Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren
Telur dadar


__ADS_3

Hujan masih belum reda. Gea dan Deris sampai di rumah dalam keadaan yang basah kuyup. Kedua orang itu dengan segera mengetuk pintu rumah untuk segera mengganti baju.


"Astagfirulloh, kenapa malah ujan-ujanan sih" Omel Kak Kiki yang melihat teman dan adiknya itu basah kuyup.


Gea menyengir lebar, ia mengatakan bahwa ini keinginannya. Kak Kiki hanya menggeleng tidak percaya.


"Nanti kamu sakit Gea" Ujar Kak Kiki, sembari menyerahkan handuk supaya Gea cepat mandi dan berganti baju. Lalu Gea berpamitan untuk segera mandi.


"Kamu juga kenapa gak larang kak Gea sih?" Kak Kiki ikut mengomel pada Deris.


"Kok aku yang di salahin sih kak, orang Kak Gea sendiri yang mau ujan-ujanan" Elak Deris. Ia tak terima.


"Kalian sama saja" Rutuk Kak Kiki. Hingga ia teralihkan dengan kantung keresek yang di bawa Deris.


"Itu Apa?" Tanya Kak Kiki.


Deris hanya mengangkat bahu, karna ia juga tidak tau. Hingga ia menyerahkan kantung kresek itu pada Kak Kiki.


"Lebih baik Kakak melihatnya sendiri, aku mau mandi. Ini dingin banget" Usulnya. Sembari melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Kak Kiki menerima kresek itu. Ia sangat penasaran akan isinya. Dan ketika ia membukanya, Ia merasa sangat terharu.


"Gea benar-benar orang yang baik, aku sungguh beruntung punya teman sepertinya" Gumam kak Kiki. Dan membawa kresek itu ke dapur.


***


"Yah bunda ingin menjenguk Kakak ke pesantren, perasaan bunda tidak enak belakangan ini" Bunda menghampiri ayah yang sedang asyik membaca koran di tangannya.


Ayah menoleh ke arah bunda, yang kala itu sudah mendudukan tubuhnya di sampingnya.


"Apa bunda tidak menelpon Kakak?" Ayah bertanya balik.


"Setiap Bunda nelpon pasti sedang sibuk, mungkin karna hanya satu telpon yang bisa di gunakan sehingga membuat para santriah harus mengantri jika ingin menelpon." Tutur bunda.


"Ya sudah besok lusa kita jenguk Kakak ke pesantren. Ayah juga sudah rindu padanya"


"Apa Ayah tidak sibuk?"


"Tidak terlalu, karna besok lusa akhir pekan, dan meskipun ada pekerjaan mendadak biarlah sekertaris Ayah yang mengurusnya."


Bunda sangat lega mendengarnya. Karna jujur ia begitu kepikirannya akan anak semata wayangnya itu.

__ADS_1


"Semoga Kakak baik-baik saja" Gumam Bunda. Hingga menghela nafas berat.


***


Gea membuka tas nya untuk mengambil satu set baju dari dalamnya. Hawa dingin masih membuatnya gemetaran. Gea buru-buru memakai baju dan juga jaket. Begitupun dengan rambut nya yang basah, ia gulung menggunakan handuk.


Tangan nya pun ikut mengkerut karna terlalu dingin. Hujan masih belum reda membuat Gea semakin kedinginan. Ia membutuhkan air hangat sehingga membuat nya segera melangkah menuju dapur.


"Kak lagi ngapain?" Tanya Gea yang melihat Kak kiki sedang berdiri di hadapan kompor.


Kak kiki berbalik dan menghadapkan badannya ke arah Gea.


"Lagi ngangetin bubur Dek, Kamu masuk angin ya?" Kak Kiki melihat tubuh Gea yang sedikit gemetaran.


"Tidak kak, hanya saja aku masih kedinginan dan membutuhkan air hangat" Ujar Gea.


Kak Kiki segera menyodorkan Air hangat yang ia keluarkan dari termos pada Gea. Lalu Gea menerimanya dengan segera.


"Makasih Kak"


Kak Kiki mengangguk dan mematikan kompor yang berisi bubur itu untuk segera di pindahkan ke dalam mangkuk.


"Kakak mau ke ibu dulu ya dek"


Gea masih berdiri di tempatnya. Melihat sekeliling dapur itu. Hanya ada kompor tua di hadapannya. Tak ada hal yang berharga menurut Gea. Ia benar-benar merasa sangat sedih.


Pantas Kak Kiki tidak pulang waktu imtihan. Mungkin karna tidak mempunyai ongkos. Pikir Gea.


***


"Imut minta uang Kak, boleh gak?"


Kak Kiki mendongkak, melihat adiknya yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Ia menyodorkan tangannya ke arah nya.


"Kamu minta berapa?" Kak Kiki meraba saku bajunya.


"Hanya 2000 kak, imut pingin jajan di sekolah" Ucapnya. kemudian menundukan kepalanya.


Kak Kiki terdiam, ia sangat tau jika adik-adiknya pasti tidak pernah jajan jika sekolah. Dan hal itu membuatnya sedih.


"Ini buat jajan imut. Habisin aja ya" Kak Kiki menyerahkan uang sebesar 5 ribu rupiah ke tangan imut. Anak kecil itu tersenyum dengan lebarnya.

__ADS_1


"Beneran kak boleh di habisin?" Imut memastikan lagi.


"Iya sayang, habisin saja. Nanti kak Nina dan Kak Deris Kakak kasih juga kok"


"Asyikkk, makasih ya Kak. Imut berangkat dulu" Ucapnya sembari mencium tangan Kak Kiki.


"Kak mereka mau sekolah" Ujar Gea. Ia ikut mendudukan tubuhnya di samping Kak Kiki.


"Iya Dek"


"Gak di anterin?"


"Kan ada Deris sama Nina. lagian ibu sendirian di rumah" Ujar Kak Kiki.


Gea meminta ijin untuk ikut mengantarkan adik-adik Kak Kiki ke sekolah. Gea sangat senang Karna Kak Kiki mengijinkan.


"Langsung pulang ya dek kalo udah nyampe. Kakak Takut kamu nyasar" Pinta Kak Kiki


Gea cekikikan, Kak Kiki ini sangat menghawatirkannya sekali.


"Kakak tenang aja. Aku langsung pulang"Ujar Gea. Ia langsung melangkahkan Kakinya ke depan rumah


"Imut Kak Gea mau ikut loh!" Ujar Gea pada imut yang sedang memakai sepatu.


Imut memiringkan kepalanya ke arah Gea."Beneran?" Tanya imut.


"Iyah, Kakak pengen tau sekolah kalian"


"Asyikk, nanti aku kenalin sama temen-temen aku kalo aku punya Kakak baru" Ucap imut antusias.


Gea ikut tersenyum mendengarnya."Iya nanti Kakak juga mau kenalan sama temen kamu".


"Ouh ya Kak, makasih ya telur nya" Ucap imut mengalihkan pembicaraan.


Ikut sedikit kebingungan akibat ucapan imut"Telur? maksud imut apa?" Tanya Gea tidak mengerti.


"Makasih karna kemarin Kakak udah beli telur.Jadi, tadi aku bisa sarapan sama telur dadar. Aku udah lama pengen banget makan telur Kak. Tapi Kata Kak Nina uang nya gak akan cukup jika beli telur." Tutur Imut hingga membuat Gea merasa terhenyak.


Hanya sebuah telur, sebegitu bahagianya imut. Gea sangat sedih mendengarnya.


"Nanti Kakak beli lagi telurnya. Biar Nanti kamu gak perlu sedih jika ingin telur dadar ya dek" Gea mengelus kepala imut dengan sayang.

__ADS_1


"Makasih ya Kak" Imut memeluknya dengan erat.


Hanya telur, tapi sangat berarti bagi imut.


__ADS_2