
30 menit kemudian Arka pun kembali dengan membawa kotak makanan, juga roti yang di pesan oleh Ardi calon ayah mertuanya. Wajah Arka terlihat ramah tapi tidak dengan Cinta.
Meskipun Arka adalah laki-laki yang baik dan telah dia anggap seperti malaikat penolong, tapi tetap saja dirinya sama sekali tidak mencintai laki-laki itu. Dia menyayangi Arka, tapi sebatas kakak tidak lebih dari itu. Namun, dia akan tetap menikahi Arka demi memenuhi keinginan sang ayah tercinta.
"Wah .... Banyak sekali yang kamu bawa, Arka?" tanya Ardi menatap berbagai macam makanan di atas meja.
"Iya, Om. Saya sengaja membawa camilan kecil juga untuk Cinta," jawab Arka masih tersenyum ramah.
"Hmm ... Baik sekali calon menantu Om ini. Mana rotinya, Om benar-benar sudah kelaparan ini."
Arka segera memberikan apa yang dipintakan oleh Ardi. Dia pun membuka bungkusnya dan membantunya memakan roti tersebut.
"Sayang, kamu juga makan dulu. Ayah tahu, pasti kamu juga belum makan apapun 'kan?" tanya Ardi menatap wajah Cinta yang saat ini memasang wajah datar.
"Baik, ayah. Aku akan makan," jawabnya singkat.
"Saya bawakan makanan kesukaan kamu, Cinta. Makan yang banyak ya."
Cinta hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah datar. Sebenarnya, Arka merasakan sesuatu yang berbeda dengan sikap Cinta. Wajahnya terlihat muram. Kehadirannya di tempat itu pun seperti tidak di harapkan. Namun, Arka tidak akan terlalu mempermasalahkan hal itu.
Mereka bertiga pun memakan makanan masing-masing tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi. Benar-benar tanpa sepatah kata pun seperti sedang khusyuk dalam menikmati makanan yang sedang mereka santap.
"Wah, rotinya enak juga ternyata. Ayah benar-benar kenyang," ujar Ardi memecah keheningan, senyuman lebar pun nampak mengembang dari kedua sisi bibirnya kini.
Akan tetapi, senyuman itu seketika lenyap. Wajah Ardi terlihat menahan rasa sakit. Laki-laki paruh baya itu tiba-tiba saja terkulai lemas dengan tubuh yang gemetar. Bola mata Ardi pun nampak terbalik dengan busa berwarna putih yang tiba-tiba saja keluar dari dalam mulutnya kini.
Sontak, hal tersebut membuat Arka dan Cinta merasa terkejut tentu saja. Keduanya segera menghampiri Ardi dengan perasaan khawatir.
"Ayah! Ayah kenapa? Ya Tuhan. Mas ayah kenapa Mas? Kenapa dia tiba-tiba saja seperti ini. Ayah, hiks hiks hiks!" tangis Cinta seketika pecah.
__ADS_1
"Kamu tunggu sebentar, saya akan panggilkan Dokter," ujar Arka, dia pun segera berlari keluar dari dalam ruangan tersebut.
Tidak lama kemudian, Arka kembali bersama Dokter dan beberapa orang perawat. Dokter meminta kepada Cinta dan juga Arka untuk keluar dari dalam ruangan, agar mereka bisa dengan leluasa memeriksa keadaan pasien bernama Ardi tersebut.
Mau tidak mau, keduanya pun hanya bisa menunggu di luar ruangan dengan perasaan khawatir. Cinta bahkan tidak berhenti menangis, dirinya benar-benar takut sesuatu yang buruk akan menimpa sang ayah tercinta.
"Bagaimana ini, Mas? Kalau ayah sampai meninggal bagaimana? Hiks hiks hiks!" tanya Cinta berlinang air mata.
"Sayang, percaya sama Mas. Dokter akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Om Ardi. Besok kita akan segera membawa beliau ke kota. Kalau perlu sekarang juga kita rujuk ke Rumah Sakit di sama. Kamu tenang dulu ya," lirih Arka mencoba untuk menenangkan.
"Tenang gimana? Mas gak lihat kondisi ayah tadi? Aku benar-benar takut, Mas. Hiks hiks hiks!"
Arka seketika memeluk tubuh Cinta. Dia pun mengusap kepalanya lembut dan penuh kasih sayang. Dirinya tidak bisa mengatakan apapun lagi, karena jauh di lubuk hati Arka yang paling dalam, dirinya sama sekali tidak merasa yakin dengan apa yang baru saja dia ucapkan.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan pun di buka lebar. Dokter dan perawat membawa Ardi keluar dari dalam kamar rawat inap, dengan mendorong ranjang dimana sang ayah berbaring di atasnya.
"Mau di bawa ke mana ayah saya, Dokter?" tanya Cinta segera berdiri menghampiri.
Seketika itu juga, baik Cinta mau pun Arka segera mengikuti Dokter tersebut. Akan tetapi, keduanya pun tidak bisa melakukan apapun lagi ketika Ardi masuk ke dalam ruangan lain. Lagi-lagi, Cinta hanya bisa menunggu di luar ruangan dengan perasaan khawatir.
"Ya Tuhan selamatkan'lah ayah, izinkan aku untuk bersama dia sebentar lagi. Jangan ambil nyawanya sekarang, Tuhan," lirih Cinta memanjatkan doa.
Arka hanya bisa mengusap punggung gadis itu lembut. Dirinya sama sekali tidak bisa mengatakan apapun lagi. Walau bagaimanapun tidak ada yang bisa mendahului Tuhan. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, selebihnya Tuhanlah yang menentukan.
Sejenak, Cinta pun mengingat pesan sang ayah yang memintanya untuk menikah dengan Arka. Gadis itu seketika menoleh dan menatap wajah Arka kini. Tatapan matanya nampak sayu, dia akan memberikan jawaban atas pernyataan cinta Arka kepadanya.
"Aku bersedia menikah dengan kamu, Mas," ucap Cinta secara tiba-tiba, membuat Arka merasa terkejut tentu saja, karena dia pikir waktunya tidak tepat jika harus membicarakan hal itu sekarang.
"Apa? Kamu bilang apa tadi?" Arka merasa tidak percaya.
__ADS_1
"Mari kita menikah secepatnya. Kalau perlu jangan menunggu sampai ayah sembuh dulu. Kita lakukan di depan ayah."
"Kamu yakin ingin kita menikah secepatnya tanpa menunggu ayah kamu sembuh dulu?"
Cinta menganggukkan kepalanya samar.
"Sayang? Kamu--"
"Aku hanya ingin melihat ayah bahagia sekali saja. Beliau ingin melihat aku menikah dan memiliki suami yang baik seperti Mas Arka. Menurut ayah, Mas adalah suami yang tepat untuk aku, tapi maaf--" Cinta seketika menghentikan ucapannya.
"Maaf kenapa, Cinta?"
"Sebelumnya aku minta maaf, bagiku Mas tetaplah seorang kakak yang baik untukku. Perasaan aku juga tidak lebih dari itu. Mas adalah malaikat penolong bagiku, Mas adalah laki-laki yang sangat baik. Aku sayang sama Mas, tapi hanya sebagai kaka. Sekali lagi maafkan aku, Mas. Aku harap Mas mengerti," lirih Cinta seketika menundukkan kepalannya.
Dia tidak ingin membohongi Arka dan berpura-pura mencintai laki-laki itu. Dirinya pun ingin jujur dari awal sebelum keduanya benar-benar melangkah ke jenjang pernikahan.
"Tidak apa-apa, Cinta. Apa kamu pernah mendengar istilah yang mengatakan bahwa, cinta akan datang seiringan dengan waktu? Seperti itu juga yang akan terjadi nanti. Mas yakin rasa cinta itu akan datang dengan sendirinya setelah kita menjadi suami istri nanti," jawab Arka, meskipun ada rasa kecewa di dalam hatinya sebenarnya.
"Mas yakin akan baik-baik saja menjalani pernikahan tanpa adanya rasa cinta?"
Arka menganggukkan kepalanya penuh keyakinan. Seyakin hatinya bahwa gadis ini akan jatuh cinta juga kepada dirinya, setelah mereka sah menjadi suami istri kelak.
"Mas tidak masalah Kamu tidak mencintai Mas. Satu hal yang pasti, Mas mencintai kamu dan perasaan Mas ini tulus. Jadi, mari kita menikah secepatnya."
Cinta menganggukkan kepalanya. Dia akan melakukan apapun demi kebahagiaan ayahnya tercinta. Satu hal yang pasti, ayahnya tidak akan salah dalam memilihkan calon suaminya untuknya.
Jauh di dalam lubuk hati Cinta yang paling dalam, dirinya berharap bahwa rasa cinta akan tubuh nantinya. Dia pun akan berusaha untuk mencintai Arka mulai saat ini.
'Semoga yang Mas katakan benar bahwa, rasa cinta itu akan datang seiringan dengan waktu,' (batin Cinta).
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...