
8 bulan kemudian.
Cinta memutuskan untuk mengambil cuti kuliah seperti yang di sarankan oleh suaminya. Hal tersebut dia lakukan agar dirinya bisa fokus dalam menjalani kehamilan pertamanya. Hari-hari yang di jalani oleh Cinta penuh dengan drama, hal yang sebenarnya lumrah di rasakan oleh ibu hamil di luaran sana.
Cinta menjadi lebih manja dari biasanya. Wanita itu bahkan mendadak over protektif, dia jadi lebih cemburuan bahkan selalu menempel kemanapun suaminya pergi. Jikalau pun tak ikut, istri dari Arka Wijaya itu selalu rutin melakukan sambungan telpon setiap 1 jam sekali. Cinta benar-benar terserang virus yang tidak ada obatnya yaitu, virus bucin akut.
"Mas janji gak akan macam-macam di luar," rengek Cinta mengantar kepergian suaminya yang hendak berangkat ke kantor.
"Iya sayang, iya. Mana mungkin Mas berani macam-macam di luar di saat Istrinya Mas ini galaknya minta ampun," jawab Arka Wijaya mencubit kecil kedua sisi pipi Cinta merasa gemas.
"Awas aja ya kalau berani macam-macam!"
"Gak akan, sayang. Astaga, istrinya Mas yang cantik ini. Kamu juga baik-baik di rumah ya, ingat jaga dede bayi yang ada di dalam perut kamu ini."
"Iya, sayang. Mas juga hati-hati di jalan ya. Love you."
"Iove you too, muach!"
__ADS_1
Arka berjalan ke arah mobil lalu masuk ke dalamnya. Sementara Cinta hanya bisa tersenyum menatap mobil milik sang suami yang perlahan mulai meninggalkan halaman sebelum akhirnya melesat kencang di jalanan.
Seperti itulah hari-hari yang dijalani sepasang suami istri bucin. Baik Cinta maupun Arka sama-sama merasakan perasaan yang semakin menggebu di dalam hati masing-masing. Cinta yang awalnya merasa ragu apakah dirinya bisa mencintai suaminya, mengingat bahwa rasa cinta itu sama sekali asing di awal pernikahan mereka, kini berbanding terbalik. Rasa cintanya kepada suami tercinta seperti sebuah bom waktu yang tiba-tiba saja meledak setelah menahannya sekian lama.
Cinta hendak berbalik dan masuk ke dalam rumah, tapi tiba-tiba saja dia merasakan seperti ada yang aneh dengan perutnya. Rasa sakit itu tiba-tiba saja mendera. Seiringan dengan itu cairan kental bercampur darah pun menetes dari sela kakinya hingga membasahi lantai.
"Argh ... Bi, tolong aku bi," teriak Cinta memegangi perutnya. Dia pun seketika duduk di kursi yang ada di teras rumah.
"Nyonya? Nyonya kenapa? Ya Tuhan sepertinya Nyonya akan segera melahirkan," teriak Bibi segera menghampiri dalam keadaan panik.
"Bi cepat telpon Taksi, kita harus ke Rumah Sakit sekarang juga, argggghh!"
"Kelamaan bibi, perut saya keburu sakit banget. Nanti Bibi telpon dia kalau kita sudah sampai di Rumah Sakit. Buruaaaaaan, saya udah tak kuat, sakiiiit!" teriak Cinta. Rasa sakit di perutnya benar-benar sudah tidak tertahankan lagi.
* * *
Satu jam kemudian.
__ADS_1
Arka berlari di lorong Rumah Sakit mencari dimana letak ruangan bersalin, tempat istrinya berada saat ini. dirinya segera datang ke Rumah Sakit setelah mendapatkan kabar bahwa sang istri tercinta akan melahirkan.
Sampai akhirnya dia pun tiba di tempat yang dituju. Arka masuk ke dalam ruangan tersebut, tanpa di sangka istrinya sudah terkulai lemas dia atas ranjang bersama bayi kecil yang sangat cantik.
"Sayang ... ini--" Arka tidak mampu meneruskan ucapannya, dia berjalan menghampiri dengan beribu penyesalan. Menyesal karena dirinya tidak ada di sana saat istrinya itu sedang berjuang melahirkan putri pertama mereka.
"Ini Putri kita Mas. Dia perempuan."
"Bukan itu, maksud Mas hiks hiks hiks!"
"Hah?"
"Maaf karena Mas tidak ada di sisi kamu saat kamu sedang berjuang melahirkan. Pasti rasanya sakit sekali 'kan? Mas benar-benar minta maaf, sayang."
"Astaga, sayang. Masalah itu gak usaha di pikirkan, yang terpenting adalah bayi kita lahir dengan selamat dan tidak kurang satu apapun."
Arka menatap wajah sang istri tercinta. Setelah itu, dia pun meraih bayi kecil yang telah dibalut dengan kain bedong. Dengan kedua mata yang berkaca-kaca, Arka menyematkan sebuah nama untuk sang putri tercinta.
__ADS_1
"Aurora Borealis, itulah nama kamu Nak. Karena kamu adalah Ciptaan Tuhan yang paling indah, kamu juga adalah makhluk yang paling indah, anugerah terindah dalam hidup Daddy. Jadilah anak yang baik dan membanggakan kedua orang tua kamu, sayang. Daddy benar-benar bahagia, terima kasih karena telah hadir di dunia ini."
________TAMAT________