
Jujur Olan tak suka jika Alea berdekatan dengan laki-laki, harinya seperti terkena sengatan setrum listrik jika melihat Alea akrab dengan para laki-laki yang ada di kantornya. Bagi Olan Alea adalah miliknya, entah sejak kapan rasa ingin memiliki Alea itu bersarang di hatinya.
Pagi ini Olan sudah duduk manis di depan meja kerjanya, saat ini dirinya sedang menunggu secangkir kopi buatan Alea. Sambil menunggu Olan menatap layar ponselnya sambil tersenyum sendirian. Mungkin jika ada orang yang datang dan menemukan Olan sedang tersenyum itu pasti akan di sebut sebagai momen yang langkah.
Olan mulai merencanakan untuk segera bisa mengakui siapa dirinya, Olan juga berharap jika nanti saat Alea tau siapa dirinya besar harapan Olan bahwa Alea bisa menerima dirinya. Untuk saat ini Olan merasa yakin jika Alea sudah bisa menerima kedekatan antara dirinya dan Alea.
Olan juga sudah membangun mimpi dan harapan pada dirinya jika Alea pasti bisa menerima kehadirannya, Olan sudah membayangkan jika Alea akan menjadi pendamping hidupnya kelak.
Tok
Tok
"Permisi....!" Alea mengetuk pintu sebelum masuk keruang kerjanya Olan. Olan yang sedang melamun segera tersadar.
"Masuk..." ujar Olan.
Alea pun masuk sambil membawa nampan yang berisi satu cangkir kopi panas untuk Olan.
"Selamat pagi, pak," sapa Alea sopan.
"Pagi juga, Alea. Kopinya Taru di meja itu aja," ucap Olan sambil menunjuk meja yang berdampingan dengan Sofa. Alea pun langsung meletakkan cangkir berisi kopi panas di meja yang si tunjuk Olan.
"Maaf, pak. Apa masih ada lagi yang perlu saya bantu?" tanya Alea sekedar basa-basi untuk menunjukkan kesopanan.
"Tidak ada. Makasih Alea," balas Olan.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak," pamit Alea.
"Jangan kemana-mana, ingat tempat kamu itu ada di depan ruangan saya," ujar Olan mengingatkan Alea.
"Iya pak, saya mengerti," jawab Alea dengan hati sedikit kesal.
Bagaimana Alea tidak kesal selama dirinya di perintahkan untuk pindah tempat kerja tugas Alea lebih banyak di habiskan dengan melamun, Alea tidak melakukan kegiatan kerja yang seharusnya sebagai seorang OB. Alea merasa tak nyaman dengan berita yang menyebar di kantor. Ada yang menyebutkan bahwa Alea akan menjadi simpanan Olan, ada juga yang mengatakan bahwa Alea sebagai wanita penggoda dan bukan hanya itu Alea di tuduh menggunakan magic untuk mendekati Olan. Kesal ya pasti Alea kesal , tapi Alea tak berdaya. Alea keluar dari ruangan Olan dan kembali duduk di depan ruang kerjanya Olan.
Di dalam ruangan Olan sedang menikmati secangkir kopi buatan Alea, dirinya ingin menikah waktu sejenak sebelum fokusnya benar-benar pada lembaran kertas dan laporan dari bawahannya. Olan teringat jika dulu papanya memiliki seorang asisten pribadi yang selalu mendampingi papanya Olan pun langsung memikirkan hal itu.
Tugas kantor yang semakin hari semakin menumpuk timbul keinginan untuk memiliki seorang asisten pribadi seperti papanya dulu. Olan pun mulai menimbang-nimbang kira-kira siapa yang pantas untuk menjadi asisten pribadinya. Pikiran Olan tertuju pada satu orang, sesuai dengan pertimbangan yang matang Olan langsung menghubungi orang yang dimaksud.
Panggil telpon Olan langsung mendapatkan jawaban dari orang yang dihubunginya.
"Halo, pak bos. Apa kabar?"
"Angga, kamu bisa kekantor ku sekarang. Ada hal penting ingin aku bicarakan denganmu," ucap Olan to the poin.
"Jam berapa?" tanya Angga. karena Angga yang dihubungi Olan.
"Sekarang, bisa?" balas Olan.
"Bisa, aku langsung kesana sekarang," jawan Angga. Dan panggilan terputus setelah Olan mendapatkan jawaban dari Angga
__ADS_1
Hampir satu berlalu Olan kini sedang sibuk menatap layar komputer yang berisikan huruf dan angka , konsentrasi Olan buyar setelah mendengar suara Angga di depan ruang kerjanya. Olan beranjak dari kursinya berniat membukakan pintu untuk Angga.
"Hai, aku Angga, Pak Olan ada?" Angga kini sedang bertanya pada Alea.
"Ada, silahkan masuk," ucap Alea sambil tersenyum ramah.
"Ais, kamu tuh jangan senyum seperti itu bisa meleleh hatiku," ujar Angga mencoba menggoda Alea.
Alea mendengar ucapan Angga bukanya merasa senang tapi justru Alea merubah ekspresi ramahnya menjadi ekspresi dingin. Alea langsung merasa terganggu dengan perkataan Angga barusan. Angga menyadari perubahan ekspresi Alea langsung tersenyum kaku.
"Maaf, aku cuma becanda," ucap Angga sambil menunjuk deretan gigi depannya. Alea hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu Alea berpura-pura sibuk.
Bisa di pastikan jika Angga kini sedang salah tingkah karena perubahan sikap Alea.
"Ternyata masih ada di dunia ini wanita tak suka di puji," ucap Angga dalam hati.
Sementara itu di balik pintu Olan sudah mendengar percakapan antara Alea dan Angga, ada rasa kesal dan senang dirasakan Olan. Olan kesal karena Angga menggoda Alea tapi di satu sisi Olan senang ternyata Alea tidak menanggapi ucap Angga.
Hening
Suasana hening di depan pintunya Olan langsung membuka pintu tersebut menemui Angga.
"Angga, ayo masuk," ucap Olan.
"Hi bos,," sapa Angga. mereka pun masuk ke dalam ruang kerja Olan.
Angga duduk tepat di hadapan Olan yang di batasi oleh meja kerja.
"Aku yang suruh," jawab Olan.
"Tapi kenapa?, ngomong-ngomong OB kamu itu cantik juga," ujar Angga.
Tuk
Olan melempar Angga dengan pulpen yang ada ditangannya.
"Woi, santai bro. Aku kan cuma bilang dia cantik," ucap Angga.
"Dia udah punya pacar?" tanya Angga penasaran.
"Sudah!" jawab singkat Olan dengan penuh percaya diri.
"Kamu kenal dengan pacarnya?" tanya Angga semakin penasaran.
"Bukan urusanmu," jawab Olan.
"Pelit, tapi kalau diingat lagi kayaknya wajahnya nggak asing. Kaya aku kenal," ucap Angga sambil mengerutkan keningnya mencoba mengingat.
"Dia itu wanita yang kamu cari dulu," ujar Olan jujur.
__ADS_1
"Yang bener, lebih cantik dari fotonya. Tapi beneran itu dia?" ucap Angga tak percaya.
"Iya, itu dia. Namanya Alea," terang Olan.
"Astaga, tapi kenapa dia jadi OB?" tingkat kekepoan Angga semakin meningkat.
"Aku juga kaget pas liat dia jadi OB di kantorku," terang Olan.
"Tega kamu," tuding Angga.
"Sampai saat ini dia tidak tau kalau aku mencarinya dan aku sengaja merahasiakannya," ucap Olan.
"Kok, bisa?" Angga semakin penasaran.
"Waktu pertama kali dia liat aku dia sangat ketakutan makanannya aku sengaja diam," terang Olan.
"Hei, kamu kesini bukan untuk membahas soal Alea, kamu aku suruh kesini karena ada tugas penting untukmu," ujat Olan setelah tersadar bahwa dari tadi yang dibahas hanya Alea.
"Hehehe..... Ada tugas apa untukku?" ucap Angga.
"Aku mau kamu jadi asisten pribadi ku," terang Olan tanpa basa-basi.
"Yang benar?" ujar Angga ragu.
"Beneran, aku butuh asisten. Pekerjaan ku semakin numpuk dan aku butuh orang yang bisa aku percaya untuk membantuku," terang Olan lagi.
"Tapikan aku nggak ngerti bisnis," terang Angga.
"Soal itu gampang, kamu tinggal lakukan apa yang aku katakan dan aku nggak mau kamu nolak," tembak Olan langsung.
"Tapi.... emang aku bisa?* ucap Angga ragu.
"Bisa, nanti aku akan ngajarin kamu dan jika kamu bersedia gaji kamu akan saya bayar mahal," ujar Olan.
"Kasih aku waktu buat mikir," jawab Angga.
"Tiga hari dari sekarang," ujar Olan tegas.
"Ngga seminggu?" tawar Angga.
"Tiga hari dan mulai hari ini," Olan kembali menegaskan ucapnya.
"Ya udah, aku pamit pulang dulu," balas Angga.
Angga pun berpamitan dengan Olan, Olan mengantar Angga sampai si depan pintu ruangannya.
"Halo cantik...." sapa Angga kepada Alea. Angga memang sengaja melakukan hal itu untuk menggoda Olan.
"Angga....!" ujar Olan dengan nada peringatan.
__ADS_1
"Iya, aku cuma becanda," balas Angga.
Bersambung