
"Hah? Mas marah?" tanya Cinta seketika tersenyum cengengesan.
"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya Mas kenapa? Kamu gak lihat Mas lagi marah kayak gini? Pertanyaan macam apa itu?" Arka balas bertanya.
"Oh Mas marah toh? Mas cemburu? Mas baru tahu, kalau ternyata seperti itu pergaulan istri Mas? Kalau saja Mas tidak ikut dengan aku ke Bar malam ini, mungkin aku sedang bersenang-senang dengan teman laki-laki aku. Itu 'kan yang saat ini ada di dalam otaknya Mas?" tegas Cinta masih dengan wajah cengengesan.
"Ko kamu bisa tahu apa yang ada di dalam otaknya Mas?"
"Mas lupa aku ini siapa? Aku istrinya Mas. Kita itu sehati, antara suami istri itu memiliki ikatan batin yang kuat. Aku pikir Mas dewasa. Padahal Mas udah tua lho, tapi Mas kayak anak kecil."
"Sudah tua? Kamu bilang Mas udah tua? Tidak dewasa?"
"Memang kenyataannya seperti itu ko. Mas gak dengar teman aku manggil Mas apa? Om ... Mereka manggil Mas Om. Itu artinya Mas udah tua, udah Om-Om!"
"Hah? Hahahaha! Ya itu karena umur mereka jauh sama Mas. Makannya mereka manggil Mas dengan sebutan Om."
"Terus, apa bedanya itu dengan tua? Mas udah tua, tapi Mas kayak anak kecil, kalau lagi marah kayak gini!"
"Astaga, Cinta. Kamu ini benar-benar ya. Sudah-sudah, jangan bahas masalah yang tidak penting. Mas mau tanya sama kamu, kenapa kamu gak bilang kalau laki-laki bernama Soni itu pernah menyatakan cinta sama kamu? Kamu anggap apa Mas ini, hah?"
"Apa itu penting?"
"Apa maksud kamu, sayang? Tentu saja itu penting, sangat penting!"
"Dih, lagi marah masih sempat-sempatnya manggil sayang!"
"Suka-suka Mas dong, mulut-mulut Mas ko."
__ADS_1
"Hahahaha! Mas benar-benar menggemaskan, akhirnya aku bisa melihat Mas cemburu kayak gini. Aku pikir Mas gak akan pernah merasa cemburu melihat aku jalan sama siapapun." Tawa Cinta terdengar nyaring.
"Pokoknya, mulai besok Mas bakalan antar jemput kamu ke kampus. Selesai ngampus, kamu harus langsung pulang. Gak ada yang namanya keluar sama teman-teman kamu yang gak jelas itu. Apa lagi kalau sampai jalan sama si Soni!"
"Hah? Ko gitu? Ya gak bisa dong. Ko Mas jadi kayak gini sih?"
"Kenapa gak bisa? Kemarin aja kamu marah-marah karena Mas terlalu membebaskan kamu. Sekarang kamu merasa heran, terheran-heran karena Mas mulai membatasi pergaulan kamu. Sebenarnya mau kamu itu apa sih, sayang?!"
"Hehehehe! Mas gemesin!"
"Dih? Gak usah ngelawak ya. Masa orang lagi marah di bilang ngegemesin? Ngaco!"
"Sayang! Mas Arka Wijaya suaminya aku, tadi katanya Mas kurang enak badan 'kan? Bagaimana kalau kita bobo aja?"
"Bukan kurang enak badan, taoi kurang enak hati!"
"Ya udah, dari pada marah-marah kayak gini, mendingan kita bobo! Aku ngantuk," rengek Cinta dengan nada suara manja.
'Sial, nyesel deh ngajakin Mas Arka ke Klub tadi. Jadi over protektif gini 'kan?' (batin Cinta).
"Kamu suka 'kan Mas over protektif kayak gini?"
"Iya, sayang iya. Aku akan turutin semua yang Om Arka katakan. Aku 'kan istri yang baik."
"Om Arka?" Arka sontak membulatkan bola matanya.
"Hahahaha! Sekali-kali boleh dong manggil Mas dengan sebutan Om? Mas 'kan emang Om-Om!" celetuk Cinta seketika berlari dan segera di kejar oleh suaminya.
__ADS_1
"Hah? Kamu bilang apa tadi? Om-om? Dasar nakal ya, sini kamu!"
Kejar-kerjaran layaknya anak kecil pun seketika terjadi. Diiringi dengan gelak tawa juga perasaan bahagia. Amarah keduanya yang sempat meledak-ledak pun seketika menghilang. Sampai akhirnya, tubuh Cinta pun berhasil di rengkuh dan di peluk dengan begitu eratnya kini.
"Kena kamu! Mau lari kemana lagi kamu, hah? Enak aja suami sendiri di bilang Om-Om!" decak Arka mengecup tengkuk istrinya mesra.
"Hahahaha! Emang kenyataannya kayak gitu, Mas emang Om-Om ko."
"Iya-iya Mas emang Om-Om. Sugar Daddy, apalagi namanya?"
"Entahlah, aku juga gak tahu, Om!" Cinta lagi-lagi meledek.
"Astaga, Cinta Puspita Sari!"
"Sari?! Di bilangin gak ada sarinya, namaku Cinta Puspita aja, Mas Arka Wijaya."
"O ya? Hahahaha!"
"Lepasin aku, Om Arka. Perut aku engap Om. Sumpah!"
"Gak, Mas gak bakalan lepasin kamu sebelum--" Arka seketika menahan ucapannya ketika, melihat sang Istri tiba-tiba saja menutupi mulutnya menggunakan telapak tangan.
"Huek!" Cinta secara tiba-tiba membuat Arka sontak, melepaskan lingkaran tangannya.
"Kamu kenapa, sayang? Kamu masuk angin?" Tanya Arka merasa khawatir.
"Gak tau, Mas. Tiba-tiba saja aku merasa mual. Huek ... Huek ... Huek ..." Cinta pun sontak berlari ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...