
Alea masih berdiri mematung dihadapan bosnya, tubuh Alea bergetar karena perasaan takut menyelimuti pikirannya. Bukan hanya itu saja kering dingin mulai keluar dari lubang pori-pori kulit Alea, tapi meskipun demikian Alea berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengendalikan perasaan dan emosinya
seandainya saja Alea memiliki keberanian lebih bisa di pastikan bahwa pria yang ada di hadapannya saat ini sudah menerima cakaran dan pukulan dari Alea. Tapi sayang seribu sayang Alea hanya bisa meluapkan emosinya hanya di dalam hati.
Alea masih menunggu atas pertanyaannya sedangkan pria itu masih menatap Alea dengan tatapan seolah-olah sedang berfikir. Jauh di dalam hati Alea, Alea berdoa dan berharap jika pria itu tidak mengenalinya Alea butuh pekerjaan ini, Alea tidak ingin gegabah dalam bertindak meskipun dirinya tau jika pria itulah yang sudah membuat dirinya kehilangan kehidupan dan masa depannya tapi Alea berfikir lebih realistis saat ini. Seandainya saja keluarganya tidak membutuhkan uang Alea pasti langsung mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Pria di hadapan Alea hanya mematung menatap Alea tanpa berkedip membuat Alea tak sabaran.
"Maaf, pak. Apakah masih ada yang di perlukan?" Alea bertanya tapi di hatinya mengeluarkan sumpah serapah bahkan caci maki untuk bosnya ini.
"Ha...." bos Alea terkejut mendengar ucapan Alea
"Oh, maaf apa kita pernah bertemu?" tanya pria itu.
Deg
Hati Alea seperti tertimpa batu saat mendengar pertanyaan itu. Alea terkejut.
"Tidak pernah!" jawab Alea tegas, jelas Alea berdusta.
"Baiklah, saya tidak butuh apa-apa lagi. Silakan keluar," ucap pria itu.
Tanpa membuang waktu lagi Alea langsung memutar badannya secepat kilat, Alea ingin cepat berlalu dari hadapan pria itu. Alea melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, tapi belum sempat Alea menyentuh handle pintu pria itu memanggilnya lagi.
"Tunggu..."
Alea menarik nafas panjang mendengar panggilan bosnya.
"Kamu OB baru ya," tanya bosnya.
Meskipun berat dengan sangat terpaksa Alea memutar kembali seluruh badannya hingga menghadap bosnya.
"Iya, pak. Saya baru bekerja hari ini," jawab Alea jujur.
"Siapa nama kamu?" pria itu kembali bertanya.
"Saya Alea, panggil Alea saja," jawab Alea. Alea berharap dalam hatinya itu merupakan pertanyaan terakhir dari bosnya.
__ADS_1
"Selamat bergabung dengan perusahaan ini, nanti kalau ada perlu saya akan memanggil mu," jawab pria itu ramah, dia pun sempat memberikan seluas senyum untuk Alea.
Alea yang menerima keramahan bosnya hanya bisa mengumpat dalam hatinya, dan saat bosnya tersenyum ramah padanya rasanya Alea ingin muntah detik itu juga. Alea sangat membenci bosnya itu.
"Silahkan keluar," ucap bos Alea. Alea langsung melakukan perintah bos-nya.
Alea keluar dari ruangan itu dengan perasaan lega, tapi aura ketakutan yang dirasakan oleh Alea masih terukir jelas di wajahnya. Tubuh Alea langsung bersandar di pintu, bayangan kejadian masa lalu kembali terbayang di mata Alea. Kejadian masa lalu itu seperti rol film yang sedang berputar di kepala Alea.Ingin rasanya Alea menangis sambil berteriak kencang saat ini tapi itu hanya bisa terjadi dalam khayalan nya.
Ketika Alea baru keluar dari dalam ruangan CEO Juju memperhatikan sikap Alea, Juju merasa khawatir karena melihat wajah Alea yang pucat pasi bahkan tubuh Alea berkeringat dingin.
"Alea, apakah kamu baik-baik saja?"
"Aku baik, aku tidak apa-apa," jawab Alea dengan nafas memburu.
"Kamu yakin?" tanya Juju ingin meyakinkan jawaban Alea.
"iya, aku baik-baik saja," jawab Alea bohong.
"Terus, kenapa kamu seperti ketakutan begitu?" tanya Juju binggung.
"Eh...itu karena aku gugup. Hari ini adalah hari pertama aku kerja dan langsung bertemu dengan bos besar," ujar Alea.
"Tapi kamu nggak buat kesalahan kan, atau bos melakukan hal-hal yang tidak baik padamu?" Alea langsung menerima dua pertanyaan sekaligus dari Juju.
"Beneran aku nggak papa," jawab Alea berusaha meyakinkan Juju.
Tak mungkin rasanya Alea menceritakan tentang masalalunya bersama bosnya kepada Juju apa kata Juju nanti.ucap Alea dalam hati.
"Ju, aku ke toilet dulu," ucap Alea.
" Ya sudah, cepat kembali ke pantry ya," jawab Juju. Alea pun langsung pergi ke tempat yang disebutkannya tadi. Juju kembali ke pantry, sedangkan Alea ke toilet.
Setiibanya di dalam kamar mandi Alea memeriksa setiap balik toilet untuk mengecek tidak ada orang disana. Setelah memastikan bahwa kamar mandi itu kosong Alea masuk kedalam salah satu bilik kamar mandi. Alea duduk diatas closed yang sudah di tutupnya, pelan tapi pasti Alea mulai terisak. Perlahan tangisan Alea semakin kencang meskipun demikian Alea menutup mulutnya dengan kedua tangannya supaya suaranya tidak terdengar sampai keluar ruangan. Rasa takut, marah, kecewa dan putus asa Alea tumpahan dengan airmatanya.
"Tuhan, kenapa ini harus terjadi padaku," ucap Alea lirih.
Tangisan Alea semakin tak bisa di tahan dadanya terasa sesak, tubuhnya sampai sedikit terguncang karena menahan tangisnya. Alea mengambil gayung dan mengisi air sampai penuh setelah penuh Alea membenamkan wajahnya kedalam gayung. Dengan wajah penuh dengan air Alea berteriak sekencang mungkin, Alea berteriak menumpahkan segala rasa yang dia rasakan saat ini. Dengan melakukan hal itu Alea berharap agar dirinya bisa mengendalikan perasaannya dan juga dirinya.
__ADS_1
Ya pria yang menjadi bos Alea adalah laki-laki yang sudah membuat hidup Alea berantakan. Dan dia adalah Olan CEO perusahaan tempat Alea bekerja. Sementara itu di ruang kerja Olan sedang di sibukkan oleh pemikirannya, dirinya merasa bahwa dia pernah bertemu dengan OB tadi tapi tidak tau dimana. Samping Olan teringat akan seseorang, Olan segera mengambil handphone miliknya dan langsung menghidupkan ponselnya.
Olan menatap wajah seorang perempuan yang ada di layar ponselnya, mata Olan mengerut setelah melihat wajah wanita itu.
"Apakah itu dia?" ucap Olan dalam hati. Wajah cantik dengan sudah menjadi wallpaper handphone Olan adalah wajah Alea, wanita yang sudah dicarinya selama dua tahun ini.
Untuk meyakinkan bahwa matanya tidak salah melihat Olan memperbesar gambar wajah Alea di handphone miliknya. Setelah memastikan bahwa Olan matanya tidak salah melihat Olan langsung tersenyum penuh arti.
"Aku yakin itu kamu. Pantesan aja saat melihat ku kamu ketakutan," ucap Olan pelan. Suara Olan hanya bisa didengarkan oleh dirinya sendiri.
"Jadi namamu Alea, nama yang cantik secantik orangnya," Olan berbicara sendiri, tak lupa senyum bahagia langsung terukir di wajahnya.
Olan kembali teringat akan seseorang, orang itu adalah orang yang pernah Olan minta tolong untuk mencari Alea. Olan langsung menghubungi Angga.
Tut
Tut
Panggilan tersambung pada handphone miliknya Bunyi nada dering ketiga terdengar suara Angga balik handphone.
"Halo..."
"Apakah kamu...."
"Olan, aku belum menemukan wanita itu!" belum selesai Olan berkata Angga langsung memotong kata-kata Olan.
"Kamu tau, kerjaan ku setelah selesai bertugas mencari wanita itu, setiap hari aku nongkrong di mall-mall bahkan club mau untuk mencari wanita itu," sambung Angga sambil menerangkan apa saja yang sudah dilakukannya selama ini.
"Aku minta maaf sudah merepotkan mu," ucap Olan tulus.
"Kamu tau tidak, karena mencari wanita itu aku bahkan tidak ambil cuti selama dua tahun," keluh Angga.
"Kamu sekarang bisa cuti, semua biaya liburanmu aku yang tanggung," ujar Olan.
"Tapi kenapa, apakah kamu sudah menyerah mencari wanita itu atau karena kasihan padaku?" tanya Angga penuh sidik.
"Aku sudah menemukannya," jawab Olan.
__ADS_1
Bersambung