CINTA TAK TERSELAMATKAN

CINTA TAK TERSELAMATKAN
Bab 42 MENANTU


__ADS_3

Mendengar pengakuan yang keluar dari mulut pak Eh sontak saja bukan hanya orang tuanya Olan yang terkejut, Olan justru lebih terkejut mendengar ucapan pak Eh. Namun meskipun demikian Olan dan orang tuanya tak langsung mengambil kesimpulannya tentang hubungan keluarga pak Eh dan Alea.


Olan menunggu jawaban atas pertanyaannya yang di sampaikan pada pak Eh. Pak tak langsung menjawab pertanyaan Olan, untuk sesaat pak menarik nafas dalam-dalam sambil memikirkan kata yang tepat untuk menjelaskan tentang Alea.


"Pak, bagaimana Alea bisa tinggal disini?" tanya Olan lagi.


"Alea datang sendiri ke rumah kami," jawab pak Eh.


"Pak, apa bapak sama ibu masih ada hubungan darah atau kerabat dari Alea?" Olan semakin tidak sabaran karena pertanyaannya belum sepenuhnya mendapatkan jawaban yang tepat.


Pak Eh tidak langsung menjawab akan tetapi pak Eh justru mengambil sebuah bingkai foto yang berukuran sedang. Di dalam bingkai foto itu terdapat gambar keluarga pak Eh dan Alea, dari raut wajah orang-orang yang ada dalam foto tersebut terlihat sangat bahagia, ada senyum yang terlukis di setiap bibir mereka semua.


Pak Eh menyerahkan bingkai foto tersebut pada Olan sambil mulai berbicara.


"Alea dan kami tidak ada hubungan darah sama sekali,"


Olan dan orang tuanya memasang pendengaran mereka agar tidak ada lata yang di ucapkan pak Eh yang terlewatkan.


"Alea, datang sendiri kesini, entah jam berapa. Waktu itu hujan lebat jadi kami sekeluarga tidur cepat hingga pada keesokan paginya saat saya buka pintu, saya justru menemukan Alea sudah tergeletak di lantai, teras depan rumah," pak Eh bercerita bagaimana pertama kalinya mereka menemukan Alea.


"Maksudnya pak Eh?" potong bu Linda. Bu Linda ingin tau kenapa Alea bisa tergeletak di lantai.


"Alea, saat saya temukan dalam keadaan pingsan," jawab jujur pak Eh.


"Pingsan, apa yang terjadi?" tanya Olan cemas.


"Kami tidak tau apa yang terjadi pada Alea, tapi saat itu Alea mengenakan pakaian yang sudah robek dari segala sisi, keadaannya benar-benar tidak baik-baik saja," terang pak Eh.


"Kira-kira apakah bapak masih ingat kapan itu terjadi?" tanya Olan.


Pak Eh pun menjawab kapan peristiwa itu terjadi, pak Eh dan istrinya tentunya tidak akan lupa akan kejadian itu. Bagaimana mereka bisa lupa jika pada saat itu mereka menemukan sosok manusia yang hampir setengah telanjang terbaring tak bergerak di teras rumah mereka.


Nafas Olan tercekat saat mendengar penjelasan pak Eh, Olan pun tidak akan pernah lupa peristiwa itu, yaitu saat dirinya tanpa kesadaran merenggut paksa kehormatan seorang wanita. Olan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Jadi kejadian itu saat aku baru saja....." kata-kata Olan terhenti, Olan tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


"Iya, dan Alea sangat terpukul saat itu," sambung pak Eh.


Dada Olan seperti di tikam oleh belati yang tajam, rasanya sakit dan jelas Olan merasa bersalah.


"Sejak saat itulah Alea, tinggal bersama kami disini," sambung pak Eh lagi.


"Setelah itu, apa yang terjadi dengan Alea, pak?" tanya bu Linda. Ada perasaan sedih yang di rasakan oleh bu Linda dalam hatinya.


"Alea sempat beberapa kali berteriak saat tengah malam dan itupun saat Alea tidur. Hanya istri saya yang mampu menenangkan, Alea," terang pak Eh.


Ingin rasanya Olan berteriak marah saat ini, tapi Olan tidak tau harus marah pada siapa yang jelas Olan benar-benar marah. Jauh di dalam lubuk hatinya terdalam justru semakin yakin melanjutkan rencana dengan Angga.


"Pak, maaf. Apakah bapak tau keluarga, Alea? maksudnya saya keluarga kandung?" tanya pak Ravlin.


"Setau saya, kedua orang tuanya Alea sudah meninggal dan kami pernah mengantarkan Alea ke makam orang tuanya," jawab pak Eh.


"Ada, tapi orang itu adalah ibu tirinya Alea. Kata Alea wanita itu jahat, jadi Ale tidak ingin kembali ke rumahnya," jawab jujur pak Eh.


"Jahat, bagaimana maksudnya?" tanya Olan sambil mengerutkan keningnya.


"Waktu itu saat kami ingin mengantarkan Alea pulang ke rumah, kata Alea ibu tirinya lah yang sudah menjualnya," lagi dan lagi pak Eh berkata jujur.


Sesungguhnya pak Eh berkata demikian berharap agar memancing Olan untuk mencari tau kira-kira siapa saja yang terlibat dalam kasusnya Alea dan Olan. Ternyata diam-diam Alea pernah bercerita pada pak Eh keinginannya untuk balas dendam pada keluarga tirinya namun sebelumnya Alea juga ingin tau siapa dalang yang sebenarnya sampai dirinya du jual kepada mucikari.


Perasaan iba akan nasib calon menantu mereka yang belum sempat di temui, pak Ravlin dan bu Linda menjadi terenyuh mendengar cerita tentang Alea. Bu Linda meneteskan airmatanya dirinya tak menyangka jika perempuan yang sudah memberikannya seorang cucu memiliki kisah hidup yang begitu menyakitkan.


"Aku akan menghukum kalian semua," kata Olan dalam hati. Rahang Olan mengeras sampai terdengar ketukan gigi yang saling beradu. amarahnya semakin menjadi.


Baik Olan maupun orang tuanya terdiam sejenak, mereka tak menyangka akan mendengar kisah Alea yang begitu menyedikan.


"Pak, apa bapak tau dimana tempat tinggal ibu tirinya Alea?" tanya pak Ravlin ada rasa marah di dalam dadanya. Dirinya tak terima jika Alea mengalami nasib begitu menyedikan.

__ADS_1


"Iya, saya tau. Waktu itu Ake sempat pulang ke rumahnya tapi hanya beberapa saat saja dan itupun hanya untuk mengambil barang-barangnya," jawab pak Eh.


"Bisa pak Eh berikan alamatnya pada saya?" ujar pak Ravlin dengan nada meminta.


"Alamat tepatnya saya kurang tau, tapi saya masih hafal jalannya," jelas pak Eh.


"Kalau begitu, kapan-kapan bisa pak Eh antar kan saya kesana?" ucap pak Ravlin.


"Bisa...." pak Eh menyetujui permintaan pak Ravlin.


Olan menatap pigura foto yang ada di tangannya, bu Linda pun ikut melirik foto tersebut. Di dalam foto, bu Linda melihat seorang gadis berkulit putih yang sedang tersenyum manis sambil menggendong anak bayi. Dari situ bu Linda langsung bisa menebak jika perempuan itu adalah Alea.


"Ini, Alea.Mantunya mama, Olan?" tanya bu Linda dan langsung menyebutkan bahwa Alea adalah menantunya.


"Iya, dia Alea," jawab Olan.


"Cantik sekali....," puji bu Linda. Kab Alea memang cantik. Olan tersenyum mendengar ucapan mamanya.


Bu Linda mengambil pigura foto tersebut dari tangan Olan dan memperlihatkan isi foto tersebut pada suaminya.


"Pah, ini menantu kita," ujar bu Linda sambil jarinya mengarah pada gambar Alea.


"Cantik, pantas saja Olan jatuh cinta padanya," ujar pak Ravlin.


Pak Eh dan bu Siti terkejut dengan apa yang diucapkan oleh pak Ravlin.


"Maksudnya bapak , apa?" ujar pak Eh binggung.


"Sebenarnya anak saya itu sudah jatuh cinta pada putrinya pak Eh. Tapi anak saya ini bodoh soal cinta makanya dia tidak bisa mengambil hatinya," ujar pak Ravlin. Ada nada rasa kecewa yang terucap dari bibir pak Ravlin tentang Olan.


"Kenapa jadi begini...?" kata pak Eh dalam hati.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2