Cinta Untuk Cinta

Cinta Untuk Cinta
Menunda Malam Pertama


__ADS_3

Cinta seketika menoleh dan menatap wajah Arka Wijaya, laki-laki yang telah sah menyandang status suaminya kini. Ternyata itu sebabnya dia membantu dirinya dalam mencari sosok sang ayah sampai ayahnya itu berhasil di ketemukan.


"Selama ini Mas hanya hidup sendirian? Di rumah besar ini, tanpa siapapun?" tanya Cinta ingin sekali mengobati rasa penasarannya.


"Seperti itulah hidup yang saya jalani selama ini, Cinta. Kamu masih beruntung karena memiliki ibu panti, teman-teman di panti asuhan. Setidaknya kamu tidak merasa kesepian seperti saya."


Cinta semakin lekat dalam menatap wajah Arka kini. Betapa laki-laki dewasa itu terlihat begitu tegar. Dia sempat berfikir bahwa dirinyalah orang yang paling tidak beruntung di dunia ini, tapi ternyata semua itu salah, ada orang lain lagi yang memiliki jalan hidup yang lebih pahit darinya, bahkan ketika memiliki harta yang melimpah sekalipun, hidup seorang Arka Wijaya begitu mengenaskan ternyata.


"Aku kagum sama, Mas. Mas Arka bisa sukses dengan hanya hidup sendirian."


"Kata siapa Mas sukses? Mas hanya meneruskan apa yang sudah di mulai oleh orang tua Mas. Mas tidak pernah merasakan yang namanya memulai sesuatu dari 0. Semua yang Mas Miliki ini adalah kepunyaan mendiang orang tua Mas."


"Tapi tetap saja, Mas hebat. Mas berhasil meneruskan perusahaan yang di titipkan oleh kedua orang tua Mas. Mas juga bisa menjaga harta yang peninggalan mendiang dengan baik."


Arka hanya tersenyum kecil. Dia pun menoleh dan menatap wajah Cinta yang saat ini sedang menatap intens wajahnya. Tatapan mata keduanya pun seketika bertemu, sejenak saling menatap satu sama lain, sampai akhirnya keduanya pun memalingkan wajah dan menatap ke arah lain kemudian.


"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur, Cinta. Kamu pasti merasa lelah," pinta Arka memecah kebekuan.


"Mas Arka juga tidur. Kalau Mas ada waktu, bawa aku untuk berziarah ke makam kedua orang tuanya Mas."


"Kamu mau kalau Mas ajak ke sana?"


"Kenapa tidak? Kenalkan aku sebagai menantu mereka."


Arka seketika menahan senyumannya. Hatinya pun merasa berbunga-bunga. Hanya mendengar istrinya mengatakan hal itu saja, entah mengapa membuat hati seorang Arka merasa bahagia.


"Pasti, saya pasti akan membawa ke kamu ke sana dan mengenalkan kamu sebagai istri saya kepada mereka. Andai saja mereka masih hidup, mungkin kedua orang tuanya Mas itu akan merasa sangat bahagia karena memiliki menantu yang sangat baik seperti kamu, Cinta."

__ADS_1


Kali ini, giliran Cinta yang harus menahan senyuman di bibirnya. Rasanya seperti mimpi, di usianya yang masih sangat muda dia telah memiliki seorang suami. Apalagi suami yang baik hati dan pengertian seperti Mas Arkanya ini.


Meskipun Cinta tidak memiliki perasaan yang sama dengan sang suami, tapi jauh di dalam lubuk hati seorang Cinta, dia berharap dirinya akan bisa mencintai suaminya seperti dia mencintainya saat ini.


Keduanya pun seketika memejamkan kedua matanya kini. Malam pertama yang dilewati oleh sepasang pengantin baru itu benar-benar berbeda dengan malam-malam pertama yang biasanya di lakukan oleh pasangan pengantin baru di luaran sana, karena keduanya sepakat untuk tidur terpisah tanpa melakukan apapun.


Tidak ada peluh dan keringat, tidak ada suara des*han, tidak ada pelepasan yang lumrah di rasakan oleh sepasang pengantin baru. Bagi Arka, ia hanya akan menyentuh istrinya apabila Cinta sudah merasa siap. Dia pun akan menahan hasr*tnya sebisa mungkin sampai saat itu tiba.


Saat dimana Cinta sang istri datang dengan sendirinya, untuk menyerahkan kesuciannya dan mereka melakukan hubungan suami istri atas dasar cinta dan suka sama suka tentu saja.


"Selamat tidur, Mas," ucap Cinta secara tiba-tiba.


"Selamat tidur juga, Cinta," jawab Arka tersenyum kecil seraya memejamkan kedua matanya kini.


* * *


Satu minggu kemudian.


"Ayah, ini aku. Apa ayah sudah bangun?" tanya Cinta mengetuk pintu kamar dimana ayahnya berada.


Berkali-kali dirinya mengetuk pintu tersebut, dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban apa pun. Akhirnya, Cinta memutuskan untuk membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam sana.


"Ayah? Hari ini kita akan ke Rumah Sakit, ayah akan melakukan cuci darah," ucap Cinta berjalan menghampiri.


Ardi Handoko nampak seperti tertidur lelap. Wajahnya benar-benar terlihat pucat pasi, raut wajahnya terlihat begitu tenang. Bibirnya bahkan sedikit tersenyum. Namun, ada yang aneh dengan tubuh sang ayah. Dada Ardi nampak tidak terlihat naik turun, napasnya seperti tertahan. Lebih tepatnya seperti tidak bernapas sama sekali.


"Ayah?" Cinta mencoba untuk membangunkan ayahnya.

__ADS_1


Dia bahkan mengguncangkan tubuh sang ayah kasar, sampai akhirnya pergelangan tangan laki-laki paruh baya itu seketika terkulai lemas tepat di samping tubuhnya kini. Sontak, Cinta meletakan kedua telapak tangannya di kedua sisi rahang sang ayah kini.


"Ayah bangun Yah. Ayah kenapa? Bangun, yah. Kita akan ke Rumah Sakit sekarang juga. Aku mohon bangun, hiks hiks hiks!" tangis Cinta seketika pecah.


Tangisan yang semula dia tahan pun seketika terdengar menggelegar juga memekikkan telinga. Hal itu membuat Arka yang saat ini berada di luar kamar pun seketika segera berlari masuk ke dalamnya dengan perasaan khawatir.


"Sayang, ayah kenapa?" tanya Arka kemudian.


Dia menatap wajah ayah mertuanya lekat. Suami dari Cinta Puspita itu pun memeriksa detak jantung, dan juga denyut nadinya memastikan bahwa apa yang dia pikirkan adalah salah. Arka berharap bahwa ayah mertuanya itu masih hidup.


Akan tetapi, apa yang dia harapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang berada di depan matanya kini. Ayah mertuanya itu benar-benar telah menghadap ilahi. Dia pun menelungkupkan kedua tangan sang ayah di atas perutnya kemudian.


"Tidak, Mas. Jangan seperti ini? Kita harus segera membawa ayah ke Rumah Sakit, dia harus segera melakukan cuci darah. Aku takut kalau nyawa ayah tidak akan tertolong lagi cepat, Mas. Bawa Ayah ke Rumah Sakit sekarang juga!" Cinta seketika berteriak histeris.


"Ayah sudah tidak ada Cinta. Beliau sudah--"


"Tidak, jangan mengatakan hal itu. Ayah pasti masih hidup. Bangun, Yah. Bangun ... Aku mohon ayah bangun! Hiks hiks hiks!" teriak Cinta menggoyangkan tubuh sang ayah kasar. Tangisnya semakin terdengar menggelegar memekikkan telinga.


Grep!


Arka segera memeluk tubuh istirnya erat, mencoba untuk menenangkan sang istri meskipun hatinya pun merasa sangat terluka sebenarnya. Buliran air mata mengalir dengan begitu derasnya dari pelupuk mata seorang arka.


Betapa dia sangat kehilangan sosok seorang Ardi sebenarnya. Dari laki-laki ini, akhirnya Arka bisa merasakan kasih sayang seorang ayah, tapi ternyata Tuhan tidak memberikan umur yang panjang kepada ayah mertuanya ini.


"Kamu yang sabar Cinta. Ayah sudah tenang di alam sana. Beliau sudah tidak merasa kesakitan lagi mulai sekarang. Selama ini ayah tersiksa dengan rasa sakit yang teramat sangat. Mungkin Tuhan lebih menyayangi beliau dan mengakhiri penderitaan yang selama ini dirasakan oleh ayah," lirih Arka menahan rasa sesak di dadanya. Dia harus kuat dalam menghadapi semua ini, karena ada sang istri yang membutuhkan dukungan darinya.


Meskipun hati seorang Arka benar-benar merasa hancur sehancur-hancurnya. Ardi Handoko sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri.

__ADS_1


"AYAAAAAAH!" teriakan Cinta kembali terdengar memekikkan telinga.


...****************...


__ADS_2