
"Apa maksud ibu? Apa ayah aku datang untuk menjemput aku sini?'' tanya Cinta tersenyum lebar.
"Kita bicara di dalam," jawab sang ibu kemudian.
Mereka bertiga pun akhirnya masuk ke dalam gedung 2 lantai dimana tempat itu di huni oleh lebih dari 100 orang anak-anak di dalamnya. Ibu Fatimah membawa mereka ke dalam kantornya.
Ceklek!
Pintu ruangan pun di buka, dan mereka bertiga masuk ke dalamnya kemudian.
"Silahkan duduk," pinta Nyonya Fatimah dan segera di turuti oleh Arka dan juga Cinta. Keduanya pun duduk saling berdampingan kini begitu pun dengan Nyonya Fatimah.
"Jadi begini, beberapa hari yang lalu, ayahmu benar-benar datang kemari. Dia mencari kamu, Cinta," ucap Nyonya Fatimah memulai pembicaraan.
"Ibu serius? Ayah datang ke sini untuk mencari aku? Ya Tuhan, kenapa waktunya tidak pas seperti ini? Kenapa ayah datang ke sini di saat aku sudah tidak ada di sini?'' Cinta mengusap wajahnya kasar.
"Andai saja ada nomor yang bisa ibu hubungi, mungkin ibu sudah menghubungi kamu saat itu juga. Tapi karena kamu tidak punya ponsel, ibu merasa kesulitan untuk menghubungi kamu, sayang."
"Apa ayah bilang dia tinggal dimana? Biar aku sama Mas Arka bisa mendatangi rumah ayah.''
"Sayangnya beliau tidak mengatakan dimana alamat rumahnya. Ayah kamu bilang bahwa dia akan mencari kamu ke kota."
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?''
Arka hanya bisa mengusap punggung Cinta mencoba untuk menenangkan. Dia pun menatap wajah gadis itu lekat.
"Kamu tidak usah khawatir, Cinta. Ayah kamu pasti bisa di ketemukan. Apa kamu lupa bahwa kita sudah menyewa detektif untuk mencari ayahmu?" imbuh Arka kemudian.
"Tapi, Mas Arka. Bagaimana kalau--" Cinta tidak meneruskan ucapannya.
__ADS_1
"Hey ... Percaya sama Mas, ayah kamu pasti baik-baik saja. Setelah kita pulang ke kota, Mas akan bertemu dengan detektif yang Mas sewa itu. Jadi, kamu tenang ya.''
Cinta menganggukkan kepalanya seraya mengusap wajahnya kasar.
"Iya, Cinta. Apa yang diucapkan oleh Nak Arka benar. Ayah kamu pasti baik-baik saja, ibu lihat kemarin dia sehat dan baik-baik saja." Tambah ibu Fatimah juga mencoba untuk menenangkan.
Cinta lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya. Seharusnya dia tidak pergi meninggalkan panti. Seharusnya dia bersabar sebentar lagi sampai sang ayah benar-benar datang menjemputnya di sana. Jika saja dia melakukan hal itu, mungkin dirinya sudah benar-benar bertemu dengan sang ayah.
"Lebih baik sekarang kalian istirahat saja dulu. Kalian berdua pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh," pinta ibu Fatimah kemudian.
"Baik, Bu. Kami permisi dulu, aku akan membawa Mas Arka untuk berkeliling.''
Ibu Fatimah menganggukkan kepalanya, tersenyum menatap wajah Cinta dan juga Arka secara bergantian. Keduanya pun keluar dari dalam ruangan tersebut kemudian. Cinta membawa Arka berkeliling panti asuhan. Dia pun memperlihatkan kamar yang pernah dia huni ketika dirinya masih tinggal di panti asuhan tersebut.
"Ini kamar aku, Mas,'' ucap Cinta masuk ke dalam kamar dimana beberapa buah ranjang bertingkat berada di dalamnya.
"O ya? Kamu tidur setiap hari di sini?"
Arka menatap sekeliling kamar. Kamar itu memang terlihat kosong, karena penghuninya sedang beraktifitas di luar. Dia tidak bisa membayangkan betapa sesaknya harus berbagi kamar sekecil ini dengan beberapa orang.
Lagi-lagi dia pun merasa iba. Rasa syukur pun dia panjatkan karena dirinya dilahirkan dari kedua orang tua berada. Tidak seperti mereka yang kurang beruntung yang harus tinggal di panti asuhan bahkan sebagian dari mereka tidak tahu siapa orang tua mereka.
"Mas Arka pasti lelah. Bagaimana kalau kita ke atap?"
"Ke atap?"
"Iya, dari atap kita bisa melihat pemandangan yang sangat indah. Sekalian aku juga mau menagih janji Mas yang katanya akan mengajarkan aku cara menggunakan ponsel ini," jawab Cinta meraih ponsel yang dia simpan di dalam saku celananya.
"O iya Mas sampai lupa. Oke, Mas akan ajarkan kamu cara menggunakan ponsel itu sekarang juga."
__ADS_1
Keduanya pun berjalan keluar dari dalam kamar tersebut menuju atap.
* * *
Setelah beristirahat dan juga mengajarkan Cinta bagaimana caranya mengoperasikan ponsel canggih miliknya, kini tiba saatnya mereka berdua kembali ke kota besar. Hal itu terpaksa mereka lakukan karena Arka harus masuk kantor besok harinya.
Dengan berat hati, Cinta pun harus kembali berpisah dengan ibu Fatimah dan saudara-saudaranya yang lain. Mereka pun berpamitan penuh rasa haru. Cinta nampak memeluk tubuh ibu Fatimah erat, merasa berat sebenarnya.
"Kamu baik-baik di kota ya, ibu doakan semoga kamu segera bertemu dengan ayah kamu," pesan ibu mengusap punggung Cinta lembut penuh kasih sayang.
"Amin Bu, semoga saja. O iya, aku juga sudah memiliki ponsel sekarang. Mas Arka yang membelikannya, kalau suatu saat nanti ayah kembali lagi ke sini, ibu segera hubungi aku di nomor ini ya,'' pinta Cinta, mulai mengurai pelukan lalu menyerahkan secarik kertas berisi nomor ponsel miliknya.
"Baik, sayang. Ibu pasti akan segera menghubungi kamu jika ayah kamu kembali lagi ke sini.''
Ibu pun mengalihkan pandangannya kepada Arka, dia meraih pergelangan tangannya lalu mengusap punggung tangannya lembut dan penuh kasih sayang.
"Ibu benar-benar berterima kasih karena Nak Arka sudah mau membantu Cinta. Pesan ibu, tolong jaga Cinta dengan baik. Dia adalah gadis yang sangat baik, ibu mohon sekali sama kamu, jaga putri ibu yang cantik ini,'' pesan ibu Fatimah penuh harap.
"Iya, Bu. Saya pasti akan menjaga Cinta dengan baik. Saya sudah menganggap dia seperti adik saya sendiri, ibu tidak usah khawatir. Saya akan mengingat pesan ibu," jawab Arka penuh keyakinan.
"Kalian hati-hati dia jalan. Jangan lupa untuk sering-sering datang kemari, ibu pasti akan merindukan kamu, sayang."
"Iya Bu, kami pergi dulu."
Cinta dan juga Arka masuk ke dalam mobil. Seluruh anak-anak penghuni panti asuhan pun nampak mengantarkan kepergian saudara mereka dengan perasaan haru dan juga berat sebenarnya. Namun, jauh di lubuk hati mereka yang paling dalam, mereka merasa bahagia karena Cinta bisa bertemu dengan orang sebaik Arka.
Perlahan, mobil pun mulai melaju pelan. Sampai akhirnya melesat di jalanan meninggalkan tempat tersebut. Semua anak-anak yang berada di sana pun melambaikan tangannya seraya mengucapkan salam perpisahan.
"Selamat jalan kak Cinta. Hati-hati di jalan. Jangan lupa kunjungi kami lagi di sini."
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...