
Sri ikut menyusul Mia dan Ides yang udah duluan pergi. Rasa sesak di hatinya kembali menyelimuti perasaannya. Perasaan yang sangat sakit seperti yang Gea alami waktu itu. Hingga membuat Sri semakin memikirkan Gea. Apakah Gea sudah baik-baik saja sekarang?
Sri membuka knop pintu Asramanya. Terlihat Mia dan Ides yang sedang menyandarkan punggung mereka ke dinding sambil membaca kitab Jurumiah. Mereka tak melihat ke arah Sri yang masuk ke dalam kamar. Apakah ia membuat kesalahan yang begitu fatal ya? Sehingga ia di cuekan seperti ini. Tapi dia salah apa? pikir Sri.
Sri ikut mendudukan tubuhnya di samping Mia dan Ides. Ia melipat kedua kakinya dan dan menaruh dagu di atas lututnya. Bibirnya ia manyunkan karna Mia dan Ides tidak menyapanya sama sekali.
"Kenapa kamu manyun gituh?" Tegur Mia. Reflek membuat Sri memiringkan kepalanya ke arah Mia.
"Kamu nanya aku?" Sri malah balik bertanya dengan polosnya.
Mia melengos, kenapa temannya yang satu ini bolot banget sih. Kesal Mia.
"Gak, aku nanya sama Ides" cibir Mia. Ia Kembali mengarahkan matanya pada kitab yang masih ia pegang itu.
"Aku kira kamu marah, makannya aku kaget kamu tiba-tiba nanya sama aku!" Ujar Sri. Raut wajahnya kembali sendu.
Mia tersenyum kecil. Kenapa Sri bisa berfikiran seperti itu padanya?
"Mana bisa aku marah sama kamu, kamu kan teman aku iyemm!" Seru Mia mencairkan suasana.
Membuat Sri tersenyum lebar. Lalu memeluk Mia dan berterima kasih. Mia membalas pelukan Sri. Hingga mereka di kagetkan dengan Ides yang tiba-tiba ikut dalam pelukan itu.
Hanya sekedar bersama seperti ini pun, aku sangat bahagia! Batin Mia.
Mereka melepaskan pelukan itu di saat Sri protes akan pelukan yang begitu erat dari Mia dan Ides.
__ADS_1
"Aku susah nafas, kekencengan tau meluknya!" Kesal Sri. Ia sedikit menggeser posisi duduknya.
" Tadi siapa yang meluk duluan?" Sindir Mia. Dan Sri hanya diam. Karna mungkin memang ia yang memulainya.
"Udah deh, berantem mulu kaya tom dan jerry!" Lerai Ides.
"Kucing dan Tikus dong kita" Kata Mia dan Sri serempak. Hingga membuat Ides cekikikan.
"Agak mirip lah" Ucap Sri. Hingga ia mendapat lemparan bantal dari Mia. Ia merasa tidak terima. Reflek Ides menangkisnya, dan bantal itu tak mengenai wajahnya.
"Biasanya juga kalian yang berantem, kok jadi aku yang ketularan yah?" Bingung Mia.
Sri dan Ides hanya mengangkat bahunya."Gak tau" Seru mereka.
Hujan sudah mulai turun, membasahi muka bumi dan perkampungan yang padat penduduk itu. Gea mendudukan tubuhnya di bangku pos kamling. Kantung keresek yang ia jinjing tadi, ia taruh di sampingnya.
Sembilir angin yang ikut berhembus membuat Gea memeluk tubuhnya dan menggerakan tangannya naik turun.
Harus bagaimana dia pulang, langit sudah menggelap dan hujan pula malah semakin lebat. Tak ada apapun yang mampu menghalangi tubuhnya dari air hujan jika Gea memaksakan pulang.
Gea menyenderkan tubuhnya pada tiang penyangga. Ia melihat kesana kemari untuk mencari bantuan. Apakah akan ada seseorang yang mau menolongnya. Dan semoga aja ada. Gea sangat berharap.
"Teh Gea?" Suara teriakan anak kecil dari guyuran air hujan membuat Gea langsung menoleh ke arah sumber suara itu.
Gea kenal anak kecil yang basah kuyup itu"Derisss!" Pekik Gea.
__ADS_1
Buru-buru Gea memanggilnya agar ikut berteduh bersamanya. Baju yang di kenakan Deris basah kuyup. Tubuhnya gemetaran hingga membuat Gea khawatir.
"Kamu kenapa hujan-hujanan Sih, nanti kamu sakit" Omel Gea dengan khawatirnya.
"Aku nyari kakak kemana-mana, takut kakak nyasar tadi. Eh, ternyata Kakak di sini. Aku seneng karna kakak udah ketemu" Tutur Deris. Membuat Gea merasa sangat terkejut. Anak ini sangat mengkhawatirkannya ternyata.
"Kakak gak mungkin nyasar sayang. Kakak hafalin jalannya tadi. Makannya kakak gak minta di temanin tadi" Gea mendekap Deris. Karna tubuh anak itu menggigil kedinginan.
Deris menjauhkan tubuhnya dari Gea. Hingga membuat Gea bingung" Nanti baju kakak basah" Tolak Deris. "Aku kuat kok Kak" Lanjut nya lagi.
Gea tetap memaksa untuk mendekap tubuh Deris. Gea juga sangat khawatir pada anak itu. Tubuh mungilnya itu Gea dekap dengan eratnya. Berusaha menyalurkan rasa hangat.
"Kita pulang aja yuk, kamu menggigil Deris" Ujar Gea. Dan Deris menggelengkan kepalanya.
"Hujannya masih lebat Kak, nanti kakak basah kuyup jika memaksakan pulang" Tolak Deris.
"Gak papa Dek, lagian Kakak udah lama gak ujan-ujanan nih"
"Ayok" Gea menarik tangan Deris dan tak lupa dengan kantung keresek nya ia bawa.
Gea sudah lupa bagaimana rasanya hujan-hujanan seperti sekarang ini. Ia senang karna ia bisa merasakannya lagi. Ternyata rasanya masih sama seperti dulu. Sangat menyenangkan dan juga melegakan!
Guyuran air hujan itu langsung membasahi tubuh Gea. Ia dengan bahagia berjalan sembari di guyur air hujan. Deris dengan cepat mengajak Gea berjalan. Ia tak ingin jika Teman kakak nya ini sakit.
Gea baru menyadari satu hal jika penolongnya itu adalah Deris!
__ADS_1