
Adu mulut antara Olan dan Alea telah di dengar oleh Angga, meskipun di dalam ruangan tersebut masih terus terjadi perdebatan akan tetapi Angga tidak berniat untuk masuk ke dalam. Angga sama sekali tidak ingin menjadi penengah antara Olan dan Alea, pikir Angga masalah mereka berdua hanya bisa diselesaikan oleh mereka berdua.
Di dalam ruangan Alea kini terdesak oleh tubuh Olan yang terus melangkah maju mendekati Alea.
"Kau dengar, Alea. Aku akan mengambil Aska darimu dan berjanji tidak akan membiarkan dirimu bertemu dengan Aska lagi," Olan mengulangi kata-katanya untuk mempertegas bahwa dirinya tidak sedang bercanda dan ucapannya itu serius.
Alea menggelengkan kepalanya menolak apa baru saja di dengarnya.
"Aska, tidak akan pernah menjadi milikmu karena Aska aku yang melahirkannya," ujar Alea.
"Aku punya segalanya sedangkan kamu...." Olan menjeda kata-katanya sebelum melanjutkan kalimat berikutnya.
"Lihat dirimu, kamu hanya seorang OB. Bisa di pastikan bahwa Aska tidak hidup dengan baik karena kamu sangat kekurangan uang," Olan mengatakan kalimat panjang yang menjatuhkan harapan Alea. Alea hanya bisa menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan tak terima dengan perkataan Olan.
Olan terus maju mengikis jarak antara Olan dan Alea, Alea justru sebaliknya. Alea melangkahkan mundur setiap kali Olan maju, hingga tubuh Alea tidak bisa mundur lagi karena terhalang tembok tepat di samping pintu.
"Sampai kapan kamu akan terus begini, Alea?" tanya Olan.
"Aku tidak akan pernah menjadi kekasih mu!" balas Alea.
"Kenapa..? kasih aku alan!" ucap Olan.
"Karena aku membenci mu, sangat membenci mu. Karena kamu aku kehilangan segalanya," Alea mengatakan sebenarnya. Alea berhenti kuliah bahkan dirinya harus tinggal di keluarga yang belum pernah dia kenal meskipun itu semua bukanlah sepenuhnya kesalahan Olan, akan tetapi Alea tidak tau akan hal itu. Lebih tepatnya Alea menyalahkan Olan atas ketidak keberuntungan Alea.
Olan terpaku diam setelah mendengar ucapan Alea, kaki Olan tidak bergerak maju lagi seperti tadi. Dan kesempatan ini di gunakan Alea sebaik mungkin. Alea dengan cepat meraih handle pintu dan langsung membukanya. Dalam hitungan detik Alea berhasil keluar dari ruangan Olan..Alea berlari menjauh dari Olan, Angga terdiam sejenak melihat Alea tiba-tiba keluar dari dalam ruangan.
Alea terus menjauh dari Olan dan tujuan utamanya kini adalah pulang kerumahnya. Alea harus segera bertemu dengan Aska putranya dan dengan niat membawa Aska menjauh dari Olan. Sepanjang perjalanan menuju lobby pintu masuk perusahaan banyak pasang mata yang tertuju pada Alea, banyak orang bahkan hampir semua karyawan yang melihat Alea bertanya-tanya apa yang sudah terjadi padanya. Pasalnya wajah Alea sudah basah oleh aimata, langkah kaki Alea pun sangat tergesa-gesa.
Olan segera tersadar dari kebisuannya setelah Angga menyapanya.
"Olan, ada apa?" tanya Angga.
"Ayo ikut...." Olan bukannya menjawab tapi justru mengajak Angga.
"Kemana?" tanya Angga lagi.
"Kerumahnya Alea, perempuan itu pasti pulang kerumahnya,"jelas Olan. Setelah mengatakan itu Olan dengan langkah cepat langsung menujuh tempat parkir mobilnya. Angga mengekor di belakang Olan.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju rumah Alea, Olan terus mengoceh , tentang Alea menolaknya Angga di buat pusing karena ocehan- ocehannya Olan. Di perjalanan Olan pun pernah beberapa kali meminta Angga untuk lebih cepat lagi mengendarai mobil. Jelas Angga menolaknya bukannya apa-apa kecepatan mobi yang dikendarainya sudah hampir melewati batas maksimal, Angga masih ingin hidup dan tak ingin mati konyol.
Mobil itu pun tiba di halaman rumah tempat Alea tinggal, Olan langsung turun dari mobil dan bergegas menemui Aska. Olan ingin mencegah Alea membawa kabur Aska. Olan langsung memanggil nama putranya.
"Aska...."
"Eh, pak. Tumben masih siang udah mampir," sapa bu Siti. Bu Siti bersikap ramah kepada Olan karena belum tau situasi antara Olan dan Alea.
"Iya, bu. Saya pingin ketemu Aska. Boleh?" ucap Olan.
"Sebentar, Aska ada sama bapak di dalam," ujar bu Siti.
"Bu, maaf. Apa Alea belum pulang?" tanya Olan ingin tau, karena setahu Olan Alea sudah lebih dulu pulang.
"Belum, pak. Kan masih siang," ujar bu Siti. Olan diam tak menjawab perkataan bu Siti.
Bu Siti masuk ke ruangan satu lagi untuk menemui suaminya hendak menyampaikan jika Olan bosnya Alea ingin bertemu dengan Aska. Tanpa ada perasaan aneh bu Siti membawa Aska bertemu dengan Olan.
"Aska, sini sayang. Kita jalan-jalan yuk," ucap Olan.
"Maaf, pak. Tapi kalau mau bawah Aska tunggu Alea pulang dulu," serga bu Siti.
"Tapi, pak...." belum selesai bu Siti berkata-kata, perkataannya tiba-tiba langsung di potong oleh seseorang.
"Kamu tidak boleh membawa Aska, Aska adalah putra ku!" kalimat ini di ucapkan oleh Alea langsung.
Ternyata Alea datang terlambat, itu karena ada alasannya yaitu Alea harus beberapa kali menganti kendaraan untuk tiba di rumah. Dan sialnya buat Alea ternyata Olan sudah lebih dulu sampai di rumah, keadaan semakin buruk untuk Alea karena ternyata Aska putranya sudah berada di pelukan Olan.
Dengan langkah panjang Ale menghampiri Olan dengan niatan merebut Aska dari gendongan Olan.
"Kembalikan Aska pada ku!" seru Alea.
"Tidak, selama kamu terus menolak ku," balas Olan.
"Kembalikan Aska padaku..!" seru Alea marah. Dan terjadilah perebutan antara Alea dan Olan. Alea mencoba menarik Aska dari pelukan Olan, tapi Olan justru semakin mempererat pelukannya pada Aska. Karena perebutan itu Aska akhirnya menangis.
Bu Siti melihat Alea dan Olan yang berebut Aska menjadi binggung, sedangkan pak Eh yang sudah mendengar suara Alea yang sedang marah segera keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya pak Eh.
"Pak, dia akan membawa Aska dari kita!" ujar Alea menerangkan.
"Lepaskan Aska, cucu ku!" seru pak Eh.
"Tidak, Aska harus bersama dengan ku, karena Aska adalah putra ku," tolak Olan dengan mengatakan statusnya sebagai ayah dari Aska.
Pak Eh dan bu Siti langsung terkejut dengan perkataan Olan yang mengakui bahwa dirinya adalah ayah dari anaknya Alea.
"Alea...." panggil pak Eh. Dari sorot matanya pak Eh meminta penjelasan.
"Pak, Aska itu anakku...."balas Alea. Dari ucapan Alea sudah bisa di pahami oleh pak Eh dan bu Siti bahwa laki-laki yang sedang menggendong Aska adalah ayah Aska sendiri.
Olan mendekap erat tubuh Aska dan tangannya juga terus berusaha melepaskan tangan Alea dari Aska.
"Lepas....!" bentak Olan pada Alea.
"Tidak, kembalikan dulu Aska padaku," Alea tak bergeming.
"Kita akan bertemu di pengadilan, biar pengadilan yang memutuskan dengan siapa Aska tinggal," ujar Olan.
"Tidak, kembalikan Aska padaku..." ucap Alea, Alea kini kembali menangis. Alea sadar jika hal ini di bawah ke pengadilan sudah di pastikan jika dirinya akan kalah.
Pak Eh dan bu Siti maju ikut mencoba merebut Aska dari gendongan Olan.
"Jangan coba-coba....!" Olan memperingati pak Eh dan bu Siti.
"Jika kalian berani mengambil Aska dariku, saya akan melaporkan bahwa kalian semua sudah memisahkan saya dari anak saya!" ujar Olan memberikan ancaman. Sontak saja pak Eh dan bu Siti terdiam mendengar ancaman Olan, mereka tak ingin masuk penjara, bukan hanya itu saja mereka sadar jika mereka tidak memiliki kekuatan apapun untuk menentang pria kaya ini.
Olan segera membawa Aska keluar dari dalam rumah, Olan berniat membawa pergi Aska dan memisahkan Alea dari Aska.
"Pak, kembalikan Aska padaku...!" teriak Alea sambil berusaha mengejar Olan yang sudah hampir mencapai pintu mobil. Olan terus melangkah menjauh dari Alea, Olan seakan tidak mendengarkan teriakan Alea, Aska yang sedari tadi menangis pun tak di gubrisnya. Olan seolah-olah tuli mendadak, keegoisannya sudah menguasai pikiran dan hatinya.
"Jalan...." perintah Olan pada Angga setelah masuk dan duduk di kursi di samping Angga.
Mobil itu pun segera melaju, Alea terduduk di tanah. Airmatanya mengalir dengan deras, teriakannya memanggil Olan seperti angin lalu. Alea berteriak dalam tangisnya.
__ADS_1
Bersambung