
Cinta benar-benar menyerahkan tubuhnya untuk sang suami. Setelah menahannya sekian lama akhirnya Arka Wijaya benar-benar bisa memuntahkan has*at yang selama ini dia tekan sedemikan rupa. Seperti yang pernah dia ucapkan di dalam hatinya, bahwa dirinya baru akan melakukan hubungan suami-istri saat Cinta sang istri mendatangi dirinya dan menyerahkan tubuhnya dengan suka rela.
Sentuhan demi sentuhan dia layangkan. Ini benar-benar untuk pertama kalinya bagi keduanya melakukan kegiatan yang menguras tenaga dan emosi. Berkali-kali Arka Wijaya mencoba untuk membobol gawang milik sang istri, tapi gawang istrinya itu benar-benar tidak mudah untuk di tembus dengan senjata tajam miliknya.
"Sakit, Mas!" Ringis Cinta, membuat Arka menahannya, lagi dan lagi, selalu seperti itu setiap kali dia mencoba untuk bergerak lues.
"Maaf, sayang. Mas akan lebih hati-hati. Eu ... Mas coba sekali lagi ya."
Cinta hanya menganggukkan kepalanya samar. Percobaan terakhir pun Arka lakukan. Dia membenamkan pusaka miliknya dalam-dalam hingga menebus pertahanan terkahir bagian inti istrinya.
Seketika itu juga, darah segar nampak menetes membasahi sprei. Begitu dengan buliran air mata yang kini mengalir membasahi wajah cantik seorang Cinta, karena tidak kuasa menahan rasa nyeri di bagian intinya kini. Akhirnya, kesuciannya dia lepas kepada sang suami di usianya yang masih sangat muda.
* * *
"Maaf, sayang. Pasti rasanya sakit sekali," lembut Arka, mengusap kepala sang istri yang saat ini meringkuk membelakangi dirinya.
Cinta hanya mengangguk pelan. Kedua matanya nampak dipenuhi dengan buliran air mata. Suara isakan pun sedikit terdengar dari bibir mungilnya kini.
Cup!
Satu kec*pan pun mendarat di pucuk kepala Cinta lembut dan penuh kasih sayang. Tidak hanya itu saja, Arka pun mendaratkan kecu*annya di punggung sang Istri penuh ga*rah.
"Terima kasih, sayang. Karena kamu sudah bersedia melakukan kewajiban kamu sebagai seorang istri, terima kasih karena kamu juga sudah meminta maaf dan akan membuka pintu hatimu untuk Mas. Apakah itu artinya, kita sudah benar-benar menjadi suami istri yang sesungguhnya?" tanya Arka kemudian.
Cinta seketika memutar badan, lalu meringkuk tepat di depan suaminya kini. Dia bahkan tidak peduli jika tubuh polosnya benar-benar terekspos sempurna tepat di depan mata Arka Wijaya. Tatapan matanya terlihat tulus menatap sayu wajah suaminya.
__ADS_1
"Terima kasih juga karena Mas telah sabar menghadapai sikap kerasku selama ini, seharunya aku tidak pernah bersikap seperti itu sama Mas. Aku benar-benar menyesal. Aku janji akan menjadi Istri yang baik mulai sekarang," ucapnya kemudian.
Cup!
Satu kec*pan kecil pun dia hadiahi di bibir sang suami. Senyuman manis tersungging dari kedua sisi bibirnya kini. Tanpa sadar, rasa cinta itu perlahan mulai memenuhi relung hatinya.
"Eu ... Sayang. Apa boleh Mas bertanya sesuatu sama kamu?" tanya Arka.
"Mas mau tanya apa? Katakan saja jangan sungkan."
"Hmm ... Apa yang menyebabkan kamu berubah pikiran seperti ini? Sikap kamu berubah 180°. Mas benar-benar penasaran."
"Apa Mas tidak ingat sama sekali apa yang terjadi semalam?"
Arka mengurutkan kening. Dia mencoba untuk mengingat apa yang telah terjadi semalam. Wajah laki-laki itu seketika memerah merasa malu. Dirinya menggaruk kepala yang sebenarnya tidak merasa gatal sama sekali.
"Yakin kalau Mas gak pernah minum sampai mabuk berat seperti itu? Mas juga sampai tidak sarankan diri lho."
"O ya? Hahahaha! Mas minta maaf sama kamu, tapi sungguh Mas tidak pernah seperti ini sebelumnya. Eu ... Apa Mas mengatakan sesuatu juga sama kamu? Mas gak ingat apapun soalnya."
"Tentu saja ada. Hmm ... Apa selama ini Mas merasa kesepian?"
"Hah? Hahahaha! Kata siapa?"
"Kata Mas 'lah. Mas mengatakan kalau Mas merasa kesepian. Mas benar-benar lupa, atau pura-pura lupa?"
__ADS_1
Arka seketika tersenyum cengengesan merasa malu sebenarnya. Apa dirinya benar-benar mengatakan hal seperti itu? Akh, rasanya malu sekali.
"Kenapa Mas diam saja?" tanya Cinta seketika membuyarkan lamunan seorang Arka Wijaya.
"Hah? Eu ... Mas mabuk berat semalam, Jadi Mas gak sadar kalau Mas mengatakan hal seperti itu. Mas minta maaf, sayang. Mas janji gak akan mabuk seperti itu lagi."
"Gak apa-apa. Berkat itu semua, aku jadi tahu isi hati Mas yang sebenarnya."
Cup!
Satu kec*pan pun mendarat di bibir masing-masing kini.
"I love you, Cinta."
"I love you too, Mas Arka."
Keduanya saling membisikan kata cinta. Sentuhan demi sentuhan pun kembali dilayangkan oleh Arka. Pendakian panjang mereka kembali dilakukan dari awal. Kali ini dengan rasa yang berbeda. Meskipun ada rasa nyeri di awal, tapi tergantikan dengan sebuah kenikmatan yang banyak orang sebut dengan surganya dunia.
Sampai akhirnya, pelepasan pun mereka dapatkan secara bersamaan. Bersamaan dengan itu pula, larva pijar masuk ke dalam sana dan memenuhi dinding rahim Istrinya.
Bruk!
Tubuh Arka seketika terkulai lemas dia atas raga sang istri. Peluh dan keringat pun melebur menjadi satu, begitupun dengan sesuatu di bawah sana yang saat ini benar-benar menyatu. Keduanya benar-benar telah menjadi pasangan suami Istri yang sempurna.
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...