
Kejadian di kamar masih menjadi pembahasan di ruang kerja Olan, tiga pegawai perempuan pemasaran sedang berusaha melakukan negosiasi supaya mereka bertiga tidak jadi di pecat. Jalan satu-satunya bagi mereka bertiga adalah meminta pertolongan Alea.
Olan menatap wajah tiga wanita itu dengan tatapan mata yang masih sama yaitu geram.
"Apa lagi yang kalian tunggu, cepat serahkan surat pengunduran diri kalian!"
"Pak, tolong maafkan kami. Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi," mohon pegawai pertama.
"Iya, pak. Kami janji tidak akan melakukannya lagi," timpal pegawai ketiga. Sedangkan pegawai yang kedua menatap kearah Alea dengan tatapan penuh dendam.
Alea bukannya takut karena ditatap dengan sorot mata yang tajam justru Alea membalas tatapan itu dengan sorot mata tak kalah garangnya. Alea tidak takut sama sekali, Alea tidak akan membiarkan dirinya diintimidasi oleh orang lain.
Olan mendapati adu tatap antara Alea dan pegawai kedua dan itu membuat Olan semakin geram dan marah.
"Kamu.....!" Olan mengacungkan jari telunjuknya kearah pegawai kedua.
"Sekarang juga kamu saya pecat tanpa pesangon," ujar Olan.
"Tapi pak...."potong pegawai kedua.
"Tidak ada kata tapi, serakah sekarang juga surat pengunduran diri kalian, dan kamu.," Olan menjeda kata-katanya.
Sambil kembali menunjuk pegawai kedua Olan melanjutkan kaya.
"Kamu tidak akan mendapatkan pesangon dan bisa saya pastikan ketika kamu keluar dari perusahaan ini kamu tidak akan mendapatkan pekerjaan. Saya pastikan itu!" setiap kata yang diucapkan Olan yang ditujukan kepada pegawai kedua mengandung penekanan.
Meskipun bos mereka sudah mengatakan beberapa kali bahwa mereka sudah di pecat, mereka bertiga masih belum bisa menerima keputusan Olan, pimpinan perusahaan tempat mereka bekerja.
"Alea, tolong kami. Kami minta maaf," ucap pegawai pertama.
"Alea, tolong maafkan kami," sambung pegawai ketiga. Alea tak menanggapi permintaan kedua pegawai tersebut, Alea justru memalingkan wajahnya menatap wajah Olan. Dari tatapan mata Alea Olan mengerti bahwa Alea tidak ingin mereka bertiga terus bekerja di kantor itu.
Sementara itu kepala bagian pemasaran menyaksikannya sendiri bagaimana anak buahnya di pecat. Sayangnya kepala keuangan belum mengerti apa yang sebenarnya sudah terjadi.
"Maaf, pak Olan bukannya saya ingin membela anak buah saya tapi saya tidak mengerti apa yang terjadi," ucap kepala pemasaran.
__ADS_1
"Jadi kamu sebagai pimpinan mereka bertiga tidak tau apa yang sudah di lakukan oleh anak buah mu, begitu!" ujar Olan.
"Sekali lagi maaf pak, tapi saya benar-benar tidak tahu apa yang sudah di lakukan oleh mereka bertiga," terang kepala pemasaran.
"Liat itu..." Olan menunjuk arah Alea.
"Mereka bertiga ini sudah membuat Alea basah kuyup," terang Olan.
Mendengar perkataan Olan kepala pemasaran hanya bisa menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan, tak ada pagi yang bisa dilakukannya. Niat hati ingin membela anak buahnya tapi kenyataannya membuat kepala pemasaran tak bisa membelah anak buahnya. Kepala pemasaran hanya bisa pasrah dengan keputusan big bosnya.
Karena tiga pegawai itu masih Keukeh ingin terus bekerja dan bertahan di sana membuat kesabaran Olan menipis. Olan segera menghubungi pihak HRD dan security dan meminta mereka keruangannya. Tak butuh waktu yang lama security dan HRD pun datang keruang kerjanya Olan.
"Permisi pak," ucap HRD.
"Masuk...." perintah Olan. HRD dan security pun masuk.
"Permisi pak, ada apa bapak memanggil saya?" ucap HRD.
"Segera kamu urus surat pengunduran mereka, " terang Olan tanpa berbasa-basi.
"Dan kamu, tolong bawa mereka bertiga ini keluar dari ruangan saya. Satu lagi kawal mereka bertiga sampai keluar dari gedung ini," ucap Olan pada security. Security menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Sementara itu tiga pegawai pemasaran itu kini hanya bisa pasrah dengan pemecatan mereka, menyesal pun tak ada gunanya kini. Mereka bertiga hanya bisa merutuki kebodohan mereka dalam hati. Mereka bertiga di bawa pengawasan security mengurusi surat pengunduran mereka di HRD.
Sementara itu kini hanya tinggal Olan dan Alea berdada di dalam ruang kerja Olan. Alea menundukkan kepalanya karena binggung mau berbuat apa, sementara itu badannya juga mulai kedinginan karena bajunya yang basah.
"Pak, saya permisi dulu. Mau ganti baju," ucap Alea.
"Tinggal disini saja, baju ganti kamu nanti di bawah sama Juju, saya sudah menghubungi Juju," terang Olan. Alea diam tak bisa berkata-kata lagi.
Benar saja beberapa menit kemudian Juju datang sambil membawa baju ganti untuk Alea.
"Permisi pak,"sapa Juju sopan, setelahnya Juju langsung memberikan baju yang dibawanya ke Alea.
"Makasih Ju," ucap Alea.
__ADS_1
"Sama-sama, saya permisi dulu," pamit Juju. Tugas Juju sudah selesai.
Setelah Juju keluar Olan langsung mendekati Alea.
"Kamu ganti baju saja di sana," ujar Olan sambil menunjuk salah satu pojok ruangan.
"Saya ganti baju di tempat lain saja pak," tolak Alea sopan.
"Di situ ada kamar mandi, kamu ganti baju di sana," ucap Olan. Sebenarnya Alea masih ingin menolak perintah bosnya tapi urung dilakukannya. Alea pun berganti pakaian fi tempat yang ditunjukkan Olan tadi.
Selesai berganti pakaian Alea kembali ke ruang kerjanya Olan.
"Terimakasih pak, saya permisi dulu," ucap Alea.
"Kamu mau kemana, disini saja," ucap Sebenarnya Alea keberatan jika masih di dalam ruangan tersebut jujur Alea merasa tak nyaman.Lagi dan lagi Alea menuruti perintah Olan.
Jam terus berputar Alea duduk di sofa yang ada di ruangan Olan tanpa melakukan apapun, bosan tentu saja iya tapi mau gimana lagi Alea tak bisa membantah perintah bosnya.
Jam pun terus berputar hingga pada waktunya untuk istirahat makan siang.
Kriuk
Kriuk
Suara aneh muncul dari perutnya Alea, mungkin karena tadi sempat kedinginan membuat dirinya cepat merasakan lapar.
Dikarenakan tempat duduk Alea tidak begitu jauh dari posisi Olan terang saja Olan bisa mendengarkan suara perut Alea, sudah bisa di pastikan jika wajah Alea kini berubah merah karena malu.
"Kamu lapar?" tanya Olan, pertanyaan Olan semakin membuat Alea merasa malu. Ingin rasanya Alea mengatakan bahwa dirinya tidak lapar tapi karena suara perutnya yang tidak bisa diajak kompromi membuat kepala Alea semakin tertunduk.
Olan langsung mengerti jika Alea malu saat ini, Olan tidak ingin menggoda Alea takut kepala Alea semakin dalam menunduk.
"Kamu tunggu saya di kantin, nanti saya menyusul," satu tindakan bijaksana yang diambil Olan untuk Alea saat ini. Alea langsung bergegas keluar dari ruangan Olan tanpa mengatakan sepatah katapun. Alea sungguh malu saat ini.
Di kantin Alea duduk bersama dengan Juju, bukan hanya Juju ada di dekat Alea ada beberapa pegawai juga. Alea duduk sambil bercanda dengan beberapa pria yang ada di sampingnya. Tanpa disadari oleh Alea dari jauh Olan sudah menatap dirinya dengan tatapan tak suka, Olan mulai merasa cemburu. Di hatinya Olan kini seperti ada seekor ulat bulu yang bersarang di hatinya, rasa gatal dan sakit tercipta di hatinya Olan. Tanpa aba-aba Olan langsung duduk tepat di samping Alea, semua karyawan yang ada si kantin terkejut dengan sikap bosnya, ada yang mulai berbisik-bisik tentang Alea dan Olan tapi Olan tak peduli.
__ADS_1
Bersambung