CINTA TAK TERSELAMATKAN

CINTA TAK TERSELAMATKAN
Bab 34 PUTUS ASA


__ADS_3

Alea terus menangis tak peduli di jika dirinya sudah duduk diatas tanah, hati Alea terasa sakit dan hancur separuh nafas dan semangat hidupnya telah di bawah pergi oleh laki-laki yang di bencinya,. Olan. Alea menangis bukan hanya meratapi atas kehilangan Aska putranya akan tetapi Alea juga meratapi nasibnya seolah takdir tak pernah berpihak kepadanya.


Melihat Alea terduduk di atas tanah bu Siti segera menghampiri Alea dan langsung mendekap erat tubuh Alea. Bu Siti membiarkan Alea terus menangis karena bu Siti mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Alea saat ini. Bu Siti dan pak Eh bahkan Nur pun merasa kesedihan akan tetapi di sini Alea lah yang paling tersiksa.


Bu Siti terus memeluk tubuh Alea membiarkan Alea menangis sampai lelah. Setelah tangis Alea mulai mereda bu Siti membawa Alea masuk kedalam rumah dan di susul oleh pak Eh. Alea duduk di kursi bersebelahan dengan bu Siti, sedangkan pak Eh duduk di kursi lainnya. Alea kini jauh lebih tenang dari sebelumnya.


Pak Eh ingin bertanya pada Alea mengenai apa yang terjadi saat ini, mengapa bosnya Alea membawa pergi Aska dan mengakui bahwa Olan, bosnya Alea adalah ayah dari Aska.


"Alea... apakah yang dikatakan oleh pak Olan tadi benar, bahwa dirinya adalah ayah kandung dari Aska?"


Hiks...


Hiks...


Sisa tangis Alea masih tersisa, tapi meskipun demikian Alea mencoba menjawab pertanyaan pak Eh.


"Iya, Aska adalah anak dari pak Olan," jawab Alea membenarkan.


"Ha....jadi pak Olan ayahnya Aska?" ujar bu Siti terkejut, pak Eh pun demikian. Meskipun pak Eh yang mengajukan pertanyaan itu tapi pak Eh berharap jika itu tidaklah benar.


Pak Eh menguap wajah, terlihat jelas bahwa pak Eh binggung harus berbuat apa. Tak mungkin bagi keluarga pak Eh melawan bosnya Alea, mereka tidak memiliki kemampuan apapun termasuk kemampuan finansial.


"Alea, maaf bapak mau tanya. Apakah saat kamu masuk kerja pertama kali kamu mengenali laki-laki itu?" tanya pak Eh menyelidiki.


"Iya..." jawab Alea singkat padat dan jelas.


"Terus bagaimana bisa kamu terus bekerja di sana,Alea?" ujar bi Siti khawatir.


"Itu karana...." belum selesai Alea berucap, kata-kata langsung di potong oleh pak Eh.


*Karena kami kan, karena bapak butuh uang untuk bertobat. Itu alasannya kan," ujar pak Eh dengan nada bersalah.


"Bukan, pak. Bukan karena itu, tapi...." Alea menjeda kata-katanya.


"Itu karena, Alea pikir dia tidak mengenali Alea," sambung Alea.

__ADS_1


"Mulai besok sebaiknya kamu berhenti bekerja saja," usul bu Siti.


"Alea, ngga bisa bu, pak," terang Alea.


"Tapi kenapa? Kamu tidak mungkin bekerja dengan laki-laki itukan?" ujar bi Siti.


"Alea terikat kontrak kerja, jika Alea berhenti begitu saja , Alea harus membayar uang pinalti sebagai ganti rugi di perusahaan," ucap Alea. Raut wajahnya Alea terlihat sangat murung.


"Berapa uang yang harus di bayar?" tanya pak Eh penasaran.


"Lima ratus juta," jawab Alea.


"Ha...apa...!! dua kata itu terucap secara bersamaan oleh pak Eh dan bu Siti karena terkejut dengan jawaban Alea.


Alea menundukkan kepalanya buliran bening dan hangat itu kembali mengalir membasahi pipinya Alea. Lagi dan lagi Alea meratapi nasibnya, sekali lagi takdir tak berpihak kepadanya.


"Apa yang bisa kita lakukan pak?" ucap bu Siti. Bu Siti berharap suaminya memiliki jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi saat ini.


"Jika kita menjual rumah maupun tanah uangnya tidaklah cukup bu," jawab pak Eh sedih.


"Jangan, pak. Nanti kita tinggal dimana? Jangan cemaskan Alea, Alea pasti bisa selama ada ibu dan bapak mendampingi, Alea," ujar Alea. Alea tak ingin satu-satunya tempat mereka berteduh di jual hanya karena dirinya. Jauh di dalam hati, Alea merutuki kebodohannya. Seandainya saja Alea lebih teliti saat menandatangani kontrak tersebut masalah ini tidak mungkin terjadi.


Hari sudah malam, tak ada satupun dari mereka terlihat baik-baik saja. Pak Eh, bu Siti dan Nur sama sekali tidak menyentuh makan malam. Apa lagi Alea, Alea justru mengurung diri di kamar, Alea tak henti-hentinya menangis. Alea merindukan Aska putranya.


Sampai pagi menjelang Alea sama sekali tidak bisa memejamkan matanya walau hanya sekejap, Alea terus terjaga dan sesekali Alea melanjutkan tangisnya. Alea bangun dengan kondisi sangat kacau, mata bengkak dan ada lingkaran hitam di kedua matanya dan wajah Alea terlihat pucat.Alea tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Meskipun demikian Alea tetap bersiap-siap untuk berangkat kerja.


"Alea, kamu mau kerja, nak?" ucap bu Siti khawatir begitu juga dengan pak Eh sama cemasnya.


"Iya, bu. Alea harus kerja," jawab Alea dengan suara tak bersemangat.


"Apa sebaiknya kamu libur dulu," saran pak Eh.


"Tidak bisa, laki-laki itu akan menuntut jika Alea buat kesalahan,"jelas Alea.

__ADS_1


Setelahnya Alea bersiap untuk berangkat kerja, seperti biasa Alea sudah mengenakan seragam OB.


"Habiskan dulu sarapannya," ucap bu Siti karena sarapan Alea sama sekali tidak berukurang di dalam piring.


"Alea, kenyang," lebih tepatnya Alea tidak bernafsu.


Alea keluar dari dalam rumah diiringi tatapan mata oleh pak Eh dan bu Siti. Perasaan dua orang itu sangat khawatir dengan kondisi Alea tapi mereka hanya bisa pasrah karena tak berdaya.


Alea menyusuri jalan menujuh tempat biasanya Alea menunggu bis untuk mengantarkannya di perusahaan tempat Alea bekerja. Sampai di halte Alea berdiri berjejer dengan beberapa orang yang juga menunggu bis datang. Alea tidak melihat tak jauh dari tempat Alea berdiri sudah terparkir sebuah mobil sedan mewah di dalam mobil itu ada Olan dan Angga.


Olan turun dari mobil berniat menghampiri Alea, tapi dari jarak yang tidak begitu jauh berteriak memanggil Alea.


"Alea....Alea...!"


Alea memalingkan kepalanya searah dengan asal suara yang memanggilnya. Alea melihat Olan sedang mendekati dirinya.


Dalam hitungan detik pikiran Alea langsung kosong, kaki Alea mulai turun dari trotoar dan menginjak aspal jalanan. Pelan tapi pasti Alea terus melangkah maju tidak menghiraukan panggilan Olan pada dirinya, telinga Alea seolah tuli. Alea terus berjalan tanpa menengok ke kiri dan ke kanan, suara klakson dari para pengendara mulai saling bersahutan karena Alea sudah berada di tengah jalan.


Olan semakin kencang berteriak memanggil nama Alea, perasaannya menjadi sangat takut karena aksi nekad Alea. Sementara orang-orang yang ada di sekitar lokasi pun ikut berteriak memanggil Alea.


Tiba-tiba Alea menghentikan langkahnya setelah melihat ke salah satu sisi jalanan. Alea kemudian memejamkan matanya seolah sudah siap menerima apapun itu.


Braaak


Suara benturan antara dua benda bergema seiring dengan teriakan Olan memanggil Alea. Alea menabrak dirinya pada mobil yang sedang melaju.


"Aleaaaaaa...... tidaaakk...!"


Detik berikutnya tubuh Alea sudah berada di udara, setelahnya tubuh Alea terhempas ke aspal jalanan.


"Argh...." Alea mengerang sakit tapi Alea sudah siap menjemput ajalnya.


"Ayah, ibu Alea datang..." ucap Alea dalam hati.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2