CINTA TAK TERSELAMATKAN

CINTA TAK TERSELAMATKAN
Bab 44 TIADA KATA MAAF


__ADS_3

Dua minggu berlaku kini Olan sudah memulai aksinya, tanpa perasaan Olan menghancurkan perusahaan-perusahaan milik dari teman-temannya yang notabene masih di pegang oleh orang tuanya masih-masing. Olan sudah menghancurkan tiga perusahaan milik temannya yaitu Ragil, Rafly dan Tommy. Perusahaan milik keluarganya Tommy benar-benar di buat Olan sehancur-hancurannya bahkan aset yang dimiliki oleh keluarganya Tommy ikut disita oleh bank.


Saat ini Olan tinggal menunggu dua perusahaan yang dimiliki oleh keluarganya Reksi dan Rendra memasuki masa krisis. Olan melampiaskan kemarahannya pada teman-temannya, bukan hanya kemarahan tapi Olan juga meluapkan rasa bersalahnya terhadap Alea pada kelima temannya. Seperti yang diucapkan oleh Olan saat itu bahwa mereka akan membayar atas perbuatan mereka pada Olan dan Alea.


Olan duduk di balik meja kerjanya sambil menatap arah komputer yang berada di samping meja kerjanya. Fokus Olan tertuju pada angka-angka yang tertera di layar monitor, ada sebuah senyuman kecil yang terukir di sudut bibir Olan.


"Sekarang tinggal giliran kalian berdua," ucap Oleh pelan dan hanya dirinya yang bisa mendengar ucapannya.Tak ada yang bisa mendengar perkataan Olan karena dirinya hanya sendirian di ruang kerjanya.


Fokus Olan kembali pada layar monitor yang ada di depannya, Olan benar-benar sudah menyusun rencana sedemikian rupa agar apa yang dilakukannya tidak disadari oleh musuh-musuhnya.


Bak


Pintu ruang kerjanya Olan tiba-tiba saja terbuka, masuk seorang security dan seorang pria yang wajahnya sangat di kenal Oleh Olan.


"Maaf, Pak. Saya saya sudah berusaha melarang tamu ini masuk tapi dia menerobos begitu saja," ujar security. Olan tidak langsung menjawab pernyataan security tapi matanya langsung tertuju pada tamu yang tak diundang. Dan dia adalah Rendra.


"Olan, aku tau ini adalah perbuatan mu, iyakan!" Rendra langsung menuduh Olan tanpa mengatakan kata-kata penjelasan terlebih dahulu.


Olan hanya mengerutkan keningnya menatap Rendra seolah-oleh dirinya tidak mengerti apa yang di maksud oleh Rendra.


"Maaf, silahkan keluar dari sini," ujar security sambil mencoba menarik paksa Rendra keluar.


"Lepas...!" bentak Rendra sambil mengibaskan tangannya yang di pegang security.


"Aku tau kamulah orang yang sudah menghancurkan perusahaan-perusahaan milik papanya Tommy, Ragil dan Raffi. Iyakan, tega kamu!" ujar Rendra.


Olan tak lantas menjawab ucapan Rendra, Olan justru tersenyum kecil tapi sorot matanya menunjukkan bahwa dirinya adalah pelakunya. Dan Olan tidak membantah akan hal itu.

__ADS_1


"Jahat kamu, Olan," sambung Rendra.


"Pak, silahkan keluar. Tinggalkan saya dengan orang itu," ujar Olan meminta security itu untuk keluar dari ruangannya. Olan ingin bicara dua mata dengan Rendra.


Dengan patuh security itu pergi meninggalkan ruang kerja Olan. Setelah security itu pergi Olan berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Rendra.


"Aku, kejam! Bagaimana dengan kalian yang sudah menghancurkan hidup orang yang tidak bersalah," ujar Olan.


"Kamu pikir setelah kejadian itu pertempuran itu hidup bahagia,ha..!" bentak Olan.


"Anakku sekarang tidak memiliki seorang ibu di usianya belum genap dua tahun, bagaimana menurutmu?" sambung Olan sambil menatap sinis kearah Rendra. Rendra terdiam tak bisa berkata-kata.


"Sekarang aku tanya sama kamu, jika adikmu di perlakukan seperti itu apakah kamu bisa menerimanya, kamu bisa melepaskan pelakunya tanpa memberikan hukuman padanya?" sambung Olan.


Berbagai pertanyaan di lontarkan Olan pada Rendra tapi tak satupun mampu di jawab oleh Rendra. Dalam hatinya Rendra mengakui kejahatannya tapi dirinya tak bisa tinggal diam jika karena perbuatannya dulu justru membuat keluarganya diambang kebangkrutan. Terlebih lagi saat ini keluarganya membutuhkan biaya yang cukup besar untuk pengobatan adiknya.


Rendra memiliki seorang adik perempuan yang saat ini sedang dalam keadaan sakit, adik Rendra mengalami sakit leukemia yaitu kanker darah. Dan bisa di pastikan untuk kesembuhan adiknya, keluarganya tentunya membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit. Sebenarnya Rendra menyesali perbuatannya tapi nasih sudah menjadi bubur menyesal pun tidak akan membuat waktu berputar kembali.


"Oleh, tolong maafkan aku, sungguh aku menyesalinya," ucap Rendra memohon. Akhirnya Rendra kalah dengan egonya.


"Maaf? terus apa yang akan aku dapatkan jika aku memaafkan mu!" ucap Olan.


"Aku akan mengatakan siapa yang sebenarnya yang belum kamu ketahui," balas Rendra.


"Kamu pikir aku bodoh, ha...! Tanpa kamu katakan apapun padaku, aku bisa mencari tau siapa saja yang terlibat," balas Olan.


"Olan, aku mohon. Kitakan berteman," ucap Rendra mengingatkan hubungan mereka selama ini.

__ADS_1


"Teman...? Olan tersenyum sinis mendengar perkataan Rendra.


"Kamu tau arti namanya teman, teman tidak akan pernah menjebak temannya sendiri," sambung Olan geram.


"Aku tau, aku salah. Tolong jangan hukum keluarga ku, cukup aku saja. Jika kamu ingin membunuhku , aku terima,tapi jangan keluarga ku," ucap Rendra dengan nada memohon.


"Aku mau kamu melihat bagaimana hancurnya keluargamu tanpa bisa berbuat apa-apa," balas Olan.


"Tolong, adikku saat ini sedang sakit leukemia dan dia butuh penanganan medis," ucap Rendra, raut wajahnya berubah memelas.


Mendengar kata sakit membuat Olan terdiam sejenak, hatinya sedikit tersentuh oleh pengakuan Rendra barusan. Biar bagaimanapun Olan mengenal adiknya Rendra, itu terjadi karena hubungan pertemanan antar Olan dan Rendra, Olan dulu sering bermain di rumahnya Rendra dari sanalah Olan mengenal adiknya Rendra.


Tapi di detik berikutnya Olan kembali mengeraskan hatinya, Olan tidak ingin terpengaruh oleh ucapan Rendra tentang adiknya.


""Baguslah, jika adikmu meninggal maka kamu bisa merasakan apa artinya kehilangan," ujar Olan tanpa perasaan.


"Olan...!" hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Rendra. Rendra tak menyangka jika Olan bisa sebegitu tidak pedulinya akan nasib adiknya.


Olan terus berdiri menatap Rendra dengan tatapan dingin.


"Apa yang aku lakukan supaya kamu merubah keputusanmu?" ucap Rendra merendahkan dirinya. Rendra tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan memohon belas kasihan Olan.


"Tidak ada yang bisa kamu lakukan, silahkan tinggalkan tempat ini," Olan mengusir Rendra tanpa perasaan.


Dengan hati berat Rendra meninggalkan ruang kerjanya Olan, ingin rasanya Rendra memutar kembali waktu tapi nyatanya kenyataan bahwa saat ini akibat perbuatannya dulu membuat dampak buruk bukan hanya untuk dirinya tapi juga keluarganya. Apa lagi adiknya yang tidak tau apa-apa juga ikut menanggung akibat perbuatannya. Menyesal sudah pasti.


Rendra pulang ke rumah orang tuanya, Rendra berencana akan mengatakan pada ayahnya tentang Olan dan apa yang sudah di lakukan Olan pada perusahaan milik keluarganya.Rendra berharap jika dirinya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi ayahnya bisa menemukan jalan keluarnya supaya bisa menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.

__ADS_1


Apakah ayahnya Rendra berhasil menemukan jalan keluar? entahlah.


Bersambung


__ADS_2