
Setelah dari rumah pak Eh Olan langsung menujuh apartemen miliknya untuk menjemput Aska, meskipun akhirnya keluarga pak Eh menerima bantuan Olan tapi Olan tau jika dirinya belum sepenuhnya mendapatkan maaf dari keluarga pak Eh. Alasan keluarga pak Eh menerima bantuan Olan itu dengan hati terpaksa, mereka menerima bantuan itu hanya untuk Aska. Biar bagaimanapun mereka tak ingin ketika Aska datang menemui pak Eh dan bu Siti dalam keadaan yang memprihatinkan.
Mobil yang di kendarai Angga terus melaju membela jalanan, lampu-lampu jalan mulai menerangi setiap jalan yang di lalui Oleh. Hari mulai malam. Sama seperti tadi ketika Olan beranjak pergi dari tempat pemakaman sepanjang perjalanan Olan hanya diam, dirinya kembali memikirkan Alea. Angga pun ikut diam seolah sibuk dengan pikirannya sendiri.
Mobil yang membawa Olan kini sudah memasuki halaman parkir di apartemen. Olan turun dan melangkah seperti orang yang kehilangan jiwanya, Olan berusaha tegar dan kuat itu demi Aska. Langkah gontai Olan membuat Angga merasa cemas, Angga tau jika sudah seharian perut bosnya belum diisi apalagi kegiatan yang dilakukan oleh Olan hari ini mulai dari pagi sampai saat ini full menguras tenaga dan emosi. Sepanjang hari Olan hanya mengisi perutnya dengan segelas teh dan sepotong kue saat berada di rumah pak Eh tadi. Selebihnya jangankan untuk makan minum saja Olan hampir melupakannya.
Angga berjalan sejajar dengan Olan, Angga sudah bersiap siaga menjaga bosnya seandainya Olan jatuh. Angga sudah menawarkan diri untuk menjemput Aska di lantai atas tapi Olan menolaknya. Dengan menggunakan lift Olan dan Angga sampai di lantai tempat unit apartemen Olan berada. Mereka berdua menujuh kediaman Olan.
"Aska, ayah pulang," ujar Olan setelah masuk ke dalam kediamannya.
Bocah laki-laki kecil dengan langkah kecilnya segera menghampiri Olan. Wajah ceria terlihat di raut wajah Aska, Aska mengulurkan tangannya keatas mengisyaratkan bahwa dirinya minta di gendong. Olan pun memenuhi keinginan putranya, Olan meraih tubuh kecil itu kedalam gendongannya.
"Sus, siapin semua keperluan Aska," perintah Olan pada suster yang mengasuh Aska.
"Baik pak,"
"Satu lagi, bawah semua barang-barang kamu juga, kita akan pindah," terang Olan. Suster itupun langsung bersiap-siap membereskan semua yang dikatakan tuannya.
Angga berdiri sambil terus mengamati Olan, Angga cemas akan keselamatan fisik Olan.
"Biar aku yang gendong Aska," tawar Angga.
"Ngga papa, biar aku saja," tolak Olan. Angga menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan nafasnya lewat mulut. Angga tidak bisa memaksa Olan.
Suster itu kembali keruang tengah sambil membawa dua tas berukuran sedang, satu berisikan keperluan Aska dan satunya lagi barang-barang pribadinya suster.
"Sudah siap, ayo jalan. Nanti tamba malam," ucap Olan. Usai mengatakan itu Olan lebih dulu melangkah maju pintu keluar di susul Angga dan suster.
Dalam perjalanan menuju kediaman orang tuanya Olan, Aska kini mulai merasakan kantuk. Bocah kecil itu menyenderkan kepalanya ke tubuh Olan mencari tempat yang nyaman untuk dirinya bersandar sebelum masuk ke dunia mimpi. Olan memeluknya dengan penuh kasih sayang dan perasaan yang berkecamuk. Olan sedang memikirkan jawaban apa yang tepat jika Aska mencari Alea, ibunya.
Hampir satu jam akhirnya mobil yang membawa mereka pun masuk kesebuah halaman rumah yang sangat luas. Ada satpam yang membukakan pintu gerbang supaya mobil bisa masuk ke halaman rumah. Angga memarkirkan mobil tepat di depan pintu masuk rumah.
Angga membukakan pintu untuk Olan karena Aska masih dalam gendongannya Olan. Olan lebih dulu melangkah masuk kedalam rumah. Di ruang tengah kedua orang tuanya Olan dan adik kesayangannya Beby sedang duduk sambil menonton tv.
"Malam pah, mah," sapa Olan.Serempak orang tuanya Olan dan Beby memutar kepalanya langsung ke arah sumber suara.
"Sudah pulang Olan," ucap bu Linda. Mata bu Linda dan lainnya langsung tertuju pada bocah laki-laki yang berada dalam gendongan Olan.
"Olan, itu anak siapa?" tanya bu Linda penasaran.
__ADS_1
Olan tidak segera menjawab pertanyaan mamanya, Olan justru mengalihkan pembicaraan dengan balik bertanya.
"Mam, kamar tamu bersihkan?"
"Iya, bersih. Tadi bibi yang bersihkan," jawab bu Linda. Tatapan mata bu Linda tak berpindah, matanya terus menatap bocah laki-laki kecil dalam gendongan Olan.
"Angga, tolong anterin Aska dan suster kedalam kamar," pinta Olan pada Angga. Tanpa menjawab Angga langsung melakukan ucapan Olan.
Kini di ruang tengah hanya tersisa Olan, orang tuanya dan Beby adiknya Olan. Bu Linda memperhatikan kondisi Olan, terlihat jelas di matanya jika putra satu-satunya sedang tidak baik-baik saja.
"Olan, ada apa?. Apa kamu baik-baik saja?" tanya bu Linda khawatir.
"Olan baik-baik saja," jawab Olan.
Ravlin papanya Olan ikut memperhatikan kondisi Olan, Ravlin pun ikut merasakan jika perutnya ini sedang ada dalam masalah.
"Olan, katakan pada kami apa yang terjadi?" Ravlin ikut bertanya. Tanpa menjawab pertanyaan kedua orang tuanya cairan bening langsung menetes dari kedua sudut matanya Olan. Olan tak ingin menangis tapi airmatanya mengalir tanpa bisa di tahan.
Bu Linda berpindah posisi duduknya untuk duduk bersebelahan dengan putranya.
"Olan...," ucap bu Linda menyebut nama Olan.
Olan melanjutkan isaknya dalam pelukan mamanya, setelah mulai redah Olan mengurai pelukan hangat mamanya.
"Sudah lebih merasa lebih baik?" ucap bu Linda dengan nada yang lembut. Olan menganggukkan kepalanya sebagai ganti jawabnya.
Olan menarik nafas panjang mengumpulkan sisa-sisa tenaganya yang sudah terkuras sebelumnya.
"Olan, itu anak siapa?" tanya bu Linda setengah melihat Olan sudah tenang.
"Itu anak Olan, mah, pah," jawab Olan jujur.
"Anak kamu? jangan bercanda, Olan," ujar bu Linda tak percaya.
"Bener, mah. Dia anak Olan," Olan menegaskan ucapnya tadi.
"Kok, bisa?" ujar bu Linda.
"Dia namanya Aska dan Aska beber-bener anak Olan," terang Olan.
__ADS_1
"Mama nggak ngerti. Tolong jelaskan ada apa ini," ujar bu Linda masih tak percaya.
"Mah, ingat kejadian Olan dua tahun lalu," ucap Olan mengingatkan kembali kejadian dua tahun lalu yang dialaminya.
"Apa hubungannya dengan anak itu?" tanya bu Linda penasaran.
"Perempuan itu ternyata beneran hamil, dan anak itu adalah Aska. Anak laki-laki yang Olan bawah tadi," jawab Olan.
"Ha...!"
Bu Linda dan pak Ravlin terkejut dengan perkataan Olan.
"Dimana ibunya?" tanya bu Linda.
"Dia sudah pergi," jawab Olan sambil menundukkan kepalanya.
"Pergi kemana, kenapa dia tega ninggalin anaknya yang masih kecil?" ujar bu Linda sedikit emosi.
"Dia sudah meninggal," terang Olan, kepalanya semakin terduduk.
"Ya Tuhan, apa dia sakit?" sekali lagi bu Linda mengajukan pertanyaan.
Olan diam untuk sesaat, dirinya sedang milih kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan mamanya.
"Dia meninggal bunuh diri tadi pagi," jawab Olan dengan suara parau hatinya kembali merasa sakit akibat kepergian Alea.
"A..a..apa, bunuh diri? Ta..ta..tapi kenapa?" bu Linda sangat terkejut dengan jawaban Olan, begitu juga dengan papanya juga adiknya.
"Olan yang salah," terang Olan.
"Apa yang kamu lakukan hingga perempuan itu nekat bunuh diri, Olan!" ujar bu Linda dengan raut wajah tak percaya.
"Olan memaksanya untuk bersama, Olan," Olan berkata jujur.
Pak Ravlin mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sedangkan bu Linda duduk sambil bersandar pada sandaran sofa, tubuh bu Linda terasa lemas.
"Maafkan, Olan," ucap Olan memohon.
Bersambung
__ADS_1