
Gea kembali mencari sandal nya yang dari kemarin sore hilang. Namun Gea tidak menemukan sandal nya itu. Ia sudah pasrah karna sudah semua penjuru tempat dia mencarinya.
"Mungkin yang ngambil memang lagi butuh sandal. Aku ikhlasin aja" Gea berusaha berfikir positif karna ia memang tidak mau punya pikiran jelek pada orang lain.
"Lagi ngapain Gea?" Gea menoleh pada sumber suara itu.
"Eh kak kiki. Aku lagi nyari sandal aku. soalnya hilang." Gea tersenyum ke arah kak kiki. Namun Gea di buat bingung lagi dengan tatapan imam padanya. Yang memang ikut kak kiki kemana-mana.
"Dari kapan hilangnya Gea?"
"Dari kemarin sore kak. Aku pikir ada yang minjem. Eh ternyata memang hilang." Ujar Gea
"Kamu gak ambil sandal ka Gea kan imam?" Kak kiki melihat ke arah iman yang berdiri di samping nya.
"Gak tau. Mungkin karna dia jahat jadi sandal nya hilang. Sukurin!" Imam berucap sinis. Membuat Gea heran di buatnya.
"Kok kamu ngomong nya kayak gitu sih imam? Gak baik. Kak Gea itu orang nya baik sayang. Sangat baik." Kak kiki menyangkal ucapan imam.
"Dia itu jahat kak sangat jahat!!" Tunjuk imam pada Gea. Imam pergi setelah berucap barusan.
"Gea maafin imam ya. Kakak gak ngerti kenapa dia kayak gituh." Ucap kak kiki sambil menatap Gea.
"Gak papa kok kak. Aku ma'lumin soalnya dia masih kecil kak." Gea berusaha tersenyum padahal hatinya sangat sakit saat imam bilang dia sangat jahat.
Gea berpamitan pada kak kiki menuju kamarnya. Ia ingin sekali menangis sekarang.
Gea membuka pintu kamarnya dengan keras. Sehingga mengagetkan semua temannya yang sedang bersantai sambil mengahafal kitab jurumiahnya.
"Astagfirulloh Gea. Kamu ngagetinn tau" Kesal Ides.
"Maaf aku gak sengaja" Gea berucap pelan. Ia sungguh tidak berniat membuat temannya kaget.
"Kamu kenapa?" Sri menatap Gea intens.
"Aku gak papa kok serius." Gea berusaha menutupi rasa sedihnya.
"Sandal kamu belum ketemu ya? makannya kamu sedih!" Celetuk Ides. Membuat Sri dan Mia meradang.
"Gak mungkin lah Gea sedih karna sandalnya belum ketemu. Dasar Iyemm!"
__ADS_1
"Tau tuh.. Ada-ada aja kamu" Mia ikutan memarahi Ides.
"Maaf.. Aku bercanda barusann" Ucap ides menyesal.
"Gak lucuuu" Seru Sri dan Mia.
"Aku gak papa kok... Kenapa kalian malah berantem sih.. Akunya gak enak liatnya" Gea menundukan pandangannya. Takut mereka lihat jika matanya sudah panas serasa akan keluar air mata.
Sri dan Mia mendekat ke arah Gea. Memperhatikannya dengan seksama. "Ada apa?"Sri Bertanya.
"Aku tidak apa-apa kok. Hanya saja aku kurang enak badan" bohong Gea.
"Yakin?" Mia memastikan
Gea kembali mengangguk. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan mereka yang tertuju padanya.
"Aku lapar, beli bakso yuk. Aku tlaktir" Ajak Gea pada temannya..
Mereka sangat semangat saat Gea mengajak mereka makan bakso apalagi gratiss..
"Rejeki anak solehah" Ucap Sri Mia dan Ides.
***
"Bi baksonya 4, disini makannya." ucap Gea.
"Siap neng, ditunggu yaa.."
Gea mulai mendudukan tubuhnya di
samping ke tiga temannya yang sudah duduk telebih dahulu.
Mereka menikmati beberapa bungkus camilan sebelum baksonya siap.
Tak berapa lama bi Asih membawa nampan berisi 4 mangkuk bakso pesannya Gea.
Mereka langsung memakan bakso tersebut dengan lahap. Gea mencampur satu bungkus sukro ke dalam baksonya di ikuti dengan tiga temannya yang melakukan hal yang sama seperti dirinya.
Tak butuh waktu lama untuk ke tiga teman Gea menghabiskan bakso mereka. Hanya Gea saja yang masih belum habis dengan baksonya.
__ADS_1
Gea masih memandang baksonya yang masih banyak. Entahlah rasanya tidak seenak biasanya. Hambar!
"Kenapa Gea? Kok baksonya kamu mainin gitu sih?" Ucap Sri yang memperhatikan Gea dengan seksama.
Gea hanya menggeleng. Selera makannya tiba-tiba hilang. Ia masih kepikiran dengan ucapan imam tadi.
"Aku kenyang." Gea menjauhkan bakso tersebut dari hadapannya dan memanggil Bi Asih untuk menghitung semuanya.
"Totalnya 50 ribu neng"
Gea menyodorkan uang 100 ribu pada Bi Asih. Dan menyuruh temannya untuk jajan lagi. Tentunya di sambut senang oleh mereka.
Gea hanya diam di saat tiga temannya sedang asyik jajan telktiran dirinya. Ia sungguh tidak berserela makan.
Bi Asih menghampiri Gea yang sedang duduk itu.
"Neng Gea baik banget ya. Hampir tiap hari neng Gea jajanin mereka." Tutur bi Asih
Gea hanya tersenyum tak menghiraukan ucapan bi Asih padanya.
"Neng Gea sedih karna Adit nya gak ada ya?" Ucap bi Asih tiba-tiba
Gea mengernyitkan keningnya bingung."Adit tidak ada? Maksudnya bi?" Gea mulai penasaran dengan topik pembicaraannya dengan Bi Asih.
"Masa neng gak tau sih kalo Adit itu di ajak pak kyai buat nengikin anak nya yang lagi sakit itu. Emang Adit gak bilang?" Bi Asih mulai bingung juga.
Gea tersentak akan ucapan bi Asih. Kenapa ia baru tau? Kenapa juga Adit tidak memberitahunya lewat siapa saja. Bi asih Misalnya.
"Bibi bercanda?" Gea memastikan
"Teman neng juga pasti tau, Tanya aja mereka" Bi Asih menunjuk tiga temannya yang sedang asyik jajan itu tanpa tau pembicaraan nya dengan Bi Asih.
Gea merasakan sakit di hatinya. Apa benar teman nya itu tau? Kenapa mereka tidak memberitahunya?.
Gea langsung beranjak dari duduknya. Ia berpamitan pada bi Asih tanpa menghiraukan ketiga temannya itu.
Ia takut tidak bisa mengendalikan emosinya pada temannya itu. Jika memang kenyataannya mereka tau kalo Adit di ajak oleh pak Kyai. Kenapa pak kyai mengajak Adit?
Pikiran Gea menerka-nerka.
__ADS_1
.