Cinta Untuk Cinta

Cinta Untuk Cinta
Kuliah


__ADS_3

Perlahan, Cinta mulai keluar dari dalam kolam. Meksipun dirinya tidak memakai pakaian renang, tapi pakaian yang dikenakan oleh gadis itu sudah cukup untuk memperlihatkan lekuk tubuhnya apalagi dalam keadaan basah seperti ini.


Glegek!


Arka seketika menelan ludahnya kasar. Tubuh Cinta benar-benar terlihat jelas dari pantulan kaca jendela yang memang berada tidak jauh dari hadapannya kini. Meskipun tidak memperlihatkan bagian dalam tubuh gadis itu, tapi tetap saja lubuh langsing Cinta terlihat begitu menggiurkan lengkap dengan belahan dada yang terekspos sempurna.


Gadis itu pun segera memakai kimono handuk hingga tubuhnya benar-benar tertutup sempurna. Setelah itu, barulah Arka berbalik dan bersikap biasa saja. Dirinya pun mencoba untuk menahan rasa aneh di dalam jiwanya kini. Walau bagaimanapun gadis ingin sudah dia anggap sebagai adik sendiri, hal yang mustahil jika dia harus jatuh hati kepada gadis bernama Cinta.


"Mas Arka mau ke kantor?" tanya Cinta membuyarkan lamunan panjang seorang Arka tentu saja.


"Eu ... Iya, sebentar lagi saya berangkat."


"Hmm ... Apa Mas sudah dapat kabar dari detektif itu?"


"Belum, Cin. Saya akan memanggil dia ke kantor siang ini. O iya, kalau kamu merasa bosan di rumah, kamu bisa datang ke kantor saya."


"Gimana caranya? Aku 'kan gak tau kantornya Mas dimana?"


"Ya kamu tinggal nelpon saya, nanti saya kirimkan supir ke sini buat ngemput kamu ke sini, oke?"


"Emangnya Mas punya supir?"


"Punya dong, pokoknya kamu tinggal bilang saja sama Mas jika kamu merasa bosan, oke?"


"Baiklah kalau begitu."


"Saya masuk dulu, kamu jangan lupa bersih-bersih. Jangan berenang terlalu lama.''


Cinta menganggukkan kepalanya seraya tersenyum begitu manisnya. Senyuman yang membuat hati seorang Arka merasa berdebar sebenarnya. Dia pun mengusap dada sebelah kirinya, entah mengapa jantungnya terasa berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Ya udah, Mas masuk dulu," pamit Arka kemudian. Dia pun berbalik lalu benar-benar meninggalkan Cinta sendirian di tempat itu.


"Baik, Mas. Hati-hati di jalan," jawab Cinta melambaikan tangannya kemudian.


* * *


Hari berganti dan waktu berlalu, satu bulan sudah Cinta tinggal bersama Arka. Namun, sampai saat ini dia sama sekali belum mendapatkan titik terang perihal keberadaan sang ayah. Jika boleh berkata jujur, gadis itu mulai merasa putus asa sebenarnya.

__ADS_1


Cinta nampak sedang berbaring di tempat tidurnya. Sudah seharian Ini dia melakukan hal itu sebenarnya. Dirinya benar-benar malas melakukan apapun, jenuh dan bosan, itulah yang dirasakan oleh Cinta saat ini. Sampai akhirnya pintu kamarnya pun di ketuk, juga terdengar suara Arka memanggil dari luar sana.


"Cinta, ini saya. Boleh saya masuk?" Tanya Arka dari luar sana.


"Masuk saja Mas."


Ceklek!


Pintu pun di buka, Arka masuk ke dalam kamar kemudian. Laki-laki itu nampak masih memakai stelan jas berwarna hitam. Arka berjalan menghampiri lalu duduk tepat di tepi ranjang.


"Apa kamu baik-baik saja? Kata bibi, seharian ini kamu di kamar terus?" tanya Arka kemudian.


"Aku bosan, Mas. Rasanya jenuh sekali seharian di rumah terus tanpa melakukan apapun," jawab Cinta mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa.


"Hmm ... Saya yakin bukan hanya karena itu kamu seperti ini. Apa kamu masih memikirkan ayah kamu yang sampai saat ini belum diketemukan?"


Cinta seketika terdiam lalu menundukkan kepalanya. Ya ... Dia akui bahwa dirinya memang merasa kecewa karena sang ayah masih belum diketahuinya keberadaannya sampai detik ini. Padahal satu bulan telah berlalu, gadis itu hanya merasa takut bahwa dia tidak akan pernah bertemu dengan sang ayah untuk selama-lamanya.


"Kalau sampai aku gak bisa ketemu selamanya dengan ayah gimana, Mas?" tanya Cinta mengusap wajahnya kasar.


"Tapi ini sudah satu bulan lho, Mas? Kalau ayah keburu meninggal gimana?"


"Astaga, Cinta. Saya baru saja bilang sama kamu, bahwa ucapan itu adalah doa. Jangan mengatakan hal seperti itu, ayah kamu pasti ketemu. Atau gini aja, bagaimana kalau kamu Mas daftarkan kuliah di salah satu Universitas di kota ini, mau?"


"Hah? Mas serius? Aku boleh kuliah?"


"Tentu saja serius, sebentar lagi tahun ajaran baru akan segera di mulai. Kalau kamu mau, besok kita datangi Universitas terbaik di kota ini dan kamu akan Mas daftrakan di sana."


"Sebenarnya sih aku mau, tapi--"


"Tapi apa?"


"Aku udah banyak nyusahin Mas Arka. Aku tinggal di sini secara gratis, aku gak mau nyusahin Mas terus. Biaya kuliah 'kan mahal, Mas."


"Astaga, Cinta. Ngomong apa sih kamu? Mas 'kan kakak kamu, mana mungkin Mas merasa direpotkan? Lagi pula, kalau kamu sudah lulus nanti, kamu bisa bekerja di kantor Mas lho."


"Tapi tetap saja, Mas. Butuh uang puluhan juta untuk daftar kuliah," lirih Cinta seketika menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa kamu lupa Mas Arkamu ini punya banyak uang?"


Cinta diam seraya memainkan ujung kuku jari jempolnya. Meskipun dia telah di angkat sebagai adik oleh Arka Wijaya yang merupakan salah satu pengusaha kaya raya dengan kekayaan yang melimpah, yang konon katanya tidak akan habis selama 7 turunan, tapi tetap saja, adik angkat berbeda dengan adik kandung. Mereka tetap saja tidak memiliki hubungan dadah apapun.


"Sudah jangan banyak mikir lagi, besok Mas akan daftarkan kamu ke Universitas, oke?"


Cinta pun akhirnya menganggukkan kepalanya dan tersenyum juga pada akhirnya.


"Sekarang kita makan malam dulu, kata bibi kamu juga belum makan dari pagi lho."


Cinta kembali menganggukkan kepalanya. Dia pun turun dari atas ranjang dan berjalan keluar dari dalam kamar bersama Arka tentunya.


* * *


Keesokan harinya.


Arka benar-benar akan mendaftarkan Cinta ke sebuah Universitas terbaik di kotanya. Mereka berdua nampak sudah berada di di Universitas tersebut saat Ini. Cinta berjalan bersama Arka. Matanya nampak menatap sekeliling gedung 4 lantai dimana akan menjadi tempatnya menuntut ilmu.


Bagai sebuah mimpi baginya. Dirinya sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan berkuliah. Senyuman pun nampak mengembang sempurna dari gadis berusia 18 tahun tersebut.


"Tunggu, Mas," pinta Cinta saat dirinya dan Arka hendak memasuki ruangan kantor pendaftaran untuk calon mahasiswa baru.


"Ada apa, Cinta?"


"Eu ... Aku gugup, Mas Arka."


"Kenapa harus gugup segala?"


"Aku sama sekali tidak pernah berfikir bahwa aku akan berkuliah. Membayangkannya saja aku gak pernah, Mas."


"Hahahaha! Cinta, adiknya Mas yang baik hati. Ini bukan mimpi, ini nyata. Mas akan mewujudkan satu-persatu mimpi kamu mulai sekarang. Jadi, sekarang kita masuk ya."


'Karena Mas sayang sama kamu, Cinta. Entah sejak kapan perasaan ini hadir, yang jelas, kamu telah mengajarkan banyak hal sama Mas. Mas benar-benar kagum sama kamu Cinta,' (batin Arka).


BERSAMBUNG


...****************...

__ADS_1


__ADS_2