
Setelah kejadian itu saat Olan menyatakan keinginannya untuk menjadikan Alea sebagai kekasihnya, Olan tak pernah lagi melihat senyum manis dari bibir Alea. Justru Alea semakin membuat jarak dan tembok yang tebal sebagai bentuk pertahanan diri, kebencian Alea terhadap Olan sudah sampai menembus tulang, Seandainya saja Alea tidak terikat kontrak dengan perusahaan tempat Alea bekerja sudah bisa di pastikan Alea sudah mengundurkan diri dari jauh hari.
Pagi ini Alea terbangun dari tidurnya seperti biasa, Alea mengecup pipi tembem putrinya, tapi saat bibir Alea menyentuh pipi Aska Alea bisa merasakan bahwa tubuh putranya sedang tidak baik-baik saja. Alea dengan cepat mengumpulkan nyawanya supaya menyatu dengan raganya setelahnya Alea menempelkan salah satu tangannya di dahi Aska, benar saja seperti dugaan Alea Aska demam.
Alea segera bergegas bangun dari tidurnya dan langsung menemui bu Siti.
"Bu, Aska demam," ujar Alea cemas. Bu Siti segera ke kamar Alea dan langsung memeriksa Aska tubuh yang masih tertidur.
"Iya, Aska demam. Kita bawah Aska ke mantri, cepat!" ujar bu Siti. Alea langsung menyiapkan keperluan Aska dan memasukkan botol susu kedalam tas yang biasa digunakan ketika membawa Aska berpergian.
Setelah selesai Alea kembali menemui bu Siti.
"Bu, Aku sudah siap,"ucap Alea. Alea sudah membawa Aska dalam gendongannya.
"Ayo....pak, pamit dulu bawah Aska ke mantri!" ujar bu Siti berpamitan pada suaminya.
"Hati-hati, cepat kasih tau bapak jika terjadi sesuatu!" pesan pak Eh. Bu Siti dan Alea pun segera bergegas menuju ketempat mantri yang di maksud.
Dengan berjalan sangat cepat Alea dan bu Siti akhirnya sampai di tujuan mereka. Alea segera membawa Aska pada Mantri. Aska pun langsung mendapatkan pertolongan dari mantri. Mantri itu memeriksa laki-laki kecil itu dengan teliti, setelahnya mantri itu tersenyum kecil.
"Bu, anak ibu baik-baik saja, yang menyebabkan putra ibu ini demam karena mau nambah gigi," terang mantri.
"Ha....Alea dan bu Siti menghembuskan nafas lega.
"Jadi Aska tumbu gigi lagi dok,?" tanya Alea memastikan.
"Iya, bu. Nanti saya kasih resep penurun demam," ucap mantri.
Mantri itu segera menulis resep obat untuk Aska supaya bisa di tebus oleh Alea. Setelah selesai semuanya Alea dan bu Siti kembali pulang kerumahnya. Setibanya di rumah Alea membawa Aska kedalam kamar untuk membiarkan Aska melanjutkan tidurnya. Keadaan Aska tidak begitu mengkhawatirkan meskipun demikian Alea tak tega meninggalkan Aska di rumah dan hanya dirawat oleh ibu angkatnya. Alea memutuskan untuk ijin tidak masuk kerja dan ini sudah di sampaikan Alea kepada HRD.
Di kantor Olan sedang duduk menatap layar komputer, dirinya sedang memeriksa laporan yang baru saja di terimanya. Olan merasa ada yang kurang di dirinya, seperti ada sesuatu yang terlewatkan. Olan menatap layar ponselnya untuk melihat jam.
"Jam sembilan, tapi kenapa sampai saat ini Alea belum membawakan kopi untuk ku?" tanya Olan pada dirinya.
__ADS_1
Belum sempat Olan menemukan jawaban atas pertanyaan Juju masuk sambil membawa secangkir kopi buatannya untuk Olan.
"Permisi pak," sapa Juju.
"Kok kamu, bukan Alea. Ju?" tanya Olan.
"Maaf, pak. Alea tidak masuk karena sedang tidak enak badan," terang Juju.
"Ha...! Alea sakit. Alea sakit apa, apa dia baik-baik saja, sudah kedokteran belum? apa kata dokter?" Olan mengajukan pertanyaan secara beruntun pada Juju.
Juju terkejut dengan pertanyaan bosnya yang bertubi-tubi, Juju bisa melihat kekhawatiran bosnya setelah tau Alea sakit, sebenarnya bukan Alea yang sakit tapi Aska putranya.
"Pak, maaf pertanyaan yang mana dulu saya jawab?" ujar Juju dengan mimik wajah kebingungan.
"Nanti pulang kerja kamu ikut saya," Olan bukannya menjawab justru mengajukan perintah.
"Kemana, pak?" Juju.
"Kamu sama Alea bertetangga kan, jadi nanti kamu anterin saya kerumahnya Alea," terang Olan.
Olan kembali melanjutkan pekerjaannya begitu dengan Juju setelah membuat kesepakatan. Setelah tau Alea sakit Olan tidak bisa fokus seratus persen pada pekerjaannya, di kepalanya hanya ada bayangan Alea.
Waktu terus berjalan kini waktunya untuk pulang kerja, seperti instruksi Olan tadi Juju menemui Olan di ruangannya sebelum pulang.
"Misi pak, jadi kerumahnya Alea?" tanya Juju memastikan.
"Iya, sebentar saya rapikan ini dulu," jawab Olan. Olan langsung merapikan lembaran kertas yang berada diatas meja kerjanya. Setelahnya Olan dan Juju menujuh parkir mobil tempat mobil Olan terparkir.
Tiba di depan mobil ternyata Angga sudah berada di dalam mobilnya Olan. Olan memang meminta Angga untuk menemaninya datang ke rumah Alea. Juju duduk di samping Angga yang menjadi supir saat itu, Olan duduk di bangku belakang sebagai bosnya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menujuh tempat kediaman Alea. Angga menyetir mobil sesuai dengan arahan Juju, karena Juju yang tau di mana rumah Alea. Mobil itu pun berhenti di sebuah halaman rumah sesuai dengan petunjuk Juju. Juju lebih dulu turun dari dalam mobil dan langsung melangkahkan kakinya menuju pintu rumah.
Olan masih berada di dalam mobil menunggu Angga , setelahnya Angga dan. Olan menyusul Juju.
__ADS_1
"Permisi, bu siti," panggil Juju. Bu Siti menghampiri suara yang memanggilnya.
"Ju, masuk Ju. Nyari Alea ya? Bentar ibu panggilkan," ujar bu Siti. Bu Siti segera memberitahukan Alea tentang kedatangan Juju.
Alea segera bergegas menemui Juju yang berada di ruang tamu.
"Ju, maaf ya sudah merepot......" kata-kata Alea terhenti setelah melihat orang yang berada di belakang Juju. Tubuh Alea langsung menegang.
"Ini, Alea. pak Olan ingin menjenguk kamu," ujar Juju polos. Sedangkan Alea hanya bisa tersenyum kaku.
Jauh di dalam hatinya Alea berdoa dan berharap agar Aska putranya tidak terbangun saat ini, Alea tidak ingin Olan melihat Aska, Alea tidak siap untuk mempertemukan Aska dengan ayahnya. Olan. Dengan perasaan terpaksa Alea memperhatikan tamu yang datang untuk duduk.
"Maaf, pak. Rumah saya sangat sederhana," ucap Alea ala kadarnya.
"Tidak apa, sekarang kamu bagaimana, apa sudah ke dokter, apa kata dokter, udah di minum obatnya, apa perlu saya belikan vitamin supaya kamu cepat sembuh?" lagi dan lagi Olan memborong pertanyaan dan kali ini pertanyaan itu ditujukan kepada Alea.
Reaksi Angga dan Juju langsung melongo mendengar pertanyaan Olan yang sekaligus banyak, begitu juga dengan bu Siti dan pak Eh yang kebetulan ikut berada di ruang tamu. Belum lagi Alea menjawab pertanyaan Olan di kamar tidur Aska sudah terbangun dari tidurnya.
Hua...Hua...Hua ... Aska menangis mencari Alea.
Alea mendengar tangisan Aska langsung merasa was-was.
"Itu suara siapa?" tanya Olan.
"Oh, itu Aska. Anaknya Alea," jawab Juju spontan. Mata Alea langsung terbuka lebar mendengar ucapan Juju. Alea mengepalkan kedua tangannya erat-erat sambil berdoa semoga Olan cepat pulang sebelum Aska keluar kamar.
Nur yang mendengar tangisan Aska segera menemui Aska dan menggendongnya. Tanpa ada perasaan apapun Nur membawa Aska menemui Alea.
"Ma...!" panggil Aska.
"Sini sayang sama mama," ucap Alea. Alea langsung mengambil Aska dari gendongan Nur. Jujur perasaan Alea me jadi tak karuan, ingin rasanya Alea pergi meninggalkan semua orang yang ada di ruangan itu tapi itu tidaklah sopan bukan.
Olan menatap pemandangan yang indah yang ada di depannya, Mata Olan tak berkedip sedikitpun melihat Aska, hatinya seperti ada getaran aneh,ada rasa rindu yang membuncah ingin rasanya Olan memeluk laki-laki kecil yang ada di gendongan Alea.
__ADS_1
"Apakah dia anakku?" tanya Olan dalam hati.
Bersambung