Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren
Terimakasih


__ADS_3

"Makasih kak" Ujar Imut. Senyumnya mengembang sempurna. Saat ia mendapatkan beberapa camilan dari Gea.


"Sama-sama imut" Jawab Gea gemas. Sembari mencubit pipi cabinya itu.


"Makasih juga kak" Ujar Deris dan Nina.


"Iya sama-sama sayang!"


"Gea?" panggil Kak Kiki.


Membuat Gea menoleh yang kala itu masih Asyik bersama Tiga adiknya Kak Kiki.


"Iya kak" Jawab Gea.


Kak Kiki menghampiri mereka dan mengajak Gea untuk makan siang. Karna mereka belum sempat sarapan terlebih dahulu tadi.


Gea dan ketiga adik Kak Kiki mengikuti langkah kaki Kak Kiki menuju dapur. Dapur yang sederhana yang di alasi bambu itu.


"Maaf Gea rumah kakak memang kayak gini. Udah agak reyot bambunya" Ujar Kak Kiki merasa tak enak hati saat melihat Gea yang sedikit terlihat berhati-hati dalam berjalan.


Gea tersenyum hangat seraya menggelengkan kepalanya. Ia tau kak Kiki pasti sedikit tak enak hati dengan keadaan rumahnya yang seperti ini. Bagi Gea ini lebih nyaman di bandingkan dengan rumahnya yang besar namun sepi.


"Tidak apa-apa kak tak usah di pikirkan"


Kak Kiki mebuka tikar untuk sebagai alas makan. Mereka langsung makan seadanya bahkan hanya dengan tempe goreng. Tak ada kerupuk atau pun yang lainnya sebagai lauknya lagi. Cuma tempe saja


"Kak Kiki aku laper banget, karna belum makan dari pagi. Untung kak Kiki pulang sekarang, karna kemarin kami puasa kak. karna hanya sedikit beras dan itupun untuk di jadikan bubur oleh kak Nina sebagai makan nya ibu" ujar imut. Ia berbicara sembari mulutnya penuh dengan makanan.


Gea tersedak akan cerita adik kak Kiki yang paling kecil itu. Gea buru-buru mengambil air minum untuk melegakan tenggorokannya itu.

__ADS_1


"Pelan-pelan Gea." Kak Kiki mengusap-usap punggung Gea. Yang kala itu masih meminun air.


Gea meletakan gelas kosong di tangannya. Perhatiannya teralihkan pada imut yang masih asyik makan bahkan hanya dengan tempe goreng. Hati Gea sangat miris melihatnya. Apalagi dengan pengakuan dari imut tadi.


"Maafin Kakak ya sayang.. Kakak baru pulang sekarang" Kak Kiki menunduk. Menyembunyikan air matanya yang sudah menumpuk di pelupuk matanya itu.


"Kakak tidak usah merasa bersalah kak. Kami baik-baik saja kok. Aku kan sekarang udah besar jadi bisa merawat imut dan Deris." Nina menyentuh tangan Kak kiki yang masih menunduk itu.


"Iya kak kami sehat-sehat saja kok. Hanya saja kemarin kami memang puasa itu pun karna kami yang mau, ya kan imut?" Deris meyakinkan lagi. sambil menatap imut


Gadis kecil itu mengangangkat kepalanya. Mulutnya masih penuh dengan makanan.


"Iya kak" Jawabnya menunduk. Pahan dengan tatapan Deris padanya.


"Ayok lanjutin lagi makannya, Nanti saja kita mengobrolnya" Gea ikut menengahi.


Gea mengakhiri makan nya meskipun ia masih belum merasa kenyang. Ia pamit undur terlebih dahulu untuk melihat-lihat kampung kak Kiki itu. Terlebih dahulu ia menemui ibunya Kak Kiki lagi


Gea menyusuri kampung Kak Kiki. Sebelumnya ia telah berpamitan pada pada Kak Kiki untuk melihat-lihat tanpa di temani oleh adiknya kak Kiki.


Gea berhenti di sebuah warung, ia kepikiran untuk membeli beras. Dan juga lauk nya.


"Bade meser naon neng?" Gea mengerutkan keningnya. Artinya apa pikirnya?


Gea hanya tersenyum canggung."Ibu ngomong apa ya?" Tanya Gea ragu.


"Eh, Ouh neng ti kota nya. paingan atuh teu


terang bahasa sunda" Ibu pemilik warung itu masih saja melanjutkan kata-katanya dengan bahasa sunda yang beneran sunda.

__ADS_1


Membuat Gea semakin bingung.


Hadeuh! udah tau pake nanya!


"Bi, roko sabungkus LA" Seorang pemuda menyodorkan uang 50 ribu pada pemilik warung itu. Mengalihkan perhatian Gea padanya.


"Untung aya anjen, si eneng eta teu terangen bahasa sunda. jeng deih ibu ge teu ngartos bahasa indonesia. Pang hartikeun hela nya. Tah ieu rokona." Ujar Ibu pemilik warung itu sambil menyodorkan sebungkus roko pada pemuda itu.


"Ke tong waka kamana-mana omat" Lanjut ibu pemilik warung itu.


(Untung ada kamu, si neng itu gak tau bahasa sunda. Dan juga ibu gak ngerti bahasa indonesia. Tolong hartikan dulu. Nah ini rokonya. Jangan kemana-mana pokonya)


"Iya" Simple padat dan jelas. hanya itu jawaban yang pemuda itu berikan pada ibu pemilik warung itu.


"Mau beli apa?" Pemuda itu beralih menatap Gea yang sedang kebingungan di sampingnya.


"Hah?" Gea buru-buru menyadarkan dirinya. Ia terlalu Asyik menyaksikan obrolan ibu dan pemuda itu. Meskipun ia tidak mengerti apa artinya.


"A-aku mau beli beras sama telur, tahu tempe juga" Ucap Gea.


Pemuda itu langsung memberi tau pemilik warung itu dan langsung melayani Gea. Beberapa menit kemudian apa yang di inginkan Gea sudah ia beli semua.


Gea sudah selesai berbelanja dan berterima kasih pada pemuda yang sudah bersedia membantunya itu. Ia tidak enak hati.


"Terima kasih ya kak" Ujar Gea sekali lagi.


"Iya sama-sama" Pemuda itu langsung pergi dari warung.


Begitupun dengan Gea yang langsung berpamitan pada pemilik warung itu. Hingga baru beberapa langkah ia berjalan meninggalkan warung. Ia kembali mendengar suara pemuda yang tadi, kembali lagi ke warung.

__ADS_1


"Bi poho angsulnaaaa"(Bi lupa kembaliannya)


Gea mendengar dengan jelas suara pemuda itu. Yang terlihat kembali lagi ke warung sambil berlari. Gea sampai di buat tersenyum akan tingkahnya itu. Meskipun Gea tidak mengerti apa artinya.


__ADS_2