Cinta Untuk Cinta

Cinta Untuk Cinta
Cuek


__ADS_3

"Hah?"


Arka seketika mengerutkan kening, istrinya ini tiba-tiba saja marah, dengan emosi yang meledak-ledak tanpa sebabnya yang jelas menurutnya. Suami dari wanita bernama Cinta Puspita itu pun mencoba untuk menelaah, apa ada yang salah dengan ucapannya?


"Kenapa Mas diam saja? Aku mulai meragukan cintanya Mas lho, selama kita menikah 1 tahun ini, aku sama sekali tidak pernah melihat Mas cemburu!" Cinta semakin menaikan suaranya.


"Ada apa sama kamu, sayang? Kenapa kamu tiba-tiba saja marah kayak gini? apa ada yang salah dengan ucapan Mas tadi?" tanya Arka dengan nada suara lembut.


"Seharusnya aku yang bertanya sama Mas, ada apa sama Mas? Apa Mas sungguh mencintai aku istrinya Mas? Kenapa Mas selalu mengizinkan aku pergi kemanapun? bahkan pergi dengan laki-laki sekali pun. Apa Mas gak takut kalau aku akan berselingkuh dengan salah satu dari mereka?"


"Teman-teman aku itu lebih muda dan lebih tampan dari Mas lho. Mas gak takut gitu kalau salah satu dari teman aku itu naksir aku? Suami macam apa Mas ini?" teriak Cinta memuntahkan kekesalan yang selama ini dia pendam.


"Hah? Hahahaha! Jadi karena itu kamu marah-marah gak jelas kayak gini?" Arka seketika tertawa ringan.


"Ko malah ketawa kayak gitu? Memangnya aku lucu apa?"


Arka seketika bangkit lalu berjalan menghampiri istrinya. Dia pun mencubit kedua sisi pipi cabi sang Istri seraya tersenyum lucu. Wajah Cinta semakin menggemaskan apabila sedang dalam keadaan marah seperti itu.


"Kamu benar-benar menggemaskan, sayang! Hiiih! Berasa pengen Mas telan bulat-bulat deh!"


"Dih!"


"Begini, sayang. Cinta Puspita sari! Mas--"


"Puspita aja, gak pake 'sari' segala. Nah 'kan nama istri sendiri aja sampai lupa, gimana sih?" sela Cinta mengerucutkan bibirnya.


"Iya-iya, Cinta Puspita istrinya Mas Arka. Jadi, kamu marah-marah hanya karena Mas izinkan kamu pergi sama teman-teman kamu? Seharusnya kamu senang dong, bukan malah marah kayak gini? Kamu mau Mas jadi suami yang over protektif, begitu?" tanya Arka menatap lekat wajah sang istri kini.


"Ya habisnya, Mas sepertinya gak pernah nunjukin rasa cemburunya Mas. Apa Mas gak tahu kalau cemburu itu tanda cinta?"


"Sayang ... Kamu tahu usia Mas berapa? Mas bukan anak ABG yang akan cemburu begitu saja melihat istrinya bergaul dengan laki-laki lain. Apalagi usia kamu masih muda lho, di usia kamu yang sekarang ini, kamu sedang asik-asiknya jalan sama teman-teman kamu."

__ADS_1


"Tapi tetap saja. Mas terlalu cuek, terlalu masa bodo. Aku tuh gak pernah yang namanya pacaran, aku juga pengen tau yang namanya di cemburuin itu rasanya seperti apa?"


"Hmm! Siapa bilang Mas gak cemburu ketika kamu sedang berkuliah di kampus? Mas juga ngizinin kamu keluar dengan berat hati sebenarnya, tapi Mas gak mau terlalu menunjukkan semua itu, yang akan membuat kamu merasa tidak nyaman nantinya."


"Kamu tahu, setiap kamu berkuliah itu Mas selalu membayangkan kamu di taksir sama laki-laki lain di kampus. Ngebayangin kamu ketawa sama laki-laki lain, jalan sama laki-laki lain, semua itu membuat Mas merasa gelisah sebenarnya."


"Tapi mau bagaimana lagi, itu memang resiko yang harus Mas terima karena menikahi gadis muda dan cantik seperti kamu. Apa ada gunanya Mas marah-marah dan terlalu membatasi pergaulan kamu, hanya karena kamu seorang Istri? Apa kamu tidak akan merasa terkekang nantinya, jika Mas melarang kamu untuk jalan sama teman-teman kamu itu?" jelas Arka panjang kali lebar.


"Hehehehe! Iya juga sih, tapi Mas--"


Cup!


Arka membungkam mulut mungil istrinya dengan satu kecupan.


"Maaaas!"


Cup!


"Mas Arka--"


Cup!


Lagi dan lagi, Cinta sama sekali tidak di beri kesempatan untuk mengucapkan satu patah katapun. Wanita itu pun seketika menutup bibir suaminya menggunakan telapak tangan. Hingga Arka tak bisa lagi melancarkan aksinya.


"Diam dulu, aku sudah pakai lipstik tahu. Lipstik aku bisa luntur nanti," ujar Cinta kemudian.


Arka hanya bisa menahan senyuman. Ingin rasanya dia tertawa terbahak-bahak, istrinya ini terlihat begitu menggemaskan. Dia pun memberikan isyarat agar istrinya itu mau menurunkan telapak tangannya.


"Oke, aku akan turunkan telapak tangan aku, tapi Mas harus janji kalau Mas gak akan cium-cium aku lagi, beri aku kesempatan untuk berbicara sekali saja."


Arka menganggukkan kepalanya tanda setuju.

__ADS_1


Perlahan, Cinta pun mulai menurunkan telapak tangannya. Dia menatap lekat wajah suaminya seraya ambil ancang-ancang, takut jika suaminya akan memberondingi dirinya dengan ciuman panas sementara dirinya telah bersolek sedemikian rupa.


Grep!


Arka tidak menciumi istrinya seperti sebelumnya. Dia memeluk tubuh Cinta erat seerat-eratnya seraya tersenyum lebar. Bak sebuah magnet, Cinta balas memeluk tubuh suaminya tak kalah erat.


Suami yang selalu sabar dalam menghadapi sikap egoisnya. Suami yang selalu bisa mengayomi sifat jeleknya. Suami yang memiliki sifat dewasa yang selalu menuruti apa yang dia inginkan tanpa mengeluh sedikitpun.


Betapa dia sangat beruntung memiliki suami sempurna seperti Arka Wijaya. Ternyata, mendiang sang ayah tidak salah dalam memilihkan suami untuknya. Beribu-ribu syukur dia panjatkan di dalam hatinya, berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah mempertemukan dirinya dengan sang suami tercinta.


"I love you, Mas Arka," lirihnya kemudian.


"I love yoy too, Cinta."


"Eu, bagaimana kalau Mas ikut sama aku nanti malam? Aku akan kenalkan Mas sama teman-teman aku di kampus, biar mereka semua tahu seperti apa suami aku ini," pinta Cinta penuh keyakinan.


"Kamu serius?" tanya Arka mulai mengurai pelukan.


"Tentu saja aku serius. Sebenarnya teman-teman aku gak percaya, kalau aku udah menikah di usia aku yang masih muda ini."


"Tapi, apa kamu gak malu mengenalkan Mas sama mereka semua? Umur kita terpaut lumayan jauh lho." Arka menatap lewat wajah Cinta lembut dan penuh kasih sayang.


"Kenapa aku harus malu? Aku justru merasa sangat bangga karena memiliki suami seperti Mas. Aku juga tidak menyesal sama sekali karena telah menikah di usia muda. Aku juga tidak menyesal karena tidak bisa menghabiskan masa mudaku dengan bersenang-senang."


"Aku cukup menghabiskan seumur hidupku sebagai istrinya Mas Arka Wijaya. Aku bangga menjadi Istrimu, Mas. Terima kasih juga karena Mas sudah sabar dalam menghadapi sikap egoisku selama ini. I love you some much, Mas Arka," lirih Cinta panjang lebar. Seketika itu juga, dia pun menghadiahi ciuman panas untuk suaminya tercinta.


Ciuman panas pun benar-benar tercipta, mencairkan emosi keduanya yang hampir saja meledak jika saja Arka tidak bisa mengendalikan dirinya. Untungnya dia selalu bisa mengimbangi istrinya ketika Cinta sedang dalam keadaan emosi.


BERSAMBUNG


...****************...

__ADS_1


__ADS_2