
Arka mengusap wajahnya kasar, dia tidak tahu harus mengatakan apa kepada Cinta. Dia pun tidak tahu apakah kabar yang dia terima itu adalah kabar baik atau kabar buruk sebenarnya.
Di satu sisi, Arka merasa senang karena akhirnya pencariannya selama ini membuahkan hasil dan Cinta akan segera bertemu dengan ayahandanya, tapi di sisi lain, Cinta harus bertemu sang ayah yang saat ini sedang dalam keadaan sekarat. Apapun rekasi gadis itu, dia tetap saja harus segera mempertemukan Cinta dengan ayahnya tersebut sebelum semuanya terlambat.
Arka Wijaya pun bangkit dan menyudahi pekerjaannya hari ini. Dia akan segera pulang dan memberitahukan kabar ini kepada Cinta hari itu juga. Yang pasti dirinya akan selalu berada di samping gadis itu apapun yang terjadi.
* * *
Sementara itu.
Gadis bernama Cinta yang saat ini memiliki kesibukan sebagai anak kuliahan, nampak sedang menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Dosen. Dengan ditemani secangkir susu hangat, juga beberapa camilan yang sengaja dia siapkan, gadis itu benar-benar serius dalam mengerjakan tugas tersebut.
"Cinta, Mas pulang!" tiba-tiba saja terdengar suara kakak angkatnya yang baru saja pulang ngantor.
Sontak, gadis itu pun menghentikan aktifitasnya dan segera menyambut kedatangan sang kakak. Cinta berdiri dan menghampiri Arka juga bersalaman dengannya seperti biasa.
"Mas baru pulang? Mas pasti capek banget, aku bikinkan kopi ya?" tawar Cinta hendak berbalik menuju dapur.
"Gak usah, Cinta. Mas akan mengajak kamu ke suatu tempat. Kamu siap-siap ya."
"Ke suatu tempat? Kemana?"
"Pokoknya, kamu pasti senang deh."
"Apa mungkin Mas sudah mendapatkan kabar dari Pak Rudi?"
Arka seketika menganggukkan kepalanya.
"Mas serius?!"
Arka kembali menganggukkan kepalanya juga tersenyum kecil.
"Ya Tuhan, dimana ayah sekarang? Apa dia baik-baik saja? Astaga! Akhirnya setelah sekian lama aku akan ketemu dengan ayah juga," lirih Cinta, kedua mata gadis itu seketika berkaca-kaca juga tersenyum secara bersamaan.
"Sebaiknya kamu siap-siap saja dulu, Mas akan menceritakan semuanya sama kamu di jalan."
"Menceritakan? Apa terjadi sesuatu dengan ayah?"
Arka diam seraya menundukkan kepalanya. Sejujurnya, dirinya tidak tahu harus memulainya dari mana? Hal terbaik yang bisa dia lakukan saat ini adalah segera mendatangi Rumah Sakit dimana ayah Cinta di rawat saat ini sebelum semuanya terlambat.
"Mas? Kenapa diam saja?"
"Hah? Eu ... Kita akan menempuh perjalanan jauh, jadi kamu harus bergegas, kalau tidak kita akan kemalaman di jalan nanti."
"Ya udah, aku ganti baju dulu sebentar."
__ADS_1
Arka menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
Setelah 30 menit menunggu, akhirnya cinta pun kembali setelah berganti pakaian juga sedikit memoles wajahnya dengan make up tipis. Wajah gadis itu terlihat lebih cantik dari biasanya, tentu saja hal tersebut membuat Arka merasa pangling.
"Kamu cantik sekali, Cinta. Apa kamu memakai make up?" tanya Arka menatap lekat wajah Cinta kini.
"Iya dong. Karena aku akan bertemu dengan cinta pertamaku, tentu saja aku harus terlihat cantik. Apa Mas tau, cinta pertama seorang perempuan adalah ayahnya sendiri?" jawab Cinta wajahnya terlihat ceria.
"Hmmm ... Saya jadi iri sama ayah kamu. Kita berangkat sekarang?"
Cinta menganggukan kepalanya juga tersenyum sumringah. Tanpa dia sadari bahwa kesedihan akan segera menghampirinya tidak lama lagi.
* * *
Butuh waktu sekitar 3 jam untuk sampai di tempat tujuan. Sepanjang perjalanan Arka sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun. Tatapan matanya nampak pokus menatap ke depan, tapi sebenarnya pikirannya melayang entah kemana.
"Apa Mas gak lelah sama sekali? Mas baru pulang kantor lho?" tanya Cinta memecah keheningan.
"Hah? Eu ... Nggak ko, Mas baik-baik saja," jawab Arka menoleh sekejap, menatap wajah Cinta lalu kembali menatap ke depan.
"Yakin Mas gak merasa lelah sama sekali?" Cinta mengulangi pertanyaanya.
"Kalau lelah sih iya, tapi demi adik kesayangannya Mas yang cantik ini, Mas akan tahan rasa lelah Mas ini."
"Hmm ... Makasih lho, Mas. Aku benar-benar senang banget, akhirnya aku bisa ketemu juga sama ayah aku."
"Hah? Sayang?" Cinta mengerutkan keningnya tentu saja, rasanya canggung sekali di panggil sayang oleh laki-laki yang telah dia anggap seperti kaka sendiri.
"Kenapa? Wajar 'kan kalau Mas manggil sayang kepada adik sendiri?"
"Iya-iya, Mas bebas ko mau manggil aku dengan panggilan apapun."
Arka hanya tersenyum kecil.
* * *
Setelah menempuh perjalananan jauh, akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan. Sebuah Rumah Sakit tempat dimana ayah Cinta di rawat saat ini. Tentu saja hal itu membuat Cinta seketika merasa heran. Dia menatap sekeliling dengan kening yang dikerutkan.
"Ko ke sini? Katanya kita mau ketemu ayah?"
Arka menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, sebelum akhirnya menjelaskan semuanya dari A sampai Z tentang kondisi sang ayah.
"Cinta, dengarkan apa yang akan Mas katakan. Sebenarnya ayah kamu sedang dalam keadaan sakit sekarang."
Wajah Cinta seketika terlihat muram. Dia yang semula menunjukkan senyuman lebar kini terlihat khawatir. Kedua mata gadis pun seketika berkaca-kaca.
__ADS_1
"Apa maksud Mas? Ayah Sa-kit? Beliau sakit apa Mas? Apa beliau baik-baik saja? Ayah masih hidup 'kan?"
"Bagaimana kalau kita langsung masuk saja?"
Cinta menganggukkan kepalanya. Dia segera membuka pintu dengan tergesa-gesa.
Ceklek!
Blug!
Pintu mobil pun di buka dan di tutup kembali setelah keduanya keluar dari dalam mobil. Cinta nampak berjalan dengan tergesa-gesa masuk ke dalam Rumah Sakit tersebut, tapi Arka segera meraih pergelangan tangan gadis itu dan memintanya untuk tenang.
"Cinta! Tenang, sayang. Jangan seperti ini, jika ayahmu melihat kamu panik seperti ini beliau akan merasa khawatir," pinta Arka kemudian.
"Mana mungkin aku bisa tenang, Mas. Ayah sakit, dan dia sendirian di sini."
"Iya Mas mengerti bagaimana perasaan kamu, Cinta. Mas hanya meminta kamu untuk tenang. Sekarang kamu tarik napas panjang lalu hembuskan secara perlahan."
Cinta mengikuti apa yang diucapkan oleh Arka. Dia menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, dan benar saja perasaan gadis itu seketika merasa tenang.
"Sudah tenang sekarang?"
Cinta menganggukkan kepalanya.
"Sekarang kita masuk?"
Cinta kembali menganggukkan kepalanya. Dia pun meraih pergelangan tangan kakak angkatnya, seketika menggenggam jemarinya erat. Tentu saja Arka pun membalas genggaman tangan gadis itu juga tersenyum kecil. Keduanya pun mulai berjalan memasuki Rumah Sakit tersebut.
"Permisi, Sus. Apakah di sini ada pasien yang bernama Ardi Handoko? Usianya sekitar 50-han lebih," tanya Arka berdiri di depan tempat informasi.
"Sebentar saya cek dulu, ya Mas," jawab sang Perawat, menatap layar komputer yang berada di hadapannya mencari data dengan nama pasien Ardi Handoko.
"Bagaimana, Sus? Ayah saya ada di sini 'kan?" tanya Cinta semakin merasa khawatir.
"Baik, Mbak. Pasien bernama Ardi Handoko di rawat di ruangan nomor 112," jawab sang Perawat akhirnya.
"Ruangannya ada di sebelah mana ya, Sus?"
"Ruangannya ada di ujung lorong, Mas."
Tanpa basa-basi lagi, Arka dan juga Cinta segera menuju ruangan yang baru saja di sebutkan oleh sang Perawat. Tubuh Cinta nampak gemetar, kedua matanya pun semakin memerah saja kini. Bagai sebuah mimpi baginya, karena akhirnya bisa bertemu dengan ayah yang sudah lebih dari 15 tahun tidak dia temui.
Akhirnya, mereka pun sampai di ruangan tersebut. Cinta dan Arka nampak berdiri tepat di depan pintu kini. Tubuh Cinta pun seketika semakin gemetar, telapak tangan gadis itu bahkan mulai berkeringat dingin. Sampai akhirnya, pintu pun mulai di buka Arka dan Cinta masuk ke dalam ruangan tersebut kemudian.
"Ayah?"
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...