Cinta Untuk Cinta

Cinta Untuk Cinta
Boncap part 3


__ADS_3

Arka Wijaya benar-benar membeli tanah juga bangunan panti asuhan dengan harga yang fantastis. Sekarang panti asuhan itu resmi menjadi milik Arka Wijaya dan istrinya. Cinta yang di besarkan di panti asuhan itu kini jadi pemilik panti. Sungguh sesuatu yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


Cinta dan juga Arka nampak sedang berada di makam ibu Fatimah. Keduanya berziarah terlebih dahulu sebelum kembali ke kota.


"Ibu bisa beristirahat dengan tenang sekarang. Kami telah membeli bangunan ini, panti asuhan ini kami persembahkan untuk anak-anak yang ada di sini. Kenapa ibu pergi begitu saja? Aku bahkan belum sempat mengatakan rasa terima kasihku karena ibu karena telah merawat dan membesarkan aku selama ini," lirih Cinta, tatapan matanya nampak lurus ke depan, menatap batu nisan bertuliskan nama mendiang.


"Saya Arka Wijaya mengucapkan terima kasih sama ibu. Terima kasih karena ibu telah membesarkan gadis cantik bernama Cinta hingga dia menjadi gadis yang baik. Saya berjanji akan membahagiakan dia dengan segenap jiwa raga saya. Ibu bisa beristirahat dengan tenang di alam sana. Kami janji akan merawat anak-anak yang berada di panti, saya juga berencana akan merenovasi bangunan panti agar bisa lebih layak lagi untuk di huni," ucap Arka panjang lebar.


Setelah berziarah ke makam ibu Fatimah, wanita yang paling berharga bagi Cinta, wanita yang telah dia anggap seperti ibunya sendiri, mereka pun berpamitan untuk kembali ke kota.


Urusan panti sepenuhnya dia serahkan kepada pengurus yang ada di sana. Meskipun dia adalah pemilik sah dari panti asuhan itu, tapi dia tidak bisa selalu berada di tempat itu karena Cinta sudah memiliki keluarga kecil yang harus dia jaga.


* * *


Satu bulan kemudian.


Cinta Puspita merasakan ada yang salah dengan tubuhnya. Seharian ini dia hanya berbaring di atas ranjang tanpa melakukan aktivitas apapun. Kepalanya pun entah mengapa terasa pusing.


Ceklek!


Pintu kamar di buka lebar. Arka yang baru saja pulang dari kantor masuk ke dalam kamar. Dia menatap tubuh istrinya yang saat ini berbaring di atas ranjang.


"Sayang? Kamu baik-baik saja?" tanya Arka duduk di tepi ranjang.


"Sepertinya aku gak enak badan, Mas."


"O ya? Kita ke Dokter ya."


"Gak usah, Mas. Aku hanya masuk angin biasa ko."


"Kamu yakin?"


Cinta menganggukkan kepalanya.


"Huek!" Cinta tiba-tiba saja merasakan mual. Tenggorokannya bahkan merasa tercekik membuatnya seketika berlari ke arah kamar mandi.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arka, mengikuti istrinya ke dalam kamar mandi.


"Huek ... Huek ... Huek ...! Cinta benar-benar memuntahkan semua makanan yang ada di dalam perutnya sampai perut datarnya benar-benar terasa kosong.


"Astaga, Cinta. Sepertinya kamu harus benar-benar ke Rumah Sakit, Mas gak mau kalau kamu sampai kenapa-napa," pinta Arka mengusap punggung sang istri lembut dan penuh sayang sayang.


"Tidak usah, Mas. Aku hanya masuk angin biasa."


"Tapi, sayang--"


"Tunggu, Mas. Biarkan aku berfikir sejenak."


Arka seketika mengerutkan kening. Dia pun menatap wajah Cinta sang istri penuh arti. Rasanya hal seperti ini pernah dia alami dahulu, Arka seketika mengingat saat istrinya itu hamil putri pertama mereka 5 tahun yang lalu. Apa mungkin Cinta tengah mengandung buah hatinya yang ke 2?


"Sayang?" Ujar Cinta dan juga Arka secara bersamaan.


"Apa mungkin kamu, hamil?" tanya Arka kemudian.

__ADS_1


"Sudah 2 bulan ini aku memang tidak datang bulan, tapi masa iya aku--"


"Kita ke Rumah Sakit sekarang juga."


"Jangan sekarang, Mas. Besok saja, tubuhku lemas sekali ini."


"Ya sudah Mas gendong kamu ke dalam ya."


Cinta menganggukkan kepalanya. Dia pun melingkarkan kedua tangannya di leher Arka sang suami saat suaminya itu mulai menggendong tubuhnya untuk keluar dari dalam kamar mandi.


Arka membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang dengan sangat hati-hati. Wajah Cinta nampak pucat pasi. Keringat dingin membasahi pelipis wajahnya kini.


"Kamu yakin gak mau ke Rumah Sakit? Wajah kamu pucat lho," tanya Arka mengusap kepala istrinya lembut dan penuh kasih sayang.


"Gak usah, Mas. Aku hanya perlu istirahat saja ko."


"Yakin?"


Cinta menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, Mas bakalan temani kamu di sini. Mau Mas pijitin?"


"Gak usah, aku hanya ingin tidur sambil di peluk sama Mas."


"Hmm! Tumben."


"Entahlah, rasanya aku pengen meluk Mas. Sini, berbaring di samping aku."


Arka tersenyum manis, dia pun berbaring tepat di samping sang istri. Seketika itu juga Cinta segera memeluk tubuh kekar suaminya seraya memejamkan kedua mata. Tiba-tiba saja, wanita itu mencium ketiak suaminya seraya membauinya membuat Arka seketika merasa heran tentu saja.


"Diam dulu, Mas. Ketek kamu wangi banget."


"Wangi apaan? Mas belum mandi lho ini."


"Gak tau, pokoknya ketek kamu wangi," lirih Cinta, terus saja membaui ketiak suaminya seraya memejamkan kedua matanya.


Sepertinya Cinta memang sedang dalam keadaan hamil muda. Terbukti, dia melakukan sesuatu di luar kebiasannya. Wanita itu terus saja melakukan hal yang sama, dia bahkan memainkan bulu halus ketiak suaminya membuat Arka seketika tertawa ringan merasa geli tentu saja.


"Akh! Sayang, sudah cukup. Geli tau, hahahaha!" tawa Arka terdengar nyaring.


"Diam dulu, Mas. Bentar saja."


"Astaga, sayang! Hahahaha!"


* * *


9 bulan kemudian.


"Mom! Kalau dede bayi sudah lahir, apa Mommy sama Daddy masih tetap sayang sama aku?" tanya Aurora mengusap perut buncit sang Ibu.


"Pertanyaan macam apa itu? tentu saja kami akan tetap sayang sama kamu," jawab Cinta tersenyum kecil.


"Beneran? Mommy sama Daddy bakalan tetap sayang sama aku meskipun dede bayi udah lahir? Gak akan bohong 'kan?"

__ADS_1


"Tentu saja, sayang. Bagi Mommy dan Daddy, kamu tetap putri kesayangan kami."


Aurora tersenyum senang. Dia pun mengecup perut ibundanya lembut dan penuh kasih sayang. Gadis berusia 6 tahun itu tidak lagi merasa ketakutan akan kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya meskipun dia akan memiliki seorang adik kecil.


Tiba-tiba saja, Cinta mengalami kontraksi hebat. Dia seketika meringis kesakitan, membuat Aurora seketika merasa panik tentu saja.


"Argh! Perut Mommy sakit, sayang!" ringis Cinta mengusap perutnya.


"Mommy kenapa? Apa karena aku mencium perut Mommy tadi, itu sebabnya perut Mommy jadi sakit?" tanya Aurora hendak menangis.


"Tidak, sayang. Bukan seperti itu, bisa minta tolong telpon Daddy? Sepertinya Mommy mau melahirkan. Argh!"


Aurora seketika meraih ponsel sang ibu yang diletakkan sembarang di atas meja. Dia pun segera menelpon Arka sang ayah saat itu juga. Gadis kecil itu bahkan sedikit terisak menceritakan kondisi ibunya.


* * *


Arka segera pulang dan membawa istrinya ke Rumah sakit setelah mendapatkan kabar dari putrinya. Sepertinya Cinta benar-benar akan melahirkan. Terbukti, istrinya itu sudah lebih dari 1 jam berada di ruangan bersalin, sementara dirinya bersama Aurora hanya menunggu di luar ruangan dengan perasaan cemas.


"Ko Mommy lama banget, Dad? Mommy baik-baik saja 'kan? Dede bayi juga 'kan?" tanya Aurora, terlihat jelas dari raut wajahnya bahwa dia benar-benar merasa khawatir.


"Tentu saja Mommy baik-baik saja. Tunggu sebentar lagi, adik kamu akan segera lahir, sayang," jawab Arka mencoba untuk menenangkan.


Sebenarnya, Arka ingin sekali menemani istrinya di dalam sana, tapi apalah daya putrinya pun sedang membutuhkan dukungan darinya. Bagai buah simalakama, di satu sisi dia ingin sekali mendampingin istrinya, tapi di sisi lain dia tidak kuasa meninggalkan putri sulungnya sendirian dalam keadaan khawatir.


Sampai akhirnya, suaranya tangis bayi terdengar dari dalam sana. Arka sontak berdiri dengan perasaan lega. Senyuman lebar pun mengembang dari kedua sisi bibirnya kini.


'Terima kasih, Tuhan. Akhirnya bayi saya lahir juga,' (batin Arka).


Ceklek!


Pintu ruangan pun di buka, Dokter keluar dari dalam ruangan tersebut. Arka dan putrinya segera menghampiri sang Dokter.


"Bagiamana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Arka kemudian.


"Istri anda baik-baik saja, Tuan. Selamat, istri anda baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan," jawab sang Dokter.


"Benarkah? Bolehkah saya melihat bayi dan istri saya?"


"Tentu saja, silahkan masuk."


Arka dan Aurora masuk ke dalam ruangan. Keduanya menatap tubuh Cinta yang tergolek lemas di atas ranjang. Aurora segera menangis menghampiri ibundanya.


"Mommy? Mommy baik-baik saja, hiks ...?" tanya Aurora memeluk tubuh ibunya seraya terisak.


"Mommy baik-baik saja, sayang," jawab Cinta dengan nada suara lemah.


"Maafkan Mas sayang. Mas gak bisa menemani kamu, Mas--"


"Gak apa-apa, Mas. Kalau Mas menemani aku, bagaimana Aurora? Yang terpenting aku sudah melahirkan putra kita dengan selamat."


Beberapa saat kemudian, seorang perawat menghampiri dengan menggendong bayi laki-laki yang baru saja dilahirkan. Seketika itu juga, Arka segera menggendong bayi tersebut dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Terima kasih, Tuhan. Engkau telah menganugerahkan putra putri yang cantik dan tampan. Hamba benar-benar bersyukur."

__ADS_1


...--------SELESAI-------...


__ADS_2