
Olan membawa Angga kedalam satu ruangan khusus yaitu ruang kerja Olan dan papanya. Olan duduk di kursi yang berada di balik meja kerjanya sedangkan Angga duduk di hadapan Olan. Olan memasukkan tangannya kedalam laci yang ada di bawah meja kerja, tangan Olan mengambil beberapa map yang berisikan tentang informasi yang akan membantu Angga melakukan tugasnya.
Olan menyodorkan map-map tersebut di hadapan Angga.
"Aku minta, kamu mulai mencari diman letak kelemahan mereka dan jangan ada yang terlewatkan," ucap Olan.
"Baik, tapi apakah ini tidak berbahaya?" balas Angga.
"Lakukan dengan rapi dan jangan ada kesalahan. Di tiap-tiap bagian sudah ada orang yang akan membantumu, jadi kamu tidak perlu khawatir," terang Olan.
"Tapi, bagaimana kalau hal ini bocor, saya takut akan mempengaruhi perusahaan," Ujar Angga khawatir.
"Tenang saja, semuanya sudah aku pikirkan. Jika hal ini sampai bocor saya jamin perusahaan akan baik-baik saja," terang Olan. Olan meyakinkan Angga bahwa dirinya tak usah terlalu khawatir dengan tugasnya.
Olan mulai menjelaskan tentang apa saja yang harus di lakukan oleh Angga dan siapa saja yang yang bisa di temui Angga dalam melaksanakan tugasnya. Olan juga memberikan beberapa kontak telpon yang bisa di hubungi Angga jika membutuhkan bantuan. Selesai mendapatkan arahan dari bosnya, Angga pamit untuk kembali menjalankan tugasnya dan hari ini dan beberapa hari kemudian Angga lah yang bertugas untuk mengantikan Alan di perusahaan.
Olan menemui orang tuanya yang kini sudah ada di ruang keluarga bersama dengan Aska putranya.
"Mam, jam berapa kita berangkat?" tanya Olan untuk mengingatkan rencana hari ini.
"Kamu siap-siap dulu, mama sama papa juga. Panggil suster, bilang untuk mengganti baju cucu mama," ujar bu Linda.
"Dia juga cucu papa, mah," serga pak Ravlin.
"Eit, Aska itu anakku," timpal Olan. Perdebatan kecil ini sesungguhnya hanya untuk memperlihatkan bagaimana Aska, anak kecil itu di terima dan di sayangi oleh semua orang dalam keluarga Ravlin Nicky.
Aska kini sudah di tangani pengasuhnya, Olan juga bersiap-siap berganti pakaian begitu juga dengan kedua tangannya Olan. Mereka kini berada di dalam kamarnya masing-masing. Semuanya kini sudah siap dsn sudah berkumpul di ruang depan.
"Sudah siap?" tanya pak Ravlin.
"Olan, sudah. Aska juga," balas Olan.
"Mama juga sudah siap," timpal bu Linda.
"Olan, sudah kasih tau keluarga pak Eh?" tanya bu Linda ingin memastikan.
"Sudah mah, semalam Olan uda kasih kabar," jawab Olan.
"Nanti kita mampir di toko buah buat buah tangan, kam nggak enak nggak bawa apa-apa," ujar bu Linda dan mereka pun setuju akan usul bu Linda.
Mobil yang membawa rombongan kecil itu kini sedang melaju menujuh rumah pak Eh setelah tadi mampir di toko buah. Aska duduk di pangkuan Olan, Aska merasa nyaman duduk diatas paha ayahnya. Mobil itu kini mulai memasuki sebuah kompleks perkampungan mata bu Linda dan suaminya terus melihat area yang dilewati oleh kendaraan mereka. Hingga mobil itu memasuki sebuah halaman rumah sesuai dengan instruksi Olan.
__ADS_1
Mereka semua tak lantas turun dari dalam mobil, untuk beberapa saat orang tuanya Olan memperhatikan sesaat keadaan sekitar.
"Mah, pah ayo turun,"ajak Olan.
"Olan, yakin ini rumahnya?" ucap bu Linda tak yakin.
"Iya, mama nggak suka ya?" ucap Olan dengan mimik wajah cemas.
"Bukan begitu, orang tuanya Alea galak nggak?" balas bu Linda.
"Ngga kok, mereka ramah," jawab Olan.
"Ayo turun, mereka pasti udah nungguin," sambung Olan. Dan Olan adalah orang pertama yang turun dari mobil di susul papanya kemudian bu Linda. Aska sudah turun bersama Olan tadi.
Olan langsung menghampiri pak Eh yang ternyata sudah berdiri di depan pintu menunggu kedatangan keluarga Olan.
"Pak,..." sapa Olan.
"Silahkan masuk," ujar pak Eh mempersilahkan tamunya masuk kedalam rumah.
"Maaf, rumah kami sangat sederhana," ucap pak Eh merenda.
"Terimakasih kasih sudah menerima kami disini," balas pak Ravlin.
"Pak Eh, kenalkan. Ini mama saya," Olan memperkenalkan mamanya terlebih dahulu.
"Saya Linda, pak. Mamanya Olan," ucap bu Linda memperkenalkan diri.
"Dan ini, papa saya," lanjut Olan.
"Saya Ravlin, papanya Olan," pak Ravlin ikut memperkenalkan dirinya.
"Saya pak Eh, panggil pak Eh. Sebentar, istri saya lagi di belakang," ucap pak Eh.
Beberapa saat kemudian bu Siti datang sambil membawa nampan berisikan beberapa cangkir berisi teh dan beberapa cemilan yang ada diatas piring. Bu Siti meletakkan gelas-gelas berisi teh dan cemilan diatas meja tamu
"Silahkan di minum, maaf kami hanya punya makan sederhana," ucap bu Siti sungkan. Bagaimana tidak sungkan dari penampilan tamunya bu Siti sudah bisa menilai jika tamunya ini bukanlah orang yang sederhana melainkan orang kaya.
"Terimakasih bu, kedatangan kami di terima oleh keluarga pak Eh sudah membuat kami senang," balas bu Linda sambil tersenyum ramah.
"Silahkan di minum dan cicipi makanannya," ucap pak Eh. Olan dan kedua orang tuanya pun langsung menyeruput teh hangat yang di suguhkan dan mencicipi cemilan buatan bu Siti.
__ADS_1
"Wah, ini kuenya enak loh. Pah, ini ibu buat sendiri?" ujar Bu Linda bersemangat. Bu Siti hanya tersenyum kecil mendengar perkataan bu Linda.
Acara basa-basi pun selesai, kini saatnya untuk membahas tentang maksud kedatangan mereka di rumah pak Eh.
"Pak Eh, saya sebagai papanya Olan mau minta maaf sebesar-besarnya atas keluarga pak Eh," ucap pak Ravlin dengan wajah penyesalan. Pak Eh diam tak menjawab.
"Kami tau apa yang di lakukan oleh anak kami sudah sangat keterlaluan. Untuk itu kami sebagai orang tuanya meminta maaf dari lubuk hati terdalam," sambung pak Ravlin. Pak Eh dan bu Siti masih diam tak menjawab perkataan pak Ravlin.
Olan dan mamanya mulai merasa cemas, mereka takut jika tiba-tiba pak Eh mengamuk karena marah.
"Kami sebagai keluarga Alea akan mencoba memaafkan anak bapak. Tapi mohon maaf, kami butuh waktu," akhirnya pak Eh buka suara.
"Terimakasih pak , saya akan menunggu sampai keluarga bapak memaafkan saya," ucap Olan.
Tiba-tiba pak Ravlin menyodorkan satu amplop coklat berukuran panjang untuk pak Eh.
"Ambil ini pak, ini bukan untuk membayar atas kehilangan putrinya tapi sebagai bentuk rasa terimakasihnya kami karena sudah merawat cucu kami, Aska," ucap pak Ravlin.
"Maaf, kami tidak bisa menerima ini, Olan kemarin sudah memberikan uang untuk kami sebagai modal usaha," tolak pak Eh. Pak Eh sungguh tak enak hati jika menerima uang tersebut.
Pak Ravlin tersenyum kecil tapi lagi-lagi pak Ravlin menyodorkan amplop berisi uang tersebut kepada pak Eh.
"Pak, anggaplah ini sebagai tambahan modal usaha," bujuk pak Ravlin.
"Kami tidak pantas menerima uang ini," balas pak Eh sungkan.
"Keluarga bapak sangat pantas untuk menerima uang ini," ucap pak Ravlin.
"Kami ini sesungguhnya bukan orang tuanya Alea," ujar pak Eh akhirnya.
Dan pengakuan pak Eh langsung membuat Olan dan kedua orang tuanya terkejut, tapi keterkejutan itu di hanya sesaat.
"Maksudnya pak Eh?" tanya Olan penasaran.
"Alea, sebrangnya bukan anak kami tapi kami sudah menganggap Alea adalah anak kami," ujar pak Eh.
"Terus, keluarga Alea siapa pak?" tanya Olan.
"Jujur, kami tidak tau siapa keluarga Alea, yang kami tau jika orang tua kandung Alea sudah meninggal dan Alea tinggal bersama ibu tirinya," terang pak Eh.
"Tapi kenapa Alea bisa tinggal dengan pak Eh, apakah pak Eh masih ada hubungan keluarga?" tanya Olan mulai menyelidiki.
__ADS_1
Bersambung