makan," ajak Alea. Olan segera berdiri dan duduknya dan berpindah ke sofa yang ada di ruangan itu.


Olan duduk di tengah-tengah sofa setelah itu Olan memasukkan tangannya kedalam satu baskom berisi air bersih, Olan mencuci tangannya sebelum makan.


"Ayo kita makan," ucap Olan. Alea masih berdiri engan untuk bergabung dengan Olan.


"Alea, apa yang kamu tunggu? Ayo duduk dan makan, temani aku makan siang," ucap Olan.


Berhubung cacing-cacing yang ada di dalam perut Alea sudah mulai minta diisi, Alea pun akhirnya ikut duduk di sofa yang jaraknya begitu dekat dengan tempat duduk Olan.

__ADS_1


"Ayo, Alea. Makan, nanti kamu masuk angin," ujar Olan, Olan mengatakan itu karena Alea hanya duduk tanpa menyentuh makanannya.


Alea dengan patuh mengikuti ucap Olan, dengan sangat hati-hati Alea mulai menyantap makan siangnya. Di dalam hati Alea memuji kelezatan makanan Padang yang di belinya, rasanya sudah sangat lama Alea tidak menikmati makanan yang seenak ini. Dulu Alea bisa membeli makanan apa saja yang dia inginkan tapi sejak Alea memutuskan untuk tinggal bersama dengan keluarga barunya Alea tidak pernah lagi menikmati makanan khas Sumatera barat, nasih padang.


Acara makan siang bersama Olan pun selesai, Alea kembali merapikan meja tempat mereka makan.


"Alea...." panggil Olan.


"Iya, pak.." jawab Alea.


"Nanti sesudah selesai membersihkan bekas kita makan, kamu kembali ke ruangan saya," ucap Olan.


"Baik, pak. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Alea.


"Cepat balik..." Olan mengingatkan Alea.


Alea pergi meninggalkan Olan sambil membawa satu kantong plastik yang berisikan pembungkus makan siang yang sudah tidak berisi. Setelah membuang sampa Alea pun kembali keruang bosnya tanpa ada perasaan apapun, rasa curiga Alea sudah tidak ada lagi.


Alea kembali masuk ke ruang kerjanya Olan.


"Pak, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Alea sebagai bentuk rasa hormatnya.


"Sampai kapan kamu akan menjaga jarak dengan ku?" tanya Olan sambil menatap Alea dengan tatapan tajam.


"Maksudnya bapak apa?" tanya Alea, Alea bersikap seolah tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Olan.


"Berhenti berpura-pura kamu tidak tau apa maksud ku, Alea," ujar Olan.


"Tapi, aku nggak ngerti apa maksud bapak?" jawab Alea. Alea bergeming.


"Kapan kamu akan menerima ku sebagai kekasih mu?" ucap Olan langsung karena tak ingin berbasa-basi lagi.


"Tapi pak, saya sudah pernah katakan bahwa saya tidak ingin dekat dengan laki-laki manapun termasuk bapak," jawab Alea.


"Itu ada pengecualiannya, yaitu aku," balas Olan.


"Maaf pak, saya tidak bisa. Saya permisi dulu," ujar Alea, dan Alea segera bangun dari duduknya berniat untuk pergi meninggalkan Olan. Alea tidak ingin lebih lama lagi berada di satu ruangan dengan Olan dadanya mulai terasa sesak.


Belum sempat tangan Alea menyentuh handel pintu tangan Alea sudah di cengkraman oleh Olan.


"Mau kemana, mau menghindari aku lagi?" ujar Olan. Ada rasa tak terima Olan dengan sikap Alea.

__ADS_1


"Lepas...!" Alea mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Olan.Tapi usahanya sia-sia Olan mencengkeram tangan Alea lebih kuat lagi.


"Lepas pak, biarkan saya pergi," ujar Alea.


"Kamu pikir, aku akan melepaskan mu, tidak akan pernah!" ujar Olan setengah berteriak. Olan mulai kesal karena terus-terusan di tolak Alea.


"Pak, lepas...?" ujar Alea.


"Apa perlu aku lakukan lagi seperti malam itu, Alea!" ujar Olan kembali mengingatkan Alea peristiwa yang membuat Alea trauma.


"Mak.... maksudnya bapak, apa?" tanya Alea. Rasa takut kini mulai menghantui pikiran Alea.


"Apa perlu saya melakukannya disini?" ujar Olan sambil menatap Alea dengan tatapan tajam.


Alea menggelengkan kepalanya bayangan kejadian malam itu kembali melintas di kepalanya, Alea ketakutan.


"Aku tau, sejak pertemuan pertama kamu sudah mengenal ku tapi kamu berpura-pura lupa," ucap Olan sambil terus memegangi tangan Alea. Mata Alea terbuka lebar, pikirnya Olan tidak mengingatnya ternyata justru laki-laki di hadapannya ini sangat mengingatnya.


Airmatanya Alea kini mulai menggenang di pelupuk matanya, rasa takut dan cemas menguasai pikirannya.


"Pak, tolong lepaskan saya, saya berjanji setelah ini saya akan pergi jauh menghilang dari kehidupan bapak," ucap Alea. Olan bukannya senang justru terpancing emosi karena ucap Alea.


"Kamu pikir aku akan melepaskan mu, begitu? mimpi!" ujar Olan.


"Aska dia adalah putra ku!" sambung Olan.


Betapa terkejutnya Alea mendengar ucapan Olan. Entah kekuatan dari mana akhirnya Alea berhasil melepaskan tangannya dari genggaman Olan dengan sekali hentakan.


"Aska adalah putra ku..." bantah Alea.


"Malam itu, itu adalah aku.jadi Aska adalah putra ku," sangga Olan.


"Tidak, Aska hanya putra ku," balas Alea.


Perdebatan antara Alea dan Olan terus berlangsung, bahkan suara merdeka berdua sampai terdengar dari luar. Angga sedari tadi berdiri di depan pintu mendengarkan perdebatan Alea dan Olan.


"Aska adalah putra ku juga, aku sudah melakukan tes DNA dan terbukti Aska anakku," terang Olan. Sekali lagi Alea terkejut dengan perkataan Olan, Alea kecolongan.


"Jika kamu terus menolak ku, akan ku pastikan kamu tidak akan pernah bertemu dengan Aska?" ancam Olan. Alea terperangah, bukan ini yang diinginkan oleh Alea.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2