Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren
Pulang


__ADS_3

Sudah hampir dua hari Gea hanya menangis dan tidak mau makan. Badannya panas dan sangat lemah. Gea sangat terpukul dengan semua ini. Apalagi dengan kenyataan yang masih belum ia percaya.


Gea melepaskan cincin yang melingkar di jari manisnya. Setiap kali ia memandang cincin itu makan semakin sakit pula hatinya.


Ia memang belum mendengar langsung penjelasan Adit. Tapi Gea sudah tak sanggup jika memang itu benar!


"Gea, makan dulu yuk? Liat buburnya masih panas loh. Ini Enak banget lagi" Bujuk Mia. Ia membawa bubur di atas nampan.


Mia mendesah, selalu seperti ini setiap kali Gea di tawari makan. Hanya diam, bahkan tidak menengoknya sama sekali.


Bubur yang masih mengeluarkan uap panas itu masih Mia pandang. Sebenarnya perutnya juga lapar. Tapi apa daya?


Mia sungguh bingung harus membujuk Gea seperti apa lagi. Karna mungkin Gea akan mengamuk jika ia terus-terusan berceloteh menawarinya makan.


***


Tepat 10 hari pak kyai dan bu hajjah menjenguk putrinya di rumah sakit. Hari ini kabar kepulangannya pun di dengar oleh Gea. Ia semakin sakit saat mengingat semua yang di katakan Imam padanya.


Harus seperti apa dirinya menghadapi ini?


Gea Hanya ingin tidur dan tidur. Jika ia mampu. Ia ingin pulang ke rumah. Namun ia tak sanggup jika nanti sang bunda bertanya banyak hal.


Gea sudah lebih baik, ia sudah tidak terlalu memikirkan lagi tentang Adit dan juga kak Anin itu. Apa untungnya? toh Gea sakit pun Adit tidak peduli!


Suara pintu di ketuk menyadarkan Gea dari lamunannya. Seseorang dengan pakaian rapih menemuinya dengan membawa kantung besar yang di seretnya. Bukan sebuah koper pastinya.


Gea mengernyit heran"Kak kiki? Mau kemana kak udah rapih ginih? bawa tas besar lagi. Mau pindahan?" heran Gea.


Kak kiki terkekeh kecil dengan ucapan Gea. memang benar ia membawa banyak sekali baju. Sehingga membuat tas nya penuh. "Kakak hari ini mau pulang dek, mau nemuin ibu kakak di kampung. Udah kangen kakak" Ujar kak kiki. Ia ikut duduk di hadapan Gea.

__ADS_1


Gea tersenyum penuh Arti. Ada dorongan dari dalam dirinya untuk ikut pulang bersama kak kiki. Sekalian untuk menenangian hatinya yang lagi berserakan!


"Gea boleh ikut gak kak?" ucapanya penuh harap.


"Hah?"


***


Gea selalu megikuti kemana kak kiki melangkah. Setelah tadi ia berpamitan pada bu hajjah yang kebetulan baru saja pulang dari rumah sakit. Tentunya bersama Adit. Gea merasa hati nya sedikit lega, meskipun sebenarnya Gea merasa sedikit was-was dengan keinginannya ikut kak kiki. Apalagi tanpa memberi tahu pada Adit. Tidak apalah, toh adit juga seperti itu padanya.


Mereka menaiki angkutan umum untuk samapai di kampung halamannya Kak kiki. Gea hanya duduk di saat Kak kiki Sedang berbica pada kondektur angkutan itu. Sepertinya menanyakan ongkos.


Gea segera mengeluarkan uang dari dalam tas nya untungnya uang yang Gea miliki cukup lah untuk ongkos karna tidak mungkin jika harus Kak Kiki yang membayar ongkosnya.


Sudah hampir 2 jam lamanya di perjalanan Kak Kiki membangunkan Gea yang tertidur selama di perjalan. Gea mengerjap pelan saat Kak Kiki menepuk pipinya pelan. Ternyata sudah sampai. Gea segera mengucek matanya yang kala itu masih sedikit buram.


Gea menggendong Tas yang berisi bajunya itu dan mengikuti langkah kaki Kak Kiki yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Gea hanya mengangguk dan memberitahu Kak Kiki bahwa ia ingin ke ATM terlebih dahulu. Takut jika di kampung Kak Kiki tidak ada Mesin ATM. Kan katanya di kampung!


Gea mengambil beberapa lembar uang setelah ia selesai memasukan kode nya. Kak Kiki terlihat menunggunya di luar ATM. Panas yang cukup terik membuat Gea mengajak Kak Kiki untuk membeli Es Teh terlebih dahulu.


"Masih jauh gak sih Kak?" Tanya Gea. Ia baru saja meminum Es Teh yang sudah membasahi tenggorokannya itu.


"Lumayan Dek. Tinggal 30 menit lagi dari sini" Ujar Kak Kiki.


Gea hanya memangguk dan bertanya apakah Kak Kiki mempunyai adik. Dan katanya ia. Sehingga Gea berisiniatif untuk membawa oleh-oleh untuk adik-adik Kak kiki.


"Gea jangan banyak-banyak atuh" Ujar Kak kiki. Yang tidak Enak hati saat Gea membeli banyak sekali makanan saat mereka telah memasuki salah satu mini market.

__ADS_1


"Gak papa Kak, uang aku banyak kok" Tutur Gea dengan senyum manisnya. Bukannya sombong. Hanya saja supaya Kak Kiki tidak merasa sungkan.


Mereka keluar setelah selesai membayar barang belanjaan tadi. Lalu mencari ojek untuk membawa mereka ke rumah Kak Kiki.


***


Sekitar 30 menit di perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah Kak Kiki. Rumah yang sederhana namun terlihat nyaman di mata Gea. Kak Kiki langsung mengajak Gea masuk dan di sambut oleh 3 adik nya Kak kiki.


"Tetehhhhh.. Teh Kiki pulanggg!!" Seru seorang anak laki-laki yang kira-kira umurnya 7 tahun. Yang saat itu sedang bermain di luar rumahnya.


Di ikuti oleh 2 adik perempuan di belangkangnya. Mereka terlihat begitu bahagia saat Kak kiki pulang ke rumahnya.


Gea langsung di ajak Kak Kiki masuk dan menemui ibunya yang kala itu masih berbaring di kamarnya. penyakit Yang di derita ibunya Kak Kiki sudah mulai parah karna kondisi Ekonomi yang tidak memungkinkan jika harus membawa ibunya ke rumah sakit.


Gea menyalami ibu Kak Kiki sembari memperkenalkan diri. Adik-adik Kak Kiki masih saja mengikutinya sampai masuk ke kamar ibunya.


"Nama kamu siapa dek?" Tanya Gea pada salah satu anak perempuan yang rambutnya di kepang itu.


"Aku imut" Ujarnya seraya tersenyum yang begitu manis dan sesuai dengan namanya karna memang anak kecil itu sangat lah imut.


Gea mencubit pipi Gadis kecil itu. Dan bertanya lagi pada dua anak yang sedang berdiri di samping imut.


"Nama kamu siapa? dan kamu juga?" Tanya Gea.


"Aku Nina kak"


"Aku Deris"


Gea tersenyum. Saat dua adik Kak Kiki yang menperkenalkan diri sembari tersenyum malu-malu itu.

__ADS_1


Gea mengajak Adik-adik Kak Kiki untuk ikit bersamanya. Untuk ia beri sesuatu yang ia beli tadi di mini market.


Hati Gea merasa menghangat saat tiga anak kecil itu tersenyum bahagia. Tak sia-sia dirinya ikut pulang bersama Kak kiki kesini.


__ADS_2