
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Dokter pun keluar dari dalam ruangan tersebut. Tentu saja hal itu membuat Cinta dan Arka menyudahi percakapan serius mereka. Keduanya segera menghampiri sang Dokter dan bertanya kepadanya prihal kondisi Ardi sang ayah tercinta.
"Bagaimana keadaan ayah saya, Dokter?" tanya Cinta terlihat sangat khawatir.
"Pasien baru saja melakukan cuci darah. Sebentar lagi akan di bawa kembali ke ruangan rawat inap," jawab sang Dokter.
"Tapi beliaa baik-baik saja 'kan? Ayah saya masih hidup 'kan?" tanya Cinta, pertanyaan yang tidak masuk akal sebenarnya karena jelas-jelas Dokter mengatakan bahwa pasien akan segera di bawa kembali ke ruangan rawat inap.
"Tentu saja, Nona. Ayah anda masih hidup, hanya saja--"
"Hanya saja apa, Dok?"
"Kami memperkirakan bahwa umur pasien hanya tinggal beberapa bulan lagi. Jadi, saya harap anda dan kakak anda mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk nantinya."
Cinta seketika merasa lemas tentu saja, tubuhnya hampir saja tumbang jika saja Arka tidak menopang kedua bahunya. Kedua mata gadis itu seketika memerah juga kembali berlinang air mata.
"Tidak, ayah tidak boleh meninggal. Aku--"
"Tenang, sayang. Kita akan merujuk Om Ardi ke Rumah Sakit di kota. Eu .... Dokter, apa ada cara lain agar Om Ardi bisa berumur panjang?" tanya Arka kemudian.
"Sebenarnya bisa, tapi pasien harus rutin cuci darah seminggu sekali, tidak boleh telat sedikitpun. Jika telat, maka kejadian tadi akan terulang dan terulang lagi selama sisa hidupnya."
"Ya Tuhan, ayah. Hiks hiks hiks!" tangis Cinta pun seketika pecah memekikkan telinga.
"Tenang sayang. Tidak masalah meskipun ayah kamu harus cuci darah setiap minggunya. Saya akan menanggung berapapun biayanya."
"Tapi, Mas. Kasian ayah. Beliau pasti kesakitan sekali."
Arka hanya bisa memeluk tubuh Cinta erat. Dia pun tidak bisa mengatakan apapun lagi kini. Dirinya mengerti betul apa yang saat ini di rasakan oleh Cinta, tapi dia tidak bisa berbuat apapun lagi karena penyakit gagal ginjal calon ayah mertuanya itu sudah berada di titik terparah.
"Saya permisi dulu, silahkan anda menunggu. Setelah pasien merasa lebih baik, beliau akan segara di bawa ke ruangan rawat inap," ucap Sang Dokter sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
"Kita tunggu Om Ardi di kamar," pinta Arka.
"Tidak, Mas. Aku ingin menunggu ayah di sini."
"Baiklah, kita duduk kalau begitu."
Cinta menganggukkan kepalanya. Tubuhnya di papah pelan oleh Arka lalu duduk di kursi semula.
* * *
Akhirnya Arka benar-benar merujuk Ardi ke Rumah Sakit besar yang berada di kota. Keesokan harinya mereka pun meninggalkan kota kecil tersebut. Meskipun wajah Ardi terlihat agak segar karena telah melakukan cuci darah pada malam harinya, tetap saja laki-laki paruh baya itu sedang dalam keadaan sakit parah sebenarnya.
Mobil yang dikendarai Arka sedang dalam perjalananan. Sekitar 2 jam lagi mereka akan segera sampai di tempat tujuan. Cinta nampak duduk di kuris depan sedangkan Ardi sang ayah duduk di kuris jok belakang.
"Sayang, sebenarnya ayah enggan untuk di rawat di Rumah Sakit. Bisa tidak kalau bawa ayah pulang saja? Ayah bisa berobat jalan saja, Cinta," pinta Sang ayah, membuat Cinta merasa terkejut tentu saja.
"Ayah! Mana mungkin ayah di rawat di rumah? Kondisi ayah belum sembuh betul," jawab Cinta menoleh ke arah belakang menatap wajah sang ayah kemudian.
Cinta seketika terdiam. Dia pun mengalihkan pandangannya kepada Arka yang saat ini sedang menyetir mobil. Arka nampak sedikit menoleh ke arah Cinta sekejap lalu kembali menatap ke depan.
"Tak masalah jika Om mau di rawat di rumah, tapi Om harus janji akan rutin cuci darah ke Rumah Sakit. Saya juga akan segera memanggil Dokter ke rumah setelah kita sampai nanti. Kita harus memastikan dan berkonsultasi ke Dokter terlebih dahulu apakah Om boleh rawat di rumah saja atau tidak," ujar Arka membuat Cinta seketika membulatkan bola matanya.
"Mas?! Mana boleh seperti itu? Kalau kesehatan ayah semakin memburuk gimana?"
"Sayang ... Kesehatan seorang pasien itu tergantung kenyamanan. Jika di Rumah Sakit hanya akan membuat Om Ardi merasa tertekan, bukankah itu hanya akan memperburuk kesehatannya?"
Cinta seketika terdiam.
"Ayah janji akan menuruti apapun yang kalian inginkan. Ayah akan makan dengan teratur, tidur yang nyenyak, dan ayah juga akan rutin cuci darah setiap 1 minggu sekali. Ayah janji, sayang. Asalkan ayah berada dekat kamu, ayah yakin kesehatan ayah akan membaik," Sang ayah sedikit memohon.
Cinta lagi-lagi hanya terdiam, dia pun menoleh dan menatap wajah ayah kesayangan. Wajah Ardi napak memelas, mana mungkin dia bisa menolak keinginannya.
__ADS_1
"Om tenang saja. Tak usah mengkhawatirkan apapun. Om Ardi fokus saja dengan kesehatannya Om. Kami berdua berjanji akan selalu menemani Om sampai Om sembuh tentu saja."
Ardi tersenyum sumringah. Wajah keriputnya terlihat sangat bahagia. Betapa dia tidak menginginkan apapun lagi di dunia ini selain melihat putri kesayangannya itu menikah dengan laki-laki bernama Arka Wijaya.
* * *
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan. Mobil mulai memasuki halaman luas dengan taman hijau membentang terlihat indah di pandang. Sampai akhirnya, mobil pun berhenti di garasi mobil.
Arka keluar dari dalam mobil. Hal yang sama pun dilakukan oleh Cinta dan juga Ardi kemudian. Keduanya memapah laki-laki paruh baya itu untuk masuk ke dalam rumah besar tersebut.
"Ini rumah Nak Arka?" tanya Ardi menatap sekeliling dengan tatapan mata berbinar.
"Iya, Om. Selamat datang di rumah saya, rumah ini rumah Om juga mulai sekarang karena Om adalah calon ayah mertua saya," jawab Arka tersenyum ramah.
"Terima kasih, Nak Arka. Saya benar-benar bahagia sekali sekarang. Di sisa hidup saya yang hanya sebentar ini, saya bisa merasakan tinggal di rumah yang sebesar ini, bersama putri dan juga menantu Om juga tentunya. Sekali lagi, Om sangat-sangat berterima kasih sama kamu, Nak Arka," lirih Ardi panjang lebar.
"Sama-sama, Om. Sekarang saya dan Cinta akan mengantarkan Om untuk beristirahat di kamar."
Ardi menganggukkan kepalanya patuh. Dengan di gandeng oleh putri dan juga calon menantunya dia pun berjalan menuju kamar yang akan menjadi tempatnya untuk beristirahat mulai sekarang.
Pintu kamar pun di buka lebar. ketiganya masuk ke dalam kamar kemudian. Pelan tapi pasti, tubuh Ardi pun berbaring di ranjang kini. Lagi-lagi, wajah Ardi terlihat begitu bahagia. Dia menatap wajah Cinta dan Arka secara bergantian. Senyuman kecil pun dia layangkan kepada keduanya.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Ardi secara tiba-tiba membuat Cinta merasa terkejut tentu saja.
"Ayah, baru juga sampai, udah nanyain nikah aja," jawab Cinta, menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak merasa gatal sama sekali.
"Ayah ingin kamu menikah minggu depan. Tak usah pesta besar-besaran. Cukup di sini di depan ayah saja."
Cinta dan juga Arka seketika saling menatap satu sama lain. merasa terkejut.
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...