
Arka seketika menatap lekat wajah Cinta. Wajah polosnya terlihat begitu menggemaskan sebenarnya. Tentu saja hal itu membuat gadis itu merasa heran. Cinta balas menatap wajah pemuda itu membuatnya seketika tersadar dari lamunan panjangnya.
"Mas Arka? Ko malah melamun?" tanya Cinta kemudian.
"Hah? Maaf, saya melamun. Kamu bilang apa tadi?" Arka balas bertanya.
"Aku gak bilang apa-apa. Aku hanya mengatakan kalau aku gugup banget, Mas. Ini tuh seperti sebuah mimpi buatku. Aku bahkan tidak pernah berfikir bahwa aku akan berkuliah," jawab Cinta.
"Hmm ... Kenapa harus gugup segala? Kamu memang layak berkuliah. Udah, gak usah gugup segala. Kita masuk sekarang?"
Cinta menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Setelah itu barulah dia menganggukkan kepalanya kemudian. Keduanya pun masuk ke dalam ruangan tersebut.
* * *
Setelah mendaftarkan Cinta berkuliah, mereka pun dalam perjalanan pulang sekarang. Arka nampak menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang. Sedangkan Cinta sendiri, dia sibuk dengan ponsel canggihnya seolah barang mahal itu adalah mainan barunya saat ini.
Cekrek!
Gadis itu tiba-tiba saja memotret wajah Arka dari arah samping. Tentu saja hal tersebut membuat Arka merasa salah tingkah. Dia pun tersenyum kecil, menoleh dan menatap sejenak wajah Cinta lalu kembali menatap ke depan.
"Kamu sedang apa, Cinta? Jangan memotret tanpa izin, gak baik itu," tanya Arka tersenyum kecil.
"O ya? Masa sih, ya udah. Aku izin memotret Mas Arka satu kali lagi ya?"
Cekrek!
Satu kilatan cahaya pun kembali mengabadikan wajah Arka membuatnya kembali tersenyum merasa salah tingkah.
"Astaga, Cinta."
"Kenapa? 'Kan aku udah izin dulu tadi."
"Wajah Mas tampan kalau di lihat dari samping."
"Jadi maksud kamu, wajah saya tidak tampan kalau di lihat dari depan, begitu?"
"Hahahaha! Justru kalau di lihat dari depan semakin terlihat tampan lho, beneran. Tapi, Mas. Boleh aku bertanya satu hal sama Mas Arka?"
"Tanya apa?"
"Mas ini tampan, mapan, pekerjaan juga oke. Kenapa sampai saat ini Mas masih belum menikah juga? Padahal usia Mas sudah cukup matang untuk menikah lho."
__ADS_1
"Memangnya kamu tahu berapa usianya Mas?"
"Nggak."
"Terus, ko kamu bisa tahu kalau usia Mas sudah matang untuk berumah tangga?"
"Ya, di lihat dari wajah Mas 'lah."
"Jadi maksud kamu, wajah Mas ini sudah tua, begitu?"
"Tidak, bukan begitu. Akh ... Sudahlah gak usah di jawab. Aku yang nanya ko malah Mas yang balik bertanya? Gimana sih?" Cinta seketika mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa membuat wajahnya terlihat sangat menggemaskan di mata Arka.
Arka seketika mengulurkan tangannya lalu mengusap kepala gadis itu penuh kasih sayang. Laki-laki itu pun seketika tertawa renyah membuat Cinta yang semula mengerucutkan bibirnya ikut tertawa renyah terbawa suasana.
"Hahahaha! Malah tertawa lagi. Jawab dulu pertanyaan aku, Mas."
"Iya-iya, Mas jawab ya. Cinta, yang namanya mencari Istri itu tidak sembarangan, Mas gak mau menikah dengan wanita yang hanya menginginkan harta Mas saja," jawab Arka, tapi tetapi saja tidak dapat mengobati rasa penasaran Cinta.
"Apa Mas pernah berpacaran?"
"Kamu sendiri, apa kamu pernah berpacaran? Kamu itu cantik, Mas yakin ada banyak laki-laki yang mengejar-ngejar cinta kamu."
"Nah 'kan, di tanya malah balik nanya, Mas nyebelin."
"Hah? Maksudnya memacari beberapa wanita secara bersamaan, begitu? Mas play boy dong?"
"Itu dulu, sekarang tidak lagi. Malahan sudah beberapa tahun ini Mas menjomblo."
"Lho, kenapa?"
"Karena Mas mencari wanita yang seperti kamu. Sederhana, mandiri, kuat, cantik pula."
Wajah Cinta seketika memerah tentu saja. Dia pun merasa menyesal karena telah menanyakan hal seperti itu. Tidak mungkin baginya untuk berharap lebih kepada laki-laki yang telah dia anggap sebagai malaikat penolong baginya itu.
"Ko diam? Sudah puas dengan jawaban Mas?"
"Iya-iya aku udah puas dengan jawabannya, tapi, Mas. Dari sekian banyak wanita yang ada di kota ini, kenapa Mas ingin punya istri seperti aku? Aku itu hanya wanita biasa lho?"
"Hahahaha! Kata siapa kamu hanya wanita biasa? Kamu itu wanita yang sangat istimewa lho."
Wajah Cinta semakin memerah saja kini. Dia pun tersenyum kecil lalu mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela. Lagi-lagi, dia tidak ingin berharap lebih dari laki-laki bernama lengkap Arka Wijaya itu, karena dirinya bukanlah wanita sempurna. Dia hanyalah anak yatim piatu yang sampai saat ini masih mencari keberadaan sang ayah.
__ADS_1
* * *
3 bulan kemudian.
"Selamat siang, Tuan Arka," sapa Rudi sang detektif tiba-tiba datang mengunjungi Arka di kantornya setelah 3 bulan lamanya tidak memberikan kabar apapun.
"Selamat siang, Rudi. Saya kira kamu sudah lupa dengan tugas dari saya," jawab Arka tersenyum kecil.
"Maafkan saya, Tuan. Saya baru datang kamari sekarang. Saya belum berani melaporkan apapun jika saya belum mendapatkan hasil yang memuaskan."
"Lalu, apakah sekarang kamu sudah mendapatkan hasil yang memuaskan? Apa kamu sudah menemukan keberadaan ayah dari adik angkat saya?"
"Saya sudah mencari ke beberapa kota tentang keberadaan target. Sampai akhirnya saya menemukan titik terang. Saya menemukan laki-laki dengan nama yang sama juga pisik yang sama seperti yang digambarkan oleh Nona Cinta. Tapi, Tuan--" Rudi tidak meneruskan ucapannya.
"Tapi apa? Beliau masih hidup 'kan?"
"Beliau memang masih hidup, tapi saat ini beliau dalam keadaan sakit keras dan sedang di rawat di sebuah Rumah Sakit kecil di sebuah kota kecil."
"Apa? Kamu yakin tidak salah orang?
"Yakin, Tuan. 99℅ yakin. Itu sebabnya saya datang kemari."
"Katakan dimana alamat Rumah Sakitnya?"
"Beliau di rawat di Rumah Sakit Permata yang di kota ******"
"Baik, terima kasih atas kerja kerasnya. Sesuai dengan dengan apa yang saya janjikan, saya akan membayarkan sisa bayaran berikut dengan bonusnya," ujar Arka, meraih amplop dari dalam laci meja kerja miliknya lalu memberikan kepala Rudi kemudian.
"Terima kasih, Tuan. Jika anda bersedia, saya akan mengantarkan anda dan Nona Cinta ke tempat itu supaya anda tidak perlu repot-repot mencari keberadaan Rumah Sakit tersebut."
"Baiklah, saya akan menghubungi kamu lagi nanti."
"Baik, Tuan. Saya permisi."
Arka menganggukkan kepalanya dengan wajah datar. Hatinya seketika diliputi rasa dilema. Kenapa kabar yang dia terima setelah beberapa bulan menunggu sebuah kabar duka. Apa yang akan terjadi dengan Cinta ketika dia tahu tentang hal ini?
"Ya Tuhan, apa yang akan saya katakan kepada Cinta? Dia pasti akan merasa sangat terkejut mendengar kabar ini," gumam Arka mengusap wajahnya kasar.
Meskipun begitu, dia tetap harus mengatakan yang sejujurnya kepada gadis itu tentang keberadaan sang ayah yang sudah menemukan titik terang.
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...