CINTA TAK TERSELAMATKAN

CINTA TAK TERSELAMATKAN
Bab 24 SEMUANYA BAIK-BAIK SAJA


__ADS_3

Pembicaraan antara Olan dan Angga masih berlangsung Angga penasaran dengan apa yang baru saja di katakan oleh Olan. Angga merasa bahwa itu tidaklah mungkin Olan menemukan gadis yang dicarinya.


"Apa... kamu sudah menemukan perempuan itu, tapi bagaimana bisa?" ujar Angga tak percaya.


"Perempuan itu sekarang bekerja di kantor ku," terang Olan.


"Benarkah, kalau tau perempuan itu akhirnya mendatangi kamu dengan suka rela aku tidak perlu repot-repot mencarinya," ucap Angga.


"Sekarang kamu mau liburan nggak" tanya Olan mengalihkan pembicaraan Olan yakin jika terus dibiarkan Angga akan terus berkeluh kesah tentang tugas yang diberikannya.


Di balik benda pipih Angga terdiam sesaat, dirinya sedang memikirkan tawaran Olan.


"Baiklah, aku akan cuti. Tapi beneran ya semua biaya liburan ku kamu yang bayarin," jawab Angga sambil memastikan bahwa tawar Olan bukan hanya sekedar basa-basi semata.


"Iya, jadi kapan kamu akan kekantor ku untuk mengambil bayaran mu," ujar Olan.


"Besok, satu lagi apakah aku bisa bertemu dengan perempuan itu?" tanya Olan, Angga penasaran ingin melihat langsung perempuan yang sudah membuat dirinya menghabiskan begitu banyak waktu untuk mencarinya.


"Tergantung, kalau dia sibuk pas kamu datang kamu tidak bisa bertemu dengannya," jawab Olan enteng.


"Kamu kan bosnya, masa nggak bisa," ucap Angga.


"Liat aja besok. Ingat besok kesini pagi-pagi," Olan mengingatkan Angga.


"Ok, besok pagi aku pastikan datang," jawab Angga. Obrolan mereka berdua pun selesai setelah mendapatkan kesepakatan bersama.


Setelah obrolan itu selesai Olan kembali pada pekerjaannya, tapi sedari tadi Olan mencoba untuk konsentrasi pada pekerjaannya di kepalanya justru bukan sedang memikirkan pekerjaan tapi isi kepala Olan sudah terisi penuh oleh bayangan Alea. Beberapa kali Olan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya berharap bisa kembali konsentrasi pada pekerjaannya nyatanya bayangan Alea justru semakin kuat.


"Ada apa dengan ku, aku baru saja melihatnya sekali kenapa bayangan Alea justru menganggu pikiranku?" gerutu Olan.


Olan merasa heran bagaimana bisa wanita yang baru saja dilihatnya mampu membayarkan konsentrasinya dalam sekejap. Karena tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya Olan mencoba mulai menerka-nerka tentang Alea.


"Namanya Alea, cantik namanya seperti orangnya," puji Olan dalam hatinya.


"Apakah dia sudah menikah atau belum ya?" Olan bertanya pada dirinya sendiri.


"Apakah benar dia sudah memiliki seorang anak akibat perbuatan ku waktu itu, kalau benar berarti sekarang aku sudah memiliki seorang anak.Tapi anakku berjenis kelamin laki-laki atau perempuan ya? ..ah...bisa gila aku ini," Olan sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


Olan tidak berhenti sampai di situ aja rasa penasaran akan Alea dan kehamilan Alea yang ada di bayang nya membuat dirinya semakin pusing. Membayangkan jika dirinya memiliki seorang anak membuat Olan mengukir senyum di bibirnya, terapi jika lebih lanjut lagi Olan berfikir tentang anaknya dan kehidupan sehari-hari Alea membuat Olan tak tenang. Olan saat ini benar-benar tidak bisa berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya, isi kepala Olan sudah di penuhi oleh bayangan anaknya dan Alea.


Saat itu ketika Alea sudah merasa lebih baik Alea keluar dari dalam toilet, tapi sebelumnya Alea membasuh wajahnya terlebih dahulu supaya sisa-sisa bekas airmatanya hilang dari pipinya. Alea kembali ke pantry sesuai dengan apa yang instruksikan oleh Juju tadi. Tiba di pantry Alea melihat Juju sedang membersihkan area pantry.


"Ju, ada yang bisa ku bantu?" tawar Alea.


Juju berhenti dari aktivitasnya dan membalikkan badannya menghadap Alea.


"Alea, tolong bantu aku untuk membersihkan laci-laci itu," ujar Juju sambil menunjuk ke arah tempat laci-laci yang di maksud.


"Baiklah, bersihin nya pake apa?" tanya Alea.


"Pake ini aja," Juju menyodorkan alat pembersih pada Alea.


Tapi ketika Alea mengambil alat pembersih dari tangan Juju Alea menatap Juju sambil mengerutkan dahinya.


"Ada apa?"


"Kamu baru habis menangis ya?" tebak Juju.


"Eh..itu. Nggak kok, tadi aku ke lilipan," elak Alea. Jelas sekali Alea berbohong.


"Benar, aku nggak papa. Sekarang aku mulai bersih-bersihnya mulai dari mana?" Alea mengalikan pembicaraan supaya Juju berhenti bertanya.


"Mulai dari atasannya aja dulu," jawab Juju.


"Baiklah.... selamat bekerja," ucap Alea dan Alea pun langsung mulai membersihkan laci-laci itu.


Jam terus berputar kini sudah hampir jam makan siang, pekerjaan Alea pun sudah selesai begitu juga dengan Juju. Sambil menunggu jam istirahat makan siang Juju membuka handphone miliknya dan mulai sibuk dengan aktivitasnya di handphone. Berbeda dengan Alea, Alea justru memutar kembali kejadian tadi pagi saat pertama bertemu dengan Olan.


Kepala Alea di penuhi oleh bayangan kejadian itu, Alea mencoba memutar kembali setiap kejadian yang terjadi saat itu, perlahan-lahan Alea mengingat setiap gerakannya hingga Alea tiba di satu titik. Pikiran Alea terhenti saat dirinya melihat Olan yang sedang menatapnya, Alea mengerutkan dahinya.


"Apakah dia tidak ingat dengan ku atau berpura-pura lupa?" tanya Alea dalam hati.


"Tapi kalau dia ingat aku kenapa wajahnya biasa saja atau memang sudah menjadi kebiasaannya melecehkan wanita?" Alea mulai berfikiran buruk tentang bosnya.


"Tapi .....auh ah sudahlah...!" ujar Alea dengan suara sedikit keras.

__ADS_1


Juju yang mendengar Alea berbicara sendiri menatap Alea dengan tatapan binggung.


"Alea, kamu kenapa?"


"Ha... hehe.bukan apa-apa," jawab Alea sambil tersenyum kaku.


"Kalau butuh sesuatu bilang aku aja," ujar Juju. Alea menjawab ucapan Juju dengan anggukan kepala tanda mengerti.


.Juju kembali ke ponselnya dan Alea kembali sibuk dengan pikirannya.


"Kalau dia benar-benar tidak ingat dengan ku, itu bagus. Artinya aku bisa terus bekerja di kantor ini tanpa rasa khawatir,"


"Tapi kalau dia ingat dengan aku, aku harus bagaimana?" berbagai pertanyaan muncul di otaknya Alea dan itu membuat raut wajah Alea ikut berubah-ubah sesuai dengan isi pikirannya. Juju pun kembali menatap Alea dengan perasaan penasaran apa yang sedang dipikirkan oleh Alea.


"Alea....Alea....!" panggil Juju tapi Alea masih terus sibuk dengan pikirannya.


"Alea....!" dengan nada sedikit meninggi Juju memanggil Alea.


"Ha...iya Ju, ada apa?" Alea terkejut mendengar Juju memanggilnya.


"Ada apa, sedari tadi wajah mu berubah-ubah mulai dari senyum sendiri sampai matamu melotot," ujar Juju. Alea tersipu malu dengan ucapan Juju.


Karena panggilan Juju akhirnya Alea terlepas dari pikiran-pikiran yang tidak tau bagaimana kelanjutannya. Alea tidak langsung menjawab pertanyaan Juju tapi justru melirik kearah arah jam dinding di ruangan tersebut yang sudah menunjukkan waktunya istirahat.


"Ju, sudah waktunya istirahat. Kita makan siang di mana?"


"Di kantin, ayo kita kesana," jawab Juju.


"Ngga papa aku ikut makan siang disana, aku kan pegawai baru," ujar Alea, Alea takut jika dirinya berbuat kesalahan di hari pertamanya bekerja.


"Ngga papa, itu di kantin karyawan semua karyawan boleh makan di kantin dan itu gratis," terang Juju.


"Benarkah gratis?" ucap Alea tak percaya.


"Itu benar, kita bisa makan sepuasnya. Bos kita sudah membayar keringnya," jelas Juju.


"Oh, .... Alea hanya bisa ber oh ria.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2