
Perubahan tempat kerja Alea membuat satu gedung heboh, berita miring tentang Alea mulai menyebar. Ada juga segelintir orang mulai membuat gosip tentang Alea dan Olan. Ada yang menyebarkan gosip jika Alea sudah menggoda Olan, ada pula berita yang mengatakan bahwa Alea sudah menyerahkan tubuhnya untuk CEO. Berita gosip tentang dirinya sampai di telinga Alea, sayang Alea tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Sedangkan Juju yang tau tentang Alea kini sedang sibuk-sibuknya melakukan pembelaan terhadap Alea, karena hanya Juju lah yang tau keadaannya.
Tempat Alea kini benar-benar berada tepat di depan pintu masuk ruang kerjanya Olan, Alea duduk termenung karena tidak tau harus melakukan apa lagi, semua kerjaannya sudah selesai dari tadi. Alea bukan tidak ingin membantu Juju tapi karena perintah yang di berikan oleh HRD-lah yang membuat Alea tak berkutik. Alea tidak ingin melanggar peraturan yang ada karena jujur Alea masih membutuhkan pekerjaannya.
Di ruangan kerjanya Olan sedang sibuk dengan pekerjaannya yang sedang menumpuk, sedangkan di luar Alea duduk seorang diri bak seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Kepala Alea hanya bisa bergerak ke kiri dan kanan mencari sesuatu yang dirinya sendiri tidak tahu apa yang dicari. Tempat yang bisa Alea kunjungi di perusahaan itu hanyalah kantin dan kamar mandi, kalau pun keruang pantry Alea tidak bisa berlama-lama di sana. Alea di buat frustasi sendiri.
Panggilan alam dan keinginan untuk ke kamar mandi membuat Alea bangun dari duduknya. Rasa kebelet ingin segera ke toilet membuat Alea langsung berlari menuju toilet yang ada di lantai tersebut. Sampai di kamar mandi Alea langsung masuk ke salah satu bilik kamar mandi. Alea duduk sambil menikmati suasana yang ada di dalam bilik.
Beberapa saat kemudian Alea mendengar langkah kaki beberapa orang masuk kedalam kamar mandi. Dari suara yang di dengar oleh Alea yang barusan masuk adalah beberapa wanita pegawai perusahaan. Alea diam tak ingin mengeluarkan suara. Detik berikutnya perempuan-perempuan itu mulai bersuara.
"Tau nggak sie, bos kita sedang memberikan perhatian lebih pada ob," ucap pegawai pertama.
"Iya, aku juga dengernya seperti itu. Tapi kok bisa ya seorang CEO perusahaan besar memberikan perhatian lebih pada seorang pegawai rendahan,* timpal pegawai kedua.
"Aku rasa OB itu sudah di guna-guna sama si OB itu," sambung pegawai ke tiga.
"Bisa jadi, emang dia kalau di perhatikan memang cantik," kata pegawai dua.
"Cantik darimana, cantik kan aku kali," ujar pegawai ke tiga.
"Saya rasa OB itu hanya akan menjadi pelampiasan pak Olan aja, lumayan kan bisa bobo asyik," timpal pegawai kedua. Dan mereka pun tertawa setelah mendengar ucapan barusan.
Sementara itu di dalam bilik kamar mandi Alea mendengarkan pembicaraan tiga wanita itu, jelas Alea marah. Alea mengepalkan kedua tangannya erat-erat sambil mencoba meredakan amarahnya. Perbincangan tiga perempuan itu belum selesai di situ, mereka bertiga masih terus membicarakan Alea.
"Saya rasa OB hanya berpura-pura, mungkin dia itu perempuan panggilan," ucap pegawai ke tiga.
"Bisa jadi, lagian mana ada wanita cantik mau jadi OB. Iya nggak," pegawai pertama mendukung ucapan pegawai ke tiga.
"Dasar perempuan murahan, semoga pak Olan tidak terjebak semakin jauh sama perempuan itu," sambung pegawai kedua.
Telinga Alea semakin panas mendengar percakapan perempuan-perempuan itu, rasa ingin buang air pun hilang seketika berganti dengan emosi yang hampir meledak. Selesai membersihkan diri Alea langsung keluar dari dalam bilik kamar mandi.
"Apa maksud dari kata-kata kalian..!" ujar Alea marah.
"Oh, jadi kamu dengar obrolan kami. Ngga usah sok suci, apa yang kami bicarakan itu benarkan," balas pegawai pertama.
"Jaga mulut kalian, aku tidak serendah yang kalian katakan!" hardik Alea.
"Ngga usah munafik, kita tau kok kalau kamu itu perempuan panggilan," kata pegawai kedua.
__ADS_1
Alea masih saja di pojokan dengan kata-kata yang merendahkan dirinya, terang Alea tidak terima jika dirinya di fitnah. Perdebatan antara Alea dan tiga wanita itu semakin panas. Hingga pada akhirnya entah bagaimana caranya kedua tangan Alea sudah di pegang oleh dua pegawai tadi, sedangkan yang satunya sudah memegang satu ember yang berisikan air.
Byurr
Tubuh Alea disiram dengan air yang ada di dalam ember tadi. Alea menjadi basah karena guyuran air.
Hahaha
Tiga wanita itu tertawa puas setelah menyiram Alea.
"Rasakan, makanya jangan belagu." kata pegawai pertama.
"Brengsek kalian, saya akan adukan ini pada HRD," ancam Alea.
"he...mau melaporkan kami? mimpi. Jangan berfikir jika HRD akan menghukum kami," ujar pegawai ke dua. Setelah itu mereka bertiga pergi meninggalkan Alea di kamar mandi dengan kondisi baju yang sudah basah.
Alea mencoba mengurangi air yang sudah terserap oleh kain bajunya dengan cara di peras, tapi meskipun Alea memeras setiap sisi seragamnya nyatanya tidak membuat baju Alea kering.
"Awas kalian, suatu saat aku pasti bisa membalas perbuatan kalian," ujar Alea pelan.
Alea melangkahkan hendak keluar dari dalam kamar mandi, sayangnya ketika Alea berjalan kepalanya tertunduk hingga menabrak seseorang.
"Auuu...." keluh Alea sambil memegangi kepalanya.
"Maaf, saya tidak sengaja," ucap Ake dengan kepala masih tertunduk.
"Ada apa denganmu, kenapa bajumu basah?" tanya orang yang di tabrak Alea.
"Ha..itu...." Alea tidak melanjutkan kata-katanya tapi mengangkat kepalanya menatap orang yang ada si depannya.
"Pak..." hanya kata itu yang lolos dari mulut Alea.
Orang yang ditabrak Alea adalah bosnya, yaitu Olan.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Olan geram. Alea tertunduk takut melihat mata Olan yang sedang marah.
"Ikut saya...." ujar Olan. Tidak ada bagi Alea untuk menolak perintah bosnya. Den, kepala tertunduk Alea mengekor di belakang Olan. Sementara Olan dan Alea berjalan menujuh ruang kerjanya Olan hampir setiap pegawai yang berpapasan dengan mereka menatap Alea dengan tatapan binggung.
Olan segera masuk ke ruang kerjanya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di bilang bahwa Olan sedang baik-baik saja.
__ADS_1
"Katakan padaku, siapa yang sudah melakukan ini padamu,"
"Itu pegawai yang ada di bagian pemasaran," jawab Alea jujur. Alea mengakuinya karena sadar bahwa tidak ada gunanya dia berbohong.
"Tunggu sebentar," ucap Olan.
Setelahnya Olan masuk kedalam rumah privasi yang ada dalam ruangan kerjanya. Olan kembali sambil membawa satu handuk dan menyerahkannya kepada Alea.
"Pake ini,"
Olan langsung menghubungi manajer pemasaran dan meminta agar anak buahnya ikut keruang kerjanya.
Alea masih berdiri mematung menghadap Olan.
"Duduk...dan tunggu disini,". Alea dengan patuh mengikuti perintah Olan. Selang beberapa menit kemudian kepala manajer pemasaran pun masuk bersama dengan anak buahnya.
"Permisi pak," ucap manajer.
Sementara itu tiga orang anak buahnya terkejut melihat Alea berada di dalam ruangan tersebut, tapi mereka berpura-pura tidak terjadi apa-apa dengan Alea.
Olan langsung menatap tajam kearah tiga perempuan itu.
"Apa yang sudah kalian lakukan pada Alea?" ucap Olan dengan suara rendah tapi penuh penekanan.
"Tidak ada pak, kami tidak melakukan apa-apa padanya," elak pegawai kedua.
"Benar begitu Alea..!" ucap Olan sambil menatap Alea.
"Mereka menyiram ku dengan air," jawab Alea.
"Sial, dasar perempuan mur4han," maki pegawai dua dalam hati.
"Serahkan surat pengunduran diri kalian sekarang juga," ujar Olan. Perkataan Olan sontak saja membuat ketiga perempuan itu terkejut, biar bagaimanapun mereka tidak ingin kehilangan pekerjaannya.
"Pak, kami mohon jangan pecat kami. Dia berbicara, kami tidak melakukan apapun padanya," elak pegawai ketiga.
"Apa perlu saya memutar cctv ," balas Olan dengan nada geram. Mereka pun langsung terdiam mendengar perkataan Olan.
Alea tersenyum di dalam hatinya, sebenarnya Alea tidak ingin mereka bertiga di pecat tapi karena tindakan mereka pada Alea dan fitnah yang mereka buat membuat Alea memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa untuk membantu mereka.
__ADS_1
Bersambung