CINTA TAK TERSELAMATKAN

CINTA TAK TERSELAMATKAN
Bab 40 KALAH SAING


__ADS_3

Jam masih menunjukkan pukul empat pagi Aska mulai mengerakkan badannya, perlahan-lahan matanya mulai terbuka. Aska terbangun dari tidurnya. Bocah kecil itu memutar badannya dan tanpa sadar mata Aska langsung tertuju pada Olan, Aska mulai menyentuh pipi Olan dengan tangan mungilnya. Di karenakan Olan tertidur sudah larut malam meskipun Aska menyentuh pipi Olan tidak segera terbangun.


Tangan Aska mulai bergerak liar, tangannya yang awalnya hanya menyentuh pipi kini mulai merambat ke segala tempat, mulai dari mata hidung dan telinga. Karena orang yang di sentuhnya belum juga bergerak apa lagi bangun membuat Aska dengan leluasa perlahan namun pasti jari-jari kecil nan imut itu mulai masuk ke lubang yang berada tepat di atas bibir, Aska memasukkan jarinya ke lubang hidung Olan.


"Haaaa chu.... Olan tiba-tiba bersin akibat sensasi rasa gatal di hidung.


Huaaaa....Huaaaaa ..... Aska langsung menangis kencang karena terkejut karena Olan yang tiba-tiba terbangun dan bersin.


. Tangisan Aska langsung mengumpulkan nyawa Olan yang masih melayang layang saat tidur.


"Iya sayang, maaf ayah kaget," ucap Olan sambil membawa Aska dalam pelukannya.


"Cup....cup....cup.....maafin ayah," sambung Olan berusaha menenangkan Aska. Tangis Aska pun mulai mereda seiring dengan usapan lembut Olan. Aska kembali tenang.


"Susu...." ucap Aska.


"Aska haus? sebentar ya, Ayah panggil suster dulu," Ucap Olan, entah Aska mengerti atau tidak dengan ucap Olan tapi nyatanya Aska diam tidak meminta susu lagi.


Olan mengangkat Aska dari tempat tidur dan membawa keluar dari dalam kamar hendak mencari keberadaan suster pengasuh Aska. Olan mulai menujuh tempat area kamar tempat para asisten rumah tangga biasanya tidur. sebenarnya Olan harus melewati area dapur. Tapi saat di dapur Olan bertemu dengan bi Inem.


"Sudah bagun den," sapa bi Inem.


"Pagi, bi. Kamar suster di mana?" tanya Olan langsung.


"Ada di samping kamar bibi, biar saya saja yang panggil den," ucap bi Inem.


*Aden, duduk di sini aja," sambung bi Inem, Olan duduk di salah satu kursi yang ada di dapur.


Beberapa saat kemudian bi Inem kembali ke dapur bersama dengan pengasuh Aska.


"Pagi, pak. Aska mau susu?" ucap pengasuh.


"Iya, sus. Aska uda nyari susunya," balas Olan.


*Sebentar pak, saya buatkan dulu," pengasuh Aska langsung membuatkan susu untuk Aska. Setelah selesai suster itu langsung memberikan susu yang dibuatnya kepada Aska.


Aska langsung menyedot susu dari dalam botol, Aska memang meminum susunya bukan di gelas tapi dari botol dot. Olan memperhatikan Aska yang sedang sibuk dengan botol yang ada ditangannya, Olan tersenyum kecil melihat tingkah Alea yang lucu saat minum susu.

__ADS_1


"Da...." ucap Aska setelah susu itu sudah berpindah kedalam perutnya, Aska menyodorkan botol susu itu pada Olan. Olan mengambil botol susu itu dan mencium pipi gembul Aska.


Olan kembali membawa Aska kedalam kamarnya, Olan ingin melanjutkan tidurnya yang tertunda. Sampai di dalam kamar Olan meletakkan Aska diatas kasur di susul dirinya yang ikut naik ke atas tempat tidur.


"Bobo lagi yuk," ajak Olan pada Aska. Meskipun enggan karena tubuh mungil Aska sudah di dalam pelukan ayahnya Aska menuruti perkataan Olan. Laki-laki kecil itupun mulai memejamkan matanya setelah pantatnya di tepuk-tepuk pelan oleh Olan, dan Olan pun ikut tertidur.


Jam kini menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, di ruang makan sudah ada pak Ravlin dan istrinya, begitu juga Beby sudah duduk manis di kursi meja makan.


"Olan, mana, apa belum bangun?" tanya bu Linda kepada bi Inem.


"Tadi Aden besar sama Den kecil udah bangun, mungkin sekarang tidur lagi," terang bi Inem.


"Oh,...eh. Ternyata anak sama bapaknya sama saja, tidak perlu di ragukan," ucap bu Linda sambil tersenyum.


"Mau nunggu Olan atau kita sarapan duluan?" tanya pak Ravlin.


"Duluan aja, kasian kalo di bangunin," balas bu Linda. Dan sarapan pagi ini hanya untuk pertama kalinya Olan tidak ikut sarapan bersama keluarganya.


Kini sudah hampir pukul sembilan pagi, Olan terbangun bersama dengan Aska yang juga ikut bangun.


"Pagi jagoan ayah," sapa Olan pada Aska sambil memberikannya ciuman di pipi Aska, Aska menggeliat.


Dengan wajah khas orang bangun tidur Olan membawa Aska bertemu dengan orang tuanya, Olan langsung menujuh area taman yang ada di belakang rumah, Olan yakin jika mama dan papanya ada di sana.


"Pagi mah, pah," sapa Olan.


"Wah, cucu mama sudah bangun. Sini Oma gendong," ujar bu Linda sambil menghampiri Olan. Tangan bu Linda sudah terulur untuk mengambil Aska dari tangan Olan.


"Mah, Olan di cuekin," protes Olan.


"Kan kamu udah biasa ketemu mama, kalau cucu mama kan baru pertama kali," balas bu Linda cuek . Olan pun hanya bisa cemberut tak bisa protes.


Meskipun awalnya Aska engan di gendong Omanya tapi karena Olan berhasil meyakinkan bahwa orang yang akan menggendongnya adalah orang baik akhirnya Aska kini berada di dalam kekuasaan Omanya. Bu Linda menciumi pipi Aska beberapa kali karena gemes, Aska yang berbadan berisi , pipi yang gembul dan meskipun belum mandi Aska tetap wangi, wangi khas anak kecil.


Pak Ravlin tidak ingin kalah, dirinya merubah posisi duduknya lebih dekat lagi tempat duduknya istrinya.


"Ganteng banget cucu Opa," puji pak Ravlin.

__ADS_1


"Iya donk, siapa dulu mamanya," timpal bu Linda.


"Gembul nih anak, pingin di cium terus," balas pak Ravlin. Dan kehadiran Olan di tempat itu di abaikan oleh kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya Olan pusat perhatiannya hanya tertuju pada bocah kecil yang dibawa Olan semalam, yaitu Aska.


Olan duduk menyender di kursinya, Olan memperhatikan raut wajah kedua orang tuanya yang terlihat bahagia. Sesaat Olan merasa senang tapi menit berikutnya Olan mulai merasa ada yang tidak bisa dari biasanya.


"Mah, pah Olan di cuekin nih?" ujar Olan setengah proses.


"Sama anak sendiri aja cemburu," balas bu Linda, tapi perhatiannya masih pada bocah yang di gendongnya.


"Astaga, dalam sekejap mata Olan kala saing sama anak Olan sendiri?," ujar Olan.


"Kamu udah besar, oh iya jam berapa kita kerumahnya Alea?" ucap pak Ravlin.


"Jam sepuluh," jawab Olan.


"Uda kasih tau kalau kita mau datang?" tanya pak Ravlin.


"Uda, pah. semalam Olan uda kasih tau sama pak Eh," balas Olan.


"Pak Eh, pak Eh itu siapa?" tanya papanya Olan.


"Papanya Alea, eyangnya Aska," terang Olan.


"Oh.... kamu nggak kerja kan hari ini?" sekali lagi pak Ravlin bertanya.


"Ngga pah, tapi nanti Angga akan kesini sebelum kekantor," balas Olan.


Detik berikutnya orang yang namanya baru saja di sebut sudah berada di sana.


"Selamat pagi pak, Bu," sapa Angga.


"Panjang umur," ujar pak Ravlin. Bu Linda kini sedang sibuk dengan cucunya, jadi tidak memperhatikan keadaan sekitar.


"Pah, Olan masuk dulu mau bicara dengan Angga," ucap Olan. Setelah itu Olan masuk kedalam rumah di susul oleh asisten pribadinya. Olan akan memberikan tugas khusus untuk Angga lakukan, hal ini sudah di pikirkan nya semalam. Semua rencana tentang tugas Angga sudah di susun dengan matang oleh Olan.


Tugas apakah itu.....?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2