
Satu bulan sudah berlalu sejak pertemuan keluarga Ravlin dsn keluarganya pak Eh. Istri pak Eh yaitu bu Siti kini sudah membuka kembali usaha menjual makanan dan usahanya ini tentu saja selain mendapatkan modal awal dari Olan juga mendapatkan uang tambahan dari papa dan mamanya Olan. Meskipun awalnya pak Eh menolak untuk menerima bantuan itu tapi akhirnya pak Eh mau tak mau menerima bantuan tersebut karena terus di desak dengan berbagai alasan.
Di ruang kerjanya di sebuah gedung berlantai lima belas Olan sedang duduk di kursi kebesarannya. Saat ini dirinya sedang menunggu Angga asisten pribadinya, Olan menunggu laporan yang akan di berikan oleh Angga padanya.
Tok
Tok
Pintu ruang kerjanya Olan di ketuk seseorang dari luar.
"Masuk..." ujar Olan dengan nada perintah.
Pintu pun terbuka masuklah orang yang di tunggu Olan.
"Selamat pagi, Olan," sapa Angga. Angga memang memanggil Olan hanya menyebutkan namanya saja tapi jika sedang berada di posisi banyak orang atau karyawan maka Angga akan memanggil Olan dengan sebutan "Pak."
Angga berdiri di hadapan Olan sambil meletakkan satu map yang berisikan tentang informasi yang di butuhkan Olan.
"Ini laporannya, mau baca sendiri atau saya yang bacakan?" tawar Angga.
"Sebutkan intinya saja," balas Olan.
"Baiklah, mulai dari perusahaan PT Retrix....." Angga pun langsung menjelaskan tentang intinya saja tentang informasi yang di minta Olan. Ada lima perusahaan yang sedang di incar oleh Olan saat ini.
Olan sudah menyusun rencana untuk melakukan sesuatu pada kelima perusahaan tersebut dari dua tahun yang lalu, namun rencana itu tertunda karena perhatian Olan tertuju pada pencarian Alea saat itu. Dan sekarang adalah waktunya untuk Olan melakukan rencananya tersebut.
"Kamu sudah menemui orang yang saya tugaskan di sana?" tanya Olan setelah Angga selesai mengatakan tentang perusahaan yang di maksud.
"Sudah, dan semuanya sekarang sudah siap melakukan perintah lainnya," jawab Angga.
"Baiklah, sekarang kita mulai dari PT Retrix. Perusahaan ini lebih dulu yang kita tangani," ujar Olan.
"Maaf Olan, kenapa kamu ingin menghancurkan perusahaan-perusahaan itu? bukannya mereka tidak pernah bermasalah dengan kita?" akhirnya Angga memberanikan diri untuk bertanya.
"Mereka harus membalas apa yang sudah anak mereka perbuat pada ku dan putraku," ujar Olan dengan nada terdengar sedikit emosi.
"Apa yang mereka lakukan?" rasa penasaran Angga semakin bertambah.
"Kamu akan tau jika sudah waktunya," terang Olan. Angga pun diam tak ingin bertanya lagi, Angga tau batasannya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan hasil laporan Angga, Olan segera menghubungi lima orang temannya. Olan sengaja membuat janji untuk bertemu dengan mereka berlima. Setelah mendapatkan kesempatan dari lima temannya Olan meminta mereka untuk datang ketempat dimana dirinya bertemu dengan Alea pertama kali yaitu di sebuah club mau.
Matahari kini sudah tenggelam, selesai dari kantor Olan tak langsung pulang kerumahnya dirinya justru mampir di apartemen tempat biasa digunakan Olan untuk menikmati saat-saat sendiri. Jam kini sudah menunjukkan pukul sembilan malam sudah saatnya Olan mendatangi tempat yang paling di bencinya. Angga menemani Olan meskipun Olan sudah meminta Angga untuk pulang. Namun karena penasaran dan tak ingin terjadi sesuatu pada bos sekaligus temannya Angga memutuskan untuk menemani Olan.
Mobil yang dikendarai oleh Angga memasuki area parkir sebuah club malam. Angga memarkirkan mobilnya di tempat yang jaraknya tak jauh dari pintu masuk club malam. Olan turun terlebih dahulu di susul Angga di Olan langsung masuk kedalam club tersebut setelah memperlihatkan kartu khusus pada security.
Langkah Olan langsung menujuh ruangan yang sudah dipesannya tadi, tempat pertemuan teman lama akan berlangsung. Di ruang itu sudah ada Tommy dan Rendra, sementara itu tiga orang lainnya belum juga datang.
"Hei, Olan. Apa kabarmu?" sapa Tommy akrab. Olan hanya diam tak menjawab sapaan Tommy.
"Sukses kamu sekarang ya, Olan. Ajak kita-kita donk," ujar Rendra. Olan pun diam seperti pada Tommy.
Beberapa saat kemudian tiga orang yang ditunggu pun tiba. Mereka semua saling menyapa tapi tidak dengan Olan, Olan justru diam membatu dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di tebak.
"Olan, lama kita tidak bertemu," sapa Ragil.
"Iya, Sekarang kamu sudah sukses dan lupa pada kita," sambung Reksi.
"Sombong sekarang ya, Uda sukses nggak ingat kita-kita," timpal Rafly. Olan sama sekali tidak memberikan respon terhadap perkataan tiga orang tadi. Olan masih tetap diam dengan ekspresi dingin.
Karena ucapan-ucapan mereka sama sekali tak di gubris oleh Olan membuat mereka berlima sedikit menjadi canggung.
Olan langsung menatap kearah Tommy dengan tatapan mata penuh kemarahan.
"Sekarang katakan padaku, siapa dari kalian berlima yang memiliki ide itu?" tanya Olan dengan nada sedikit tertahan.
"Kamu masih mau lagi? Tenang, nanti akan siapkan," balas Tommy.
Karena pencahayaan yang sedikit minim Tommy sama sekali tidak melihat kilat kemarahan Olan di matanya, dengan entengnya Tommy mengatakan kalimat yang justru membuat Olan ingin muntah.
"Jadi kamu biang keroknya?" tanya Olan.
"Tenang, sekarang pun jika kamu mau, aku bisa menyediakan untukmu. Kamu tinggal terima beres," ujar Tommy dengan entengnya.
Braaak
Ting trang trung
Olan menggebrak meja sekuat tenaga hingga barang-barang yang ada diatas meja jatuh ke lantai sangking kuatnya pukulan Olan di meja.
__ADS_1
Mereka berlima sontak saja terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Olan.
"Olan, ada apa? kenapa kamu marah?" tanya Raffi merasa tak terima dengan sikap Olan barusan.
"Apa kalian tau, akibat perbuatan kalian perempuan itu hidup menderita? Kalian sudah menghancurkan kehidupan wanita itu!!" ujar Olan dengan nada penuh kemarahan.
"Kami sudah membayarnya, jadi itu bukan kesalahan kami," Tommy membela diri.
"Apa kalian tau, wanita itu melahirkan anakku!" ujar Olan setengah menahan emosinya.
"Ha....jadi dia hamil?" tanya Rendah tak percaya.
"Kalian semua akan membayar atas perbuatan kalian padaku dan pada perempuan itu!" ancam Olan.
"Olan, tolong maafkan kami, kami tidak berniat sejauh itu," ujar Ragil. Jelas ada rasa takut menyelimuti hati Ragil dan dua tiga temannya, berbeda dengan Tommy. Dirinya justru masih bisa bersikap santai.
"Tommy, kamu adalah orang pertama yang akan ku buat hancur," ujar Olan sambil tersenyum meremehkan.
Mendengar ancaman Olan membuat Ragil, Rafly dan Reksi semakin membuat nyalinya menciut, mereka sudah mendengar sepak terjang Olan di dunia bisnis, mereka pun mendapatkan kabar bahwa Olan teman mereka ini adalah pebisnis yang kejam.
"Olan, tolong maafkan kami.Aku janji akan menemui perempuan itu untuk mengakui perbuatan kami dan kami Juga akan meminta maaf padanya," ucap Ragil dengan ekspresi memohon.
"Minta maaf, kalian mau minta maaf sama siapa? dimana kalian akan menemuinya?" ujar Olan dengan sorot mata tajam.
"Kami akan mencari rumahnya sampai dapat, kami pasti bisa..."
"Dia sudah meninggal dan apa kalian tau jika dia meninggal karena apa?"
kata-kata Ragil belum selesai di ucapkan Olan langsung memotongnya dan ucapan Olan membuat mereka terkejut. Mereka tak menyangka jika perempuan yang mereka siapkan untuk Olan dua tahun yang lalu justru sudah meninggal.
Mereka berlima terdiam tak berani berkata-kata lagi.
"Mau tau bagaimana dia meninggal?" ujar Olan dengan mimik wajah ingin membunuh.
"Dia mati bunuh diri, dan kalian semuanya adalah penyebab anakku sekarang tidak memiliki seorang ibu," sambung Olan. Jari telunjuk Olan menunjuk wajah kelima temannya.
"Bersiaplah......!" ujar Olan. setelahnya Olan pergi meninggalkan mereka semua.
Bersambung
__ADS_1