Cinta Untuk Cinta

Cinta Untuk Cinta
Panti Asuhan


__ADS_3

Arka benar-benar memenuhi janjinya, dia membelikan berbagai perlengkapan sekolah untuk anak-anak panti asuhan. Mobilnya bahkan dipenuhi oleh barang-barang tersebut, begitupun dengan bagasi mobilnya.


Mereka pun sudah berada di perjalanan menuju panti asuhan yang berada di luar kota, lebih tepatnya di salah satu kota terpencil. Cinta nampak duduk di kursi samping dengan wajah ceria, terlihat begitu senang setelah dibelikan ponsel dengan harga yang fantastis, yaitu seharga 15.000.000,00.


Gadis itu hanya memandangi ponsel tersebut tanpa mengerti cara menggunakannya. Ponsel yang masih baru itu pun dia bolak-balikkan sedemikan rupa, begitu mengagumi ciptaan manusia yang luar biasa itu. Arka yang saat ini sedang menyetir mobil hanya bisa tersenyum seraya menatap lurus ke depan dimana jalanan membentang di hadapannya.


Sesekali, Arka pun melirik ke arah gadis bernama Cinta. Lagi-lagi hatinya merasa senang karena telah memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Ternyata seperti ini rasanya berbagi kepada orang lain. Tidak masalah baginya meskipun telah mengeluarkan begitu banyak uang hari ini.


"Saya akan mengajarkan kamu bagaimana caranya menggunakan ponsel itu nanti," ucap Arka melirik sekilas wajah Cinta lalu kembali menatap ke depan.


"Aku benar-benar tidak mengerti cara menggunakan ponsel ini? Ternyata tidak segampang yang dibayangkan. Apalagi tulisannya bahasa Inggris kayak gini," jawab Cinta kemudian.


"Nanti saya setting ke bahasa Indonesia. Setelah kita sampai di sana, saya janji akan mengajari kamu cara menggunakannya. Jadi, kamu tidak usah khawatir ya."


Cinta pun tersenyum lebar. Dia menoleh mantap wajah Arka, laki-laki ini terlihat begitu dewasa. Alangkah senangnya jika dirinya memiliki seorang Kaka seperti Arka yang selalu mengayomi apa yang dia inginkan.


"Kamu boleh ko menganggap saya sebagai Kaka kamu," imbuh Arka membuat Cinta merasa terkejut tentu saja.


'Astaga, dari mana Mas Arka tahu apa yang sedang aku pikirkan?' (batin Cinta).


"Hah? Aku akan sangat senang sekali mempunyai kakak seperti Mas Arka."


"Kamu sekarang adik saya, adik angkat saya. Oke?"


Cinta menganggukkan kepalanya seraya tersenyum begitu lebarnya kini.


"Perjalan masih jauh. Kamu istirahat saja. Saya akan bangunkan kamu ketika kita sudah hampir sampai nanti," pinta Arka dan langsung di jawab dengan anggukan kepala oleh gadis itu.


Perjalan pun di lanjutkan dengan perasaan bahagia. Baik Arka maupun Cinta merasakan hal yang sama kini. Cinta meras bahagia karena impiannya selama ini tercapai, dia pun merasa senang karena memiliki kakak yang baik hati seperti Arka.


Sedangkan Arka Wijaya, hatinya benar-benar merasa bahagia karena telah memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Terutama dia merasa sangat bahagia karena hidupnya tidak akan meras kesepian lagi, ada Cinta gadis belia yang telah dia angkat menjadi adiknya mulai saat ini.


* * *

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari 5 jam, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Arka pun sampai di tempat tujuan. Sebuah kota kecil dimana panti asuhan tempat Cinta menghabiskan masa kecilnya selama ini. Mobil pun mulai melewati gapura kota. Mau tidak mau, Arka pun harus membangunkan Cinta karena hanya dia yang tahu dimana persisnya panti asuhan itu berada.


"Cinta, bangun ... Kita sudah sampai," saut Arka sedikit menoleh dan menatap wajah Cinta.


Gadis itu pun perlahan mulai mengedipkan kedua matanya. Dia merentangkan kedua tangannya seraya membuka mulutnya lebar-lebar. Sampai akhirnya, kedua mata gadis itu pun terbuka sempurna dan Cinta pun menyudahi tidur panjangnya.


"Apa kita sudah sampai?" tanya Cinta mengusap kedua matanya.


"Iya, Cinta. Kita baru saja memasuki kota itu."


"O ya? Hmm ... Tunggu sebentar, apakah panti asuhannya sudah terlewati?" Cinta menatap keluar jendela.


Laju mobil pun mulai diperlambat. Arka tidak ingin kalau sampai dia melewati panti asuhan yang menjadi tempat tujuannya. Sampai akhirnya, sebuah palang besar pun terlihat oleh kedua matanya kini. Seketika itu juga, Cinta berteriak kegirangan karena akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


"Di sana Mas, itu panti asuhannya," tunjuk Cinta dengan senyuman sumringah yang mengembang lebar dari kedua sisi bibirnya kini.


"O itu ya? Oke kita berhenti di sini. Huaaa ... Akhirnya sampai juga," jawab Arka.


Mobil pun mulai melipir dan berhenti tepat halaman panti asuhan tersebut. Anak-anak yang memang sedang bermain di halaman seketika merasa heran, dan segera menghampiri mobil mewah yang tiba-tiba saja berhenti tersebut.


Blug!


Pintu mobil pun di buka dan Arka keluar dari dalam mobil tersebut, hal yang sama pun dilakukan oleh Cinta kemudian


"Kak Cinta?" Anak-anak tersebut sontak berteriak dan memeluk tubuh Cinta secara bersamaan.


"Kalian! Kaka kangen banget sama kalian semua,'' decak Cinta, melebarkan kedua tangannya mencoba meraih anak-anak yang saat ini menempeli tubuhnya.


"Kami juga kangen sama Kaka. O ya, kak. Om ini siapa? Apa dia pacar kakak?" salah satu anak bertanya.


"Hah? Bukan, dia Kaka angkat Kaka, namanya Mas Arka. Ayo semuanya salaman sama Om Arka," pinta Cinta mulai mengurai pelukan mereka.


"Oh Kaka angkatnya kak Cinta. Kami kira dia calon suaminya kakak."

__ADS_1


"Hus, ngaco!" imbuh Cinta dengan wajah yang seketika memerah merasa malu tentu saja.


Semua anak-anak yang berada di sana pun menyalami Arka secara bergantian. Mereka bahkan menyebutkan nama masing-masing juga tersenyum sumringah tentunya.


"Anak-anak, Om bawakan oleh-oleh buat kalian semua. Masing-masing dapat satu ya. Isinya lengkap ko," ucap Arka kemudian. Dia pun berjalan ke arah belakang lalu membuka bagasi mobil miliknya tersebut.


"Waaaah! Om Arka baik sekali, terima kasih Om. Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas kebaikan Om," ucap salah satu anak saat dirinya menerima satu bingkisan berisi peralatan sekolah lengkap.


Arka yang mendengar hal itu tentu saja segera mengaminkan. Dia pun tersenyum begitu lebarnya semakin merasa senang karena melihat orang lain bahagia.


"Amin, sayang. Semoga bermanfaat ya,'' jawabnya kemudian.


Beberapa saat kemudian. Ibu Fatimah pun keluar dari dalam gedung panti 2 lantai tersebut. Wajah wanita paruh baya itu terlihat begitu senang karena salah satu anak yang sempat menghuni panti miliknya itu kembali dengan membawa kebahagian untuk anak-anak lainnya. Cinta pun segera menghampiri ibu Fatimah dan memeluknya erat kemudian.


"Ibu apa kabar? Aku kangen banget sama ibu," lirih Cinta mendekap erat tubuh orang yang sangat berjasa di dalam hidupnya tersebut.


"Ibu baik-baik saja, sayang. Kamu sendiri apa kabar? Ibu juga kangen banget sama kamu, sayang."


"Aku juga baik-baik saja, Bu. O iya, kenalin dia Mas Arka. Orang yang telah menolong aku di kota. Dia juga akan membantuku untuk mencari ayah,'' imbuh Cinta mengenalkan Arka.


Arka pun sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat, setelah itu dia mengulurkan tangannya berkenalan dengan ibu Fatimah secara ramah.


"Perkenalkan, nama saya Arka Wijaya, Bu,'' ucap Arka memperkenalkan diri.


"Saya ibu Fatimah. Terima kasih karena Nak Arka sudah membantu Cinta selama di kota."


"Sama-sama bu.''


"Ibu juga berterima kasih karena kamu juga telah berbagi dengan anak-anak ibu di sini. Semoga Tuhan mencatat kebaikan kamu dan menggantinya dengan yang lebih banyak lagi.''


"Iya, Bu. Amin.''


"O ya, Cinta. Ibu mau mengatakan sesuatu sama kamu. Kita bicara di dalam. Ini menyangkut ayah kamu, Cinta,'' ucap Ibu Fatimah membuat Cinta merasa terkejut tentu saja.

__ADS_1


BERSAMBUNG


...****************...


__ADS_2