Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren
Senyuman


__ADS_3

Pagi-pagi sekali bunda Mia dan juga Ayah Ardian melakukan perjalanan ke pesantren Gea. Mereka tidak ingin terjebak macet selama di perjalanan, oleh sebab itu pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat.


Hampir setengah perjalanan yang di lakukan oleh orang tua Gea. Bunda meminta kepada Ayah untuk singgah dahulu di salah satu mini market.


Banyak barang belanjaan yang Bunda masukan kedalam troli. Salah satunya camilan dan kebutuhan untuk Gea disana.


Setelah hampir 20 menit berbelanja dan membayarnya. Mereka kembali melanjutkan lagi perjalanannya.


Jalan sudah mulai ramai, untungnya tidak membuat orang tua Gea terjebak macet.


***


Semua santriah berhamburan keluar madrasah karna mengaji sudah selesai. Kebanyakan mereka langsung melaksanakan tugas mereka yaitu piket di pagi hari.


Seperti halnya Sri ia langsung balik ke Asrama untuk ganti baju yang bisa di pakai untuk piket. Ia langsung turun ke lantai bawah untuk menemui Mia. Karna hari ini ia berjadwal piket bersama Mia.


"Eh Mia kita piket dimana?" Tanya Sri yang melihat Mia baru keluar dari madrasah. Padahal ia sudah siap untuk melakukan tugas rutin, bersih-bersih setiap pagi hari.


"Di parkiran, Nyapu halaman. bentar aku siap-siap dulu" Ujarnya . Lalu melangkahkan kakinya untuk ke Asrama terlebih dahulu.


Sri menunggu Mia yang sedang siap-siap terlebih dahulu, ia pun mengambil sapu dan juga tempat sampah yang terletak di pojokan Asrama.


Suasana pagi hari yang begitu cerah sangat sejuk di pandang. Semua santriah sudah berhamburan untuk melakukan Tugas mereka seperti biasa. Sri masih menunggu Mia. entah sudah berapa menit namun Mia masih belum terlihat batang hidungnya.


Sri pun berniat menyusulnya. Dengan langkah panjang ia menaiki setiap anak tangga supaya cepat sampai di lantai atas.


"Mia lama bener, kamu itu siap-siap ataw apa sih!" Omel Sri. Yang melihat Mia masih berkaca di cermin kecil yang ia pegang.

__ADS_1


"Iya bentar" Ucap nya. Lalu menarik salah satu lemari exel dan meletakan cermin kecil yang ia pegang tadi.


"Buruan ngapa" Sri semakin kesal lantaran Mia bergerak layaknya siput. Lambat!!


"Sabar dong, aku udah siap inih" Jawab Mia. tanpa merasa bersalah.


"Aku kutuk kamu boleh gak sih, biar jadi turbo yang siput ituh, biar jadi cepet kamu" Cibir nya. Ia meninggalkan Mia terlebih dahulu.


"Tunggu Sri" Mia menyusul Sri yang berjalan dengan tergesa-gesa.


"Kamu tau yang aku kutuk, jalan kamu aja cepet kaya si Turbo ituh" Teriak Mia yang melihat Sri semakin menjauh.


Mia semakim dibuat kesal lantaran Sri tak mendengarkannya sama sekali. Membuatnya semakin mempercepat laju jalannya.


"Kenapa aku yang di kutuk kamu yang cepetnya sih" Ucap Mia dengan Ngos-ngosan . Ia baru sampai di parkiaran.


Mia memberenggut karna Sri tak mengkhiraukannya. Mia segera mengambil sapu untuk segera ikut Sri menyapu. Banyak dedauan kering yang mengotori halaman parkiran dan juga banyak bekas jajanan yang berserakan.


Mereka dengan Khusu membersihkan halaman parkiran itu. hingga mereka di kagetkan dengan suara klakson mobil yang berjalan ke arah mereka.


Sri dan Mia langsung berlari ke pinggir parkiran dan memperhatiakan seseorang yang turun dari mobil tersebut.


Mereka di buat kaget saat yang turun dari mobil itu adalah orang tuanya Gea" I-itu kan Bundanya Gea" Ucap Sri terbata. Ia jadi gugup, apakah Orang tua Gea tidak tau kalo anaknya itu tidak ada di pesantren. Dan apakah Gea tidak memberitahu bundanya kalo ia ikut Kak Kiki.


"I-iya itu Bundanya Gea, jangan-jangan mereka tidak tau kalo Gea tidak di sini" Ujar Mia. Ia juga sama halnya dengan Sri. gugup


Senyuman manis yang di tuju pada mereka membuat Sri dan Mia semakin gugup, hingga sapaan dari orang tua Gea pun membuat mereka susah untuk menjawabnya.

__ADS_1


"Assalamulaikum, kalian teman Gea kan?"


Sri dan Mia agak terlihat bengong. Hingga Bunda Gea kembali mengulang salam nya.


"Waalaikum salam, i-ya kami teman Gea" Ujar mereka kikuk.


Bunda tersenyum hangat dan mengajak mereka untuk segera menemui anak nya Gea.


"Kalian lagi piket ya, hari ini Gea piket apa? Bunda pengen kasih kejutan buat Gea. Makannya bunda gak kasih tau kalo hari ini bunda berkunjung" Tutur Bunda . yang menggandeng keduan teman Gea itu untuk di ajak menemui anaknya.


Sri dan Mia bingung harus menjawab apa. Rasanya tak ada kosa kata yang bisa mereka ucapkan saat ini.


"Iya kita lagi piket bun" Jawab Mia lirih. Ia masih menundukan kepalanya.


Senyum Bunda masih tak surut dari wajahnya. Terlihat sangat bahagia sekali karna mungkin akan menemui anaknya.


Tak terasa Mereka sudah sampai di Asrama. Selama di perjalanan tadi Bunda tak hentinya bercerita bahwa ia sangat merindukan Gea.


Sri dan Mia langsung mempersilahkan Bunda masuk. Kamar yang sudah rapi itu terlihat masih sepi. Tak ada ides di dalamnya mungkin masih piket.


"Ayok Bunda duduk dulu" Mia menggelar samak pelastik yang ala kadarnya itu.


"Iya terimakasih, ouh ya Gea nya mana? bisa tolong di panggilkan, tapi jangan bilang jika ada Bunda di sini" Tutur Bunda. Di sertai senyuman yang sangat cantik.


Sri dan Mia terpaku, mereka harus apa?


Mereka tidak bisa membuat senyuman Bunda itu berganti dengan kesedihan.

__ADS_1


Haruskah mereka berbohong?


__ADS_2