Cinta Untuk Cinta

Cinta Untuk Cinta
Berduka


__ADS_3

Jenazah Ardi langsung dikebumikan hari itu juga. Kesedihan nampak dari wajah cantik seorang Cinta. Hal yang sama pun di rasakan oleh Arka sebenarnya. Dia benar-benar merasa kehilangan sosok seorang ayah, yang kasih sayangnya sangat dia rindukan selama ini.


Setelah pemakaman selesai diadakan, Cinta dan suaminya kembali ke rumahnya kini. Para pelayat yang datang pun perlahan mulai meninggalkan rumah duka. Kebanyakan dari mereka adalah para Tetangga dan juga rekan bisnis Arka di Kantor.


Rumah yang semula ramai dengan para pelayat pun kini kembali sepi, hanya menyisakan penghuni Rumah yang saat ini dalam keadaan berduka dan juga sangat terluka.


Cinta nampak meringkuk di atas ranjang. Air matanya tidak berhenti bergulir, dadanya bahkan terasa sangat sesak. Bola matanya memerah juga dengan kelopaknya yang kini membengkak.


Ceklek!


Pintu kamar pun di buka, Arka sang suami masuk ke dalam sana dengan membawa satu gelas susu hangat untuk istrinya tercinta. Dia pun berjalan menghampiri dan duduk di tepi ranjang kemudian.


"Sayang! Mas bawakan susu hangat untuk kamu, di minum dulu ya, kamu belum makan dari bagi lho," pinta Arka lembut dan penih kasih sayang.


"Aku gak lapar, Mas," jawab Cinta singkat.


"Ini cuma susu hangat aja, sayang. Mas tau kamu kalau sedang tidak berselera makan, tapi tetap saja, kamu harus minum sesuatu setidaknya."


"Mas! Kalau aku bilang gak mau ya gak mau! Jangan maksa aku dong!" Cinta tiba-tiba saja berteriak kesal.


"Ya udah iya, Mas gak akan maksa kamu lagi. Gelasnya Mas simpan di sini ya, kamu bisa meminumnya kalau kamu haus nanti," lembut Arka lagi.

__ADS_1


Dia sama sekali tidak marah atas apa yang baru saja dilakukan oleh istrinya. Arka mengerti betul bahwa keadaan istrinya itu sedang tidak baik-baik saja. Tidak ada yang bisa mengobati rasa sakitnya akibat di tinggalkan oleh orang yang sangat kita sayangi, terlebih oleh orang tua sendiri.


Arka Wijaya mengusap kepala istrinya lembut dan penuh kasih sayang. Dia hanya bisa menatap sayu wajah Cinta yang saat ini memejamkan kedua matanya secara sempurna.


"Mas keluar dulu kalau begitu," lirih Arka kemudian, dan sama sekali tidak ditanggapi oleh istrinya tersebut. Dia pun keluar dari dalam kamar.


* * *


Hari berganti dan waktunya berlalu dengan sangat cepat. Setiap menit, setiap jam bahkan setiap hari yang di jalani oleh Cinta terasa hampa. Satu bulan telah terlalu, tapi sampai saat ini kesedihan yang dirasakan oleh istri dari Arka Wijaya itu pun belum sepenuhnya menghilang.


Dia bahkan melupakan perannya sebagai seorang istri. Namun, hal itu tidak serta merta membuat rasa Cinta Arka kepada istrinya berkurang. Lagi-lagi, kesabaran yang di miliki oleh Arka Wijaya seluas samudra.


"Hmm!" Gadis itu hanya menjawab dengan gumaman.


"Eu ... Nanti malam sepertinya Mas pulang terlambat, kamu tidur duluan saja, gak usah nungguin Mas."


"Hmm!" Lagi-lagi Cinta hanya menjawab dengan gumaman. Dia bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah suaminya, sampai sang suami benar-benar keluar dari dalam kamar.


* * *


Malam hari.

__ADS_1


Cinta bangkit dan duduk tegak di atas ranjang. Dia pun menatap jam dinding yang saat ini sudah menunjukkan pukul 23.00 malam. Gadis itu menatap sekeliling dan mendapati suaminya tidak ada dimanapun di dalam kamar.


"Mas Arka benar-benar belum pulang?" gumam Cinta seketika turun dari atas ranjang.


Dia pun berjalan keluar dari dalam kamar. Entah mengapa, ada rasa cemas yang terselip di dalam lubuk hati Cinta yang paling dalam. Karena ini adalah pertama kalinya Arka pulang larut malam. Dia pun duduk di ruang ruang tamu, berharap suaminya akan segera datang.


Sampai akhirnya, sebuah mobil taksi berhenti tepat di depan pagar. Cinta tentu saja merasa heran karena suaminya itu selalu membawa mobil kemanapun dia pergi. Sedangkan malam ini dia pulang dengan menaiki taksi.


"Mas Arka? Ko tumben naik taksi? Mobilnya kemana?" gumam Cinta, mengintip dari tirai gorden lalu segera membuka pintu untuk suaminya.


Ceklek!


Pintu pun di buka, Cinta melihat dengan kedua matanya sendiri, Arka Wijaya berjalan dengan sempoyongan layaknya orang yang sedang mabuk berat.


"Istriku sayang, akhirnya kamu bangun juga. Apa kamu tahu bahwa suami ini benar-benar merasa kesepian?!" tanya Arka dengan nada suara yang meliuk-liuk layaknya orang yang sedang mabuk.


"Mas? Mas Arka Mabuk?" tanya Cinta mengerutkan kening.


BERSAMBUNG


...****************...

__ADS_1


__ADS_2