CINTA TAK TERSELAMATKAN

CINTA TAK TERSELAMATKAN
Bab 35 AWAL SEBUAH RAHASIA


__ADS_3

Alea memejamkan matanya rapat-rapat soal tidak ingin melihat dunia lagi, bagi Alea kehidupannya di dunia hanyalah tempat yang memberikan rasa sakit untuknya, jika dengan kematian bisa membuat Alea terbebas dari rasa sakit dan penderitaan maka , Alea memilih untuk pergi siap menemui kedua orang tuanya.


Rasa sakit akibat tabrakan mobil pada tubuhnya mulai mengeluarkan efeknya, nafas Alea mulai mulai tercekak , mulut Alea kini sedikit terbuka karena Alea berusaha menarik nafasnya lewat mulut. Rasa sakit di bagian kepala mulai mengeluarkan cairan kental berwarna merah dan berbau amis. Darah segar mulai keluar bukan hanya di kepalanya saja akan tetapi cairan kental dan lengket itu juga keluar dari salah satu tangan Alea.


Ketika tubuh Alea terhempas ke aspal dengan langkah super cepat Olan berlari menuju tempat Alea berbaring.


"Alea, ku mohon. Bertahanlah....," ucap Olan setelah meraih tubuh Alea dalam dekapannya. Hati Olan terasa perih melihat kondisi Alea yang sudah bersimbah darah, perasaan bersalah hingga di relung hatinya yang paling dalam.


Sesungguhnya Olan tak menyangka jika hal ini Akan terjadi. Pagi ini Olan memang sengaja menunggu Alea di halte bus, niat Olan adalah ingin membawa Alea bertemu dengan Aska karena hampir semalam Aska menangis mencari ibunya. Olan sungguh-sungguh tak menyangka jika pertemuannya dengan Alea pagi ini justru membuat Alea nekat melakukan hal gila, yaitu bunuh diri.


Olan mendekap erat tubuh Alea, rasa cemas dan khawatir jelas terukir di raut wajahnya.


"Angga, ambulans...!" teriak Olan pada asisten pribadinya. Sebenarnya sebelum Olan memberikan perintah, Angga sudah terlebih dahulu menghubungi pihak rumah sakit. Beruntung Angga cepat tanggap terhadap situasi darurat saat ini.


Berkali-kali Olan menyebabkan nama Alea, berharap agar Alea merespon dirinya.


"Alea, tolong bertahanlah....," ucap Olan lirih.


"Kenapa kamu lakukan ini? Tolong bertahanlah demi Aska," lagi dan lagi Olan memohon kepada Alea supaya kuat.


. Orang-orang yang ada di lokasi menyaksikan bagaimana drama kisah nyata sedang berlangsung, setiap adegan tak luput dari pengamatan mata mereka. Suara bisik-bisik mulai bermunculan, dari kejadian ini banyak dari mereka yang mengatakan bahwa penyebab utama dari tertabraknya Alea adalah kesalahannya Olan. Olan mendengar ucapan-ucapan itu tapi Olan tak pedulikan, fokusnya kini sepenuhnya hanya kepada Alea.


Dalam hitungan menit mobil ambulans yang di tunggu pun tiba, para petugas medis dengan cekatan memindahkan tubuh Alea dari atas aspal ke brangkar tempat tidur khusus untuk pasien. Menit berikutnya tubuh Alea sudah berada di dalam mobil ambulance, ambulans itupun saat ini sedang melaju dengan kecepatan yang tidak biasa.


Di dalam ambulans selain ada Alea dan petugas medis juga ada Olan di sana. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Olan terus memegangi tangan Alea, Olan mencoba memberikan supportnya untuk Alea supaya bertahan dan tidak menyerah.


Sementara ambulans membawa Alea ke rumah sakit, ada orang yang tadi berada di lokasi kejadian mendatangi rumah pak Eh, tujuannya untuk memberi tahukan bahwa Alea mengalami kecelakaan. Mendapatkan kabar bahwa Alea di bawah ke rumah sakit, pak Eh dan bu Siti segera bergegas menuju ke rumah sakit.

__ADS_1


Tiba di rumah sakit brangkar tempat Alea berbaring langsung di dorong oleh petugas medis menujuh ke ruang instalasi gawat darurat atau IGD. Salam satu petugas medis memberikan kode khusus pada petugas medis yang berdiri menunggu di pintu masuk IGD. Olan mengekor dari belakang tapi sebelum masuk kedalam ruangan IGD, Olan di cegat salah satu petugas medis.


"Maaf, pak. Silahkan bapak tunggu di luar," ucap petugas medis.


"Tapi, saya ingin masuk," Olan bersikeras untuk masuk kedalam ruang IGD.


"Sekali lagi maaf, pak. Biarkan dokter melakukan tugasnya, silahkan bapak tunggu di luar," ujar petugas medis. Olan pun terpaksa menuruti perkataan petugas medis, Olan sadar tak ada gunanya memaksa masuk asi-toh tidak ada yang bisa dilakukannya di dalam.


Dengan cepat Alea di bawah kedalam ruangan, di dalam ruangan tiga orang dokter langsung melakukan tugasnya masing-masing. Ada yang memeriksa mata Alea dengan memberikan cahaya lewat benda kecil yang di sebut senter, dokter satunya memeriksa denyut nadi Alea. Seorang dokter juga menempel benda bulat dan pipih ditubuh Alea.


Tiga dokter itu saling mendukung melakukan tugasnya masing-masing, suntikan fi berikan oleh seorang dokter, yang lainnya memeriksa selang infus dan selang oksigen.


"Dok..." sapa salah satu dokter. Dua dokter menatap arah dokter yang memanggil. Dokter yang memanggil dokter lainnya memberikan isyarat berupa gelengan kepala, memberi tanda bahwa usaha mereka untuk menolong Alea sudah selesai.


"Dok, pasien sudah tidak ada," ucap dokter yang memanggil tadi.


Haa... hempasan nafas berat keluar dari mulut dua dokter.


"Sus, catatan tanggal dan jamnya,"


"Baik, dok. Pasie meninggal pukul sepuluh lewat tiga menit," suster itu langsung mencatat jam dan tanggal kematian Alea.


Setelah memastikan bahwa pasien benar-benar tidak bisa di selamatkan dua dokter dan perawat keluar dari tempat Alea, yang tersisa hanya seorang dokter. Dokter itu terus menatap ke arah Alea yang sudah di nyatakan meninggal dunia. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh dokter itu.


Mata dokter itu sama sekali tak berkedip menatap lurus tubuh Alea, hingga sesuatu terjadi pada tubuh Alea.


"Agh....." suara Alea terdengar oleh dokter itu. Dengan cepat dokter itu mendekati Alea.

__ADS_1


"Kamu masih hidup?" ucap dokter itu tak percaya.


"Tolong selamatkan saya,* pinta Alea dengan suara yang sangat pelan.


Sementara itu dokter itu melakukan tugasnya yaitu memeriksa kembali denyut nadi Alea.


"Tolong, jauhkan laki-laki itu dari saya,..." lanjut Alea dengan nafas tersengal.


"Dia jah hat..." dengan sisa-sisa tenaga Alea mengatakan apa yang didalam pikirannya. Setelah itu Alea kembali menutup matanya.


Dokter itu segera memberikan Alea suntikan dan kemudian memasang selang infus untuk Alea. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja dokter itu keluar dari dalam ruangan tempat Alea berniat menemui keluarga Alea.


Tapi ketika dokter itu membuka pintu seseorang orang langsung menerobos masuk kedalam, siapa lagi kalau bukan Olan. Olan segera berlari masuk kedalam tempat Alea terbaring setelah mendapatkan informasi jika Alea sudah tiada.


Dokter itu melanjutkan langkahnya tidak menghiraukan Olan.


"Keluarga pasien....!" seru dokter.


"Saya....!" dari jarak tak begitu jauh pak Eh menjawab ucapan dokter. Dengan langkah kaki di seret pak Eh menghampiri dokter itu sedangkan bu Siti langsung menuju tempat Alea.


"Maaf, bapak siapanya pasien?" tanya dokter sambil memperhatikan kondisi pak Eh.


"Saya...saya bapaknya Alea,* jawab pak Eh dengan nafas tersengal. Dokter itu memperkenalkan kondisi pak Eh ada rasa tak percaya dengan perkataan pak Eh.


"Saya, bapak angkatnya," jelas pak Eh setelah melihat keraguan dari dokter.


"Oh, mari ikut dengan saya," ucap pak dokter. Pak Eh pun dengan patuh mengikuti langkah dokter tersebut.

__ADS_1


Sementara itu di dalam ruangan IDG bu Siti sudah menangis sedih, bu Siti mendapatkan kabar dari Olan jika Alea tidaklah selamat dari kecelakaan. Jangan di tanya bagaimana perasaan Olan saat ini, sudah bisa di pastikan bahwa Olan jauh lebih menderita akibat kehilangan Alea. Perasaan bersalah kini sedang menghukum Olan, marah sedih kecewa pada dirinya sendiri itulah yang dirasakan oleh Olan saat ini.


Bersambung


__ADS_2